
Konomi menempati kelima tongkat dengan empat angka serta salah satunya memiliki garis merah untuk menandakan seseorang yang berhasil mengambil tongkat tersebut akan menjadi seseorang yang memerintah mereka.
"Kalau begitu kita langsung mulai saja!" Konomi memulai permainan dengan mengambil tongkat tersebut bersama mereka semua.
Shinobu memasang tatapan kaget ketika ia melihat sebuah tongkat yang memiliki garis merah, "Koneko berhasil memperoleh tongkat yang bergaris merah ini, apakah itu artinya aku yang memerintah?"
"Itu benar, kamu hanya perlu menyebut angka dan perintah yang harus orang itu lakukan ketika memegang angka yang kamu sebutkan tadi." Kata Konomi.
Shinobu mulai berpikir dengan memegang dagunya sampai banyak sekali ide yang bermunculan dalam kepalanya, "Kalau begitu nomor tiga!"
Koizumi melihat tongkatnya memiliki angka tiga, itu artinya dia perlu mengikuti perintah yang ia inginkan sampai dirinya bersedia untuk melakukan apapun demi adik figurnya.
"Berikan aku sebuah tempat duduk yaitu pangkuan~" Shinobu tersenyum lembut sampai Koizumi langsung mendekati dirinya dengan ekspresi yang terlihat lega.
"Perintah yang bagus, Shinobu." Kata Koizumi sambil mengelus kepalanya pelan-pelan.
"Nomor dua bisa mengusap ekor Koneko." Shinobu mengatakannya selagi menggerakkan ekornya yang diusap-usap oleh Konomi karena memiliki angka dua pada tongkatnya itu.
"Tidak buruk juga ya, lembut sekali ekormu ini."
"Nyaman sekali~" Shinobu tersenyum lalu ia menatap Ako yang memasang ekspresi bingung sampai dirinya berharap bahwa ia bisa menerima perintah yang sangat baik darinya.
"Nomor satu bisa mencium pipiku~" Shinobu menyentuh pipinya sendiri sehingga Ako memasang tatapan kaget dengan pipi yang memerah ketika ia mendapatkan perintah seperti itu.
"Nomor satu...!? A-Aku...?! B-Baiklah...!" Ako mendekati Shinobu lalu ia memberi dirinya sebuah kecupan di bagian pipi dengan ekspresi malu sampai ia dapat mendengar dirinya tertawa.
"Kalau begitu nomor empat bisa memeluk Koneko~" Shinobu mengulurkan kedua lengannya lalu ia menerima sebuah pelukan dari Hinoka yang merasa kecewa.
"Setidaknya suruh aku untuk melakukan sesuatu kepada mereka semua, buuuu..."
Semua perintah yang Shinobu sebutkan berhasil dikabulkan, mereka kembali mengumpulkan semua tongkat itu di atas meja untuk kembali memilih siapa yang akan menjadi pemimpin selanjutnya.
Konomi kebetulan menerima sebuah keberuntungan untuk menerima tongkat dengan garis merah itu, "Tampaknya aku sekarang yang dapat memerintah kalian."
"Uwah... Kakak rajanya..."
"Tolong jangan meminta yang aneh-aneh." Kata Koizumi sambil mengusap kepala Shinobu lalu mengacak-acak rambutnya yang terasa lembut.
"Kalau begitu langsung saja, aku memerintahkan satu dan tiga untuk melakukan Mocky game." Konomi menempati sebuah kotak yang berisi camilan manisan.
"Bukannya itu sedikit... tidak, lupakan. Akan aku lakukan selama tidak berlebihan." Koizumi mengambil sebuah tongkat yang terbuat dari stroberi lalu ia menggigit ujungnya.
"Jika sampai putus maka selesai."
"Ayo, Kak!" Shinobu menggigit ujung lainnya sehingga tatapan mereka saling bertemu sampai membuat mereka semua mengeluarkan suara pelan melihat keserasian.
"Mm..." Shinobu menggigit ujung Mocky pelan-pelan sampai ia dapat melihat pipi Koizumi memerah karena wajah mereka bertambah semakin mendekat.
"W-Wah..." Ako merasa sangat cemburu melihat Shinobu dan Koizumi melakukan hal seperti itu.
"Fufufu~ mulai panas ternyata~" Hinoka merasa tertarik ketika melihat Shinobu terus menggigit Mocky itu pelan-pelan.
"Putuskan jika tidak sanggup untuk melanjutkan---" Konomi melihat Shinobu yang menggigit sangat cepat laku ia menjilat bibir Koizumi.
__ADS_1
"Mm!?" Wajah Koizumi memerah dan dia langsung menutup wajahnya.
"Tunggu, Shinobu... bukannya tadi itu curang?"
"Fuehhh!? Ma-Maaf... Koneko lapar..."
"Ahahaha... jadi kau lapar ya, ya kalau kau lapar maka aku bisa memakluminya." Koizumi memberikan kotak Mocky itu kepada Shinobu yang langsung memakan semuanya.
"Untuk empat, habiskan minuman di gelas ini dalam satu kali percobaan." Konomi memberikan segelas minuman yang sudah diberi campuran.
"Tunggu, minum apa?" Tanya Hinoka selagi melihat gelas yang mencurigakan itu.
"Tenang saja, minuman itu hanya sekedar teh biasa."
Hinoka mengambil gelas teh itu lalu mencoba untuk mencium aromanya hanya untuk memastikan, "Hmmm..."
Konomi sudah mencampurkan ramuan dingin ke dalamnya, aromanya terasa begitu misterius sampai Hinoka menyodorkannya langsung kepada Shinobu agar ia bisa menciumnya.
"Oi, bukannya itu curang?" Tanya Koizumi yang langsung menutup hidung Shinobu.
"Nrgghh... baiklah...!" Hinoka meneguk teh tersebut sampai habis sampai ia dapat merasakan sesuatu yang begitu aneh ketika meminumnya.
"Pfftt..." Melihat Konomi yang menahan tawanya membuat Hinoka merasa khawatir dan panik seketika.
"Oi!? Apa yang kau masukkan ke dalam teh itu!?"
"Hanya ramuan dinginku."
"Tidak akan membuatmu membeku kok." Kata Konomi.
"Untung saja aku tidak meminum itu..." Ako merasa lega ketika melihat Hinoka saja yang meminum ramuan aneh itu.
"Kalau begitu nomor dua hanya perlu berdiri di dinding dan pegang apel ini di kepalamu." Konomi memberikan sebuah apel kepada Ako yang langsung berdiri di dekat dingin selagi menaruh apel itu di atas kepalanya.
"Jangan bergerak ya." Konomi menutup matanya dengan kain lalu ia memunculkan pisau kecil untuk mencoba melemparnya ke arah apel tersebut.
"Bukannya itu berbahaya?" Kata Shinobu.
"Ehh? Kakak mau buat aku apa?" Ako juga tidak dapat melihat karena terhalangi oleh kain yang sudah dipasang oleh Konomi.
"Santai saja, pisau ini tumpul kok."
"Pisau!?"
"Jangan bergerak sedikit pun!" Konomi melempar pisau tersebut sampai mengenai apel di atas kepalanya.
"Ahh... hahhhh..." Ako menghela nafas lega lalu ia bisa mendengar Konomi yang mencoba untuk menahan tawanya.
Semua tongkat itu kembali terkumpul untuk melanjutkan permainan selanjutnya, kali ini Ako dapat memerintah apapun kepada mereka karena menerima tongkat dengan garis merah itu.
"Hehehe~ baiklah, nomor dua! Berdiri di depan pintu sekarang juga!"
"Ahh, baiklah." Koizumi yang mendapatkan angkat dua langsung mengikuti perintah tersebut dengan berdiri di hadapan pintu.
__ADS_1
"Hahaha, kamu terlihat seperti orang bodoh!" Hinoka menertawakan Koizumi sampai keningnya menerima satu sentilan melalui dorongan yang ia lepaskan.
"Lalu, nomor satu menggelitik nomor empat!"
"Heh!?" Hinoka memasang ekspresi kaget lalu ia bisa melihat Konomi yang mendekati dirinya selagi menggerakkan jari-jarinya.
"T-Tunggu... aku sangat sensitif soal itu...!" Konomi langsung menggelitik tubuh Hinoka tanpa ampun sampai ia dapat mendengar dirinya mengeluarkan banyak sekali suara berbeda seperti tertawa dan salah satunya mendesah.
"Kalau begitu nomor 3 bisa duduk di pangkuanku." Ako menepuk pangkuannya lalu ia melihat Shinobu mendekati dirinya untuk duduk di atas pangkuan yang sudah Ako sediakan.
"Uhh... jadi untuk apa berdiri di depan pintu?" Tanya Koizumi.
"Nomor dua tetap menghadap ke depan..."
"Fuehehehe... Nobuku sayang." Ako memeluk Shinobu erat seolah-olah ia sendiri yang akan memiliki dirinya.
"Kalau dia lelaki sudah dipastikan akan aku musnahkan..." Koizumi menatap Ako dengan tatapan iri ketika melihat dirinya memiliki Shinobu sendirian.
Setelah itu mereka kembali mengumpulkan semua sumpit tersebut, kali ini yang mendapatkan sumpit bergaris merah adalah Koizumi yang dapat memerintah mereka sekarang.
"Akhirnya kehokianku datang juga."
"Kalau begitu langsung saja kepada intinya, nomor tiga bisa melakukan push up lima ratus kali sampai mengangkat nomor satu." Perkataan Koizumi membuat Hinoka terkejut seketika.
"Oi!? Apa-apaan perintah itu!?" Tanya Hinoka yang sangat membenci push up karena ia tidak ingin merasa lelah dengan yang dinamakan latihan fisik.
"Oh, tepat sasaran ternyata... terima kasih karena sudah memilih nomor tiga." Koizumi langsung menunjuk lantai agar Hinoka bisa secepatnya melakukan perintahnya itu.
"Selalu dengan latihan fisik, Koizu memang begitu ya." Konomi terkekeh melihat Hinoka melakukan push up dengan Shinobu yang duduk di atas punggungnya itu.
"Lalu untuk nomor dua dan empat... lakukan Mocky Game."
"Heh~ jadi mau balas dendam ya kau..." Konomi mengambil mengeluarkan bungkus Mocky lainnya hanya untuk mengambil satu batang.
"Umm..." Ako hanya bisa diam.
"Bukannya tidak adil kalau aku sendiri yang merasa malu?" Tanya Koizumi.
"Yah, itu perintahmu. Perintah adalah mutlak dalam permainan seperti ini." Perkataan Konomi dapat terdengar jelas oleh Hinoka yang sudah pasti akan memanfaatkan perkataan tersebut.
"Entah kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak..." Tubuh Koizumi merinding ketika ia merasakan sesuatu yang membuat perasaannya tidak enak dan itu tidak jauh lagi dari Hinoka yang sedang tersenyum selagi melakukan push-up.
Konomi dan Ako menggigit ujung Mocky lalu memakannya perlahan-lahan, "Wah, wah... sepertinya kalian dapat merasakan apa yang aku rasakan sebelumnya."
"Terlihat lezat~" Shinobu mengambil bungkus Mocky tersebut menggunakan ekornya lalu ia memakan semuanya sampai habis.
Ako tidak bisa menahan rasa malunya lebih lama lagi sehingga ia berhasil melepas gigitan, "A-Aku menyerah...!"
"Heh~" Konomi menghabiskan sisanya lalu ia kembali mengumpulkan tongkat tersebut bersama mereka semua termasuk Hinoka yang baru saja selesai melakukan push-up.
Kali ini tongkat bergaris merah itu berhasil diperoleh oleh Hinoka yang langsung membuat dirinya merasa sangat senang, "Fufufu~ akhirnya...!!!"
"Sekarang bagianku untuk memerintah!"
__ADS_1