Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 836 - Ikut denganku Sekarang, Menuju Realm of Light


__ADS_3

Shira muncul di depan kabin Kou, Shinobu yang sedang belajar di dalam perpustakaannya langsung merasakan keberadaan kakeknya, ia bergegas keluar dari perpustakaan itu untuk menemui dirinya secara langsung.


"Kakek... selamat datang kembali." Shinobu mendekati Shira lalu memeluk dirinya sampai ia menerima sebuah usapan di bagian kepalanya oleh Shira.


"Maaf aku terlambat..."


"...apakah hari kamu sedang sibuk? Mengerjakan sesuatu...? Memiliki tugas yang belum terlaksanakan?"


"Tidak kok... semuanya sudah selesai, Koneko hanya mempelajari kembali semua buku di perpustakaan itu." Shinobu tersenyum polos, ketika dia membicarakan sesuatu tentang mempelajari kembali maka dia memang bisa mengolah apapun dengan cepat.


"Sebelum itu, Shinobu."


"Mm...?"


"Seberapa banyak persentase yang kau gunakan terhadap otakmu sendiri...? Terkadang kamu tidak pernah berpikir kritis dan serius, sesantai apapun dirimu... kamu tetaplah cerdas."


"Anuu..." Shinobu langsung berpikir dan menyentuh bibirnya sendiri, ia sebenarnya tidak mengetahui maksud dari perkataan Shira tetapi ketika memikirkannya lagi, dia langsung mengerti.


"Tidak ada... aku sendiri tidak begitu tahu seberapa banyak persentase yang di gunakan, tetapi intinya tidak lebih dari nol kok karena jika aku menaikkannya lagi akan terasa pusing."


"Begitu ya..."


"...apakah kamu suka mencari kelemahan musuh dan belajar melalui kesalahan yang kau perbuat?"


"Mm, tentu saja."


"Koneko sudah berjuang..." Shinobu mengangguk sehingga Shira langsung menggendong tubuh kecilnya karena sudah saatnya ia membuka pikiran dan hatinya soal dunia yang kejam ini.


"Apakah kamu pergi bersamaku menuju Realm of Light?"


"Fueeehhhh?! Boleh...!?"


"Iya."


"Ayo..." Shinobu mengangguk lalu ia memeluk erat tubuh Shira sampai ia mulai melakukan lompatan cahaya sampai tiba di Realm of Light secara instan.


Pandangan Shinobu langsung di sambut oleh banyak sekali cahaya yang begitu indah bagi dirinya, ia bisa melihat semua itu untuk selamanya tanpa menerima efek samping yaitu kebutaan atau kegelapan setelah melihat cahaya terlalu lama.


Wilayah yang ia lihat juga penuh dengan tumbuhan dan pohon emas sampai banyak sekali hewan cahaya mulai berkeliaran, langit juga terlihat begitu emas sampai cocok dengan namanya.


"Wahhh... penuh dengan emas dan cahaya... semuanya terlihat begitu indah." Shinobu tersenyum lebar karena merasa senang bisa melihat partikel-partikel cahaya yang keluar melalui daratan.


Shira menurunkan Shinobu dan ia langsung berkeliaran di wilayah tersebut, ia mulai berinteraksi dengan semua tumbuhan dan hewan itu untuk menyesuaikan diri dengan Realm of Light.


Shira bisa melihat dirinya terlihat begitu bahagia dan polos sampai perasaannya mulai tidak enak, ia perlu membuka hati dan perasaannya agar bisa melepaskan semua hal yang ia simpan.


"Sialan... ternyata akan sesulit ini..." Shira memasang tatapan kesal, ia mencoba sekuat mungkin untuk membuatnya menangis dengan cara yang halus tetapi rasanya sulit.


...


...


"Shira..." Panggil Kou.


"Kamu sudah merasa baikkan? Aku dengar kamu jatuh sakit lagi." Shira baru saja datang dari Realm of Light, melihat Kou yang sedang berbaring di atas kasurnya.


"Aku merasa baikkan sekarang... maukah kamu mendengar permintaanku?" Kou duduk di atas kasurnya lalu ia melihat Shira duduk di sebelahnya.


"Permintaan seperti apa?"


"Mungkin aku terlalu mengharap dunia menjadi sesuatu yang lebih baik dan santai... pada akhirnya dunia telah membutakan banyak pandangan dan tentunya mengubah pola pikiran banyak orang."


"Awalnya aku mengira kita bisa bersantai setelah kelelahan Zoiru, kemenangan Minami seharusnya adalah sebuah puncak dimana semua orang akan ikut bersantai dan menikmati kedamaian tanpa macam-macam."


"Sepertinya aku salah mendidik Koneko... The Mind akan menyesuaikan dirinya terhadap kebaikan, sejak kecil aku selalu mengasuh dirinya dengan penuh kebaikan dan positif."


"Sampai dia tidak pernah berbuat keburukan atau kejahatan... dia juga sudah berjanji tidak akan pernah menangis lagi dan mengotori tangannya untuk mengubah dunia."

__ADS_1


"Aku tidak dapat mengubah dunia karena kondisiku... namun, Koneko memiliki kesempatan karena dirinya bebas dari kutukan. Hanya saja kutukan yang ia tanggung adalah perasaan simpanan itu..."


"...semua keburukan dan hal negatif yang di simpan dalam dirinya sampai ia hanya bisa mengeluarkannya ketika Beast di dalam dirinya menguasai atau mengendalikan tubuhnya."


"Jika saja dia menangis... hanya sekali maka semua perasaan dan emosinya akan terlepas, dia mungkin bisa membuka jalan yang selalu tertutup oleh perasaan menahan diri."


"Melihat Mamaku yang melakukan kejahatan dan pembantaian sejak itu... semua itu bermaksud baik bagi dirinya, sikap egois yang memberikan kecerahan untuk masa depan sampai menguntungkan semua orang secara tidak langsung."


"Jika kebaikan tidak bisa merubah sesuatu maka keburukan yang dipandang kebaikan bagi diri sendiri mungkin adalah cara kedua yang harus di lakukan..."


"...semua orang pasti akan melihatnya jahat dan egois, tetapi mereka tidak tahu bahwa hal tersebut dapat mengubah mereka semua. Lebih baik yang tidak mau bersyukur menerima kedamaian... mati saja..."


"...pola pikiran Koneko pasti akan mengerti dengan cepat, dia adalah gadis pintar... hanya saja perasaan dan emosi yang terus menahan dirinya."


"Aku tidak pernah merasa kecewa atau sedih kepada anakku jika dia melakukan keburukan demi mengubah hal yang sulit..."


"...aku melihatnya menggunakan The Mind, apa yang akan terjadi... semuanya harus dicegah... Koneko harus bisa melangkah menuju jalan yang ia anggap benar..."


"...lagi pula, kita semua sudah terlambat... semua penduduk dan alam semesta lebih dengan kebohongan karena mata mereka sudah buta termasuk dengan pendengar yang tak mampu mendengar kebenaran."


"Koneko adalah keturunan Shiratori yang terakhir... cahaya harapan tersisa dari keturunan..."


"...cahaya memang selalu cerah dan berlambang positif, tetapi... Apakah ide yang baik jika kau terus melihat cahaya tersebut tanpa sebuah pelindung?"


"Apa yang akan terjadi jika kau melihat cahaya terlalu lama...? Pasti gelap kan... penglihatanmu tidak bisa melihat cahaya terlalu lama..."


"...itu kasus yang sama dengan Minami dan Koneko, cahaya Minami hanya menyinari untuk selama seperti lampu yang di matikan ketika siang hari."


"Setidaknya, biarkan Koneko merasakan arti dari keseimbangan itu..."


Kou menatap Shira sehingga ia melebarkan kedua matanya sampai mengeluarkan banyak air mata seketika, "Kou...?"


"Apa yang terjadi!? Kenapa kau menangis...!?" Tanya Shira dengan tatapan serius ketika melihat dirinya menangis tanpa sebab ketika melihat wajahnya dengan tatapan serius.


"E-Ehh...? Aku menangis...? Tidak apa-apa kok... mungkin karena kutukan itu... air mataku malah keluar sendiri..." Kou menghapus air matanya.


"Akan aku coba... berbuat baik terlalu berlebihan itu tidak akan selalu bisa membawa hal yang positif bagi dirinya..."


"...ternyata potensi Shinobu memang terkunci karena penahan diri dan perasaan yang selalu di pendam ya." Shira bangkit dari atas kursi tetapi Kou langsung menarik lengannya.


"Harapan itu ada padamu... kau bisa membaginya dengan Shinobu..."


"...jika saja aku tidak memiliki kutukan itu... lahir dengan normal maka aku sudah merancang semuanya... agar bisa berakhir dengan cepat." Kata Kou.


"Ya, tenang saja... aku juga pastinya akan berusaha untuk menciptakan Legenda layak yang kuat dari siapa pun yaitu cucuku sendiri." Shira mengelus kepala Kou.


"Ayah... apakah aku bisa memelukmu...?" Tanya Kou.


"Ya..." Shira langsung memeluk Kou sehingga ia bisa merasakan pelukan erat darinya yang terasa begitu keras sampai bajunya terasa basah seketika karena dirinya mulai menangis lagi."


...


...


Shira menatap kedua telapak tangannya lalu ia melihat Shinobu yang sedang menunggangi seekor kuda emas, ia terlihat bersenang-senang bermain di dalam wilayah cahaya itu.


"Shinobu!" Panggil Shira.


Shinobu menghentikan pergerakan kuda itu lalu ia turun dari atas dan mendekatinya dengan ekspresi polos, "Ada apa, Kakek?"


"Ikut denganku, kita pergi jalan-jalan." Shira berjalan pergi menuju arah barat, Shinobu mengangguk lalu ia mengikuti dirinya selagi memetik beberapa bunga yang ia lihat.


"Cahaya yang terus bersinar tanpa batas... dapat membutuhkan dan menggelapkan penglihatan bagi mereka yang tidak mengerti sampai terus mengharapkan dirinya..."


"...indah bagi mereka yang melihatnya dengan sebuah pelindung kacamata, pelindung kacamata itu bagaikan kepercayaan yang mempercayai apa yang akan Shinobu perbuat." Ungkap Shira.


"Kou, apakah kau benar...? Ayah juga... apakah Shinobu memang keturunan Shiratori terakhir dengan cahaya serta harapan yang tak akan mati...?"

__ADS_1


"Shinobu." Shira mulai berbicara dalam perjalanannya untuk melihat pemandangan yang begitu indah, Shinobu terus mendengarnya selagi memetik beberapa bunga.


"Sesuatu yang berlebihan tidak akan bisa membawakan kebaikan... Jadi semua itu harus ada takarannya masing-masing, ingatlah... cahaya tidak selalu membawa kebaikan."


Shira berhenti tepat di tepi daratan yang memperlihatkan keindahan dari lantai, lautnya berwarna emas bahkan matahari sudah mulai turun dan terbenam, Shinobu berdiri tepat di sebelah Shira.


Awalnya ia ingin menyebutkan keindahan dari lautan itu tetapi Shira mengatakan sesuatu yang mulai mempengaruhi dirinya seketika, "Cahaya itu selalu baik... bukannya begitu, Kakek? Hal yang gelap pasti akan terang oleh cahaya."


Shinobu mencoba untuk bersikap layaknya tidak tahu, "... ..."


"Cahaya juga dapat membutakan seseorang, memberikan kegelapan yang permanen jika melihat terlalu lama." Kata Shira sampai Shinobu hanya bisa diam karena ia saat ini tidak begitu ingin membahas sesuatu hal yang berkaitan dengan cahaya.


"Sekarang kau mengerti bukan? Kebaikan yang kau berikan kepada mereka secara berlebihan tidak baik... mereka bisa saja memanfaatkan dirimu."


"Jika kau terus menahan diri seperti itu... merasa bersalah ketika selesai membunuh maka kau tidak akan bisa melangkah menuju pintu selanjutnya."


"Bila ada cahaya... harus ada kegelapan, sikapmu harus bisa diperbaiki terhadap pandangan dunia ini, Shinobu."


"Apakah kau bisa melihatnya dengan kedua matamu itu...? Dunia labirin yang menyediakan berbagai macam ruangan dengan tantangan itu sendiri...?"


"Kau tidak akan bisa memecahkannya jika yang kau bawah adalah rasa belas kasihan, penahanan diri, dan kebaikan yang berlebihan."


"Sesuatu yang seimbang itu penting... lagi pula kegelapan juga bisa membawakan cahaya itu, tidak ada yang namanya baik dan jahat di antara kedua itu melainkan keseimbangan."


"Kau dapat menyinari dunia dengan cahaya dan harapanmu sendiri... sinar yang tidak akan pernah padam dan mati, semua orang dapat melihatnya... sebagian dari mereka akan merasa gelap dan tak bisa melihat, sebagiannya juga akan terpesona dengan cahaya tersebut."


"Setiap hari, semua orang selalu melihat cahaya... cahaya itu adalah keseimbangan, cahaya yang tidak memberikan efek apapun karena berniat untuk membantu kita melangkah."


"Namun... cahaya yang kau miliki bisa di bilang apapun dan segalanya, hanya saja kau menyimpan kegelapan dan semua perasaan negatif itu di dalam dirimu!" Shira langsung memasang tatapan serius kepada Shinobu.


"Menangis bukan perasaan negatif atau positif... itu adalah sebuah keseimbangan, Shinobu! Dengan menangis... kau bisa melepaskan semuanya, perasaan yang selalu kau pendam!"


"Sesuatu yang kau pendam menghambat pola pikiran dan perjuangan itu... usaha yang kau terus lakukan demi memperbesar potensimu akan terus berjalan lambat!"


Shinobu hanya bisa diam selagi memegang pakaiannya dengan tatapan polos, hatinya merasa tidak enak karena suara Shira terasa semakin keras dan menekan dirinya.


Semua yang dikatakan Shira terdengar masuk akal, selama ini Shinobu ingin menahan perasaan yang ia pendam maka jika seseorang mencoba membahas hal seperti itu, dirinya akan langsung memaksa untuk tidak tahu.


"Aku melihat usahamu sejak kecil... di mulai dari perjuangan melawan Zodiac Crusaders sampai mengalahkan penyihir tinta..."


"...Hana sudah mengubah isi hatimu, kau membunuh dengan pola pikiran yang baik. Kau menganggap bahwa membunuh mereka yang tidak berguna akan membantu... ya... membantu dewa kematian."


"Perilaku tersebut... kau sudah dekat sekali untuk mencapai keseimbangan! Pembunuhan diri massal juga karena buku itu... sedikit lagi di dorong maka kau bisa bertambah lebih kuat lagi sampai menjadi harapan yang besar!"


"Hanya satu saja... yaitu menahan diri, kau selalu sempat memperlihatkannya! Termasuk dengan kesedihan yang tidak pernah kau lepas..."


"...kesedihan itu besar di dalam dirimu, kau sudah bisa mengeluarkan amarahmu sejak melawan penyihir tinta itu, dua emosi amarah dan sedih yang hampir saja keluar."


"Membuka jalan baru untukmu, tetapi itu semua masih belum cukup... bukan yang melepaskannya melainkan Beast di dalam dirimu!"


"Jika semuanya tercipta secara alami maka halanganmu sudah selesai...!"


"Semua Shiratori juga bersikap netral, Shinobu! Aku sering berbuat kejahatan... ibumu... nenekmu... bahkan sampai ayahku sendiri..."


"...tetapi sekarang, lihatlah hasilnya...! Semuanya masih berjalan lancar, hanya saja tantangan akan terus muncul sampai kita juga harus bisa berbuat kejam kepada dunia ini untuk menekan dan menyeimbangkannya."


"Minami yang sudah memberikan harapan terakhir kepada seluruh alam semesta juga pernah berbuat jahat... dia juga sering menangis sendirian... bahkan sampai mengeluarkan emosi apapun tanpa menahan diri."


"Itulah kenapa dia menjadi sesosok Legenda yang layak... perlu untuk di ingat sampai mati karena jasanya tidak bisa tergantikan."


Shinobu mulai berkaca-kaca, Shira rasanya seperti memarahi dirinya dengan alasan tertentu agar bisa memutuskan penahan di dalam dirinya untuk melepaskan semuanya.


"Bukannya kuning selalu melambangkan kebahagiaan...?" Tanya Shinobu yang selalu penasaran tentang hal itu, Shiratori selalu berkaitan dengan cahaya, emas, dan kekuningan yang mengartikan kebahagiaan.


Shinobu langsung membangkitkan amarah dan kesedihan seketika, "Apa katamu...!? Kuning melambangkan kebahagiaan...?!"


"APAKAH KAU BISA MEMBUKTIKAN PERKATAAN ITU SEKARANG KETIKA MELIHAT MINAMI DAN SEMUA SHIRATORI GUGUR!?"

__ADS_1


__ADS_2