Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 862 - Rencana Tambahan dan Alternatifnya


__ADS_3

"Shinobu...!" Hinoka melihat tubuh mayat Shinobu masuk ke dalam tanah karena Admon yang menarik menuju kedalaman dari inti planet itu.


Koizumi juga sama sampai ia mengalami kendala dimana kedua matanya tidak bisa melihat karena tanah yang masuk sampai mengeras, menyingkirkannya menghabiskan waktu yang lama.


Tubuhnya ikut mengeras bersamaan dengan daratan, hampir seperti menyatu dengan batu.


"Ako! Dia menyerupai tubuhmu...!" Peringat Konomi yang melihat sebuah tangan muncul di punggung Ako lalu mencekik lehernya sampai ia bisa merasakan pengerasan dari tanah liat itu.


"Dia menggunakan God Lenergy secepat itu... kita tidak bisa mendeteksi atau merasakannya, kecepatannya juga bukan main...!" Ungkap Anastasia dengan tatapan kaget.


"Sudah kutunggu saat-saat ini... untungnya rencanaku tidak terbatas untuk menghentikan kalian para gadis yang sok menjadi seorang pemberontak...!" Kata Admon yang berbicara di hadapan mereka selagi mengancam leher Ako.


"Jika saja aku tidak menciptakan sebuah tanah liat yang meniru wujud Shinobu maka aku sudah pasti akan terpojok..."


"...mengeluarkan badai sampai mengotori tubuh kalian dengan noda tanah serta bau yang sama... semua itu masih bisa aku kuasai dengan God Lenergy yang tidak bisa kalian lawan!"


"Mortal seperti kalian tidak akan bisa mencapai tingkatan itu... tingkatan yang sangat atas sampai Lenergy atau Indra perasa kalian tidak bisa mengetahui arti sebenarnya dari God Lenergy!"


Konomi langsung menembakkan banyak sekali tembakan energi menuju arah mereka tetapi Admon melompat lalu masuk ke dalam tanah untuk bersembunyi dari mereka semua.


"Dengan begini... aku bisa menyingkirkan jangkrik seperti kalian, otak dan waktu sudah aku urus... hanya kalian saja..."


"...Mortal yang tidak tahu diri sampai menganggap bahwa memberontak dapat mengubah segalanya, bangun dan hadapilah realita... kepercayaan lah yang akan mengubah hal itu."


Hinoka tanpa menghabiskan waktu lainnya bergegas menuju Grimoire of Earth yang terkubur itu, ia mencoba untuk menghancurkannya lalu melihat buku tersebut tertarik ke dalam daratan.


"Apa---" Hinoka merasakan Grimoire itu mulai menjauh karena di tarik oleh sesuatu dari dalam oleh sihir Admon yang saat ini masih berada di dalam daratan untuk meraih kembali hartanya.


"Tidak ada waktu lagi! Itulah prioritas kita sekarang...! Merebut dan mengejar Grimoire sebelum di raih kembali oleh seorang kandidat yang kuat bernama Admon!"


Anastasia memainkan sebuah musik yang mengeluarkan nota lagu, semua nota itu mulai mengejar dan menandai Admon yang bergerak di dalam tanah sampai mereka memasang tatapan kaget.


"Kenapa kau tidak melakukannya dari awal?!" Tanya Konomi.


"Aku tidak bisa melakukan sihir pelacak nota ini tanpa melihat musuh dan merasakan keberadaan mereka... semua nota lagu itu memiliki setengah kesempatan untuk menandai Admon!"


Mereka bisa melihat semua nota lagu itu bergerak ke depan, "Ako! Tembak!"


Ako dan Konomi melepaskan serangan jarak jauh menuju daratan, semua tembakan itu menembus daratan sampai menciptakan beberapa lubang.


Admon membalikkan semua serangan itu dengan melapisinya menggunakan tanah liat sampai ia melemparnya kembali kepada Ako dan Konomi yang memasang tatapan kaget lalu menghindar.

__ADS_1


"Dia dapat membalikkan serangan jarak jauh dengan tanah liat sialan itu...! Brengsek!" Konomi lari mengejar Grimoire yang dapat ia rasakan, mereka melakukan hal yang sama.


Hinoka mencoba untuk fokus tetapi dirinya menerima banyak gangguan oleh Admin dengan menggetarkan daratan dan mengguncangkannya sampai retak.


"Ck...!" Hinoka menggigit bibirnya lalu menunjuk ke depan, jarak dari pengubahan ledakan itu lumayan jauh karena Grimoire tersebut sudah di tarik cukup jauh, dan Admon kebetulan berada di depannya selagi mengejar.


Bisa di bilang ini seperti balap lari, pemenang akan mendapatkan buku itu, "Apakah kamu tidak akan meledakkannya, Hinoka?"


"Sudah aku coba... si sialan itu tidak bisa aku rasakan, ketika ia berada di jarak yang dekat denganku... ledakanku tidak mengenai dirinya melainkan lapisan yang melindungi tubuhnya dengan tanah liat yang mengeras seperti logam!"


"Kejar! Jika dia memperoleh buku itu, tamat kita...!" Peringat Konomi yang terus mengejar Grimoire itu, penarikannya terasa cukup kuat dan cepat sampai jarak mereka terus bertambah jauh.


"Dengan membuka buku itu saja... aku sudah pasti bisa mengembalikan semua kekuatan yang aku tahan dan simpan dalam buku tersebut." Ungkap Admon yang terus bergerak di dalam daratan selagi melihat Grimoire itu sudah hampir dekat dengannya.


"Dengan ini, aku tidak perlu takut lagi... kelima pemberontak dan juga penyihir itu bisa aku kutuk menjadi batu!"


"Sekali saja aku menyentuh dan membuka buku itu lalu membaca isinya maka tidak ada lagi gangguan yang bisa menghentikan diriku...!"


"Semuanya akan aku kutuk menjadi batu karena tidak mau mempercayai Dewa tanah seperti diriku...! Sihir tanah bisa menjadi apapun yang aku inginkan, maupun itu kehancuran dan penciptaan...!"


Admon melompat keluar dari dalam tanah lalu mengangkat daratan ke atas seperti gunung sampai mementalkan Grimoire yang berada di dalamnya kepada dirinya.


"Aku, Admon--- tidak... Demetrio, sang Dewa agung tanah sudah memperoleh kembali harta berharganya...!" Kata Admon yang menyebut dirinya sebagai Demetrio dengan menatap buku itu.


"...karena pukulannya tadi sempat menghancurkan jantung dan dadaku... darahku sudah pasti menyentuh tubuhnya itu." Shinobu memejamkan kedua matanya lalu ia bisa mencium bau darahnya sendiri di tubuh Admon.


Penciuman Shinobu sangat kuat, jarak sendiri tidak bisa menghentikannya karena pikirannya sedang fokus, ia bisa mencium bau dari arah mereka semua mengejar.


"Dengan menggunakan Golden Sunshine... aku bisa mengubah atau mengorbankan darahku sendiri menjadi sumber cahaya... pengganti apapun yang sama dengan tenaga, energi, dan tentunya Lenergy!"


"Ditambah lagi...! Darah yang sudah berubah menjadi cahaya melalui Golden Sunshine dapat mengubah benda yang terbuat dari kayu, daun, atau tumbuhan apapun menjadi bahan itu sendiri untuk waktu yang singkat!"


Admon yang memegang buku itu memasang tatapan kaget ketika melihat noda di pakaian dan tinjunya memancarkan cahaya emas sampai darah itu berubah pancaran cahaya yang membutakan pandangan Admon untuk sementara.


"Cahaya ini...!? Shinobu Koneko...!!!" Admon bisa merasakan buku yang ia pegang bertambah berat karena halaman di dalamnya yang terbuat dari kertas itu berubah menjadi pohon yang menancap dengan daratan.


"Baiklah...!" Shinobu bergegas menuju mereka semua dengan pergerakan yang melambat karena ia baru saja dihidupkan kembali dengan sembilan nyawa itu yang menyisakan 7 sekarang.


Admon melihat buku itu menyangkut di atas pohon emas yang Shinobu ciptakan, Konomi menatap Ako untuk meminta dirinya menembak Grimoire itu menggunakan panahnya agar bisa menjauhinya dari Admon.


Ako menembakkan dua angin menuju arah Grimoire itu, dengan tujuan untuk melempar Grimoire tersebut lebih jauh lagi dari Admon, tetapi...

__ADS_1


"Semuanya sudah aku rencanakan...!!!" Teriak Admon keras sampai meteor jatuh dari atas langit lalu menghantam daratan sehingga menyebabkan guncangan total di dalam planet itu yang menjatuhkan mereka semua.


Meteor itu mengandung God Lenergy di dalamnya, sudah pasti hantaman itu akan memiliki daya kekuatan yang mengerikan, mereka juga terlihat kaget ketika melihatnya karena pohon emas itu hancur sampai menjatuhkan Grimoire itu dekat dengan Admon.


"Pengejaran itu... aku menyempatkan waktu dengan menyebarkan God Lenergy keluar angkasa demi bisa menarik meteor yang sudah aku lapisi dengan tanah liat untuk memperkuatnya!!!"


"Ternyata meteor itu juga berhasil melampaui ekspektasi diriku yang hampir saja terpojok dan tertekan tadi...!" Admon memasang tatapan serius karena ia berhasil bebas dari situasi buruk apapun karena rencana penuh cadangannya.


"Dia... dengan nekat menjatuhkan meteor...!? Apakah dia sudah gila...!?" Tanya Konomi yang menerima guncangan itu sebagai tekanan di tubuhnya karena hantaman meteor tadi menyebarkan banyak God Lenergy.


God Lenergy itu sendiri menekan tubuh mereka lalu melukainya sedikit demi sedikit, "Tidak ada kemungkinan lagi... tekad kalian yang lemah tidak bisa melampaui semua rencanaku yang sebenarnya!"


"Lagi pula... kalian tetaplah sampah yang mencoba untuk keluar dari kantung itu sendiri, berhadapan dengan Dewa sampai berani-beraninya menyentuh Dewa itu sendiri...!"


"Tak pernah aku sangka gadis seperti kalian yang sudah remaja mencoba untuk mengurangi masalah dan tujuan orang lain...! Bukannya para gadis lebih cocok berdandan dan memainkan perasaan lelaki!?"


"Jenis kelamin kami memanglah gadis, tetapi kau perlu ingat... Kami adalah bangsa Legenda! Lebih mementingkan tujuan dan harga diri kita sebagai Legenda yang layak!" Seru Hinoka yang langsung melangkah menuju Grimoire itu.


"Kami tidak memainkan perasaan...! Kami menghajar orang brengsek seperti dirimu!"


"Kenyataannya... kalian bukanlah tandingan yang pas untukku ketika aku berhasil menunjukkan identitas asliku dengan memperoleh kembali harta yang aku tinggalkan!!!" Admon mulai meraih buku itu.


"Berkah yang diberikan takdir...! Takdir yang mengangkat diriku sebagai seorang Dewa agung tanah yang dapat menciptakan dan menghancurkan apapun...!!!"


"Dengan semua kepercayaan mortal...!!! Semuanya memenuhi diriku sampai aku mencapai kesempurnaan terhadap julukan diriku segala Dewa!!!"


"Berakhir sudah...!" Seru Konomi yang tidak sempat meraih Grimoire itu karena hanya Admon dan Hinoka yang dekat dengan buku itu.


Admon menyentuh buku itu tetapi ia bisa melihat batu kecil di sebelahnya berubah menjadi flashbang yang meledak sampai membutakan pandangannya lagi lalu mementalkan buku itu.


Hinoka mendapatkan waktu yang sempat untuk mengubah batu menjadi flashbang dengan kandungan Lenergy di dalamnya agar bisa mendorong objek apapun, salah satunya adalah Grimoire itu.


"Kau tidak akan bisa mendapatkannya...!" Hinoka mengejar Grimoire yang terpental itu dengan melangkah cepat tetapi tanah yang ia injak mulai menjadi lembek seperti lumpur sampai menariknya.


"Andai saja...! Andai... jika aku menyadarinya dari awal bahwa kalian memang ancaman itu...!"


"Masa kecil kalian dari bayi tidak akan aman karena sudah aku kutuk menjadi bayi!!!" Seru Admon keras yang mulai mengontrol daratan untuk menarik kembali Grimoire yang menjauh itu.


Admon menghantam daratan sampai membuat daratan menjadi lumpur yang menarik mereka semua ke dalam dengan kedua tangan kaki yang mengenai lumpur itu juga lalu mengeras tanpa henti karena lumpur itu terus melapisinya.


Seperti tumpukan pengerasan sampai mereka tidak bisa melakukan apapun kecuali menghancurkan semua itu dengan semua tenaga, "Sialan...!!!"

__ADS_1


"Dewa lah yang mengendalikan takdir Mortal!"


__ADS_2