
Haruka melepas ruang waktu itu karena ia merasa bosan, botol Vodka-nya sudah ia habis dan ia masih ingin bertarung dengan wujud dewasa-nya ini. Mortem meneriakkan suara yang keras sampai kondisi-nya mulai kembali pulih tetapi ia dipenuhi dengan keringat dingin karena rasa trauma ketika merasakan penyiksaan yang diberikan oleh Haruka yang terus berulang.
"Selamat datang kembali." Haruka tersenyum.
Mortem melesat menuju arah Haruka dan melepaskan ilusi umpan sihir di sekitarnya sampai sihir waktu yang Haruka gunakan mulai mengenai semua ilusi itu, Mortem melepaskan sihir angin hitam yang mampu menghalangi penglihatan Haruka. Saat dia menemukan sebuah kesempatan untuk menyerang, dengan cepat dia mengarahkan kedua tinju-nya bersamaan, menghantam perut Haruka cukup dalam.
Punggung Haruka mulai memancarkan cahaya Crimson serta melepaskan gelombang Crimson yang melesat ke atas langit, Haruka memuntahkan darah segar melalui mulutnya dan serangan tadi membuat dirinya terlempar ratusan meter ke belakang, namun dia tidak berusaha untuk bangkit atau menyeimbangkan tubuh-nya.
"... ...!" Mortem melebarkan matanya ketika ia sadar bahwa Haruka sedang berdiri di sebelah-nya sambil menikmati sebotol Vodka yang masih ada sisa-nya.
"Serangan yang hebat, kakak-ku tercinta." Haruka terkekeh.
Mortem mulai merasa muak dengan sihir waktu Haruka, sepertinya Haruka yang ia serang tadi adalah sesosok dirinya yang asli tetapi ia segera menggunakan sihir waktu untuk mengembalikan dirinya pada waktu dimana ia belum diserang oleh Mortem, urat menonjol keluar dari kening Mortem.
"Teruslah berjuang." Haruka mulai menggerakkan kedua lengan Mortem, membuat dirinya terkejut karena dirinya tidak bisa lagi menggerakkan kedua lengan-nya. Sihir waktu Haruka lagi-lagi berulah dan mengontrol kedua lengan Mortem saat ini.
Dengan cepat Haruka mengontrol waktu lagi untuk mengembalikan sebuah peristiwa dimana Mortem menyerang Haruka tadi, tetapi sekarang ia mulai menyerang dirinya sendiri dengan serangan yang ia kerahkan kepada Haruka. Hasilnya Mortem terlempar ke belakang lalu ia melakukan backflip ke belakang dan mendarat di atas tanah.
"Apa-apaan ini... Kenapa sihir waktu seperti itu ada di semesta Touri...!?" Mortem menggeram kesal.
Lagi-lagi semua serangan yang Mortem lancarkan tidak mampu mengenai Haruka tetapi semua serangan itu malah mengenai dirinya sendiri termasuk sihir pembelah kenyataan dan dimensi-nya, serangan yang sempat untuk mengenai Haruka tampak tak memberikan luka apapun kepada dirinya.
Mortem memejamkan kedua mata-nya lalu ia mengangkat kedua lengan-nya sehingga ia menciptakan sebuah simbol Crimson yang besar, raut wajah Haruka yang tadinya terlihat bersenang-senang berubah menjadi kesal karena Mortem saat ini sedang mencoba untuk memanggil seseorang sampai keberadaan yang ia panggil itu terasa tidak asing.
"Dasar sampah..." Ucap Haruka pelan, "Ras Eternal sampah... Ternyata kakak-ku sendiri tidak dapat mengontrol sisi Eternal-nya ya...? Benar-benar sampah dan rendahan, seharusnya sisi Eternal yang dapat dikendalikan akan memberikan keuntungan yang besar."
Sebuah gelombang Crimson muncul di atas simbol itu, Mortem sepertinya berhasil memanggil seseorang untuk membantu dirinya bertarung melawan Haruka, gelombang itu mulai menipis dan menunjukkan seorang gadis kecil yang terlihat seperti memiliki usia empat tahun. Haruka langsung mengepalkan kedua tinju-nya erat ketika melihat Mortem yang ternyata memanggil seseorang yang ia kenal.
"Kak Rina..." Ucap Haruka dengan nada yang terdengar kesal.
__ADS_1
"Sekarang kau akan kalah, Haruka...!" Ucap Mortem dengan nada yang sama kesal-nya dengan Mortem, Rina mulai muncul di sebelah Mortem lalu tubuhnya mulai diselumuti dengan aura Crimson.
"Apakah kau memanggil Rina agar aku bisa menahan diri atau memberimu belas kasihan...? Jangan bercanda, hal itu kebal terhadap-ku karena seseorang yang lebih aku sayangi adalah Mama, bahkan jika Mama menjadi jahat... Aku tidak berniat untuk memberi musuhku atau seseorang yang membuatku kesal arti dari kata belas kasihan!" Jarum jam Haruka mulai bergetar memutar dengan cepat.
Ketika Mortem dan Rina bersama-sama mencoba untuk mendekati Haruka, hasilnya mereka semua malah kembali ke tempat asal mereka karena sihir waktu yang sudah menyelimuti-nya, saat ini sihir waktu Haruka sudah berada di puncak dimana sihir waktu-nya sendiri yang akan melindungi dirinya tanpa harus merapalkan sihir.
"Menyerah saja, sihir waktu-ku sudah menjadi insting-ku sekarang." Ucap Haruka pelan karena ia masih memiliki hati untuk mereka berdua, lagipula mereka adalah kakak kandung Haruka.
Mortem mengerat gigi dengan kuat sampai ia melepaskan aura Crimson yang berjumlah besar, "Aku akan menghapus sikap sombong-mu itu dan mengambil jantung-mu, Harukaaaaa...!!!"
Mortem dan Rina mulai saling memberikan kekuatan kepada satu sama lain, "Ini, aku ikhlas." Ucap Haruka dimana ia memberi mereka kekuatan agar Mortem dan Rina kali ini bisa menyerang atau mampu membuat-nya merasa kesakitan.
"Dasar naif... Kesombongan dan kenaifan-mu akan membunuhmu, Haruka!"
"Yang naif itu kalian, dalam waktu satu detik saja aku sudah bisa membunuh kalian." Tatapan Haruka mulai terlihat mematikan sekarang.
Mortem dan Rina mulai melesat menuju arah Haruka dari arah yang berlawanan, pukulan demi pukulan yang dilancarkan oleh mereka bersama sangat berbeda dari sebelumnya, kini setiap pukulan-nya mampu membuat Haruka kesulitan untuk menghindar karena penglihatan sudah tidak lagi melihat pergerakan Mortem dan Rina yang lembat.
"Jadi...!? Apakah kau masih menyimpan sikap sombong-mu itu, adik durhaka!?" Tanya Mortem sambil tetap melancarkan serangan demi serangan, Mortem akhirnya merasa puas melihat Haruka yang kesusahan untuk menahan serangan mereka berdua padahal ia seharusnya tau bahwa Haruka saat ini sedang menahan diri untuk tidak menggunakan sihir waktu-nya.
"Sakit...! Sakit... Ahhhh...! Sakit...!" Haruka mulai berpura-pura merasa kesakitan, Mortem tersenyum jahat tetapi Haruka mulai tersenyum lebih jahat.
"Illusion of Shape: Reversal Time Repeating!" Haruka mulai menggunakan sihir ilusi-nya dan juga sihir waktu-nya yang digabungkan menjadi satu, ilusi itu dapat menciptakan kembaran Mortem dan juga Rina sampai kedua ilusi itu mulai menyerang Mortem dan Rina dengan serangan yang mereka kerahkan kepada Haruka.
Ilusi itu tidak berhenti menyerang Mortem karena Haruka terus mengulang dan mengembalikan waktu, "Keparat...!" Mortem mengumpat, dalam posisi yang mulai terdorong ke belakang, ia segera menghancurkan kedua ilusi itu menggunakan tatapan-nya yang memancarkan cahaya Crimson yang silau.
"... ..." Haruka hanya bisa diam, ia menatap kedua lengan-nya karena beberapa simbol waktu-nya mulai menghilang dan hanya menyisakan satu.
"Sebentar lagi... Yahhh, aku masih bisa bersenang-senang dengan wujud satu itu sepertinya."
__ADS_1
Emosi Mortem mulai memuncak sekarang, terlebih sikap sombong dan naif Haruka yang benar-benar membuat dirinya merasa gagal karena dewi seperti-nya tidak mampu mengalahkan seorang Legenda yang tidak memiliki keberadaan dewi, hal yang lebih memalukan-nya lagi adalah dirinya itu adik kandung-nya.
Kepalan tangan Mortem mengeras, Rina mulai berubah menjadi aura lalu masuk ke dalam tubuh Mortem untuk memberikan-nya kekuatan yang besar. Tubuh Haruka mulai memancarkan cahaya suci, dirinya mulai berubah kembali menjadi wujud remaja-nya.
"Waktu habis..." Ucap Haruka tetapi ia masih bisa bertarung dengan mengandalkan sihir waktu-nya lagi.
Mortem melesat secepat cahaya menuju arah Haruka, ia mengiris udara untuk menciptakan celah-celah kenyataan yang ia buka untuk menjebak Haruka. Haruka sudah dikepung oleh semua serangan yang Mortem kerahkan secara bersamaan, tubuh Haruka mulai terasa berat karena gravitasi tiba-tiba meningkat drastis.
Haruka bisa merasakan Mortem yang saat ini mengerahkan seluruh kekuatan-nya sampai menginjak kekuatan penuh. Kedua tinju Mortem diselimuti dengan aura Crimson yang membentuk kepala naga dimana mulut-nya terbuka lebar, Mortem tiba di hadapan Haruka dan Haruka hanya bisa diam menunggu untuk dirinya berhasil mengenai-nya sendiri.
Baaaaammmmmmmmmm...!!!
Kedua tinju itu mampu mengenai wajah Haruka, bukan hanya tinju-nya saja tetapi seluruh serangan yang dilancarkan oleh Mortem mampu mengenai Haruka dan memberinya luka-luka yang kritis. Setiap serangan Mortem mengandung ledakan yang menghancurkan apapun di sekitarnya bahkan sampai menghancurkan setengah dari planet tersebut.
"Hah... Hah... Hah..." Mortem melayang di atas udara dengan pakaian yang sudah robek dan terbakar, ia melihat Haruka yang tergeletak di atas tanah dengan tubuh yang gosong.
"Hehh... Hehehe... Aku berhasil, hahahahaha...!" Mortem mulai tertawa terbahak-bahak dan baru saja mendapatkan hasil yang baik serta pencapaian yang harus di rayakan karena sudah mengalahkan Haruka yang memiliki sihir waktu terkuat.
"Cyka blyaatttt! Ledakan yang hebat!" Mortem melebarkan mata-nya ketika mendengar suara Haruka.
"Uwaaaahhhh~ Ledakan-nya hebat~ Haruka sampai menonton ledakan itu dengan kacamata ini." Ucap Haruka yang saat ini sedang bersantai di atas langit sambil menikmati segelas Vodka dingin dan kacamata pelangi yang ia gunakan.
Mortem kali ini ia dikejutkan lagi oleh Haruka yang selamat dan terlihat biasa saja walaupun sudah terkena seluruh serangan mematikan Mortem. Mortem mengalihkan pandangan kepada Haruka yang tergeletak di atas dimana ia sekarang sudah tidak ada lagi disana.
"B-Bagaimana mungkin...? T-Tidak mungkin... Kau monster... Apa yang kau perbuat...?" Mortem terlihat trauma dan kapok ketika bertarung melawan Haruka.
"Aku menggunakan waktu-mu dan waktu-ku tentunya." Haruka mengangkat gelas yang berisi Vodka itu lalu ia menghabiskan-nya.
"Ahhh~ Aku sudah memberitahu-mu beberapa kali 'kan, selama ada waktu maka..."
__ADS_1
"...Aku tak terkalahkan."