
Ledakan tadi sempat menarik perhatian semua warga kerajaan Lesolvia termasuk raja itu sendiri, sebagian dari mereka panik dan melarikan diri sedangkan para penjaga langsung melihat situasi.
Koizumi dan Shinobu yang sedang melakukan investigasi bahkan terkena dorongan ledakan itu, semuanya menerima luka yang berbeda karena ledakan tadi itu.
Hampir sama seperti nuklir kecil, pada Legenda medis segera menyembuhkan luka-luka parah yang di miliki oleh beberapa warga.
Mereka yang berada di jarak dekat dengan ledakan tadi menerima kematian yang menyakitkan dan mendadak sampai saat ini kerajaan dan alam di sekitar terbakar oleh api.
Kanzer dan Ariana yang sedang mengawasi bahkan terpental ke belakang sampai terjatuh ke dorongan ledakan itu, mereka telah melampaui batasan untuk mengingat trauma Hinoka kembali.
"Kau sudah... melampaui batasan itu... Kanzer... dia mengamuk sekarang..." Peringat Ariana yang kembali bangkit selagi melacak kembali piranha yang ia lepaskan.
"Tidak apa... dengan ini kita bisa membunuh ketiga Legenda itu lebih cepat, aku juga melihat Koizumi dan Shinobu menerima dorongan dari ledakan tadi." Kanzer tersenyum serius.
***
"Ugghhh..." Konomi menerima luka yang cukup parah karena ledakan tadi bahkan ia mulai melihat sekelilingnya yang dipenuhi dengan api panas.
"Sialan... aku tidak bisa melacak mereka jika situasi menjadi buruk seperti ini..." Konomi mulai bangkit dengan tubuh yang ia pulihkan menggunakan kemampuannya itu.
"Ako... Dimana Ako...?! Semoga saja selamat...!" Konomi mencoba untuk mencari Ako tetapi ia terus merasakan arwah yang beterbangan, mereka semua menjerit keras merasakan kesakitan dari ledakan tadi.
"Kakak..."
Konomi menoleh ke belakang lalu ia melihat Ako yang berbaring di atas tanah dengan luka cukup parah, piranha itu bergerak dari belakangnya melalui cairan air.
"Ako---"
"Kau harus... mencari lokasi kesatria itu... sebelum... semuanya terlambat."
Peringat Ako sehingga ia menggunakan kemampuan pertahanan itu untuk menahan gigitan piranha yang langsung membawanya pergi.
Konomi mengepalkan kedua tinjunya lalu ia mulai berpikir keras untuk mencari lokasi musuh itu, dari jarak yang jauh ia juga dapat melihat Hinoka mengamuk sampai meledakkan apapun secara membabi buta.
"Hinoka... bagaimana ini...?! Dia juga bahkan mengamuk... aku harus mencari kedua kesatria menjengkelkan itu...!"
"Musuh itu... salah satunya sudah pasti terluka karena serangan tombak yang aku lancarkan!"
***
"Baiklah... semua ini berkat rencana kita yang menggunakan kartu as sebagai pilihan terakhir."
"Dengan Ako yang perlahan-lahan... di makan oleh piranha... aku yakin dia tidak bisa... membantu mereka lagi... dalam kemampuan arwah itu..." Kata Ariana.
"Segera bunuh Ako secepatnya!"
"Ya... aku sedang mencoba... sabar lah dulu... aku sudah terluka... tapi aku masih memiliki... kekuatan untuk... menyerangnya..."
Ariana langsung menarik tangan Kanzer lalu bersembunyi di balik pohon, ia sempat melihat Konomi yang terbang di atas langit selagi melihat sekeliling.
"Kanzer... musuh kita mendekat..." Peringat Ariana sehingga Kanzer tercengang ketika melihat Konomi berada di atas langit selagi melihat sekeliling.
"Dimana posisi piranha itu sekarang?"
"Sedang mendekat... berpindah tempat melalui cairan selokan... tunggu saja..."
"Serangan pelacak... dan kemampuan... arwah penukaran itu... sudah pasti habis..."
"...sepertinya dia memang... sedang melacak diriku agar bisa... membunuhku... untuk menghentikan serangan piranha..."
"Tenang saja, Ariana. Mustahil jika dia ingin mencari keberadaanmu, bukannya Cordelia mengatakan sesuatu arwah yang beterbangan jika seseorang mati?"
"Aku yakin dia menghadapi kesulitan itu ketika mencari kita... banyak sekali halangan yang ia rasakan sampai mustahil untuk dirinya menemukanmu."
Kanzer melihat Konomi tiba-tiba mengarahkan pandangannya kepada Ariana, jantungnya langsung berdetak cepat karena Ariana juga dapat melihatnya dengan jelas bahwa Konomi telah menemukan lokasi tersebut.
__ADS_1
"Kenapa...? Kenapa bisa dia... mengetahui lokasiku...?"
"Tenang saja, Ariana! Aku yakin dia hanya melihatnya secara asal, banyak sekali keberadaan yang terus menghalangi dirinya..."
Ariana mulai memegang erat lengan kanan Kanzer lalu ia menatap dirinya, "Lebih baik... kau pergi saja..."
"...apakah kau tidak mengingat Ako? Dia sudah pasti melakukan telepati kepada Konomi bahwa piranha yang masih menggigit dirinya."
"Telah menerima kemampuan arwah yang dapat melacak keberadaan diriku..."
"...mereka sungguh jenius dalam keadaan seperti ini sampai kita harus berpencar sekarang juga." Ariana kali ini berbicara dengan serius.
"Jadi begitu ya... Ako... dia dapat melacak keberadaan seseorang dengan melihat, merasakan, dan menyentuh sihir dirimu sampai ia tahu asalnya dari mana."
Kanzer merapatkan giginya kesal sampai kedua matanya mengalirkan air mata deras, ia melihat Ariana mulai membiarkan dirinya untuk pergi agar bisa mengurus Hinoka.
"Sudah lah... biarkan aku... mengurus Konomi... sedangkan dirimu hanya memiliki dua pilihan..."
"...lari atau melanjutkan... pekerjaan untuk membunuh Hinoka---"
"Tentu saja melanjutkan pekerjaan! Kesatria dengan penuh kebanggaan seperti diriku tidak akan pernah melarikan diri!" Seru Kanzer keras dengan ekspresi emosional.
"Kita harus berpisah sekarang juga... aku harap bisa bertemu denganmu lagi, Ariana! Semoga aku bisa melihat dirimu di tempat perkumpulan itu." Kedua lengan Kanzer membentuk capit kepiting lalu ia menggali sebuah lubang.
Dengan cepat Kanzer masuk ke dalam lubang itu lalu menggali penuh kecepatan menuju arah Hinoka agar ia bisa menyelesaikan pekerjaannya demi Ariana dan harga dirinya sebagai kesatria.
"Ternyata apa yang di katakan... pemimpin Leon benar... kalian semua... tidak bisa diremehkan begitu saja..."
"...semuanya kuat... berpengalaman... dan hebat..." Ariana melihat Konomi mendarat di belakangnya dengan tombak yang langsung ia keluarkan.
"Sekarang aku menemukan dirimu, brengsek...! Setelah merasakan semua kesulitan untuk menangani kemampuan dari kesatria Aquarius...!"
"Akhirnya aku bisa membalaskan semua dendam yang aku miliki kepadamu... lepaskan Ako...!"
"Kau sudah tertangkap basah sekarang, kemampuan arwah Ako dapat mendekati pengguna sihir dan serangan... walaupun membutuhkan banyak waktu..."
Ariana mengambilkan piranha itu lalu ia mengeluarkannya melalui darah yang terdapat di leher Konomi tetapi ia secara refleks langsung menusuk piranha tersebut membakarnya.
Ariana mengeluarkan lebih banyak piranha, ubur-ubur, dan hiu tetapi mereka semua berhasil di tusuk oleh Konomi lalu mengubahnya menjadi ikan panggang dengan tatapan kesal.
Ariana hanya bisa diam dengan tatapan tenang karena ia sendiri sudah pasti akan mati, pertarungan jarak dekat bukanlah keahlian yang ia miliki sampai ia mencoba sekuat mungkin untuk menahan dirinya.
Konomi tanpa basa basi langsung mengayunkan tombaknya sampai menghancurkan zirah Ariana, setelah itu ia mulai melancarkan serangan bertubi-tubi ke arah dirinya.
Ariana diam dan menerima kematian itu sebagai seorang Legenda yang sudah kalah, ia terus menerima tusukan dari tombak itu tanpa henti sehingga Konomi mempercepat pergerakannya.
"Pengkhianatan... bagi bangsa Legenda dan kerajaan..."
"... pengkhianat seharusnya tidak... memiliki pilihan lain... selain merasa takut dengan... masa depan..."
"...kenapa... kenapa mereka bisa terus maju... dengan melakukan pemberontakan..."
"...kenapa mereka... bisa memiliki harapan..."
Konomi menjatuhkan Ariana lalu ia menusuk perutnya cukup dalam dan menahan dirinya di atas tanah karena ia tidak ingin membunuh dirinya terlebih dahulu sebelum Shinobu membaca pikirannya.
Ako muncul di belakang Konomi, ia mulai mendekati dirinya lalu menyentuh lehernya, untungnya ia masih bisa merasakan detak nadi itu.
"Syukurlah... kamu baik-baik saja, Ako..." Konomi tersenyum penuh dengan rasa syukur karena ia melihat Ako juga membuka kedua matanya.
"Kerja yang bagus... Kakak..."
***
Hinoka menjentikkan jarinya sampai melesakkan kesatria kepiting di hadapannya tanpa menyisakan apapun, ia merasakan keberadaan seseorang mendekat dari dalam daratan.
__ADS_1
Hinoka mengangkat lengan kanannya lalu ia memasukkan ke dalam daratan sehingga ia berhasil mengeluarkan seekor kepiting yang mencoba untuk mencapit hidung dan tangannya.
Kanzer yang berada di dalam kepiting itu mulai melompat ke belakang lalu melarikan diri dari jarak yang lebih jauh dari 10 meter karena Hinoka dapat mengubah apapun dengan jarak yang seperti itu.
"AKU TIDAK AKAN MEMBIARKAN DIRIMU LARI...!!!" Hinoka mengejar Kanzer dengan ekspresi kesal.
Setiap halangan yang ia lihat langsung di ubah menjadi ledakan bahkan seorang penjaga yang mencoba untuk menahan dirinya langsung Hinoka angkat dan lempar ke arah Kanzer.
Kanzer melihat penjaga itu meledak seketika sampai membuat dirinya bertambah panik, "Dia sangat gila...!!! Dia bahkan mengubah Legenda menjadi bom besar...!?!?"
Kanzer menoleh ke belakang sampai dikejutkan oleh beberapa penjaga yang Hinoka lempar sampai meledak ke arah dirinya, ia mulai kesulitan untuk memilih jalan karena setiap benda akan berubah menjadi granat.
"Apa-apaan gadis sialan ini...?! Aku sendiri bahkan tidak diberikan kesempatan untuk menyerang dan berubah menjadi kepiting agar bisa memutuskan urat nadi itu...!" Ungkap Kanzer yang terlihat panik.
Kanzer mencoba untuk bersembunyi di balik bangunan tetapi Hinoka tanpa ampun langsung mengubahnya menjadi ledakan sehingga ia terpental keluar.
Bukan hanya bangunan itu yang meledak melainkan setiap bangunan yang berada di dekatnya ikut meledakkan karena kemampuan ledakan Hinoka yang ia tambah dengan penyebaran.
BAAAMMM!!! BAMMM!!! BAMMM!!!
"Itu pasti, Kak Hinoka... Kakak, ayo cepat... sepertinya dia mengamuk!" Seru Shinobu yang mulai terbang ke arah ledakan penyebaran tersebut.
"Ya... Ayo..." Kata Koizumi, ia mulai mengikuti dirinya dari belakang dengan ekspresi khawatir karena sepupunya telah mengamuk mungkin karena melihat darah atau mencium bau melati.
***
Sekeliling jalan Hinoka terbakar dengan api bahkan setiap Legenda yang datang untuk menghentikan dirinya malah meledak sampai mereka semua mulai menjauhi dirinya.
"Kemana kau... KESATRIA ZODIAK SIALAN...!!!" Teriak Hinoka keras sampai menyebabkan ledakan lagi melalui tubuhnya yang mampu membuat Kanzer bangkit dari atas lantai.
"TIDAK ADA KATA LARI DALAM KEMATIAN...!!!"
"HANYA PENDERITAAN...!!!"
"Apakah kau marah, dasar bocah tengik!" Terdengar suara Kanzer di belakang, Hinoka langsung menoleh kepada dirinya dengan ekspresi kesal.
"Ternyata kau membakar wilayah kerajaan ini menjadi lautan api, semuanya meledak sampai kau menghabiskan banyak nyawa dengan ledakan itu."
"Tidak ada yang peduli... urusanku adalah membunuh dirimu... aku tidak peduli jika mereka mati karena kerajaan seharusnya tidak ada..." Jawab Hinoka, kali ini dengan ekspresi kosong.
"Kau memang gila, brengsek...!!!"
"BRENGSEK!!!" Teriak Kanzer keras sehingga Hinoka melihat penampilannya yang sudah hancur.
Zirahnya sudah hancur setengah sampai memperlihatkan beberapa luka bakar di tubuhnya, melihatnya saja sudah membuat Hinoka merasa tidak sabar untuk meledakkan dirinya.
"Sepertinya... aku tidak perlu meledakkan kerajaan ini..." Kata Hinoka.
"Dalam jarak seperti ini... kecepatanku... Kesatria zodiak Cancer sepertiku tidak akan kalah."
"Ya... terserah..."
Kanzer maju ke depan, mencoba untuk memutuskan leher Hinoka menggunakan kedua capitnya tetapi ia bisa melihat Hinoka berada di posisi yang sama.
"Aku akan mengubah organmu menjadi ledakan...!!!"
...
...
"Time Stop!"
Koizumi langsung menghentikan waktu untuk memisahkan pertarungan tersebut karena ia tidak ingin Hinoka membunuh dirinya terlebih dahulu karena ia masih membutuhkan beberapa informasi.
"Terima kasih, Hinoka..." Koizumi menghantam leher Hinoka untuk membuat dirinya pingsan.
__ADS_1
"...berkat ledakan itu, kau sudah menghapus beberapa sampah yang tidak diperlukan lagi..."
"...dalam di dunia ini."