Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 83 - Legendary


__ADS_3

Shira membuka kedua matanya dan melihat Shuri yang tersenyum bangga melihat penampilan Shira yang mengalami beberapa perubahan dimana sekarang rambutnya dipenuhi dengan warna emas, tetapi ia masih bisa melihat beberapa helai rambut berwarna hitam di tambah lagi helai rambut putih yang lumayan mencolok dibagian poni-nya.


Terdapat aura matahari yang menyelimuti tubuh Shira sekarang, Shuri bisa melihat bahwa itu bukanlah perubahan wujud melainkan itu adalah wujud yang akan Shira selalu gunakan bernama [The Legendary Sun], dia sudah mulai berada di tahap yang dekat dengan menjadi seorang Saint yang hebat. Seluruh kekuatan dan bahkan tenaga Shira berkembang cukup pesat sampai Shuri terkesan karena ia sudah bisa mengukur kekuatan-nya jauh lebih kuat dari dewa-dewi biasa.


"Sepertinya perlahan-lahan aku bisa melihat Saint Legenda yang akan memberi cahaya kepada Touri yang selalu saja diselimuti dengan kegelapan." Shuri tersenyum.


"Kekuatan ini... Aneh sekali... Kenapa aku merasakan suhu yang hangat di dalam diriku, suhu yang cukup seimbang..." Ucap Shira dengan nada yang pelan.        


"Lihatlah... Semangat-mu lah yang memberi dirimu hasil, pikiran-mu tidak mengendalikan dirimu dan memilih semaunya. Kau mampu berkembang cukup pesat dalam beberapa hari karena semangat dan motivasi yang kau miliki ini, aku bisa menebak bahwa dirimu sudah siap melawan dewa dan dewi apapun, Shira. Sekali kau naif dan sombong dalam menggunakan kemampuan itu maka kau dapat menghilangkan kemampuan tersebut." Kata Shuri.


"Kau masih belum siap untuk pergi dan menyelamatkan teman-temanmu... Dirimu masih butuh banyak latihan dari diriku, Shira. Kemampuan baru tidak akan membawamu kemana-mana sebelum pengalaman-mu penuh dengan pertarungan yang berbeda-beda." 


"Aku siap kapanpun... Aku lahir ke dunia ini hanya untuk membawa cahaya kepada kegelapan, sepertinya suatu saat nanti aku akan membawa kedamaian abadi untuk semesta ini." Shira mengatakannya dengan penuh motivasi dan semangat sambil menatap kedua telapak tangannya.


"Bagaimana jika kau gunakan kemampuan-mu itu untuk sementara...? Dengan kemampuan yang kau dapatkan itu, kau mampu menyerap segala cahaya yang ada di segala semesta termasuk dimensi apapun, tetapi masih belum cukup untuk dirimu menyerap cahaya yang berasal dari waktu yang berbeda dan dimensi alternatif yang berbeda..." Ucap Shuri.


Shira memejamkan kedua matanya dan ia mengacungkan kedua tangan-nya sampai semua cahaya yang berjumlah tidak bisa di hitung mulai terserap oleh Shira sampai seluruh tubuhnya bersinar cukup terang, ia memancarkan cahaya yang bisa Shuri rasakan bahwa cahaya itu bisa saja membunuh musuh yang memiliki hati tidak murni. Shira terlihat berkeringat dan bahkan panik karena ia tidak bisa menghentikan semua cahaya yang ia serap tanpa di sengaja.


"O-Oi...! A-Aku tidak bisa menghentikannya, Shuri...!" Shira menggerakkan kedua tangan-nya berkali-kali tetapi semua cahaya yang berada di ruangan itu masih terus diserap oleh dirinya.


"Kau masih harus fokus dan konsentrasi sepertinya... Sekarang lepaskan---"


Shira melepaskan semua cahaya yang ia kumpulkan ke atas langit, Shuri melebarkan matanya melihat cahaya yang Shira serap itu berjumlah sangat banyak sampai ia tidak sempat untuk menghitungnya, ukuran cahaya yang Shira lepaskan bahwa lebih besar dari semesta dan cahaya itu bisa saja membakar apapun. Shuri baru saja meremehkan potensi Shira yang benar-benar berbahaya jika tidak bisa di kontrol.


Cahaya yang berbentuk bulat itu meledak di atas langit dan menimbulkan hujan cahaya yang dapat melukai siapapun, semua hujan cahaya itu mengenai mereka berdua tetapi mereka tidak merasakan apapun karena cahaya sekarang sudah menjadi keseharian mereka dimana sekarang tenaga Shira kembali pulih ketika cahaya hujan itu mengenai dirinya.

__ADS_1


"... ..." Shira menatap kedua telapak tangan-nya sambil merinding karena kekuatan yang ia lepaskan tadi sangatlah kuat.


"Kekuatan-mu bahkan membuat dirimu sendiri ketakutan, Shira. Jika kau tidak bisa mengontrol cahaya sebesar tadi maka kau bisa saja memicu kehancuran untuk semesta Touri ini." Ucap Shuri.


"Maafkan aku..."


Shuri sekarang melatih Shira sepenuhnya dan memperbaiki segala kekurangan yang dia miliki, konsentrasi dan fokus Shira terus dilatih oleh Shuri sepenuhnya sampai ia tidak diberi waktu istirahat sampai Shira benar-benar bisa fokus dan konsentrasi setiap saat, di tambah lagi dia harus bisa tenang setenang air terjun yang mengalir.


Semakin hari berlalu, Shira terus meningkat dengan pesat karena bantuan dari Shuri yang terus memberinya latihan yang sulit tapi memberi hasil yang sangat memuaskan. Shira sekarang dapat mengumpulkan cahaya apapun semaunya tanpa harus takut untuk tidak bisa di kontrol karena saat ini dia sedang menciptakan matahari yang paling besar di depan-nya, Shuri terkesan bahwa Shira terlihat seperti menciptakan sebuah dunia.


Shuri dan Shira sekarang bertarung satu lawan satu dimana mereka berdua tidak mampu mengenai satu sama lain walaupun sudah bertarung selama beberapa jam, kemampuan menghindar mereka setara sampai serangan mereka tidak mengenai satu sama lain. Shuri merasa bangga melihat Shira yang sudah mencapai puncak itu tetapi dia masih kekurangan terhadap serangan dan pergerakan.


Shuri berencana untuk melihat Shira tentang serangan dan pergerakan agar di latih tanding selanjutnya dia dapat menyentuh Shuri, tetapi hal itu akan membuat Shira menginjak puncak yang lebih tinggi lagi dan bisa disebut bahwa Shira sudah jauh lebih kuat dari Shuri sendiri. Ketika Shuri menyuruh Shira untuk memukulnya sekeras mungkin, sepertinya dia baru saja melakukan kesalahan dimana ia menahan satu pukulan tinju Shira yang membuat tubuhnya bersinar cerah serta punggung-nya melepaskan dorongan yang besar di belakangnya membuat dirinya terdorong ke belakang.


"A-Apa itu...?" Shuri sempat terkejut melihat hal itu.


Melihat Shira saja sudah membuat Shuri merasa bangga bahwa dia melatih dirinya dengan sangat sempurna sampai ia menjadi sesosok Legenda mortal yang jauh lebih kuat dari dewa dan dewi. Shuri masih belum bisa menyebut siap untuk Shira sendiri karena masih banyak yang harus ia ketahui tentang kekuatan dan sihir-nya sendiri yang berdampak cukup dahsyat.


"Mari lanjut latihan lain-nya..."


"Aku siap kapanpun...!"


***


Asuka menemukan sebuah surat di dalam laci milik Shuri, ia segera memanggil Chiara sampai ia datang menghampirinya untuk melihat apa yang Asuka temukan. Sebuah surat dengan tulisan yang tidak bisa mengerti, Asuka mencoba membacanya beberapa kali dan berakhir tertidur di atas lantai sedangkan Chiara terus melihat tulisan itu dan mencoba untuk mencari informasi yang tertulis di surat itu sebisa mungkin.

__ADS_1


"Chiara, mari menyerah. Asuka merasa mual membaca tulisan itu..." Kata Asuka sambil memejamkan kedua matanya.


"Jangan menyerah dengan mudah seperti itu, bodoh. Kau bukanlah Asuka yang aku kenal sekarang..."


"Tapi Asuka ngantuk..." Asuka tertidur.


Chiara terus membaca tulisan itu sampai berkeringat, setelah beberapa menit kemudian ia juga memilih untuk menyerah dan menyimpan kertas itu di dalam saku celananya. Melihat Asuka yang tertidur dengan tenang di atas lantai membuat dirinya ikut berbaring disebelah-nya sampai Asuka tersenyum kecil dan memeluk Chiara seperti bantal.


"O-Oi...! B-Bodoh...! Apa yang kau lakukan, kepala udara...!?"


"Mmmm... Chiara, Asuka merasa hangat dekat dengan Chiara." Asuka tersenyum.


Chiara tidak memiliki pilihan lain selain diam karena pelukan Asuka itu membuat dirinya tenang serta mengingat semua teman-temannya. Chiara memejamkan kedua matanya dan ia bisa merasakan keberadaan Iblis yang sedang bergerak di semesta Xuusuatouri, sepertinya mereka semua sedang menaklukkan sesuatu tetapi mereka tidak boleh ikut campur karena Shuri melarangnya.


Terlalu cepat untuk mereka berdua datang dan menyelamatkan penduduk Xuusuatouri karena mereka berdua masih belum cukup siap, mereka juga harus bertarung bersama rekan-rekannya tetapi mereka saat ini sedang berpisah. Shuri membiarkan mereka tinggal di tempatnya agar mereka dapat berlatih dengan tenang dan berlatih sampai benar-benar siap.


"Chiara mengkhawatirkan sesuatu...?"


"Ya...


"Asuka yakin mereka baik-baik saja, Asuka bisa merasakannya bahwa mereka dekat tetapi jauh di semesta yang berbeda."


"Ya, aku tahu itu, Asuka..."


Asuka mencium pipi Chiara, "Asuka dan Chiara harus berjuang!" Asuka tersenyum."

__ADS_1


Wajah Chiara mulai merah, ia segera menghantam wajah Asuka karena dia seenaknya mencium pipinya, "A-Apa yang kau lakukan, dasar kepala udara....!!!!"


__ADS_2