Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 818 - Memangnya Dunia Kematian pantas Untukmu?


__ADS_3

"Shinobu Koneko..." Anastasia memasang tatapan yang terlihat takut ketika melihat Shinobu baru saja membangkitkan kekuatan barunya melalui kemurnian dari amarah dan rasa sedihnya.


Penampilan Shinobu tidak memiliki perubahan apapun kecuali matanya yang biru mudah berubah menjadi merah darah, giginya juga mulai dipenuhi dengan taring tajam.


Terdapat matahari kecil yang terus berputar mengelilingi lehernya, Anastasia bisa menebak bahwa dirinya menggunakan wujud Beast dalam tubuh biasanya tanpa dikuasai oleh amarah karena ia sudah menguasainya.


Melihat salah satu keluarganya yang gugur seperti itu membuat dirinya mengerang kesal sampai ia merapatkan gigi taringnya lalu mengepalkan kedua tinjunya sampai aura emasnya menciptakan dua gelombang yang berputar ke atas.


"...setiap kekuatanmu memang tertahan dengan semua emosi dan perasaan yang selalu kau tahan ya? Jadi begitu..." Anastasia menutup wajahnya di atas tanah.


Ia sendiri tidak begitu peduli dengan takdir adiknya sendiri, yang paling penting adalah ia sudah sukses untuk mendapatkan kepercayaan penuh Shinobu tanpa diketahui bahwa dirinya sebenarnya sudah merencanakan banyak hal.


Di mulai dari semua kekacauan yang tercipta karena Aerith, semua itu akan mempercepat proses kristal kehancurannya agar dirinya dapat melakukan eksperimen kepada seluruh penghuni alam semesta.


"Ahhhhhh~ sebuah karya yang dapat berevolusi menjadi lebih baik lagi, cahaya yang begitu cerah dan indah... seperti melihat matahari dengan kacamata hitam!" Aerith memasang tatapan yang terlihat senang.


"The Mind: Erase Personality." Shinobu menunjuk Aerith menggunakan jarinya sendiri lalu menghapus salah satu sikap Aerith yaitu 'masokis'.


Menggunakan kemampuan seperti itu tidak menghambat dirinya karena kemurnian dari amarahnya sendiri serta rasa kehilangan telah menekan kembali risiko yang akan ia hadapi ketika menggunakan The Mind.


"A-Apa yang kau lakukan padaku, Shinobu Koneko!?" Tanya Aerith yang merasa aneh seketika, entah kenapa ia terasa jauh lebih normal sampai tubuhnya sempat merasa nyeri.


Aerith melebarkan matanya ketika melihat tongkat sihirnya menghilang dari tangannya tanpa sepengetahuan dirinya karena pergerakan Shinobu yang sudah melebihi kecepatan cahaya itu sendiri dengan kekuatan barunya.


"Huh...?!" Aerith menoleh ke belakang lalu melihat Shinobu mengangkat tongkat sihir milik penyihir tinta tersebut lalu menyerap kembali semua pasukan tinta itu sampai habis.


Sisa pasukan yang dirasuki oleh mereka langsung dibunuh oleh Shinobu dengan memukul dan menendangnya sampai organ di dalam tubuh mereka terpental keluar.


Mereka sudah mengacaukan banyak hal dengan memburu para Neko Legenda, ia juga mulai menggunakan The Mind untuk memenangkan semua Beast yang mengamuk lalu menjentikkan jarinya untuk memindahkan mereka menuju tempat aman.


Shinobu mengumpulkan semua mayat itu lalu mengubahnya menjadi cahaya, ia mengeluarkan satu daun emas lalu menghisap semua cahaya tersebut ke dalam daunnya.


Aerith melompat ke atas lalu ia memunculkan sirkuit sihir hitam yang besar di hadapannya lalu melepaskan gelombang hitam besar yang melesat penuh kecepatannya ke arahnya.


"Koizumi."


Shinobu melempar beberapa daun emas kepada dirinya sampai ia menangkapnya dengan tatapan kaget karena ia mendengar dirinya tidak memanggil dirinya dengan sopan untuk pertama kalinya.


"Makan semua daun herbal itu lalu urus pasukan kerajaan itu, jika bisa jangan memberikan mereka dunia kematian. Tidak baik membiarkan parasit masuk bukan..." Kata Shinobu.


Aerith memasang tatapan yang terlihat kesal, "Seharusnya karya seni seperti dirimu diam saja---"


"Kau yang diam..." Kata Shinobu yang sudah meninggalkan bekas pukulan besar di bagian perutnya lalu ia mendorongnya ke belakang.


"Sial--- HUEEEGGHHH!!!" Aerith memuntahkan banyak darah merah ketika menerima satu pukulan lagi dari Shinobu yang memasang tatapan kesal bahkan matanya terlihat mati karena sudah kehilangan seseorang yang sangat dekat dengannya.


Shinobu menghantam dagu Aerith sampai ia terdorong ke belakang dengan tatapan frustrasi karena tongkat sihirnya sempat dihancurkan oleh Shinobu agar dia tidak merencanakan sihir tinta lainnya.


"Aerith..."


Aerith menatap Shinobu yang memasang tatapan tajam kepada dirinya, "H-Huh...?"


"Aku membenci ini..."

__ADS_1


"Vibrasi yang aku rasakan melalui kedua tinjuku..."


"...darah yang aku rasakan melalui mulutku sendiri..."


"...suara dari hatiku yang terdengar oleh kedua telingaku..."


"...aku membencinya."


"Selalu."


"Tetapi sekarang... dalam kejadian seperti ini..." Shinobu menjatuhkan lebih banyak tetesan darah melalui matanya sebagai pelampiasan kesedihan karena sudah kehilangan Tech.


"Hal yang aku lebih benci dari itu... adalah kau tentunya." Shinobu menghampiri Aerith yang mengeluarkan banyak sekali sirkuit sihir hitam.


"Selama ini kamu benar tentang diriku... aku hanya sekedar pengecut... takut dengan apa yang akan terjadi jika kesabaranku habis..."


"...The Mind bahkan tidak bisa menahannya, hanya membantu mempertahankan akal sehatku. Takut... sungguh takut bahwa aku akan kehilangan jalan cahaya untukku sendiri..."


"...bisa saja aku tidak pernah kembali. Kemungkinan besar membunuh akan menjadi hobiku jika seperti ini... karena rasanya cukup baik untuk menurunkan stres dan kesedihan..."


Aerith terlihat ketakutan, wajahnya sempat memasang ekspresi yang sangat takut karena Shinobu baru saja mengatakan kata yang membangkitkan seluruh rasa ketakutannya sampai maksimal.


Hanya dengan sebuah perkataan saja sudah cukup untuk menyebabkan Aerith diam dengan kedua kaki bergetar, tangannya juga tidak bisa fokus menahan sirkuit sihir untuk melepaskan sihir yang besar.


"Ya... aku senang bisa mem---"


"HUAAAGGGHH!!!" Aerith terpental ke belakang karena menerima satu tendangan dari Shinobu.


"Brengsek...!!!" Aerith terbang tinggi ke atas langit lalu memunculkan sirkuit sihir hitam yang besar di atas kepalanya sampai ia langsung memperbesarnya dan menciptakan bola tinta yang besar.


"Seharusnya aku melakukan ini sejak awal...!!!" Aerith melempar bola itu menuju arah Shinobu yang berdiri tegak di atas daratan selagi mengepalkan kedua tinjunya.


"Fuhhh... dasar bodoh..." Shinobu menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan sekuat tenaga sampai mendorong mundur bola itu kembali menuju arah Aerith sampai menabrak dirinya.


Aerith memasang tatapan yang terlihat sangat kesal karena terus dipermainkan oleh dirinya, kedua matanya sampai menunjukkan garis merah karena ia sudah dekat dengan penghasilan yang besar.


"DASAR BOCAH TENGIK SIALAN!!!---" Perut Aerith menerima satu tendangan dari Shinobu sampai ia memuntahkan banyak sekali darah melalui mulutnya karena tendangan itu cukup ekstrem.


"Uck... harus... menggambar... lebih banyak..." Aerith mengeluarkan sebuah kanvas tetapi Shinobu berhasil merampasnya.


"Deadline sudah tiba." Shinobu menginjak kepala Aerith lalu menendang dirinya ke depan sampai ia mulai mengepalkan tinju kanannya yang memancarkan cahaya emas.


"Tidak...!!! Tidak...!!! Tidak...!!! Kenapa aku menjadi seperti ini sekarang...!? Seharusnya aku bisa memberi dirinya pelajaran yang menyakitkan...!!!" Aerith menusuk dadanya cukup dalam sampai menghancurkan kantung tinta yang ia simpan di dalam tubuhnya.


"SHINOBU KONEKOOOOOO...!!!" Teriak Aerith keras sampai ia melebarkan kedua lengan dan kakinya sampai tubuhnya mengeluarkan banyak sekali cairan tinta yang mampu menyebabkan cuaca menjadi hitam.


Shinobu hanya bisa diam lalu melihat ke atas langit yang menjatuhkan banyak sekali tinta, setiap noda yang mengenai tubuhnya langsung hilang, kedua teman dan sepupunya juga mendapatkan perlindungan yang sama karena sudah memakan daun herbal itu.


"SHINOBU KONEKO...!!! SHINOBU KONEKO...!!!" Aerith memasang tatapan yang gila karena terobsesi dengan Shinobu yang dapat menghasilkan banyak uang.


Kantung tinta yang ia simpan di dalam tubuhnya itu kartu as yang akan ia gunakan dalam suatu buruk, kebetulan sekarang adalah waktunya untuk mengubah Legenia menjadi planet seni untuk dirinya.


Shinobu mengerutkan dahinya, merasakan tubuhnya tidak bisa menampung kekuatan sebesar itu yang dipenuhi dengan kemurnian dari amarah dan kesedihan.

__ADS_1


Ia langsung melepaskan sinar cahaya yang sangat cerah untuk mengumpulkan semua tinta yang menyebar tinta, banyak sekali daun emas yang bertumbuhan melalui daratan dan juga pepohonan.


Semua daun itu langsung terbang ke atas langit sampai berkumpul untuk menghisap semua tinta itu, Shinobu langsung mengepalkan tinju kanannya yang terus bergetar penuh Lenergy karena ia sendiri sudah memutuskannya.


"Tidak ada tempat yang cocok untukmu... terutama lagi dunia kematian... apalagi neraka... semuanya tidak pantas bagi mereka yang membunuh keluarga dekatku...!!!"


"Kau ingin menikmati pemandangan indah demi karyamu 'kan!? Aku akan memberikannya sekarang juga agar kau bisa melihat tanpa beristirahat...!!!" Shinobu melesat maju ke depan.


Aerith menggerakkan kedua lengannya lalu mengerahkan semua sihir tinta ke arah dirinya semua Shinobu langsung menabraknya sampai menerobosnya ke depan.


Tubuhnya terus diselimuti oleh tinta yang mencoba untuk menghentikan dirinya lalu menguasai tubuhnya tetapi Shinobu terbang maju ke depan dengan kecepatan penuh.


Namun, semua cairan tinta yang tidak habis itu terus menahan dirinya sampai Shinobu di bantu oleh Koizumi dengan menyerapnya menggunakan The Greed tetapi masih tidak cukup.


Konomi dan Ako sudah membantu sekuat mungkin dengan melepaskan banyak sekali sihir es demi membekukan semua tinta itu agar bisa di hancurkan oleh Shinobu dengan tabrakannya.


"Kalian semua akan menjadi artefak...!!! Tidak...!!! SEBUAH PATUNG YANG BERNILAI BESAR KARENA MAHA KARYAKU AKAN SELALU TERLIHAT SEMPURNA...!!!" Seru Aerith keras yang terus melepaskan sihir tintanya.


Shinobu mengerahkan kekuatan penuh dengan tambahan Light of Hope yang ia tingkatkan menjadi angka seratus, punggungnya juga langsung menumbuhkan sayap pegasus.


"DUNIA KEMATIAN MASIH BELUM CUKUP...!!!" Shinobu melepaskan sinar cahaya matahari yang menghapus semua tinta itu tanpa sisa sehingga ia langsung berada tetap di hadapannya sekarang.


"APA---" Shinobu langsung menghantam dagunya dengan satu pukulan sampai menghancurkan rahangnya itu.


Shinobu langsung terbang mengikuti dirinya sampai membawa dirinya pergi keluar angkasa dengan beberapa serangan, Shinobu memukul tubuhnya sebanyak dua kali lalu melompat melewati tubuhnya.


Lompatan itu ia lanjutkan dengan satu tendangan yang mengenai tengkuk Aerith sampai ia mulai menghantam wajahnya lalu menebas dadanya cukup dalam dan menariknya ke bawah sampai mengeluarkan banyak tinta hitam.


Shinobu menghantam wajahnya dengan kenop keris itu sampai ia terpental ke belakang lalu melihat Shinobu terbang maju ke arah dirinya selagi menunjuk menggunakan tapak kanannya yang mengumpulkan banyak Lenergy serta cahaya dari matahari.


Shinobu menghantam dagu Aerith lagi lalu ia menebas kedua matanya sampai ia terpental ke belakang sampai menabrak banyak sekali asteroid.


Matahari kecil yang berputar di lehernya langsung pecah sampai merasuki tinju kanannya itu, Shinobu terbang tinggi ke atas langit lalu menyambut Aerith dari belakang.


"Nikmati pemandangan itu sekarang..."


"GOLDEN...!!!"


"...OVERDRIVEEEEEEEE!!!" Shinobu menghantam punggung Aerith dengan tinju emasnya sampai terjadi tekanan dan dorongan emas yang besar di sekelilingnya tubuhnya sampai Aerith mencoba untuk menjerit tetapi tidak bisa.


Rahangnya yang hancur membuat dirinya kesulitan berbicara, pukulan yang mengenai punggungnya mulai memberikan dirinya cahaya yang bersinar cerah sampai Aerith terpental ke depan dengan sangat jauh sampai merobek dimensi lalu memasukinya.


Pukulan Shinobu tadi adalah hukuman untuk mereka yang sudah membuat dirinya kesal, kemampuan penuh dari Golden Overdrive dapat mementalkan musuh untuk selama-lamanya dalam luar angkasa sampai memasuki ruang dan waktu yang berbeda.


Shinobu melihat robekan dimensi di depannya tertutup rapat, sekarang Aerith sudah bisa menikmati pemandangan abadi dengan tubuh yang akan terus terpental dan merasakan kesakitan secara abadi.


Pukulan Golden Overdrive yang menjebaknya dalam pentalan dimensi serta ruangan dan waktu untuk selamanya, dia tidak akan bisa bebas atau keluar... seseorang yang mencoba untuk membantunya akan terjebak juga.


"Hah... Hah... Hah..." Kemurnian amarah yang Shinobu buka lebar kembali tertutup rapat sampai pandangan matanya terlihat mati sampai tertutup.


Shinobu langsung terjatuh seperti meteor menuju salah satu planet tetapi seseorang langsung menyelamatkan dirinya yaitu kedua teman dan sepupunya.


"...Tech."

__ADS_1


__ADS_2