
Pasukan Ghisaru masuk ke dalam medan perang itu, semua pasukan dari kerajaan lain mulai memperingati pasukan mereka bahwa kerajaan lain datang tetapi dengan jumlah yang sangat kecil.
"Regulus, mereka sudah datang." Ucap Satori selagi memperhatikan semua pasukan Ghisaru terlihat begitu agresif sampai semua Legenda yang bukan di sisi mereka langsung gugur tanpa merasakan ampunan.
"Hohhhh... mulai menarik, aku sudah menunggu kedatangan mereka semua." Regulus bangkit dari atas takhtanya lalu ia maju ke depan sambil memperhatikan perang itu yang diikuti oleh banyak sekali Legenda.
Legenda yang saling membunuh satu sama lain untuk merebut wilayah dan kekuasaan terhadap suatu kerajaan sampai mereka sudah tidak dapat kembali, pandangan tentang keadilan dan kesatuan sudah tidak di anggap lagi.
"Apa-apaan nih...? Mereka datang dengan seratus pasukan... sebagian dari mereka bahkan sudah gugur." Kata Regulus yang terlihat kecewa.
"Memang sampah... tidak ada sedikit kelayakan yang di tunjukkan, mereka seharusnya tahu bahwa medan perang itu akan menjadi kuburan terakhir mereka." Diablo mengepalkan kedua tinjunya sampai aura kegelapannya muncul.
"Apakah kau akan duluan menemui mereka...? Semua pasukan itu terlihat mengganggu, lebih baik kau bunuh mereka satu per satu lalu melakukan kemampuan tersebut..." Kata Satori.
"...semakin banyak jumlah maka... kesempatan menang kita sudah pasti akan meningkat." Satori menyilangkan kedua lengannya karena ia masih belum tertarik untuk ikut berperang.
"Lihat saja, Satori. Aku tidak akan memberikan dirimu sedikit pun jatah karena semua sampah itu akan aku musnahkan satu per satu." Diablo berdiri di atas jendela lalu menghitung semua pasukan itu.
"Setiap kerajaan datang bersama pasukan terbaik mereka... raja yang memimpin tidak datang, mereka memang tidak menganggap perang ini cukup serius." Diablo menghantam tapaknya dengan tinjunya.
Pukulan itu sudah cukup untuk membelah daratan di medan perang menjadi dua sampai mengeluarkan banyak lahar panas.
Semua pasukan itu terpaksa mundur untuk bertarung di daerah aman tetapi sebagiannya juga masuk ke dalam lahar untuk melanjutkan pertarungan.
Diablo melihat Haruka yang muncul tepat di hadapannya sampai lehernya di cekik lalu di lempar ke arah lain karena ia mengincar satu orang yaitu Regulus.
Regulus dan Satori dikejutkan dengan kemunculannya yang terasa tiba-tiba, kemampuan lompatan waktu itu tidak dapat mereka rasakan sehingga Satori sendiri terpental ke belakang karena menerima satu tendangan.
"Jangan harap untuk melarikan diri lagi, Regulus." Haruka melangkah ke depan dengan tatapan yang terlihat tajam sampai kedua matanya memancarkan cahaya Crimson.
"Ternyata kau lagi...!!! Berani-beraninya kau memasuki wilayah terlarang sebagai pemberontak yang tidak tahu diri!!!" Regulus melepaskan petir yang besar melalui tubuhnya.
Haruka menghentikan semua sihir itu menggunakan waktunya sampai Regulus terkejut karena dirinya yang kebal dengan konsep waktu itu terpengaruh, bukan hanya dirinya tetapi semua sihirnya seperti diam di tempat.
Haruka maju ke depan lalu menghantam perut Regulus sampai ia memuntahkan banyak darah, Satori muncul tepat di belakang Haruka lalu ia memindahkannya ke tempat lain.
Haruka mengepalkan kedua tinjunya, merasa frustrasi bahwa Satori menghalang jalannya untuk membalaskan dendam kematian dari suaminya sehingga ia sekarang mulai tertekan oleh pasukan kerajaan yang berbeda.
"Sialan... Haruka Comi ya... aku ingin di hidup dan merasa kekalahan..."
"...setelahnya biarkan aku mempermalukan dirinya dengan memberinya rasa gairah yang paling nikmat." Regulus bangkit, nyawanya terselamatkan oleh Satori yang sudah mempersiapkan pelindungnya.
Diablo mencoba untuk mendekati Haruka tetapi pikirannya yang mencoba untuk membunuhnya terhapus seketika karena Kou yang berada di jarak cukup jauh.
Untuk sekarang, ia perlu menjaga Diablo agar tidak menggunakan Founder's Origin dan mengurusi pasukannya sendiri.
Pikiran Diablo saat ini dipenuhi dengan niat untuk memusnahkan pasukan kerajaan lain satu per satu karena mereka semua terlihat sangat mengganggu perang yang seharusnya di lakukan oleh dua kerajaan yaitu Legetsu dan Ghisaru.
Diablo mulai di kepung oleh semua pasukan kerajaan itu sampai ia hanya bisa tersenyum, "Kalian sampah... tidak ada gunanya merebut kekuasaan jika kalian tidak memiliki kelayakan."
__ADS_1
Arata dan Haruki melayang di atas langit, melihat Diablo saat ini sudah bersiap untuk menghabiskan semua pasukan itu satu per satu, kedua Legenda yang mengawasi itu dipenuhi dengan rasa amarah.
Tetapi rencana Kou adalah sesuatu yang harus mereka ikuti, sekali saja melakukannya dengan salah maka semuanya akan berjalan secara berantakan, dendam kepada Regulus masih bisa di simpan sampai Megumi menyelesaikannya.
"Semua pasukan Legenda...!!! Hari peperangan telah di mulai, teriakan lah perkataan yang selalu kita ucapkan sebelum mati dan sebelum merasakan kemenangan!!!" Seru semua pemimpin.
""LEGENDS NEVER DIES!!!"" Seru semua pasukan yang bergerak maju ke arah satu sama lain tetapi Diablo berada di tengah pasukan itu selagi menunjukkan senyumannya.
Diablo turun tangan lalu ia memusnahkan semua pasukan itu satu per satu dengan melakukan beberapa langkah lalu sentuhan sampai Haruka dan Arata tercengang melihat betapa kuatnya Diablo.
"Diablo... dia memang seperti ini sejak dulu, kekuatan yang lahir melalui bakat dan julukan sebagai raja Iblis... apa yang kau harapan dari seorang segala iblis, dia pasti memiliki kekuatan besar." Kuro mulai berbicara.
"Semua kekuatan dan sihirnya dapat ia masukkan ke dalam kata-kata, satu saja kata keluar maka itu sudah cukup untuk memusnahkan siapa pun yang ia inginkan."
"Langkahannya juga mengandung kekuatan yang begitu mengerikan sampai bisa memusnahkan siapa pun yang berniat untuk mendekati dirinya."
Perkataan Kuro dipenuhi dengan fakta sampai Arata dan Haruki terus memperhatikan Diablo yang membersihkan lantai sendirian tanpa menaikkan persentase kekuatannya yang masih satu persen.
"Masalah utamanya memang Diablo... hanya Haruki dan Arata yang dapat menandingi mereka dengan beberapa bantuan penting." Ungkap Kou selagi menatap yang lainnya.
"Satori masih bisa di biarkan untuk sekarang karena ia tidak seagresif Diablo... jika ia terjun ke medan pertarungan maka kita tidak memiliki kesempatan untuk menyerang kemampuan itu."
"Shiratori Shira... cepatlah selesaikan latihan itu dan urus Legenda bertopeng itu." Ungkap Kou, ia sempat melihat Hana yang mulai mendatangi kerajaan itu sendirian dengan penuh kecepatan.
"Regulus masih bisa di urus dengan Megumi dan Hana... Kakakku juga mencoba untuk melakukan beberapa bantuan sebelum kembali agresif." Kou melanjutkan pembantaiannya itu.
Iblis itu membuka mulutnya sampai menghisap semua arwah pasukan yang mencoba untuk melarikan diri, "Oi, oi, oi, apakah pasukan seperti kalian berhak mundur di peperangan seperti ini?"
Diablo menarik nafasnya dalam-dalam sampai menerima semua pemimpin pasukan untuk mendekat, ia menginjak wajah mereka satu per satu.
"Apakah kalian benar-benar Legenda di masa lalu...? Jutaan tahun lamanya, aku tidak pernah melihat Legenda pengecut seperti kalian." Kata Diablo.
"Mereka semua berani untuk mati... sekuat apapun musuhnya, bangsa Legenda dengan keras kepalanya tidak mementingkan nyawa karena harga diri mereka lebih penting..."
"...harga diri dari segalanya sampai mereka akan benar-benar mati dan gagal jika menghancurkan harga diri itu sendiri." Perkataan Diablo terus menyiksa tubuh mereka satu per satu.
""AAAAAGGGGHHHHHHH!!!""
"Jika terus seperti ini... aku yakin kita memang tidak memiliki kesempatan apapun untuk menang." Kata Arata karena Kuro pernah menceritakan sejarah penuh tentang Diablo bahwa dirinya memang tak terkalahkan.
"Hanya saja... melihatnya terus menyapu lantai tanpa mengeluarkan sedikit kekuatan apapun membuatku merasa penasaran, lebih baik kita coba dulu untuk melawannya." Arata mengeluarkan tujuh pedang dosa besar.
Arata dan Haruki mendarat di sebelah Diablo sampai ia mulai merasa tertarik ketika melihat dua Legenda itu datang untuk menghadapi dirinya.
"Sudah lama sekali, Kuro." Diablo menatap Arata dengan senyuman yang tertera di wajahnya.
"Apa...?" Arata terkejut ketika mendengar Diablo mengetahui Kuro yang berada di dalam tubuhnya sampai ia hanya bisa diam.
"Kau tidak pernah berubah sepertinya... kekuatan yang tidak tertandingi itu, aku yakin kau pasti merasa lebih puas juga menggunakan tubuh Ancient Legenda." Kuro mulai berbicara juga.
__ADS_1
"Itu benar... kekuatanku yang dulunya sudah terasa begitu kuat masih tetap melampaui harapan yang aku milik, tubuh bangsa Legenda cukup hebat juga." Diablo menatap kedua tapak tangannya.
"Aku juga merasa penasaran denganmu... aku tidak menyangka dirimu membutuhkan sebuah wadah untuk hidup lama, Kuro. Di dalam tubuh Legenda ini ya...?"
"Aku yakin kau memiliki kekuatan tujuh dosa besar yang selalu aku sukai dulu, tetapi sekarang aku hanya ingin melihat seberapa jauh kau dapat menguasai ketujuh pedang tersebut?" Tanya Diablo.
Diablo menghembus nafas pelan sampai menghabiskan semua pemimpin itu, ia membiarkan sisanya dibantai oleh pasukan lainnya karena dirinya telah menemukan sesuatu yang cukup untuk membuatnya tertarik.
"Kau juga kembali... aku harap kau bisa membuatku lebih tertarik dan membuka pandanganku tentang dirimu yang mengenal dekat Kuro." Kata Diablo.
Haruki mengeluarkan kedua pedangnya, mencoba untuk tidak terpengaruh dengan omongannya itu yang sudah membakar emosinya dengan penuh amarah sampai ia bersama Arata perlu bekerja sama untuk memenangkan pertarungan.
"Ingatlah, Arata... kau harus tetap fokus dengan serangan dan kemampuan Diablo yang cukup kuat... sebagian dari serangannya itu tidak memiliki konsep apapun." Peringat Kuro.
"Kau tidak ingin keluar dari wadahku itu ya...? Sungguh menyedihkan ya, seseorang menyegel kekuatan aslimu itu agar kau denganku bisa terhindar dari pertarungan yang menyebabkan banyak kehancuran."
Diablo memunculkan aura hitamnya sampai melepaskan dorongan yang mampu menggerakkan rambut mereka, Arata dan Haruki tetap memasang ekspresi yang serius tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.
"Jika pertarungan ini dimenangkan olehku maka... aku akan memberikan kalian kesempatan untuk hidup jika bersujud di hadapanku lalu menganggapku sebagai raja iblis terkuat." Diablo tersenyum lebar.
"Tawaran seperti itu cukup buruk... aku tidak akan pernah sujud kepada siapa pun, raja iblis sepertimu perlu merasakan kekalahan untuk kedua kalinya." Kata Arata.
"Itu benar... sekuat apapun dirimu, kau sebenarnya tidak memiliki kekuatan dan kesanggupan tanpa julukan raja iblis." Haruki secara tidak sengaja memanas Diablo.
"Coba dengarkan... memangnya raja apa yang akan hidup dengan kekuatan lemah, hah? Tentu saja raja iblis akan lahir dengan warisan dari kekuatan sebelumnya..."
"...lagi pula, memangnya aku peduli dengan kehidupan kalian yang tidak ada gunanya sama sekali? Akan aku tunjukkan kemampuan dari raja Iblis yang sebenarnya." Peringat Diablo.
Arata menatap Haruki sehingga Haruki menatap kembali, mereka mulai menjalankan rencana itu sampai waktunya tiba, tidak perlu merasa takut atau gagal.
Kou memperhatikan Haruki dan Arata dari jauh, sudah saatnya untuk mengulurkan waktu karena melawan Diablo sendirian atau berduaan tidak akan memberikan hasil yang cukup baik.
"Semoga beruntung... aku akan membantu sebisa mungkin." Ungkap Kou.
"...aku tidak perlu menahan diri." Tubuh Kou langsing dipenuhi dengan garis kutukan Crimson karena ia berusaha untuk menggunakan The Mind demi membantu kedua Legenda itu.
***
"... ..." Shira membuka kedua matanya sampai pupilnya memancarkan cahaya yang berjumlah besar sampai ia tidak sengaja menciptakan alam semesta yang terbuat dari cahaya.
"Sebentar lagi..." Shira mengurutkan dahinya, merasa kesal karena ia bisa merasakan semua orang membutuhkan bantuan dirinya.
"Jika saja aku bisa mengendalikan itu... maka aku dapat mengakses kekuatan selanjutnya dari Golden Universal." Shira melanjutkan latihannya yang terus membuat dirinya merasa frustrasi karena ia telah gagal beberapa kali.
"Hahhhh... berusahalah terus, Shiratori Shira..." Shira mulai menyemangati dirinya sendiri.
"Usaha dan kerja keras tidak akan pernah mengkhianati hasilnya..." Shira menyerap kembali semua cahaya itu lalu ia melakukan meditasi di ruangan cahaya yang terasa begitu hampa.
"...Golden Spirit!"
__ADS_1