
Mortem dan Haruka mulai saling menatap satu sama lain, kali ini mereka bertemu di sebuah ruangan yang terlihat kosong. Dengan tekanan yang Haruka rasakan, ia bisa menebak bahwa Mortem membawa dirinya ke dalam sebuah ruangan ilusi dimana Mortem dapat mengubah ruangan itu menjadi apapun yang dia mau.
"Bukan hanya ruangan ini yang aneh, tetapi penampilan-mu juga aneh---" Haruka melihat Rina yang berdiri tepat di depan Mortem, Rina yang berada di depannya sepertinya adalah sesosok Rina yang asli sampai Haruka bisa merasakannya ketika keberadaan-nya tidak memiliki ilusi atau kemampuan tipuan lainnya.
"Penampilan-ku akan kembali seperti semula jika aku mengambil alih tubuh Rina... Sudah saatnya gadis kecil ini disingkirkan dari dunia ini sama seperti Ayah-nya... Bukan Ayah-nya tetapi Ayah kita berdua 'kan... Ha-ru-ka...?" Mortem tersenyum sinis sampai membuat Haruka merasa kesal, ruangan ilusi itu mulai menunjukkan sebuah kejadian dimana Alvin tersiksa habis-habisan oleh Shinku bersama pasukannya.
"Hentikan... Hentikan semua perbuatan-mu ini, Kakak...!" Seru Haruka. Ketika dirinya mencoba untuk menghampiri Mortem, Rina mulai menghentikan-nya dengan menggenggam erat telapak tangan-nya sampai membuat Haruka terkejut.
"Ini adalah satu-satunya cara, Haruka... Tidak ada yang pihak yang benar, semuanya netral untuk kami berdua..." Rina mulai berbicara, ekspresi-nya juga mampu membuat Haruka kesal karena mereka berdua terlihat sama persis merencanakan sesuatu yang buruk.
Ketika melihat kejadian Alvin yang tersiksa oleh Shinku dan pasukan-nya, Haruka segera menatap tajam mereka berdua dengan simbol jam yang perlahan-lahan muncul di kedua matanya. Sepertinya Mortem baru saja membangkitkan kekuatan Haruka, itulah tujuan-nya... Ia ingin bertarung melawan Haruka di wujud asli-nya untuk yang kedua kalinya.
Haruka memejamkan kedua matanya, tidak tahan melihat Ayah-nya sendiri yang tersiksa... Tidak ada satupun yang menolong, hanya suara jeritan-nya yang bisa ia dengar dan menggema di ruangan itu sampai membuat dirinya merinding ketakutan. Rasa amarah masih di tahan oleh Haruka, tidak ada pertanda bahwa dia akan berubah menjadi wujud remaja-nya.
Rina melihat wajah Haruka yang terlihat seperti menahan rasa amarah-nya, kedua lengannya bergetar dengan pelan... Mencoba untuk menahan serangan-nya. Rina awalnya merasa bersalah karena semua ini adalah rencana Mortem, rencana seorang ras Eternal terkadang gila jika lawan-nya masih belum bisa mereka kalahkan.
"Kenapa kau tidak membantu-nya..." Tanya Haruka kepada Rina.
"Aku mencoba---"
"Jangan mengatakan omong kosong... Apakah dirinya yang memerintah-mu...?"
"Ya... Keberadaan Papa sangat berbahaya untuk semesta Touri, dia bersama Mama seharusnya tidak pernah bertemu dan memiliki keturunan... Intinya kita berdua mencoba untuk mencegah dirimu untuk tidak lahir dan mendapatkan latihan dari Papa, jika semua itu terjadi maka sisi Eternal-ku sudah pasti akan kau urus." Jawab Rina.
"Sangat tidak logis... Benar-benar alasan yang tidak logis..." Haruka melayang sebuah pukulan ke arah wajah Rina sampai ia terjatuh di atas tanah dengan hidung yang berdarah.
__ADS_1
Ketika Mortem mencoba untuk menggunakan sihir-nya kedua lengannya tiba-tiba diselimuti dengan simbol waktu yang mengartikan bahwa kedua lengan-nya tidak bergerak karena sihir penghentian waktu Haruka, Haruka mengeluarkan sebuah senapan yang ia dapatkan dari Makarov lalu menembakkan beberapa peluru yang mampu mendorong Mortem ke belakang.
Mortem maju ke depan dengan kedua lengan-nya ia lepas lalu menciptakan kedua lengan yang baru, ia segera meluncurkan beberapa serangan kepada Haruka. Semua serangan itu mulai ditahan oleh Haruka menggunakan kedua lengannya, di wujud kecil-nya ini... Mortem dan Rina terlihat kesusahan untuk melawan-nya.
Haruka menghantam wajah Mortem menggunakan senapan-nya dan melanjutkan serangan itu dengan menendang Mortem sampai terjatuh di atas tanah, ia membidik senapan itu tepat di kepala Mortem tetapi Rina datang untuk menghentikan Haruka menggunakan sihir Crimson-nya yang membentuk tentakel di belakang punggungnya.
Haruka melirik kepada Rina dan mulai menembak seluruh tentakel itu menggunakan senapan yang menembak peluru Crimson sekarang, dia tidak ingin menyia-nyiakan Lenergy karena sihir waktu-nya yang terbatas sangat diperlukan untuk bertarung melawan mereka berdua di wujud kecilnya. Mortem muncul tepat di depan Haruka dan melayangkan sebuah tendangan yang melemparnya ke belakang.
"... ...!" Haruka maju ke arah Rina dan segera menabrak-nya menggunakan tubuhnya sampai ia terdorong ke belakang dengan simbol waktu di dada-nya yang mengartikan dia bisa bergerak setelah satu menit berlalu.
Mortem dan Haruka mulai bertarung dari jarak yang jauh, tidak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk mendekat. Senapan yang Haruka gunakan mulai meledak di tangan-nya, kesempatan itu langsung Mortem gunakan dengan muncul di depannya lalu melayangkan serangan bertubi-tubi yang mampu melukai Haruka.
"Uccckk...!" Haruka mencekik leher Mortem cukup dalam sampai ia berhenti menyerang-nya, mereka berdua sama-sama melepaskan sihir yang sama yaitu Crimson, dengan hasil mereka berdua terlempar ke belakang.
Setelah waktu berjalan kembali, Haruka mencekik leher Mortem dari belakang. Rina memuntahkan darah yang segar ketika menerima semua serangan Haruka, tetapi ia masih bisa bertarung. Rina melompat ke arah Haruka sampai mereka bertiga jatuh ke dalam sebuah jurang yang lumayan dalam karena ruangan itu mulai tidak stabil.
"Lebih baik kau menyerah saja, Haruka!" Kata Rina.
"Aku tidak peduli... Kalian membiarkan Papa terbunuh..." Jawab Haruka.
Haruka melempar Rina ke atas dan membanting tubuh Mortem ke atas tanah, mereka berdua mulai saling bertukar serangan yang dapat melukai diri mereka sendiri. Setiap serangan yang mereka lakukan mulai saling melukai satu sama lain, Lenergy mereka sama-sama terus berkurang karena menggunakan terlalu banyak.
Rina ikut bertarung sekarang, Haruka mulai kewalahan ketika mereka berdua saling bekerja sama dan melakukan serangan koordinasi yang berbeda sampai Haruka berlutut di atas tanah mencoba untuk menahan serangan mereka berdua. Kedua pupil-nya mulai kembali seperti semula, ia tidak bisa menggunakan wujud remaja-nya karena sudah menggunakan sihir waktu-nya berlebihan sebelum perang semesta dimulai.
"Sialan...!!!" Haruka melepaskan sihir [Sacred Exorcism] tepat di perut Mortem sampai ia terlempar ke belakang, Haruka bangkit dan menyerang Rina dengan kekuatan-nya yang mulai meningkat. Ia menggunakan gaya bertarung yang berbeda agar bisa mengalahkan Rina karena sekarang Haruka lebih mengandalkan kekuatan murni dan sihir Sacred-nya.
__ADS_1
Haruka menyerang dengan kecepatan yang meningkat sampai ia tidak memberi Rina kesempatan untuk menyerang balik, Haruka mampu mematahkan kedua lengannya dan setelah itu membidik lehernya menggunakan senapan yang terakhir lalu menarik pelatuk-nya sampai peluru yang diselimuti Crimson itu menembus leher Rina.
Baaaammmm...!
"U... Uck..." Rina terjatuh di atas tanah dengan ekspresi yang terkejut ketika Haruka tidak memiliki perasaan untuk menahan diri.
"Maafkan aku...!" Haruka meluncurkan sihir Final Shine Attack ke arah gelombang Final Shine Attack milik Mortem.
kedua gelombang itu mulai saling mendorong satu sama lain tetapi Haruka lebih fokus kepada Rina, ia segera menarik pelatuk-nya beberapa kali sampai peluru-nya habis. Tubuh Rina dipenuhi dengan lubang-lubang yang disebabkan oleh peluru itu, kedua gelombang Final Shine Attack itu mulai meledak dan mendorong mereka ke belakang.
Haruka mencekik leher Rina dan mengangkat ke atas sampai tubuh-nya diselimuti dengan aura Crimson, "Menjadi satu denganku, Kakak... Kau aman sekarang..." Kata Haruka sampai tubuh Rina berubah menjadi aura Crimson yang merasuki tubuhnya.
"Tidak...! Aku yang terlebih dahulu untuk mengambil seluruh kekuatan-nya...!!!" Mortem memukul wajah Haruka sampai pukulan itu tidak memberi efek apapun kepada dirinya, Haruka melirik ke arah Mortem dengan kedua pupil jarum jam yang berputar dengan jam.
"Pada akhirnya... Rencana-mu gagal..." Haruka berubah menjadi wujud dewasa-nya.
Haruka menggunakan sihir waktu-nya untuk menghentikan waktu Mortem, ia melancarkan beberapa serangan bertubi-tubi yang mengenai wajahnya dan tubuhnya, serangan yang dilepaskan oleh Haruka menyebabkan tubuh Mortem retak dan tidak bisa bertahan lagi.
"Sepertinya kau tidak dapat menciptakan tubuh yang memiliki daya tahan yang baik ya...! Kau tidak ada jauh-nya dari sebelumnya... Kau sama saja seperti sampah yang tidak bisa di daur ulang...!!!" Haruka sudah memiliki niat untuk mengakhiri semua kekacauan ini dimulai dari kematian Mortem, serangan yang bertubi-tubi terus mengenai Mortem sampai ia menatap dirinya dengan ekspresi yang terlihat sangat kesal.
Setelah melancarkan semua serangan itu, Haruka mengakhiri penderitaan Mortem dengan mengangkat kedua lengan-nya lalu menyatukan jari-jarinya, setelah itu ia menghantam wajah Mortem sampai ia pingsan. Wajah Haruka sempat menunjukkan ekspresi yang terlihat tidak tega ketika mencoba untuk membunuh Kakak-nya sendiri.
"... ..." Haruka bangkit dari atas tanah dan menunjuk Mortem sehingga Rina muncul di atas tubuh-nya, dia sepertinya tidak bisa membunuh mereka karena masih memiliki rasa kasih sayang yang ada di dalam diri-nya. Haruka sempat menghidupkan Rina kembali berkat sihir waktu-nya yang berada di tingkat paling atas.
"Kesempatan terakhir... Jika kalian menunjukkan wajah itu lagi dihadapan-ku maka aku akan benar-benar membunuh kalian berdua, bodoh..." Haruka pergi meninggalkan mereka berdua dengan menggunakan sihir teleportasi-nya.
__ADS_1