Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 814 - Maha Karya


__ADS_3

Shinobu langsing melepaskan gelombang cahaya melalui mulutnya untuk menghancurkan wilayah di hadapannya sampai memaksa Aerith keluar dari persembunyiannya.


Shinobu langsung melempar satu daun emas ke atas langit sampai serangan itu berputar mengelilingi wilayah itu untuk mencari posisi yang pas agar bisa mengenai serangan fatal.


"The Mind..." Shinobu langsung merasuki pikiran Aerith tanpa sepengetahuannya, kemampuan pikiran yang tidak akan bisa dihindari dengan alasan apapun.


Aerith langsung menggambar karya di sebelah gambaran Shinobu, itu adalah dirinya sendiri sampai ia terus menggambarnya sesempurna mungkin tanpa sadar karena saat ini pikir bahwa dirinya sedang menghabisi nyawa Shinobu.


Ketika karya itu selesai Aerith langsung memasang ekspresi penuh ***** bahwa dirinya berhasil menghasilkan banyak uang dengan mengakhiri nyawa terakhirnya.


"Aku berhasil....! Dengan ini aku dapat menghasilkan banyak mata uang yang cukup untuk membeli alam semesta demi menunjukkan semua maha karyaku...!!!"


"Itu benar, selamat ya~" Shinobu langsung bertepuk tangan di sebelah Aerith sampai ia memasang tatapan kaget karena kanvasnya sekarang terdapat dua orang yaitu dirinya bersama Shinobu.


"Shinobu...!"


Daun emas yang terbang di atas langit itu mengenai kanvas yang dipegang oleh dirinya, terutama lagi daun tersebut berhasil menghancurkan gambar Aerith terlebih dahulu sampai terjatuh di atas tanah dengan dada berlubang besar.


"Sh-Shinobu...!!!" Aerith mengeluarkan banyak sekali cairan tinta melalui mulut dan bekas lukanya sampai ia terus memasang wajah kesakitan karena serangan tadi mengenai inti jiwanya.


"Ini pasti... bermasalah..."


"...tidak mungkin... karya gagal... karya bisa diperbaiki ulang...!" Aerith mencoba untuk bangun tetapi Shinobu langsung menambak wajahnya dengan Golden Repulsor sampai mendorongnya ke belakang.


"Aku... harus bisa memperbaiki kesalahan ini..."


"...itu benar, Ahn~ pelukis seperti diriku tentunya dapat menyelesaikan kesalahan apapun dengan revisi dan improvisasi." Ungkap Aerith selagi memasang tatapan penuh nikmat karena kesakitan yang dirasakan.


"Maaf sekali... sudah waktunya deadline, tidak ada yang namanya revisi." Kata Shinobu karena ia mendengar isi pikirannya itu.


"Shinobu... Koneko...!" Aerith memasang tatapan tidak sabar karena dirinya pasti akan menerima kesakitan lebih besar lagi, ia bangkit dengan bantuan tinta yang keluar melalui daratan.


"Tunjukkan... apa yang kau bisa dengan pertandingan fisik dan kecepatan." Kata Shinobu dengan tatapan polosnya karena saat ini ia mencoba untuk mencari celahnya.


Dua Legenda dengan tipe berbeda yaitu penyihir dan setengah kucing saling berhadapan, tidak ada satu pun dari mereka yang berani melakukan pergerakan terlebih dahulu sebelum menemukan celah yang pas.


Aerith melakukan serangan pertama dengan mengangkat tongkat sihirnya sampai mengeluarkan banyak tinta melalui tujuh dan daratan untuk mencabik-cabik tubuhnya itu..


"LIGHT OF HOPE: TINGKATAN SERIBU!!!" Shinobu langsung memancarkan cahaya yang begitu cerah karena dirinya menaikkan tingkatan Light of Hope sampai batasan ia yang dapat dirinya tempuh.


Tech terkejut ketika melihat Shinobu berhasil melampaui tingkatan batasan yang awalnya seratus sekarang menjadi seribu sampai kecepatannya jauh lebih dari semua karya dan tinta yang dikeluarkan oleh dirinya.


Shinobu menghantam wajah Aerith sangat keras sampai melepaskan dorongan dan tekanan cahaya yang begitu besar di sekelilingnya wilayahnya, terlihat tengkorak retak menerobos keluar dari kepalanya.


Semua tinta yang menyerang dirinya berhasil ia pindahkan menggunakan daun emas sampai dirinya tidak menerima serangan apapun melainkan kentungan besar untuk menghancurkan kedua lengannya sampai tongkatnya terjatuh lalu berubah menjadi tinta.


"Hyaaannn~ ku-kuat...!" Aerith melepaskan ******* keras setiap ia menerima serangan yang begitu fatal oleh Shinobu dengan kecepatan tak kasat mata itu.


Shinobu berhasil mengenai banyak serangan kepada Aerith, hanya saja tidak memakan waktu yang cukup lama sebelum tinta itu membentuk kedua gelembung yang berhasil menahan kedua pukulannya.


"... ...!?" Shinobu memuntahkan banyak darah sampai tingkatan Light of Hope menurun karena ia tidak dapat menggunakannya secara berlebihan karena berisiko menghancurkan tubuhnya.


"Pengantaran karya di hari deadline..."


"...sudah pasti revisi akan berjalan sangat cepat, Shinobu Koneko!" Kata Aerith sampai tubuhnya diselimuti dengan tinta yang membentuk tubuh Shinobu seketika sampai mengejutkannya.


"Ti-Tidak...!" Shinobu terkejut ketika melihat Aerith berhasil melindungi dirinya dengan zirah tinta yang membentuk dirinya sendiri, kemungkinan besar kekuatan dan kecepatannya juga pasti sama.


"Maha karya ini... maha karya yang terlihat indah bukan~? Jika aku mendapatkan yang asli maka aku pasti akan kaya raya...!!!"


Aerith melepaskan aura emas yang menghitam seketika sampai dirinya berhasil menciptakan karya yang dapat ia jadikan sebagai pelindung atau karya yaitu tubuh Shinobu sendiri.


Shinobu sekarang menerima masalah buruk lainnya, bisa di bilang serangan tadi tidak memberi efek apapun kepada penyihir yang bisa dibilang abadi karena tinta itu sendiri adalah akar kehidupannya sendiri.

__ADS_1


"Light of Hope...!!! Tingkatan lima ratus...!!!" Shinobu melepaskan dorongan emas di sekelilingnya sampai ia mulai melepas selendang yang terus ia kenakan lalu melemparnya kepada Aerith.


Aerith berhasil menangkisnya ke atas lalu ia melihat Shinobu berdiri tepat di belakangnya selagi menerima sihir peningkatan lainnya dari Anastasia yang tidak bisa membantu karena kelelahan.


Shinobu awalnya mencoba untuk menyerang Aerith secara diam-diam tetapi karena tinta itu yang meniru tubuhnya, dia dapat mengimbang kecepatan dan kekuatannya sendiri.


Shinobu langsung menahan semua serangan yang dilakukan oleh Aerith, kecepatan mereka mampu melampaui cahaya karena sama-sama menguasai sihir cahaya.


Shinobu mencoba untuk fokus dan menjadikan pertarungan ini sebagai pelajaran, anggap saja dirinya sedang berlatih menggunakan [Image Training] dimana lawan yang harus ia kalahkan adalah dirinya sendiri.


Aerith berhasil menghantam wajah Shinobu lalu mengangkat tubuhnya dengan mencengkeram keras bajunya sampai ia mulai menerima pukulan bertubi-tubi dari Aerith.


Pukulan itu sama sakitnya dengan pukulan yang kerahkan kepada Aerith, ternyata sihir tintanya memang sulit untuk dikalahkan dengan cepat karena memiliki berbagai macam kemampuan misterius.


"Koneko..." Anastasia bukannya terlihat senang melainkan khawatir ketika melihat adiknya sendiri menggunakan kemampuan yang dipakai sebagai kartu as untuk mengalahkannya.


Tongkat sihirnya sempat menggambar karya yang dapat memperbaiki kesalahannya yaitu zirah berbentuk model Shinobu, ketika ia mengenakan zirah tersebut maka ia akan mendapatkan kekuatan yang sama dengannya.


Untungnya kemampuan itu tidak dapat menerima kemampuan seperti Light of Hope atau The Mind tetapi memiliki semua atribut yang sama dengan Shinobu setiap ia bertambah kuat atau mengenakan kekuatan baru.


Shinobu mencoba menggunakan The Mind tetapi ia sudah mencapai batasan yang mampu memberi dirinya sakit kepala karena terlalu berlebihan menggunakan kemampuan itu sebelumnya.


Shinobu mengarahkan kedua perisainya ke atas tetapi Aerith menghantam perisai tersebut sekuat tenaga dengan meniru daya kekuatan yang besar melalui Golden Overdrive.


Hantaman itu sudah cukup untuk menghancurkan kedua lengannya sampai tubuhnya menerima dorongan hitam yang begitu dalam sampai mulutnya memuntahkan banyak darah.


Shinobu terjatuh di atas tanah sampai menyebabkan daratan retak sampai meluas, ia menatap Aerith mulai memeluk tubuhnya sendiri karena menikmati maha karya yang begitu hebat seperti tubuh Shinobu.


Shinobu menumbuhkan kembali kedua lengannya menggunakan Golden Alchemist, "Aerith... kamu memang tidak bisa dibantu lagi."


"Uang sudah mencuci otakmu... hampir sama seperti Manusia rakus yang akan melakukan apapun demi uang untuk memenuhi kebahagiaan mereka sendiri." Shinobu menghapus darah di mulutnya.


Aerith tersenyum lalu ia terbang tinggi ke atas langit lalu melepaskan gelombang laser hitam melalui mulutnya, sama halnya dengan Shinobu ketika melancarkan sihir gelombang emasnya.


Shinobu memunculkan sihir perlindungan emas yang begitu cerah, tubuhnya langsung dibungkus dengan daun emas sampai Aerith langsung menembak dirinya lagi dengan gelombang hitam yang berhasil menyebabkan ledakan besar.


Gelombang itu berhasil menghancurkan pertahanannya sampai menjatuhkan Shinobu di atas tanah, ia langsung berguling ke arah berbeda untuk menghindari tembakan Repulsor lainnya dari Aerith.


Shinobu melompat ke belakang lalu melakukan beberapa backflip ke belakang untuk menghindari sihir gelombang itu karena Aerith terus melepasnya tanpa batasan apapun karena Lenergy yang tak terbatas berkat julukannya sebagai penyihir.


Shinobu yang terus menghindari langsung melompat ke atas untuk membidik Aerith menggunakan kedua tangannya tetapi ia menghilang seketika sampai ia menoleh ke belakang lalu menerima satu hantaman dari Aerith.


"Ugh...!" Shinobu mengayunkan Kerisnya ke depan tetapi Aerith melompat melewati dirinya lalu menendang kepalanya sampai ia terdorong ke atas.


Aerith mulai menciptakan Keris yang sama dengan Shinobu melalui tintanya lalu ia bersama dirinya mulai saling mengadu serangan tebasan sampai menciptakan suara yang bising.


Aerith berhasil menangkap tangan Shinobu lalu memotongnya, setelah itu ia menendang perutnya cukup dalam sampai ia terdorong ke belakang.


Aerith melepaskan pembakaran hitam melalui kedua tapaknya lalu melepaskan satu tendangan melalui sikutnya yang didukung dengan pembakaran sampai mengenai wajah Shinobu lalu menghancurkan tengkoraknya.


"A-Ack..."


"Karya ini hebat bukan...? Terkadang sesuatu yang palsu seperti replika bisa terlihat jauh lebih baik dari yang asli!" Aerith menjenggut rambut Shinobu lalu ia menyentuh wajahnya dan melepaskan Black Repulsor.


Shinobu terpental ke belakang sampai tubuhnya menabrak banyak sekali pohon dan gunung, dirinya menerima serangan yang menyebabkan kondisinya menjadi sekarat.


Walaupun Aerith meniru wujud dan kekuatannya, entah kenapa rasanya ia jauh lebih kuat dibandingkan Shinobu yang kemungkinan besar menerima risiko karena peningkatan drastis dari Light of Hope.


"Putri kecil...! Putri kecil...! Bangun...! Apakah Anda baik-baik saja...?!" Panggil Tech yang mencoba untuk membangunkan Shinobu.


Shinobu membuka kedua matanya sampai pandangan yang ia lihat buram, ia mulai berlutut di atas tanah dengan darah yang berjatuh di atas tanah.


Anastasia mulai berubah menjadi wujud Legenda yang berlutut di sebelah Shinobu selagi mengelus kepalanya untuk memberi dirinya motivasi karena ia sendiri terlihat seperti kesulitan.

__ADS_1


"Rasanya sulit ya... Koneko..."


"Mm... sakit..." Shinobu menumbuhkan daun emas dari dalam daratan lalu mengambilnya untuk memakannya sampai ia melihat serangan gelombang hitam lainnya.


Anastasia langsung mengeluarkan sebuah gitar lalu melepaskan suara keras yang mampu mendorong serangan itu ke belakang, "Pertarungan ini sangat cocok untuk dijadikan latihan..."


"...bukannya begitu?" Tanya Anastasia yang mencoba sekuat mungkin untuk memberi Shinobu motivasi agar ia mau berdiri dan melawannya dengan sungguh-sungguh.


"Aku ingin tahu..."


"...kenapa dunia ini begitu menyesatkan sampai membutakan banyak orang?" Tanya Shinobu kepada Anastasia sampai tubuhnya terus menjatuhkan banyak darah.


"Dari mana harga diri Legenda mereka yang selalu dibanggakan...?"


"Mengapa sekarang Legenda tidak menganut kebebasan lagi... mengapa mereka memerintah dan membiarkan diri mereka diperintah karena sebuah kebutaan?"


Tech dan Anastasia mulai mendengarkan apa yang coba Shinobu katakan karena saat ini ia melawan seseorang yang sungguh berbakat bahkan bisa saja mengubah dunia dengan karyanya sendiri.


"Mengapa mereka... masih ingin menjalani hidup mereka dalam kebutaan ini?"


"Ketakutan adalah asal dari setiap kekuatan, Koneko. Kegagalan, kekecewaan, ketamakan, kejahatan, pengkhianatan, juga... kekalahan." Ucap Anastasia selagi mengusap kepala Shinobu.


"Aku... aku tidaklah kuat... masih belum cukup untuk menjadi sesosok Legenda yang selalu aku idolakan..." Shinobu menatap ke depan sampai berhalusinasi melihat Shira yang berdiri selagi membelakangi dirinya.


Terdapat Minami dan Shuan yang berdiri di sebelahnya juga sampai ia mulai tersenyum kecil lalu menerima sebuah usapan dari depan oleh Megumi juga karena dirinya masih jauh dari kata kuat.


"Tidak sekuat itu... sekuat mereka yang aku sayangi..." Shinobu tersenyum polos karena dirinya masih memiliki perjalanan yang begitu panjang.


"Aku selalu menahan tangisan dan kesakitan itu demi memenuhi janji Mama..."


"Beliau mengatakan sesuatu tentang keberanian dan kekuatan... tangisan dan terlihat kesakitan itu adalah sumber kelemahan yang dapat dilihat dengan jelas..."


"Aku menutup tangisanku... di dalam hatiku sendiri..." Shinobu secara tidak langsung curhat kepada seseorang yang bisa dibilang musuhnya sendiri yaitu Anastasia.


"Aku mengenakan peralatan seperti teknologi karena diriku memang lemah, selalu kupakai dan andalkan karena lemah sampai kekurangan..."


"Takut bukanlah hal yang salah... terutama lagi lemah dan takut dapat di evolusikan menjadi sesuatu yang lebih baik." Jawab Anastasia yang mulai memeluk dirinya.


"Rasa takutlah yang memberitahu kelemahanmu sendiri..."


"...setelah mengetahui kelemahanmu itu kau bisa menjadi lebih kuat dan tentunya lebih baik dari sebelumnya!"


"Tak ada satu pun orang yang lebih unggul dari yang lain, meski jika sepuluh kali atau bahkan ratusan kali lebih kuat dari yang lain, meskipun dia lebih memukau."


"Tak ada satu pun orang yang tak pernah berbuat salah dalam kehidupannya...!"


Shinobu mengepalkan kedua tinjunya lalu menggigit bibirnya sampai berdarah, "Ternyata aku memang salah... kebaikan itu tidak akan selalu memberi diriku arti yang positif."


"Kebaikan harus aku pisahkan dari kumpulan sampah yang tidak berguna... aku akan menjadi harapan baru bagi mereka yang sudah gugur." Shinobu menghantam daratan cukup keras.


"Dunia ini memang sudah rusak... kerusakan itu disebabkan oleh mereka yang menerima kenikmatan dari penyelamatan para Legenda layak." Shinobu bangkit sampai rambutnya mulai bergerak cepat karena mengenai embusan angin.


"Mana yang kau ingin pilih, Shinobu Koneko?"


"Akankah kau merelakan segalanya hanya karena pernah gagal? Atau sekali lagi membantu meski mereka sudah pernah gagal?"


"Jangan salah paham..." Shinobu memasang tatapan datar kepada Anastasia yang mampu mengejutkan dirinya sampai jantungnya sempat berhenti seketika.


"...aku belum kalah dari siapa pun... di saat aku kalah adalah hari dimana aku mati bersama dengan semua hal yang nyata..."


"...Koneko... takkan menyerah!" Matanya kembali hidup sampai tatapannya kembali terlihat polos, seperti anak kecil yang selalu penasaran dengan hal apapun.


"Koneko...!" Shinobu mengeluarkan aura emas yang begitu cerah dengan tambahan warna merah di dalamnya sampai bilahnya diselimuti aura darah.

__ADS_1


"...Akan berjuang!!!"


__ADS_2