
"Kau ini kenapa sih, Minami!? Ingin menghancurkan rumahku atau membunuh-ku 'kah?!" Seru Okaho sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, Minami menghembus nafas lega ketika melihat Okaho, ia segera lari menghampirinya dengan menggunakan kedua tangan dan kakinya seperti kucing karena ia benar-benar panik dan ketakutan ketika melihat gadis yang memakai daster itu, entah itu siapa tetapi wajahnya terlihat sangat mengerikan.
Minami melompat lalu memeluk Okaho erat, "Okaho... aku takut... syukurlah kamu datang dalam waktu yang tepat, tadi aku baru saja melihat sesuatu yang mengerikan... hantu itu ternyata melakukan teror di rumah besar ini, kau harus melakukan penyucian lagi secepatnya!"
Okaho mendorongnya mundur lalu ia kembali bangkit dengan ekspresi yang terlihat suram karena Minami yang akan menginjak masa-masa remajanya masih mempercayai sesuatu tentang hantu dan makhluk halus, ia sendiri sebenarnya takut tetapi mencoba sekuat mungkin untuk bersikap kuat dan keren di hadapan Minami agar ia yang selalu bersikap iseng tidak melakukan sesuatu yang lucu kepada dirinya.
"Lagi-lagi dengan sikap sok hebat itu... aku tadi melihat gadis berdaster itu, nya... dia sangat mengerikan, apakah kau tidak lihat aku baru saja menembak dirimu dengan cahaya keadilan apa, nya!?"
"Diam, kucing garong! Aku tahu kau pasti tertidur sambil berjalan lagi bukan?!" Okaho membantu Minami untuk berdiri sehingga Minami merasa frustrasi melihat Okaho yang tidak mempercayai dirinya sehingga ia mencoba untuk menakuti dirinya, "Unyaaaahhhhh!!! Kepala terbang dengan organ di bawahnya!!!" Minami menunjuk sesuatu di belakang Okaho dengan ekspresi yang terlihat ketakutan sehingga Okaho secara refleks langsung memeluk Minami erat.
"Nyahahaha... tidak takut... katanya, contohnya ini sampai memeluk segala, nya..."
"Huuuuuu...!!!" Okaho menatap Minami dengan ekspresi yang terlihat kesal, ia mengembungkan kedua pipinya lalu memukul Minami beberapa kali dengan pelan, "Maaf, nya, lagi pula kau bersikap sok hebat seperti itu, jujur lah sekali-kali karena aku juga takut di situasi seperti ini... untungnya aku tidak buang air kencing di dalam celanaku."
"Sudahlah, ayo kita kembali... lorong yang panjang dan gelap ini lama-lama semakin terasa mengerikan."
"Tunggu dulu, aku belum buang air kecil!"
"Lakukan saja di dalam botol!"
"Aku tidak punya batang tahu!!!"
"Cih, baiklah, aku antar... dengan syarat kau berhutang sesuatu kepadaku, Minami." Okaho menyilangkan kedua lengannya lalu Minami bisa melihat Hana yang sedang berjalan di tengah lorong selagi menghampiri mereka berdua, Minami tersenyum lebar ketika ia menemukan temannya yang lain, itu artinya tiga orang bersama tidak akan membuat dirinya ketakutan seperti tadi, Hana berhenti di belakang Okaho lalu meraba bahu kanannya, Okaho tidak merasakannya tapi ia sadar Minami yang sedang menatap seseorang.
__ADS_1
"Hana disini, Okaho! Hana~" Minami melambaikan tangannya sambil tersenyum kepada Hana yang ikut tersenyum juga.
"Hah? Hana?" Okaho merasa heran sehingga ia menengok ke belakang lalu ke kanan dan kiri namun tidak ada siapapun yang ia temui bahkan ia sudah mencoba untuk merasakan keberadaan Hana tetapi ia sangat jauh, ia mencoba untuk berpikir positif bahwa Minami benar-benar merasa sangat ngantuk sampai ia melihat sesuatu yang tidak ada.
"Hana, darimana saja kau?"
"Toilet..."
"Begitu ya, ayo antar kita ke toilet juga... aku ingin buang air kencing."
"Woi, Minami! Kau berbicara dengan siapa!?" Okaho meraba kedua bahu Minami lalu ia menggerakkan tubuhnya beberapa kali, mencoba untuk menyadarkan Minami dari fokus-nya. Okaho mulai merasakan hawa merinding di seluruh tubuhnya terutama tengkuknya sendiri sampai tangannya mulai gemetar memperhatikan tingkah laku Minami, "Kau ini buta atau apa, nya. Hana di belakangmu dan mencoba untuk menyapu-mu itu."
"Apa yang kau bicarakan!? Dia tidak ada, lihat... aku sudah melihat sekeliling dan tidak ada siapapun kecuali kita berdua di lorong gelap ini." Okaho mulai gugup menjawab perkataannya itu sehingga ia menarik ekor Minami lalu mengajak-nya pergi menuju toilet, "Jangan menghabiskan waktu lebih lama lagi, aku ngantuk dan sekarang masih jam sebelas malam."
"Mau di tinggal ya, Minami? Berisik sekali." Kata Okaho dengan ekspresi yang terlihat ketakutan.
"Kamu sendiri kok jadi kejam seperti itu tidak menyapa kembali Hana, nya."
"Aku tidak melihat dia, dia mungkin berada di kamar... tidak... dia berada di lantai yang sama dengan kita tetapi ia berada di toilet satunya lagi." Kata Okaho.
"Ahh... masuk akal, pantas saja dia pergi begitu saja tadi." Minami memandang ke depan dimana ia melihat jendela di hadapannya yang memantulkan penampilan mereka berdua, tiba-tiba Minami melihat sebuah bayangan yang membentuk penampilan seorang gadis yang memakai daster itu lagi, gadis itu tersenyum mengerikan sampai Minami mulai merasakan ketakutan yang sangat besar.
"O-O-Okaho..."
__ADS_1
"Apa...?" Okaho melihat Minami yang berhenti tepat di hadapan jendela itu, ia mulai menunjuk jendela di hadapannya lalu Okaho menatap jendela itu sehingga ia melihat gadis yang di maksud oleh Minami itu. Okaho menoleh ke belakang lalu ia melebarkan matanya ketika melihat beberapa foto dan benda yang melayang begitu saja di hadapannya, ia mencoba untuk menggunakan sihir realitanya tetapi ia baru saja ingat bahwa rumahnya bisa terpengaruh juga.
"Sacred Exorcism!!!" Okaho menembak api Sacred yang meluncur melalui jari telunjuk-nya sehingga api itu membakar roh yang sedang memegang kedua foto dan benda itu, roh itu terbakar sehingga berteriak keras dan mengatakan, "PAAAAANAAAAAAAAASSSSS!!!"
Roh itu menghilang dan menjatuhkan semua benda itu, Minami menepuk tangannya beberapa kali sambil menunjukkan ekspresi yang terlihat terkesan, sepertinya Okaho benar-benar dapat di andalkan dan ia langsung membawa Minami pergi menuju kamar mandi, "Kau seharusnya melakukan itu sejak awal, kau tahu?"
"Hantu atau apalah itu sepertinya memiliki suara... kau mendengarnya tidak?" Tanya Okaho.
"Ya... apakah kau mengetahuinya?"
"Bisa bahaya jika Mama mengetahuinya... dia sangat takut dengan hantu terutama guling saja ia sampai memiliki phobia dengan sebuah guling." Okaho menepuk wajahnya lalu ia akhirnya bisa melihat toilet, Minami segera membuka pintu itu lalu ia menjerit keras ketika melihat seseorang yang sedang duduk di atas toilet itu, "Unyaaaahhhhhh--- Oh, ternyata Hana."
"Apakah dia benar-benar Hana yang asli!?" Okaho menunjuk Hana dengan jari telunjuknya, "Ahhh!!! Okaho! Minami!!! Syukurlah!!!" Hana menghampiri mereka dengan ekspresi yang terlihat lega karena ia sudah menghabiskan waktu yang cukup lama di lantai 8 sampai ia terus ditakuti oleh semua makhluk halus itu sampai ia tidak mengetahui jalan pulang.
Minami masuk ke dalam kamar mandi lalu menutupnya rapat karena ia sudah tidak bisa menahannya lagi, Okaho mulai menanyakan beberapa hal tentang Hana yang berada di lantai 8, beberapa menit yang lalu dia bangun karena ingin buang air kecil tetapi sesuatu yang mengerikan terus mengganggu dirinya sehingga ia terus mengunci dirinya di setiap ruangan dan menunggu sampai keadaan menjadi baik.
"Tidak mungkin... bagaimana bisa mereka masuk ke dalam rumah-ku yang sudah di segel dan diselimuti dengan kesucian, pasti sesuatu yang buruk mulai terjadi!" Okaho memegang dagu-nya lalu hawa merinding bisa ia rasakan kembali, ia menoleh ke belakang dan melihat seorang gadis yang menghilang lalu muncul selagi menghampiri mereka berdua, "Ahh...! Hantu lainnya!!! Okaho, lakukan sesuatu!" Hana bersembunyi di belakang Okaho.
Okaho menunjuk gadis di hadapannya menggunakan jari telunjuk yang sudah terbakar dengan api suci, ia mencoba untuk menembak roh tersebut menggunakan Sacred Exorcism lagi tetapi tangannya tiba-tiba turun ke bawah seolah-olah ia seperti mengontrolnya dengan pikirannya sendiri, "Hah...? Apa yang aku lakukan, bukannya aku tadi mencoba untuk menembak-nya?" Okaho mencoba untuk menunjuk roh itu tetapi gadis itu sudah berada tepat di hadapannya, Hana meninggalkan Okaho sendiri dan sekarang ia berada tepat di hadapannya.
"Hiii!!!" Gadis itu menyentuh wajahnya sendiri lalu mengubah wajahnya kembali menjadi seorang Kou, "E-Ehh...? Kou?"
Kou mengangguk lalu menunjukkan layar virtual yang mengatakan 'Aku mencari kalian sejak awal, apa Kakak lupa tentang kemampuan natural Astral di malam hari?'
__ADS_1
"A-Ahhhhhh... B-Benar juga ya, aku lupa... astaga... mungkin karena rasa takut melihat hantu."