Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 706 - Sebagai Seorang Legenda, Kita akan Tetap Berdiri di Detik Akhir


__ADS_3

Regulus mulai maju ke depan lalu menghantam kepala Asriel sampai tengkoraknya mulai retak sampai hancur, ia kehilangan lebih banyak darah sekarang.


Dengan cepat Regulus berubah menjadi petir yang menabrak perut Rokuro sampai ia memuntahkan banyak darah yang mengandung aliran listrik.


Regulus melakukan sebuah putaran lalu memutuskan ekor Shuan, setelah itu ia mencekik lehernya dengan ekornya sendiri sampai ia memuntahkan lebih banyak darah.


Kekuatan mereka perlahan-lahan menghilang bahkan keberadaannya sudah tidak bisa di rasakan lagi, tetapi mereka terus maju untuk mencoba melukai Regulus yang bebas dari serangan es Asriel.


Apa yang ketiga Legenda itu pikirkan adalah harapan terakhir yang mereka salurkan kepada putri mereka masing-masing bahwa suatu saat nanti, harapan itu untuk menciptakan masa depan yang cerah.


Semua ingatan dan kenangan mereka dari awal terus teringat sampai menginjak titik pengakhiran, sudah waktunya untuk menutup buku dan memberikannya kepada anak mereka masing-masing agar bisa melanjutkannya.


"Aku tidak akan membiarkanmu, Regulus...!!!" Shuan maju ke depan lalu ia memegang tubuh Regulus dengan erat.


"Shining Justi---" Shuan mencoba untuk melepaskan gelombang emas melalui mulutnya tetapi Regulus langsung menarik lidahnya dan mendorong sampai aliran listrik masuk ke dalam mulutnya.


Shuan tidak bisa berbicara tetapi ia masih tetap maju untuk menahan Regulus sampai ia menerima beberapa pukulan dari Rokuro dan Asriel yang terus berusaha.


"Aku akan... berusaha sampai titik akhir...! Akan lebih baik jika aku selamat!!!" Rokuro mencoba untuk menghantam wajah Regulus tetapi kedua matanya langsung di cangkel sampai ia tidak bisa melihat.


"Aku akan... melindungi mereka... kau tidak akan mengerti... Kaisar busuk dan tidak berguna... sepertimu...!!!" Asriel mencoba untuk melepaskan sihir lainnya tetapi Regulus memegang kedua telinganya lalu merobeknya.


Regulus menyiksa mereka satu per satu tanpa merasakan tekanan apapun karena ketiga Legenda itu bagaikan serangga untuknya sampai ia terus mengambil dan merusak anggota tubuh mereka satu per satu.


"Walaupun...!!! Tubuh kita sudah hancur... semua luka yang bermunculan... darah yang terus bertumpahan...!!! Harga diri kita tidak akan pernah mati!!!" Rokuro melancarkan serangan lainnya.


Regulus menghindarinya lalu ia memukul perutnya sambil berlubang, Rokuro masih selamat tetapi ia mulai kehilangan lebih banyak darah dan tenaga sampai kehidupannya mulai memunculkan hitungan mundur sebelum merasakan kematian.


"Mmmggghhhh!!!" Jerit Shuan keras yang sudah tidak bisa berbicara tetapi ia memiliki niat besar di dalamnya untuk tetap bertarung.


Regulus memukul mulut Shuan cukup dalam sampai tangannya berhasil memegang paru-parunya, setelah itu ia menghancurkan salah satunya dan mengeluarkannya sampai menghantam wajah Shuan.


"HARGA DIRI KITA SEBAGAI BANGSA LEGENDA TIDAK AKAN PERNAH MATI...!!!" Jerit Asriel keras yang mulai menendangnya tetapi Regulus menyentuh tubuh Asriel sampai mengeluarkan beberapa tulangnya.


Tulang rusuk Asriel mulai keluar melalui tubuhnya sampai ia merasakan kesakitan yang sudah tidak bisa di jelaskan lagi.


Mereka masih tetap berjuang, kali ini dengan pergerakan lambat karena luka yang mereka terima terus memundurkan waktu kehidupan mereka sama titik nol.


""LEGENDA TAKKAN PERNAH MATI...!!!""


""KETIKA DUNIA MEMBUTUHKANMU...!!!""


""BISAKAH KAU MENDENGAR TERIAKAN MEREKA MEMANGGIL NAMAMU!?""


""LEGENDA TAKKAN PERNAH MATI...!!!""


""MEREKA MENJADI BAGIAN DARI DIRIMU!!!""


""SETIAP KALI KAU BERDARAH UNTUK MENGGAPAI KEJAYAAN...!!!""


""TANPA AMPUN KAU BERTAHAN!!!""


Mereka terus mengatakan kata-kata terakhir Legenda yang layak, mereka terus mengatakannya selagi melancarkan beberapa serangan kepada Regulus dengan hitungan waktu kehidupan yang terus mundur.


Regulus hanya bisa tersenyum puas karena dirinya terasa cukup terkesan mendengar semua perkataan khusus Legenda layak, rasa hormatnya terus tumbuh sampai ia akan mengakhirinya dengan lebih kehormatan juga.

__ADS_1


""MEREKA TIDAK PERNAH KEHILANGAN HARAPAN KETIKA SEGALANYA HILANG...!!!""


""DAN TERDAPAT PERTARUNGAN DI DEKATNYA!!!""


""DALAM-DALAM TULANG MEREKA MENJADI ASAP...!!!""


""KETIKA API BERKOBAR...!!!" Jantung mereka mulai melemah sampai mempengaruhi seluruh tubuhnya itu, kekuatan mereka telah hilang secara permanen karena hitungan detik itu sudah sampai sepuluh detik.


""OH... BANGKITKAN LAH DIRIMU, SEBAAAAAB!!!""


Mereka mengepalkan pukulan terakhir mereka lalu melancarkan serangan yang sama untuk mengakhiri perjuangan keras mereka karena sudah bertahan cukup lama untuk mengulurkan waktu.


""LEGENDS NEVER DIEEESSSSSS!!!""


BAAAAAMMMMMMM!!!


***


Pertarungan berat sebelah itu berakhir dengan cepat, Regulus merasa puas seketika karena hukuman itu sudah berjalan sempurna sampai ia bisa melihat mereka kehilangan banyak anggota tubuh.


Hal yang mengejutkan dirinya adalah ketiga Legenda itu terus berjuang dan bertarung ketika sudah mengetahui hasil bahwa mereka akan tetap kalah.


Hanya saja mereka memang memiliki semangat dan harga diri Legenda yang begitu besar bahkan sekarang... ketiga Legenda yang sudah gugur itu masih berdiri tegak selagi menundukkan kepalanya.


"Pada akhirnya... kita sebagai bangsa Legenda akan terus menunjukkan harga diri yang selalu kita banggakan." Regulus mengubah semua Regulus di sekelilingnya menjadi petir.


"Aku akan mengingat kalian bertiga, bangsa Legenda layak yang terus maju tanpa membuang harga diri kalian." Regulus berubah menjadi petir lalu melesat ke atas, dan meninggalkan wilayah itu.


Satu jam telah berlalu, Hana bersama yang lainnya mulai mendatangi wilayah itu untuk melihat keadaan, mereka tidak bisa merasakan keberadaan ketiga Legenda itu karena mereka semua sudah gugur.


"... ...!!!" Hana dikejutkan dengan luka yang mereka terima, semuanya terlihat begitu mengerikan karena Regulus memperlakukannya dengan cara yang sadis.


Mereka telah kehilangan banyak anggota tubuh karena Regulus yang menghancurkannya bahkan tubuh mereka saat ini dipenuhi dengan darah yang terus berjatuhan sampai mengotori daratan.


"Rokuro...? Hei... Kita sudah sampai... kalian berhasil kan...?" Hana mulai menyentuh pipi Rokuro, rasanya dingin sekali sampai ia tidak bisa merasakan kehidupan di dalam tubuhnya.


"Ti-Tidak mungkin..." Hana terkejut ketika mengetahui ketiga Legenda itu telah gugur selagi berdiri tegak, mereka bertarung sampai akhir demi mengulurkan waktu dan sempat mengalahkan beberapa Regulus.


Haruka, Kou, dan Mitsuki kebetulan datang, mereka semua dikejutkan dengan keberadaan ketiga Legenda itu yang sudah bilang sampai tidak bisa di rasakan sedikit pun.


Kou mencoba untuk membaca pikiran Shuan tetapi isinya kosong, ia langsung terkejut dan menutup mulutnya karena Shuan telah gugur di sebuah pertarungan demi melindungi yang lainnya.


"SHUAAAN!!!" Teriak Kou keras yang mulai mendekati dirinya, ia memegang erat lengan kanannya yang terasa sangat dingin.


"Bangun, Shuan...!!! Bangun...!!! Aku mohon jangan tinggalkan aku...!!! Jangan tinggalkan kami...!!!" Teriak Kou keras dengan air mata yang mengalir deras melalui air matanya.


Shuan tidak menjawab sama sekali, kepalanya yang tertunduk dan ekspresinya yang terlihat begitu tenang mampu membuat Kou menangis keras karena tidak bisa menerima takdir buruk selanjutnya.


Kou baru saja kehilangan adiknya, dan sekarang ia telah kehilangan seseorang yang sangat penting di kehidupannya, dia adalah suaminya yang terus mendukungnya dari awal.


"Shuan!!! Bangun...!!! Aku mohon...!!! Aku mohon... AKU MOHON...!!!" Teriak Kou keras sehingga ia berlutut di atas tanah selagi menutup wajahmu karena ia tidak bisa melakukan apapun.


Megumi menatap Shuan, ia juga merasakan kesedihan yang sama tetapi melampiaskan kesedihannya sekarang tidak akan mengubah fakta bahwa seseorang mati tidak akan bisa kembali.


Shuan mati sebagai Legenda yang layak karena ia mau bertarung sampai mati, Megumi mulai memegang tubuh Shuan lalu membaringkan tubuhnya di atas tanah.

__ADS_1


"Semoga kamu hidup tenang di atas sana, Shuan... sampaikan pesanku kepada Minami..." Megumi tersenyum lalu ia meneteskan air matanya.


Kou menatap Megumi lalu ia memeluknya dengan sangat erat sampai menjerit selagi menangis karena ia belum siap di tinggal oleh seseorang yang sangat ia cintai.


"HWAAAAAAAHHHHHHHH!!!" Sudah lama sekali Kou tidak menangis sekeras itu, kali ini kematian Shuan sungguh membuat hatinya terasa sangat menyakitkan.


Ia tidak sempat menghabiskan waktu bersama sebagai keluarga setelah kerajaan Legetsu hancur, semua kenangan yang ia ciptakan dengan Shinobu bersama Shuan menghilang seketika.


"Rokuro... kamu bilang... ingin... tetap bersama denganku untuk melihat pertumbuhan anakmu..." Haruka melihat Rokuro menundukkan kepalanya dengan ekspresi tenang.


Air mata mengalir deras melalui kedua matanya, era kerajaan telah meruntuhkan dirinya secara pelan-pelan sampai keburukan terus berdatangan.


Awalnya ia sudah menerima kematian Honoka tetapi sekarang rasanya mustahil, semua yang ia cintai dan sayangi menghilang begitu saja sampai meninggalkan dirinya sendirian.


"Rokuro... bangun... aku mohon..." Haruka memegang erat lengannya sehingga angin mulai berembus kencang sampai menggerakkan rambut Rokuro.


Haruka mulai meraba kedua pipi Rokuro lalu memberinya sebuah kecupan di bibir sampai ia mulai membaringkan tubuh Rokuro di atas tanah.


Haruka mulai memegang erat tapaknya, ia mencoba untuk tetap kuat dan tidak menangis keras tetapi semuanya mustahil, ia langsung menangis di atas dada Rokuro.


"ROKUROOOOOO!!! HWAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHHHHHHHHHH!!!" Haruka menjerit keras selagi melepaskan tangisan yang begitu menyedihkan karena ia sudah kehilangan banyak orang yang ia sayangi.


"Asriel... Asriel...! Asriel...!!!" Mitsuki mulai memeluk erat tubuh Asriel yang terasa begitu dingin, ia tidak dapat merasakan arwah sedikit pun di dalam tubuhnya.


"ASRIEEEELLLLL!!!" Mitsuki menjerit keras selagi menangis tepat di hadapannya, ia terus memeluknya dengan sangat erat bahwa dirinya tidak akan pernah bisa mengasuh kedua anaknya lagi.


"... ..." Hana mengepalkan kedua tinjunya dengan penuh kekesalan karena perbuatan Regulus sudah tidak bisa di maafkan lagi.


Hana ikut menangis karena ia baru saja kehilangan adik dan kedua teman baiknya juga, kematian Minami sudah cukup untuk membuat dirinya hancur tetapi melihat mereka bertiga mati hanya membuat kehancuran itu bertambah lebih parah.


Megumi menangis sendirian selagi menatap langit-langit, dengan ini menyatakan bahwa ia telah kehilangan dua anak yang selalu ia asuh dengan penuh kasih sayang sampai menumbuhkan mereka menjadi Legenda yang layak.


Wilayah yang sebelumnya di pakai dalam pertarungan berat sebelah, Regulus telah pergi menuju kerajaannya sendiri untuk mempersiapkan perang bersama seluruh kerajaan di planet Legenia.


Ia bertujuan untuk memusnahkan kerajaan Ghisaru terlebih dahulu karena dirinya baru saja selesai memusnahkan ketiga sampah itu yang terus mengulurkan waktunya.


Mereka yang melihat kematian dari ketiga Legenda layak itu tidak bisa menahan rasa kesedihan yang begitu besar, istri mereka melihat suami mereka gugur di hadapannya tanpa mengatakan kata perpisahan apapun.


Haruka dan Kou terus meneriakkan nama suami mereka dengan air mata yang mengalir deras melalui kedua matanya, Mitsuki juga mengalami hal yang sama tetapi ia pelan suara tangisannya itu.


Megumi dan Hana bercucuran air mata kesedihan yang tidak dapat mereka tahan karena mereka juga merasakan hal yang sama, kehilangan anggota yang sangat penting di dalam keluarga mereka.


Seberapa banyak pun mereka memanggil nama dari suami itu, tidak ada jawab sama sekali. Arwah mereka sudah berpindah menuju surga untuk melanjutkan kehidupan yang tenang.


Shuan, Rokuro, dan Asriel gugur dalam sebuah pertarungan yang dipenuhi keputusasaan, harga diri Legenda mereka tidak pernah mati sampai titik ini karena mereka terus berjuang dan berusaha sampai mati.


Keheningan terbawa dalam wilayah itu sampai suara yang terdengar hanya tangisan penuh penderitaan dan kesedihan.


Tidak ada yang namanya kematian sia-sia untuk bangsa Legenda yang terus mendalami harga diri mereka, nyawa ketiga Legenda yang sudah mati itu akan terus hidup...


...harapan mereka akan tersampaikan kepada generasi selanjutnya yaitu anak mereka.


[Shiratori Shuan - Gugur]


[Shimatsu Rokuro - Gugur]

__ADS_1


[Shichiro Asriel - Gugur]


__ADS_2