
Matahari sudah sepenuhnya tenggelam di barat, tidak ada lagi sumber cahaya lain kecuali api unggun serta senter yang mereka bawa agar bisa menerangi tenda dan wilayah bagian luarnya.
Shinobu masih tertidur dengan tenang, Koizumi menjaga dirinya dengan tatapan khawatir karena selama tidurnya ia selalu tertawa dan tersenyum sendiri sampai ia tidak tahu apa yang terjadi padanya.
Ia tidak menyangka bahwa Shinobu bisa terkena yang namanya kesurupan atau dalam arti lainnya adalah roh yang merasuki tubuhnya sampai menggunakan tubuhnya itu untuk menyampaikan sebuah pesan.
"Lari ya... Shinobu bilang untuk tidak pernah lari sampai kita menyelesaikan perkemahan ini, mereka katanya akan mengikuti kami sampai Yuusuatouri." Koizumi memegang dagunya.
"Kalau tidak salah Shinobu juga pernah bilang bahwa makhluk A dapat mengendalikan ruang waktu... mengetahui A di Indonesia cukup sakti dan mistis..."
"...aku harus was--- Hii!" Koizumi melebarkan matanya ketika punggungnya merasakan sesuatu yang sangat amat dingin seperti es batu besar menempel pada punggungnya itu.
"D-Dingin sekali..." Koizumi melirik ke belakang, tidak melihat apapun kecuali ketiga temannya yang sedang menikmati makanan di hadapan api unggun itu.
"Tubuhku merinding... kenapa perasaanku jadi tidak enak seperti ini?" Batin Koizumi, ia memegang erat senternya cukup kuat sampai tidak sengaja menghancurkannya karena kekuatan dari fisiknya sendiri.
Koizumi mundur satu langkah sampai punggungnya menyentuh tenda milik Shinobu yang lumayan besar, cukup untuk dua orang agar ia bisa menemani dirinya tidur tanpa makhluk halus merasuki dirinya lagi.
Perasaan Koizumi semakin tidak enak, pada akhirnya ia memutuskan untuk mengalihkan pandangannya kepada ketiga temannya yang masih makan itu sampai pandangannya melihat sesuatu yang dapat membuat detak jantungnya cepat.
"... ...!?" Koizumi hampir saja melepaskan teriakan yang sangat keras tetapi ia ingat dari Shinobu untuk tidak menyebabkan keributan besar, apalagi teriakan di malam hari bisa saja terjadi sesuatu yang mengerikan.
Ternyata... Koizumi melihat sesosok bayangan hitam yang dapat terlihat jelas walaupun cahayanya berdasar dari api unggun itu, seperti bayangan yang membentuk tubuh Manusia.
Sosok itu hanya diam, berdekatan dengan Hinoka yang sudah jelas menyebabkan lebih banyak keributan sampai tidak memperkuat sopan santun yang harus ia lakukan pada saat mendaki gunung Lawu.
Namun, ketika Koizumi terus memperhatikan sosok hitam itu, sesosok hitam tersebut mulai berubah sedikit demi sedikit sampai terlihat begitu jelas sampai air keringat dingin mengalir keluar dari wajah Koizumi sampai turun melalui dagunya.
"... ..." Koizumi tidak melakukan apapun kecuali diam di tempat selagi menghalangi tenda Shinobu, tetapi ia juga tidak bisa memperingati mereka dengan ucapan keras karena ketiga gadis itu sedang sibuk makan selagi terkekeh pelan.
Sesosok hitam yang mulai terlihat jelas itu telah berubah menjadi seorang wanita dengan baju berwarna putih, rambutnya keriting serta panjang sampai melebihi punggungnya itu.
Wanita itu langsung melirik kepada Koizumi sampai ia memasang tatapan kaget karena ia mendapatkan perasaan takut yang tidak biasa, entah itu ulah apa tetapi ini pertama kalinya Koizumi merasa sangat ketakutan sampai jantungnya terus berdetak cepat.
Wanita itu memasang tatapan yang penuh dengan kebencian sampai Koizumi tidak melakukan apapun, membuka mulutnya untuk mengeluarkan satu pun kata saja tidak karena ia merasa bingung dan takut dengan situasi saat ini.
"Tekanan apa ini...? Apakah ini ketakutan...? Rasa takut seperti ini... sungguh berbeda..." Batin Koizumi, tubuhnya terus diserang dengan perasaan merinding sampai keringatnya terasa dingin.
Punggungnya juga masih menerima kedinginan melebihi es batu sampai kedua kakinya bergerak tanpa kendali dirinya, ia mulai berlutut di atas tanah lalu mencoba untuk mengumpulkan nafasnya sampai ia melihat...
Wanita tersebut duduk di sebelah Hinoka, memperhatikan wajahnya dari sangat dekat kedua matanya yang dibulatkan seperti hampir keluar, jika Hinoka bisa melihatnya maka dia bisa saja merasa sangat kaget atau mungkin panik dengan melepaskan teriakan.
"Gawat... kenapa aku bisa tertekan seperti ini... makhluk A di Indonesia... tidak Yuutouri... kenapa sekuat dan mengerikan seperti ini...?" Koizumi mencoba untuk menenangkan tubuhnya tetapi ia tidak bisa sama sekali.
Wanita itu dengan kedua lengannya memeluk Hinoka sampai menyentuh dadanya itu, jari-jarinya terlihat sangat hitam kemerahan dengan kuku yang begitu kotor serta tajam, ukuran dari kuku tersebut sampai menyentuh pahanya.
Hinoka kemudian sadar bahwa tubuhnya entah kenapa terasa berat, ia mulai menatap mangkuk yang dipegang tetapi tidak ada satu pun hal yang membebani tubuhnya itu.
__ADS_1
"Bagaimana... bagaimana cara aku membiarkan makhluk itu pergi...?" Batin Koizumi.
"...aku harus melakukannya dengan benar... jika salah tindakan maka situasi akan memburuk, Shinobu bilang untuk tidak menantang para penghuni gunung."
"Sial... apa-apaan ini... aku tidak menyangka akan mengerikan dan sekuat ini..." Koizumi kembali bangkit dari atas tanah, mencoba untuk menghela nafasnya cukup panjang.
Koizumi masuk ke dalam tenda Shinobu hanya untuk memeriksa kondisi sepupu kecilnya yang terlihat biasa saja, tetapi...
Ketika ia memeriksa kembali, sesosok wanita itu sudah menghilang. Pergi entah kemana sampai ia mulai memasang tatapan kaget karena wanita itu bisa saja pergi tidak jauh dari lokasi tersebut.
Koizumi mendekati mereka, "Apakah kalian masih menyimpan permen atau semacamnya?"
"Ahh~ aku ada, kalau tidak di tasku." Hinoka menunjuk ke arah tendanya yang terletak berlawanan dengan tenda Shinobu, tanpa berpikir dua kali ia langsung mendekati tenda tersebut.
Sesampainya, ia bisa melihat ransel Hinoka yang terletak di sebelah tenda tersebut, tetapi ia bisa melihat sesosok wanita tadi yang sempat mendekati Hinoka dengan wujud yang sama tetapi kedua matanya terlihat begitu hitam dan gelap sekarang.
Bukan itu saja tetapi pintu tenda Hinoka yang terbuka sedikit, memperlihatkan dua mata yang terbuka lebar sampai melirik kepada Koizumi dengan tatapan penuh kebencian.
"... ...!!!" Koizumi mendadak tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang merinding, tetapi ia mulai mundur ke belakang sedikit demi sedikit sampai memperhatikan langit-langit yang begitu hitam.
Koizumi langsung berbalik badan ketika merasakan suara Hinoka di belakangnya, "Bagaimana? Masih ada permennya?"
"Begitulah..." Koizumi melangkah melewati mereka bertiga untuk kembali kepada tenda Shinobu, tetapi...
Sebuah aroma yang begitu wangi dapat Koizumi hirup sampai aroma yang seperti ini cukup baru karena sangat wangi sampai melebihi parfum yang selalu Hinoka gunakan ketika tampil sebagai idol.
Koizumi melirik ke dalam tenda itu, melihat Shinobu mengganti posisi tidurnya sampai membulat seperti kucing, aroma itu masih bisa ia hirup selama sepuluh menit dengan posisinya yang tetap tegak di depan tenda.
Ako dan Konomi tidak merasakan hawa yang sama sejak mencari air sungai bersama Hinoka, tetapi pandangan mereka langsung tertuju kepada Hinoka yang sedang diam selagi menyentuh dadanya.
"Hinoka, ada apa...?" Tanya Konomi.
"Entahlah... dadaku terasa begitu dingin... ugh..." Hinoka meringis kesakitan selagi menyentuh perutnya sampai membuat Ako dan Hinoka khawatir ketika melihatnya seperti itu.
"Ada apa? Apa yang terjadi?" Tanya Koizumi yang melihat Hinoka memegang erat perutnya selagi memasang tatapan yang mencoba untuk menahan rasa sakit.
"Perut Hinoka katanya kesakitan... apakah kamu tidak memasukkan bahan yang aneh atau semacamnya...?" Tanya Ako.
"Resep untuk membuat sup wortel saja..." Koizumi mulai mendekati Hinoka pelan-pelan sampai wajahnya juga merasakan hawa dingin ketika semakin mendekati dirinya.
"G-Gawat... apakah mereka sudah mendapatkan Hinoka...?!" Batin Koizumi.
Ako melebarkan matanya ketika melihat sesosok bayangan melompat ke belakang sampai pergi meninggalkan Hinoka begitu saja, melihatnya saja membuat tubuh Ako merinding.
Lengannya secara refleks menunjuk ke depan tetapi ia langsung menurunkannya karena dirinya tidak mau menyebabkan keributan lebih besar yang dapat membuat situasi semakin mengerikan.
Sesosok hitam itu hanya terlihat oleh Ako sedangkan untuk Koizumi dan Konomi tidak ada apa-apa di dekat Hinoka, hanya saja hawa dingin itu masih terasa oleh wajah Koizumi lalu kemudian menghilang ketika sesosok hitam tersebut melarikan diri.
__ADS_1
"Mengerikan... aku tidak mau... aku tidak mau pergi ke Indonesia lagi...! Banyak sekali hal mengerikan...!!!" Batin Ako, ekspresinya terlihat begitu ketakutan karena kecepatan sesosok hitam tadi sangat cepat sampai ia hanya satu detik melihat bayangan hitam itu.
Koizumi memegang pin di rambutnya lalu ia mengambilnya hanya untuk melihat waktu, "Sudah jam tujuh lebih... mungkin akan lebih baik jika kita tidur duluan."
"Bukannya tujuan awal kita hanya melihat pemandangan ketika matahari terbit?" Tanya Koizumi yang mulai melangkah menuju tenda Shinobu.
"Koizumi, kamu tidur dengan Shinobu dalam tenda yang sama?" Tanya Hinoka.
"Aku perlu melakukannya, hanya untuk menjaga dirinya yang sudah tertidur sejak pukul lima sore... aku juga sempat memberikan kalian isyarat bukan?" Koizumi mengambil kantung tidur di dalam tenda tersebut.
Koizumi langsung memakainya lalu duduk di luar tenda tersebut dengan kacamata yang ia simpan di sebelahnya agar bisa memancarkan cahaya di sebelah kanannya agar ia bisa melihat apa yang akan mendekati dirinya.
"Aku akan menjaga... kalian tidur saja sepuasnya." Koizumi membuka buku soal pertarungan untuk mengisi waktu bosannya serta menghapus rasa takut dan khawatir yang masih ia simpan dalam hatinya.
Ako dan Konomi masuk ke dalam tenda yang berbeda, Hinoka juga sama lalu mereka mencoba untuk merebahkan tubuh mereka agar bisa tertidur secepat mungkin untuk tidak merasakan hal mengerikan lainnya.
"Hahhh... tidak bisa tidur..." Kata Hinoka sambil berguling-guling dalam tendanya itu.
"Apakah sudah menjadi kebiasaan ya..."
"...aku tidak bisa tidur tanpa melakukan masturbasi, te-he." Hinoka mulai memegang celananya, mencoba untuk memasukkan tangannya ke dalam, tetapi...
Pendengarannya bisa mendengar banyak sekali langkahan yang begitu ramai, tidak hanya satu orang tetapi banyak sekali langkahan yang bisa ia dengar begitu jelas sampai ia terpaksa menghentikan aktivitasnya sebelum tidur.
Hinoka hanya bisa diam, mendengar semua langkahan rombongan itu berjalan cukup lama hampir seperti mengelilingi tendanya itu sampai ia mencoba untuk tetap kuat dan berpikir bahwa makhluk astral tidak jauh berbeda dari Shinobu.
"Kenapa... langkahnya tidak mau berhenti...?" Batin Hinoka.
Tidak lama kemudian, Hinoka yang sedang memeluk ranselnya mencium aroma yang begitu busuk melebihi yang namanya bau mayat sampai ia langsung memejamkan kedua matanya sangat erat.
"Tidak mungkin... aku tidak percaya... tidak ada yang namanya Astral mengerikan seperti itu..." Batin Hinoka, jantungnya berdetak cepat sampai tubuhnya tidak bisa ia gerakan karena saking takut karena merinding.
"... ...!!!" Hinoka memasang tatapan kesal lalu ia mengambil sebuah senter, setelah itu membuka pintu tenda hanya untuk menyinari wilayah di sekitarnya agar bisa menghentikan semua suara langkahan itu.
Cahaya dari senter tadi sempat mengenai Koizumi yang sudah tertidur selagi memegang buku, ia mencoba untuk menyinari semua celah dan tempat menggunakan senter itu untuk mencari aroma busuk tadi serta suara langkahan rombongan tadi.
Setelah menyinari semua tempa itu dengan senter, pandangan Hinoka sempat melihat siluet putih yang begitu tinggi berada tepat di sebelahnya sampai ia mencoba untuk memberanikan dirinya lagi.
"Siapa di sana...?" Tanya Hinoka dengan suara yang pelan, ia menyodorkan senter itu ke sebelahnya sampai melihat siluet putih itu melompat menuju pohon besar di sebelahnya.
"... ...!" Hinoka mencoba untuk mendekati pohon tersebut, tetapi cahaya dari senternya mulai kedap-kedip seperti akan padam dalam beberapa detik kemudian.
"Brengsek... jika saja gunung ini tidak memiliki anti-sihir maka aku ubah kau jadi ledakan...!" Hinoka langsung melarikan diri kepada Koizumi lalu melompat sampai memeluk dirinya.
"Koizumi...! Tidur bersama---" Hinoka melebarkan matanya ketika melihat Koizumi dalam tidurnya terlihat seperti menangis.
"Ko-Koizumi...?"
__ADS_1
"Oi...! Koizumi...!"