
Komi memegang erat [Omni-Slayer]-nya lalu ia mengayunkan pedang-nya itu tepat ke arah leher Haruka dan Haruka menyambut serangan itu menggunakan pedang yang sama hingga Haruka melebarkan mata-nya ketika melihat Komi yang memiliki pedang seperti itu, itu artinya benturan antara kedua pedang yang sama dapat menciptakan sesuatu yang berbahaya lagi.
Tetapi Haruka harus bisa yakin kepada diri-nya sendiri, jika Vanish dan Omni-Slayer dibandingkan maka Vanish jauh lebih kuat... kemungkinan besar tidak akan terjadi apapun jika kedua pedang yang sama saling berbenturan tetapi mereka harus mengorbankan satu hal yaitu semesta Kamitouri.
Komi melepaskan serangan tapak sementara menggunakan pedang-nya untuk menyambut Haruka kembali, Haruka menyambut-nya kembali hingga kedua pedang yang saling berbenturan itu menimbulkan gelombang kejut yang kuat, angin kencang berhembus dari serangan kedua-nya... angin yang terasa panas karena semesta itu telah menjadi lautan api.
Melihat pergerakan yang dilakukan oleh Komi membuat Haruka yakin bahwa pertarungan ini akan berjalan cukup lama jika tidak memiliki cara lain untuk menghentikan Komi secepatnya sebelum ia bertambah kuat... sebelum wujud Dewasa-nya ini bertemu dengan batasan-nya dimana ia akan berubah kembali ke wujud bayi-nya dan terbunuh oleh Komi.
Pedang mereka terus saling berbenturan, tidak ada satu serangan yang dapat mengenai target mereka sendiri hingga pertarungan mereka berjalan cukup sengit... Komi dan Haruka tiba di atas tanah yang terasa panas... panas-nya bahkan tidak bisa dijelaskan begitu saja, mereka saling beradu pedang dan Haruka terlihat seperti terpojok karena dia satu-satunya yang harus mundur sambil menyerang Komi.
Gerakan Komi berubah, langkah kaki-nya menjadi gesit dan serangan-nya menjadi mematikan... walaupun tidak dapat melukai Haruka menggunakan pedang tersebut, Komi berhasil menendang perut Haruka hingga ia terdorong ke belakang lalu leher-nya tercekik oleh tangan kiri Komi.
"Ucckkk...!!!" Haruka mencoba sekuat mungkin untuk bebas dari cekikan itu tetapi tidak bisa karena terdapat banyak sekali kekuatan di satu cengkraman tersebut, menggunakan sihir waktu adalah solusi yang paling inti hingga mengundurkan kembali waktu lalu menyambut Komi dengan menendang wajah-nya hingga ia terdorong ke belakang.
"Ck...!" Mereka kembali menyerang satu sama lain, kedua pedang saling berbenturan hingga menciptakan gelombang api biru tua di sekitar mereka yang meledak ke atas udara, menciptakan hujan yang terbuat dari api biru itu sendiri.
Pertarungan mereka sekarang berjalan di dalam air lahar biru tua itu, api lahar yang panas itu tidak melukai mereka sama sekali jadi Komi dan Haruka terus saling mengayunkan pedang mereka masing-masing, Komi mencoba untuk melakukan teknik kuncian kepada Haruka agar ia bisa berhenti bergerak tetapi teknik itu malah terbalik kepada diri-nya.
Haruka sudah berhasil menahan lengan kiri-nya dan hampir saja menyayat leher Komi, untungnya Komi bertindak dengan tepat waktu dimana ia membuat pedang itu melayang dan berhasil menahan serangan Haruka, Haruka melompat ke atas ketika melihat pedang itu yang hampir saja menusuk dada-nya.
Mereka terus bertarung dan tiba di dalam sebuah ruangan yang luas, pedang yang mereka pegang masih belum bisa melukai target yang mereka incar... hanya serangan biasa dan sihir yang dapat melukai-nya, Komi mulai muak ketika Haruka yang memiliki refleks hebat dalam menghindari segala serangan, ia menangkis pedang Haruka ke atas hingga kedua pedang-nya tertancap di atas atap.
Wajah Haruka terkena tinju oleh Komi hingga ia berakhir di atas daratan lalu kembali bangkit secepat dan melihat Komi yang bergerak menuju arah-nya, dengan cepat Haruka menyambut pergerakan-nya dengan menendang kaki-nya hingga Komi terjatuh di belakang Haruka.
Haruka dengan cepat mengambil kembali pedang-nya lalu ia mengayunkan-nya ke arah kepala Komi hingga Komi sempat mengambil kembali pedangnya dan berhasil menahan serangan Haruka, pertarungan mereka masih terus berlanjut dan kali ini terlihat beberapa serangan yang mengenai tubuh mereka hingga meninggalkan luka bekas.
"... ..." Darah segar mengalir keluar melalui pipi kanan-nya yang robek, Komi dan Haruka dengan bersama mengayunkan pedang mereka hingga menciptakan benturan besar yang menimbulkan ledakan besar di sekitar-nya.
__ADS_1
Lautan api mulai terlihat tidak stabil hingga menciptakan ledakan besar, gelombang api biru tua yang meledak di sekitar mereka lalu menyiram tubuh mereka masing-masing... semesta yang sebentar lagi akan hancur karena pertarungan antara kedua pedang Omni-Slayer yang saling beradu. Komi dan Haruka meluncurkan sihir yang sama yaitu Final Shine Attack lalu berakhir terlempar ratusan meter ke belakang.
Pertarungan terlihat setara, kali ini sihir yang mereka coba gunakan tidak mempan... walaupun Haruka sudah menggunakan sihir waktu terkuat-nya, sihirnya terlawan balik karena sihir realitas yang dimiliki oleh Komi... jika saja dia mencapai wujud terakhir dan jati diri-nya yang asli maka pertarungan ini akan berjalan selama satu detik saja untuk menghentikan Komi.
Suara ledakan bisa terdengar dimana-mana, detik-detik sebelum semesta Kamitouri hancur... kesempatan kecil mereka mungkin akan selamat tetapi Haruka dapat menyelamatkan diri-nya sendiri menggunakan sihir waktunya tetapi Komi tidak membiarkan Haruka menggunakan sihir itu karena ia lebih memilih untuk mati bersama dibandingkan dia mati sia-sia melawan Haruka.
"Ohh, ayolah... jangan mencoba untuk kabur, apakah kau pantas dipanggil ras Legenda jika kau kabur dari lawan-mu sendiri!?" Tatapan Komi terlihat sadis sekarang, ia mengayunkan pedang-nya beberapa kali ke arah Haruka yang berhenti menyerang, sekarang dia mengganti rencana... rencana yang ia gunakan adalah mencari celah serangan untuk menghentikan Komi.
Gravitasi terasa berat sekarang, walaupun mereka di level yang sangat berbeda... gravitasi dari Kamitouri yang berada di ambang kehancuran mampu membuat mereka berdua terjatuh dan mendarat di batu-batuan yang panas, mereka tidak bisa terbang karena tekanan yang besar di sekitar mereka.
"Sial... sudah hitungan mundur... apa yang dikatakan sejarah benar... Kamitouri yang berada di ambang kehancuran akan memiliki tekanan dan gravitasi yang sangat besar... terasa seperti tekanan yang akan menciptakan dunia baru...!" Haruka melakukan salto beberapa kali ke belakang untuk menghindari serangan Komi.
Komi meluncurkan Final Shine Attack di belakang-nya untuk mendekatkan jarak-nya dengan Haruka agar ia bisa menyerang Haruka lebih dekat lagi, mereka berdua sama-sama tidak bisa terbang... suhu yang terdapat di dalam semesta itu bertambah besar hingga tubuh mereka mulai mengalirkan banyak keringat dingin yang mengurus Lenergy dan tenaga mereka sendiri.
"Ini benar-benar buruk... aku tidak bisa konsentrasi untuk melakukan teleportasi..." Haruka menelan ludah-nya sendiri, fokusnya terbelah menjadi dua karena dia harus berurusan dengan memprediksi kehancuran dari Kamitouri dan menghindari serangan Komi yang sekarang terlihat lebih cepat dan rumit.
Terdengar masuk akal karena semesta Kamitouri adalah semesta dimana para dewa dan dewi tinggal, sudah jelas kehidupan dan tekanan yang dimiliki oleh Kamitouri akan jauh lebih besar... ketebalan dan kebesaran dari Kamitouri juga tidak bisa dibandingkan dan dibayangkan lagi, walaupun ukuran-nya lebih kecil dari inti semesta.
Haruka dan Komi menatap satu sama lain, ekspresi mereka terlihat kelelahan karena tekanan dan suhu yang mereka rasakan... ternyata Kamitouri yang berada di ambang kehancuran ini benar-benar buruk, ini pertama kalinya mereka merasakan tekanan sebesar ini sampai suhu-nya pun menguras tenaga dan Lenergy mereka masing-masing.
"Tubuh apa ini... kenapa suhu dan tekanan ini perlahan-lahan membuatku lemah...! Walaupun begitu, tubuh ini tidak memiliki batasan apapun jadi aku dapat mengisi-nya ulang!!!" Komi melayangkan satu serangan yang mengenai pipi kanan Haruka hingga darah menyembur keluar dari luka-nya itu.
"... ..." Haruka hanya bisa diam karena jika mereka terus melanjutkan pertarungan maka tidak ada pemenang-nya melainkan pertarungan akan berakhir seri dengan kedua pihak yang sama-sama sudah mati.
Walaupun begitu, Haruka masih memiliki perasaan kasihan ketika melawan Komi... dia terus menahan diri ketika melawan-nya, Komi bisa menjadi kunci untuk ancaman yang akan datang suatu hari nanti... ledakan Kamitouri kemungkinan besar tidak akan membunuh mereka tetapi daya ledakan itu sangat besar hingga black hole harus menyedot-nya yang mengartikan mereka berdua akan terjebak bersama di dalam black hole itu untuk selama-nya.
"Ini akhir bagi-mu, anak adopsi." Komi mengeluarkan perkataan yang membuat Haruka sakit hati, Haruka mengangguk lalu wajah-nya terlihat kecewa kepada dirinya sendiri, "Aku benar-benar telah gagal, Mama... aku menggagalkan dirimu..."
__ADS_1
"Aku sudah tau... kau mencoba untuk mengubah pikiran-ku tetapi semua perkataanmu itu tidak berguna! Ini semua salah-mu Haruka, seharusnya kau menerima takdir yang sudah tersedia!"
"Mama! Aku melakukan semua ini demi masa depan Touri! Semua ini tidak akan terjadi, kedamaian yang kalian inginkan tidak akan pernah ada... hanya kehancuran dan kegilaan yang bermunculan dimana-mana!"
"Kalau begitu kau benar-benar bodoh! Segala-nya dan maha mengetahui tetapi kau tidak pernah mengetahui rencana dan pikiran yang ada di dalam diriku sendiri!"
Pertarungan mereka terus berlanjut, gelombang lahar biru tua bermunculan dimana-mana hingga pandangan mereka mulai terhalangi oleh semua lahar tersebut... detik-detik sebelum kehancuran, sepertinya terlambat jika mereka mencoba untuk melarikan diri... tetapi Haruka diam-diam mengontrol waktu untuk berjalan sangat lambat.
Komi menyadari-nya dan ia langsung mencoba untuk menggunakan sihir realita-nya tetapi Haruka menghancurkan sihir tersebut menggunakan sihir Crimson-nya, mereka menatap satu sama lain dengan ekspresi yang terlihat kesal... suhu dan tekanan terus bertambah besar hingga mereka hanya bisa bernafas berat dan melepaskan asap di dari dalam tubuh mereka masing-masing.
"Kau benar-benar pantas untuk dibunuh oleh pedang ini, Haruka...! Kali ini, kau tidak lagi harus berurusan dengan takdir!!!" Komi tiba dihadapan Haruka hingga Haruka tidak bisa melihat serangan yang kasat mata, mata-nya terbuka lebar ketika pedang itu menyentuh leher-nya lalu memenggal kepala-nya.
Slaaassshhh!!!
Haruka tersenyum kecil, ketika pedang Komi berhasil memutuskan leher Haruka... tubuh Komi tiba-tiba terbelah menjadi dua karena ia menggunakan sihir waktu lagi, kesalahan Komi akan terus terulang yaitu meremehkan musuh-nya dan tidak sadar dengan keadaan sekitar.
Kepala Haruka lepas dari leher-nya dan tubuh Komi terbelah menjadi dua, kedua kaki-nya telah berpisah dengan perutnya sendiri, mereka berdua terjatuh di atas lahar yang membuat tenaga dan Lenergy mereka terus terkuras, Komi mulai merasa kesakitan ketika pedang itu mengenai tubuh-nya, campuran dari luka pedang dan lahar itu membuat dirinya menjerit kesakitan.
"Ugggghhhh...!!!!" Komi menatap Haruka yang sudah tiada, ia setidaknya berhasil membunuh Haruka tetapi dengan bayaran dimana perut-nya tidak dapat ia kembalikan karena Omni-Slayer telah menyegel luka-nya, segel yang dapat menimbulkan luka abadi untuk dirinya sendiri.
"Graagggghhhh...!!!"
***
Korrina menyentuh kepala-nya sendiri, firasat dan perasaannya terasa tidak enak... ia merasakan sesuatu yang mengerikan, kedua telinga-nya bisa mendengarkan jeritan orang-orang yang tersakiti. Korrina menatap jendela dengan ekspresi yang terlihat khawatir, ia tidak mengerti... kenapa bisa perasaan takut menyerang diri-nya secara berlebihan.
"Haruka---"
__ADS_1
Seseorang langsung mencekik leher Korrina dari belakang, "Hugghh...!!!"