Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 863 - Wadah yang Dijadikan Kelahiran Kembali


__ADS_3

"Tak seorang pun bisa lolos dari takdir..."


"Yang tersisa hanyalah akhir, dimana kalian binasa..."


"Keabadian hanya hidup pada diriku..."


"Nyanyikan lagu nestapa dimana waktu telah sirna..."


Admon membuka buku itu lalu ia mulai membaca semua halaman satu per satu dengan tatapan serius, "Dengan begini aku akan berdiri di puncak seluruh alam semesta lalu melampauinya!!!"


Tanpa disadari, ketika ia membuka halaman ke satu dirinya sudah langsung berada di halaman sepuluh tanpa dirinya yang menyadari karena terlalu fokus dengan para pemberontak yang memberontak keluar dari dalam lumpur itu.


"Sekarang...! Berikan kembali kekuatan itu...! Aku tidak mau menunggu lebih lama, perjalanan mereka sangat panjang!!!"


"Setidaknya kembalikan semua kekuatan itu agar aku bisa memusnahkan rongsokan seperti mereka yang tidak bernilai apapun!!!" Admon mencoba untuk membaca mantra di dalamnya, tetapi...


Admon membulatkan matanya ketika buku yang ia pegang mulai menembus sampai tidak bisa disentuh lagi, rasanya seperti makhluk halus yang ia sentuh dan isi dari buku itu terlihat berbeda.


"Kau terlalu fokus dengan mereka semua sampai melupakan seseorang yang dapat memainkan waktu..." Terdengar suara gadis dari belakang.


Admon mengalihkan pandangannya kepada gadis yang mengeluarkan suara tadi lalu ekspresinya saat ini sudah tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata karena ia tertekan oleh rencana lainnya.


"Ke-Keparat...!" Admon melihat buku yang ia pegang menghilang begitu saja dengan mengecil sampai membentuk waktu yang berputar ke belakang untuk menghentikan Replay.


"Salah sendiri karena sudah masuk ke dalam perangkap itu sejak awal... apakah kau tidak memikirkan konsekuensi yang akan kau hadapi?"


"Lima pemberontak dengan satu penyihir yang memiliki kemampuan berbeda... ditambah lagi kau menyerang seseorang yang salah terlebih dahulu yaitu Shinobu." Kata Koizumi.


"Kau tidak menyadarinya... aku melompati waktu selama sepuluh detik untuk memindahkan Grimoire yang kau pegang menjadi Replay... penghasilan dari Time-Replay melalui mataku sendiri."


"Semua jenis Grimoire memiliki bentuk yang sama, hanya sampul dan keberadaannya saja yang beda sampai kau tidak sadar... kau terlalu fokus dengan mereka yang mengulurkan waktumu itu."


"Menyedihkan... semua perkataan tadi sungguh menyebalkan untuk di dengar oleh telingaku."


"Shimatsu Koizumi..." Admon mengepalkan tinjunya lalu ia melihat semua temannya hanya bisa tersenyum serius karena mereka memang bertujuan untuk menghalanginya demi mengulurkan waktu.


"Sudah cukup, Koizumi...!!! Pikirkan kembali siapa yang paling layak untuk mengubah dunia ini...! Mengembalikan kedamaian yang sudah ada sejak itu!!!" Admon memasang tatapan panik seketika.


Koizumi memasang tatapan yang terlihat seperti merendahkan seseorang, ia tidak menyangka akan melihat Dewa seperti dirinya secara tidak langsung memohon dan meminta dirinya untuk menghentikan perbuatannya.


"Siapa lagi orang yang layak mengembalikan semua kedamaian itu dengan kepercayaan...?! Sudah pasti dewa karena kami menciptakan kalian semua bersama dengan dunia ini ini...!"


"Koizumi!!! Mereka yang lemah dan berhak berada di dalam tong sampah tidak layak mengembalikan kedamaian itu...! Kedamaian abadi perlu dicapai dengan banyak kepercayaan dan pengorbanan!!!"


Shinobu sudah sampai di tujuan lalu ia menjentikkan jarinya lagi sampai sebuah tanaman muncul dari dalam daratan, menumbuhkan pohon emas yang menjatuhkan Grimoire di atas daun emas itu.

__ADS_1


Shinobu dan Koizumi sudah merencanakan banyak hal sampai lompatan waktu tadi menyempatkan Shinobu untuk mengubah buku itu menjadi tanaman kecil yang masuk ke dalam daratan.


Koizumi menggantikannya dengan Grimoire yang tercipta melalui Replay, Admon terlalu sibuk dan fokus mengurus yang lainnya sampai ia tidak sadar bahwa waktu sudah melompat selama 10 detik.


Admon memasang tatapan penuh kekesalan karena kalkulasinya gagal, mereka semua memang gadis yang sangat pintar dan strategis sampai ia sendiri dapat melihatnya sendiri.


Mereka semua sudah berhasil mengikuti apa yang Shinobu inginkan karena ia dari jarak jauh selagi bergegas menuju arah mereka sempat berbicara melalui telepati.


Telepati yang bisa di dengar oleh semua temannya sampai perkataan Shinobu sampai kepada mereka lalu dimengerti begitu cepat, menahan semampu mungkin sampai Koizumi tiba.


"Beraninya kalian...!? Hanya demi mengubah masa depan dengan tidak mempercayai dewa elemen seperti kami yang dijadikan sebagai unsur ciptaan...!!!"


"Dasar kotoran yang dikeluarkan oleh keledai...!!! Kalian pikir siapa aku sebenarnya, hah!? Aku adalah Dewa...!!! Dewa berhak mendapatkan apapun yang dia mau melalui kepercayaan untuk mengubah dunia!!!"


"Yang akan merebut Grimoire itu adalah...!!!"


"...AKU!!! DEWA DEMETRIO YANG TERLAHIR KEMBALI!!!" Teriak Admon yang mencoba untuk merebut Grimoire dari tanah Shinobu tetapi ia berhasil menangkis semua serangan tanah itu.


Shinobu masih memasang tatapan yang jarang ia tunjukkan yaitu keseriusan seperti orang dewa, wajahnya yang begitu polos mampu menunjukkan betapa serius dan mematikan dirinya yang sebenarnya.


Prediksi yang ia buat tentang Admon ternyata benar, dengan bantuan dari kandidat dewa tanaman yang bernama Gallus membicarakan sesuatu tentang pemimpin yaitu kandidat tanah itu sendiri.


Dia tidak menyangka Admon langsung memberitahu identitasnya kepada mereka semua bahwa dirinya sebenarnya adalah Dewa tanah agung asli yaitu Demetrio.


"Dewa tanah agung... memiliki ikatan dekat dengan dewa pencipta karena dia sendiri memiliki elemen berdasarkan tanah dan bumi yang memiliki elemen dasar lainnya."


Shinobu membuka buku tersebut lalu membaca halaman terakhir karena memiliki banyak kesempatan yang pas, Demetrio tidak bisa bergerak sama sekali karena Koizumi yang memperlambat waktunya.


"Dengan mengguncangkan tanah...! Guncangan semua gunung dan retakan daratan yang ada...!!! Sama halnya dengan mengguncangkan buku ini sampai hancur!" Shinobu melemparnya ke atas.


Grimoire of Earth langsung terbuka lebar lalu membalas mantra tadi dengan terbuka lebar sampai memancarkan banyak cahaya coklat, buku itu mulai retak sampai perlahan-lahan berubah menjadi batu.


Grimoire itu berubah menjadi batu lalu hancur begitu saja, hanya tersisa satu Grimoire yaitu Grimoire of Electric. Kebetulan buku itu berada dekat dengan mereka dan Shinobu sudah melacaknya dengan tumbuhan emasnya.


"Takdir mengangkat diriku sebagai seorang Dewa tanah... untuk menciptakan apapun yang aku inginkan agar semua penghuninya bisa senang hidup di dalam ciptaan itu."


"Dengan seenaknya mereka melupakan kenikmatan yang sudah Dewa berikan... Dewa sepertiku, Demetrio...! Menciptakan kesenangan untuk mereka... dibayar tanpa kepercayaan apapun!!!"


"Seharusnya... Dewa agung... seperti diriku berdiri di puncak segalanya...! Kalian hanya tetap diam dan menyembah dewa yang sudah memberikan nikmat itu!"


"BRENGSEK!!!" Demetrio menginjak daratan sampai membelah planet itu menjadi dua lalu mementalkan mereka semua ke belakang seketika.


Injakannya tadi mengandung God Lenergy yang sempurna karena ia sedikit demi sedikit sudah bisa meraih kembali kekuatan Dewa itu di dalam wadah yang ia ciptakan sendiri.


Planet yang terbelah menjadi dua itu sudah pasti akan menjatuhkan banyak korban bahkan cukup untuk menghancurkan pasir waktu yang menjebak Demetrio di dalam perlambatan waktu.

__ADS_1


Shinobu sudah dekat sekali untuk merebut Grimoire of Electric tetapi guncangan itu melemparnya ke belakang, mereka semua juga menerima tekanan God Lenergy dari Demetrio yang memunculkan aura Dewanya berwarna coklat.


"Beraninya kalian...!?!?! Tidak mungkin....!!! Tidak ada kemungkinan untuk Dewa Demetrio kalah begitu saja!!!"


"Aku harus bersembunyi... tidak... masih ada kesempatan untuk membuka Grimoire of Electric agar aku bisa mendapatkan kekuatan jalan pintas untuk menguasai sambaran tersebut!"


"Dengan menyambar mereka... sambaran petir yang sudah aku masukkan dengan sihir tanah, aku pasti bisa mengubah mereka menjadi batu yang tidak bisa dikembalikan!!!"


"Mundur juga bukan berarti mengakui kekalahan! Aku memiliki kuasa dan kemampuan yang bisa membawakan diriku ke puncak atas...!"


Demetrio melihat ke belakang lalu ia melebarkan matanya ketika melihat Shinobu memegang buku sihir itu dengan tubuh yang terkena serangan listrik itu tetapi daunnya berhasil menyerap listrik itu.


"Buku sihir yang terakhir...!!! Itu ada di tangannya!!!" Seru Konomi.


"Dengan begini...! Tidak ada lagi yang namanya pengejaran atau perebutan, Dewa egois yang selalu memaksa banyak orang untuk masuk ke dalam kepercayaan tidak akan bisa tenang!" Ancam Koizumi.


"Ck... Percuma... harga diriku sebagai Legenda bisa lenyap jika kabur begitu saja... tetapi... sedikit lagi!" Demetrio menggigit bibirnya sampai berdarah.


Shinobu membuka buku itu tetapi ia bisa merasakan penahan, kedua lengannya bergerak sendiri karena sihir Demetrio yaitu tanah liat, tanah liat yang menyelimuti kedua tangannya agar ia bisa membuka halaman yang ia mau.


"Sedikit lagi!!! Perlihatkan buku itu kepadaku...!" Seru Demetrio yang memaksa kedua lengan Shinobu untuk memperlihatkan buku sihir itu kepada dirinya.


"Sial... tubuhnya... sudah mengeras... sampai terkendali oleh---" Mulut Shinobu langsung tertutup rapat dengan tanah liat sampai seluruh tubuhnya juga sama sudah terbawa kendali oleh sihir tanah liat Demetrio.


Tubuh Shinobu bertambah semakin berat karena tekanan God Lenergy di dalam lapisan tanah liat itu, menjatuhkan dirinya di atas tanah sampai Demetrio tiba di hadapannya.


Menghalang serangan semua orang dengan menciptakan tembok besar yang melempar banyak meteor menuju arah mereka semua, tanah yang mereka injak juga berubah menjadi lumpur untuk menjebak mereka.


"Apakah kita gagal...!?" Ako memasang tatapan kaget ketika melihat planet itu berada dalam kendali Demetrio.


Pandangan mereka dipenuhi dengan tanah liat dan lumpur yang bergerak lalu menyerang mereka agar bisa mengeraskan tubuh mereka untuk tidak bergerak sama sekali dan berhenti untuk memberontak.


"Hahahahaha... masih ada kesempatan ternyata, inilah yang terjadi jika aku kembali menunjukkan jati diriku sebenarnya! Dewa Demetrio!"


"Dengan ini aku bisa menguasai kekuatan lainnya... merebut Grimoire itu lalu mengutuk kalian semua menjadi batu atas amarah dari Dewa agung tanah!" Demetrio berhasil merebut itu dari tangan Shinobu yang mengeras.


"Shinobu Koneko... secerdas apapun dirimu, kau masih berada di tingkatan paling rendah... kecerdasan yang setara dengan monyet!" Demetrio menghantam wajah Shinobu sekuat tenaga.


Hantaman itu bisa dibilang lampiasan bagi dirinya karena Shinobu sudah menyusahkan dirinya dari awal, pukulan keras tadi merobek setengah dari wajahnya sampai mengeluarkan banyak darah dan menunjukkan celah dari tengkoraknya.


"Aku, Dewa Demetrio menghukum mereka yang tidak tahu kebenaran dari bersyukur!!! Semua ini adalah ciptaanku sendiri!!!"


Demetrio membuka buku itu lalu ia mencari halaman yang menyediakan mantra terkuat untuk dirinya lakukan demi bisa menghukum pemberontak seperti mereka.


"Fuhahaha!!!"

__ADS_1


__ADS_2