
"Soal Iblis yang bernama Redagon dan Oskadon, kedua iblis yang begitu cerdas dalam menggunakan kekuatan warisan mereka dengan benar... Apakah itu benar raja iblis juga dewa iblis tidak bisa dikalahkan?" Tanya Minami selagi menatap langit-langit.
"Mereka memiliki kekuatan yang berbeda sih, mereka juga abadi dan tidak akan bisa mati begitu saja." Kata Honoka selagi menyisir rambut Minami.
"Kamu dan Haruka kan memiliki kekuatan yang begitu hebat, contohnya seperti mengontrol waktu dan realitas, apakah bisa untuk mengalahkan raja iblis?"
"Hmm... Entah lah, kekuatan waktu di era seperti ini sudah dapat di lawan balik tetapi Kakak tidaklah bodoh dalam menggunakan kekuatannya, sekarang ia juga sudah mendapatkan kekuatan dari Heaven..."
"Heaven's Time yang Kakak miliki dapat melakukan sesuatu yang begitu spektakuler."
"Aku hanya ingin mengetahui, apakah bangsa iblis bisa melawan penghentian waktu Haruka?"
"Haruka tidak akan mengandalkan penghentian waktu saja, seluruh hal yang berkaitan dengan waktu terutama lagi ia akan menumpuknya, menyebabkan musuh itu terus terpengaruh."
"Hahhhh... Aku sangat-sangat membenci iblis terutama lagi dengan julukan mereka... Ego yang sangat besar dan harga diri yang begitu menyebalkan..." Minami menghela nafasnya, berharap pertemuan selanjutnya ia dapat menghentikan kedua iblis itu dengan cepat.
Honoka memeluk Minami dari belakang, "Sudah lah, jangan khawatir seperti itu, kucing kecilku... Kamu harus bisa menghadapi apapun dengan perasaan yang tenang."
"Honoka... Ya... Kau ada benarnya..." Minami tersenyum dan mendengar suara yang begitu bising dari belakangnya, terdengar pintu terbuka lebar dan Shuan baru saja sampai dengan tatapan yang terlihat serius.
Honoka menatap Shuan, "Apa yang kau mau, Shuan?"
"Aku ingin bertemu dengan Kakakku sendiri..." Kata Shuan, Honoka mundur beberapa langkah sehingga ia melompat menuju arah Minami lalu memeluk dirinya erat sampai mereka terjatuh di atas lantai.
"Sh-Shucchi...? A-Ada apa?" Minami terkejut karena ia tidak menyangka adiknya akan melompat seperti itu dan memberi dirinya sebuah pelukan.
"Kakak... Aku ingin mengulanginya dari nol, aku ingin memulai kembali dari tingkat paling bawah bersama dirimu."
"Aku ingin berlatih denganmu agar aku bisa menjadi Legenda layak yang dapat melampaui dirimu terutama lagi Ayah, aku ingin merasakan kekalahan sebagai pelajaranku itu sendiri!" Ucap Shuan selagi mengeratkan pelukannya.
Minami terkejut ketika mendengarnya, ia hanya bisa tersenyum dan memberi Shuan sebuah elusan, teman-teman mereka masuk ke dalam ruangan itu.
Melihat kedua saudara kucing itu akhirnya kembali akrab dan terlihat seperti saling membagi kasih sayang, perkataan Shuan sudah pasti akan Minami kabulkan karena ia menginginkan adiknya bisa bertambah kuat.
"Kalau begitu, mari kita memulainya... Berlatih dengan penuh usaha dan kerja keras tanpa bakat seperti mereka."
Minami tersenyum lalu bangkit dan membantu Shuan untuk bangkit juga karena mereka masih memiliki waktu untuk melakukannya.
Minami menatap Haruka yang sedang tersenyum, "Haruka, aku meminjam duniamu lagi... Kali ini, kami akan menggunakannya sebagai yang terakhir untuk persiapan melawan bangsa Iblis!"
"Tentu saja... Sebelumnya kamu menginginkan kubus waktu yang lebih kuat bukan? Latihan yang cukup intens dan sengit, aku akan memberikannya padamu." Haruka menciptakan kubus waktu lalu melemparnya kepada Minami.
"Baiklah... Terima kasih, Minami." Minami melempar kubus itu ke atas lantai sehingga kubus tersebut menciptakan sebuah portal hijau.
"Teman-teman, aku meminta bantuan kepada kalian untuk tetap berjaga-jaga, jangan sampai lengah dengan hal apapun. Kami hanya membutuhkan waktu selama 2 hari penuh saja untuk berlatih."
__ADS_1
""Heh!? Dua hari?!""
"Ya... Kami akan mencoba sesuatu dari nol dengan latihan yang lebih menyenangkan! Semua ini agar kita bisa meningkat dan berusaha lebih keras lagi...?" Minami mengepalkan kedua tinjunya.
"Kalau begitu... Jaga-jaga dirimu, Minami. Jangan memaksa diri ketika latihan, kamu juga memerlukan istirahat." Kata Hana.
"Ya, tentu saja. Aku pasti akan menggunakannya dengan baik." Minami mengangguk.
Shuan menatap Kou yang sedang melambaikan tangannya kepada dirinya, "Kou... Aku pergi dulu..."
"Mm... Hati-hati..."
"Oi, Shiratori Shuan." Panggil Rokuro.
Shuan menatap Rokuro dengan tatapan serius, Rokuro hanya bisa menunjukkan tinjunya kepada dirinya, memberi isyarat untuk bekerja keras dan melampaui dirinya saat ini.
Shuan melakukan hal yang sama, "Selanjutnya... Aku tidak akan kalah olehmu, Rokuro."
"Kalian memang selalu seperti itu ya..." Asriel terkekeh.
"Dan tentunya dirimu, Asriel. Aku tidak akan kalah dari siapa pun ketika aku keluar dari kubus itu." Shuan mengangguk lalu mengepalkan kedua tinjunya, rasa semangatnya sekarang bergejolak begitu tinggi.
Methode dan Shou menghampiri mereka berdua dengan sebuah senyuman.
"Sesama Shiratori, kita juga ingin melaksanakan latihan yang sama dengan kalian. Apakah kami boleh ikut?" Tanya Methode.
""Selamat bekerja keras!""
Para keturunan Shiratori telah masuk ke dalam kubus tersebut dan kubus waktu itu langsung Haruka ambil lalu simpan dengan aman, selanjutnya mereka hanya perlu berjaga-jaga soal Oskadon dan Redagon.
"Kalau begitu teman-teman, mari kita beristirahat karena masih memiliki kesempatan. Jangan lupa untuk selalu waspada dengan hal yang mencurigakan..." Kata Haruka.
""Ya!""
***
Keempat Legenda itu melompat keluar dari dalam portal tersebut dan mendarat di atas permukaan yang begitu panas, Shuan dikejutkan dengan berbagai tekanan dan rasa panas di sekujur tubuhnya.
"A-Apa ini...?!" Shuan melebarkan matanya ketika sadar bahwa dirinya saat ini sedang berdiri tepat di atas matahari tanpa perlindungan apapun.
"Kita berada di permukaan matahari ya, latihan seperti ini sungguh menyenangkan. Pemikiran yang bagus, Minami." Methode mengacungkan jempolnya kepada Minami.
"Kita sebagai keturunan Shiratori memiliki sihir cahaya sedangkan kalian cahaya campur api 'kan? Berlatih di permukaan matahari adalah hal yang pantas untuk kita."
"Anggap saja matahari sebagai planet yang biasa kita tinggali yaitu Legenia, matahari ini juga jauh lebih berbeda karena aku tadi sempat memasukkan beberapa cahaya."
__ADS_1
"Pantas saja tekanannya begitu kuat dan aku tidak bisa melihat ujungnya." Shou melihat-lihat.
"Sengaja. Aku meminta Honoka untuk menggunakan sihir realitasnya agar ia bisa membesar matahari ini menjadi sebesar satu semesta..." Minami terkekeh, membuat mereka semua tercengang ketika mendengarnya.
Rasa panas dan tekanan yang begitu kuat bagi mereka cukup terasa sedangkan Minami tidak karena sejak kecil ia memang sudah terbiasa berlatih dekat dengan matahari.
"Hah...! Hah...! Hah...! Kakak, matahari ini hanya akan membunuhku!" Seru Shuan dengan tubuh yang dipenuhi keringat, nafasnya terasa sangat berat.
"Kamu hanya perlu terbiasa, dengan melakukan pemanasan mungkin tubuhmu akan menerima semua tekanan dan kepanasan tersebut." Minami menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan pelan.
"Ini bukan sekedar matahari biasa melainkan [Korona Matahari], sulur cahaya mirip rambut menyebar dari matahari ke segala arah di kenal sebagai Korona."
"Atmosfer atas matahari, sulur-sulur ini paling terlihat saat gerhana matahari penuh, Korona matahari ini jauh lebih panas dari permukaan matahari dan kita berdiri tepat di atasnya."
Minami bisa melihat kedua sepupu dan adiknya kelelahan, keringat mengalir deras dan meleleh, latihan belum di mulai dan mereka sudah terlihat kelelahan seperti itu.
"Kalian hanya perlu mengontrol dan menguasai api serta tekanan yang mencoba berada di sekujur kalian, pikiran kalian seharusnya tidak perlu memikirkan soal kepanasan dan tekanan tersebut."
"Bawa santai... Anggap saja semua yang kalian rasakan adalah kekuatan yang akan datang, kekuatan tersembunyi yang kita sendiri tidak sadar ada." Tubuh Minami mulai memancarkan cahaya yang sama.
"Baiklah, mulai dari sekarang kalian harus melakukan latihan ini dengan sangat serius! Tidak ada lagi yang namanya menahan diri dan memulai secara bertahap..."
"Dan tentunya, kita akan melakukannya secara proses dan bertahap." Minami menatap Shuan.
"Jika kamu sudah siap, kita akan meningkatkannya ke tingkatan lebih lanjut lagi." Minami tersenyum karena tujuan utamanya untuk melatih Shuan agar bisa bertambah kuat dan positif tentang pikirannya.
Soal Methode dan Shou bisa ia serahkan kepada yang tertua yaitu Methode sendiri karena ia terlihat seperti sudah menguasai seluruh tekanan dan kepanasan yang di lepaskan oleh Korona matahari.
"Dan kau harus ingat, Shuan. Kuasai amarahmu dan sempurnakan lah, latihan ini jauh dari kata mudah dan sulit lagi melainkan taruhannya adalah nyawa dan mentalmu sendiri."
"Aku mengerti... Tapi seberapa sulitnya latihan ini?"
"Akan menjadi latihan yang sangat sulit dan intens selama seumur hidupmu." Ketika Minami mengatakan hal seperti itu, Shuan menundukkan kepalanya dengan tatapan yang lelah dan kesal.
"Hehehe..." Minami menghampiri Shuan lalu menepuk kedua bahunya.
"Kamu itu adikku, seorang putra dari Shiratori Shira juga. Aku yakin kau pasti bisa melakukannya, hanya perlu lebih percaya diri dan berpikir lebih positif lagi."
"Dan jangan lupa, kemampuan cahaya yang kamu miliki berdasarkan tata Surya, aku ingin kamu melakukan hal yang terbaik dengan seluruh kemampuan yang kau miliki..." Minami tersenyum.
"Dan... Apapun yang terjadi, aku akan selalu merasa bangga untuk adikku sendiri." Minami memberi kecupan kecil di kening Shuan.
"Mengerti...?"
"Baiklah!" Shuan menjawabnya dengan tatapan penuh semangat.
__ADS_1
"Bagus... Mari kita mulai."