Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 591 - Firasat Kemunculan Bahaya


__ADS_3

"... ..." Minami menoleh ke atas langit, ia merasakan firasat yang cukup mengerikan di dalam dirinya bahkan instingnya memperingati dirinya bahwa sesuatu yang buruk akan mendekat.


Minami yang saat ini sedang melatih beberapa Neko Legenda mulai meminta mereka semua berlatih sendiri dulu karena ia memiliki urusan penting ke suatu tempat.


"Ini sangat berbeda... perasaan ini jauh lebih mengerikan dengan kedatangannya Zangetsu bahkan tekanan itu jauh lebih besar di bandingkan Redagon." Minami mulai melompati pepohonan lalu ia mendarat di puncak gunung tinggi.


Minami memejamkan kedua matanya, mencoba untuk mencari sumber kekuatan yang mampu menarik perhatian dirinya.


Dia menghabiskan waktu selama beberapa menit dan tidak ada satu pun hal aneh yang ia rasakan di luar alam semesta, semuanya terasa biasa saja tetapi hati dan instingnya mengatakan tadi.


"Sial... jika Papa di sini, mungkin dia mengetahui apa yang terjadi."


"Apa semua ini hanya firasatku saja---" Minami tiba-tiba terpeleset, ia terjatuh ke dalam gunung itu dan mendarat di atas dedaunan emas.


Minami bisa melihat semua elang itu mulai beterbangan lalu mengelilingi gunung, Minami tidak mengerti apa yang baru saja ia lihat tetapi ia merasa di tarik ke dalam gunung itu yang dipenuhi dengan tumbuhan dan hewan emasnya.


Minami melihat cahaya yang begitu di hadapannya, cahaya itu bahkan membuat dirinya silau sampai ia sempat menghalang cahaya itu menggunakan kedua lengannya.


"A-Apa...?" Minami menatap ke depan dan ia melebarkan kedua matanya ketika melihat sesuatu yang sangat tidak ia sangka akan muncul tepat di hadapannya.


"Tidak mungkin... selama ini... lokasinya!? Semuanya berada di Neko Island?!" Minami bangkit dan melihat pintu emas di ujung gunung itu, semua tumbuhan itu mulai mendorong Minami dan memintanya untuk masuk ke dalam.


"... ..." Minami menoleh ke belakang, melihat semua hewan emas itu mengangkat lengannya dan menunjuk menuju pintu emas di hadapannya.


"Temple of Light..."


***


Yuusuatouri palsu saat ini mengalami masalah yang begitu besar karena serangan pasukan Bam Bam yang memiliki jumlah banyak sekali sampai seluruh bangsa Legenda tidak dapat bertahan cukup lama.


Shinra sudah mengetahui masalah ini ketika tidak sengaja terkena gigit di lengan kanannya sampai putus, ketika ia melihat keluar saja, semuanya dipenuhi dengan genangan darah yang di sebabkan oleh pasukan Bam Bam.


"Kurota... apakah kau tidak bisa menyingkirkan mereka semua dengan pedang dosa itu?" Tanya Shinra dengan tatapan kesal.


"Kecepatan mereka tidak dapat di ukur dengan mudah... semakin cepat kita bergerak atau sebanyak-banyaknya kekuatan yang kita lepas maka mereka akan bertambah jauh lebih kuat." Kata Kurota.


"Brengsek... apalagi sekarang...?"


"Apakah kita harus mengurusi masalah yang sama sejak itu tetapi mereka memiliki ukuran yang sangat kecil." Ucap Shinra yang sudah muak dengan semua masalah berkaitan Oath dan Bamushigaru.


"Untuk sekarang kita harus melarikan diri... pasukan seperti mereka sangat lah kuat, kita sendiri tidak tahu siapa yang menyebabkan semua ini terjadi." Ucap Haki yang mulai terbang ke atas langit meninggalkan planet itu.


Haki melihat beberapa pasukan Bam Bam mencoba untuk menyerang dirinya tetapi Shinra dan Kurota mulai menghancurkannya menggunakan sihir.


"Tepat sasaran... sepertinya yang satu tadi tidak begitu fokus." Ucap Shinra sehingga ia menoleh ke sebelah Kurota dan melihat banyak sekali pasukan Bam Bam mencoba untuk memakan mereka semua.


Shinra mendorong Kurota mundur lalu ia melepaskan rantai emas untuk mengingat mereka semua, ia melepaskan cahaya berjumlah besar melalui rantai itu untuk menghaluskan mereka semua menjadi partikel emas.


"Hei, bagaimana jika kita mengumpulkan semua orang...?! Jika kita berpisah seperti ini maka semuanya bisa saja berakhir lebih kacau!" Seru Homura.


Haki dan Kurota kebetulan berada di planet yang sama dengan Shinra yaitu Legendarius, mereka memiliki urusan penting tetapi semua urusan itu tertanggung oleh kedatangan pasukan Bam Bam yang ingin menyantap mangsa.


Hanya empat Legenda yang berada di planet itu, berpisah dengan yang lainnya, "Kita harus menghubungi Mortem dan yang lainnya..."


"Mortem... dia berada sangat jauh bersama saudaranya." Kata Haki, ia mencoba untuk mencari keberadaannya tetapi ia terus terganggu oleh pasukan Bam Bam yang mencoba memakannya.


Shinra mencoba untuk melakukan sihir teleportasi menggunakan cahayanya tetapi ia tidak bisa, entah kenapa sihirnya mengalami sebuah kendala karena pasukan Bam Bam yang terus menghabisi bangsa Legenda palsu.

__ADS_1


"Sepertinya semua ini memang kiamat untuk kita... sesuatu yang palsu tidak dapat bertahan lama." Kata Kurota sambil melawan beberapa pasukan Bam Bam yang mencoba untuk membunuhnya.


Shinra melebarkan kedua matanya ketika lengan kanannya bergetar dan ia bisa merasakan kesakitan, ia mencoba untuk melihatnya lebih dan ternyata Bam Bam saat ini sedang merobek kulitnya.


"Tidak mungkin... aku tadi tidak melihat satu pun dari mereka mencoba untuk mendekati diriku atau menyerang... kenapa satu ini berada di lenganku...?" Ungkap Shinra yang mencoba untuk tidak panik.


Shinra memilih cara yang lebih sulit yaitu memotong lengan kanannya agar Bam Bam tidak merasa terganggu dalam menikmati hidangannya itu.


Shinra melayang mundur dengan tatapan yang terlihat kesakitan, ia melihat seluruh temannya berada di jarak yang cukup jauh tetapi pasukan Bam Bam tetap menghalang mereka semua.


"Ketika aku mencoba untuk mengeluarkan sihirku... dia lebih memilih untuk memakan sihir itu, kecepatannya meningkat drastis seketika." Ungkap Shinra yang mencoba untuk mengikuti Homura dari belakang.


"Awas!" Seru Haki, ia mengayunkan kedua pedangnya beberapa kali untuk membunuh pasukan Bam Bam di hadapannya tetapi mereka memilih target lainnya yaitu Kurota yang mencoba untuk melarikan diri.


"Tiba-tiba mereka memilih Kurota sebagai target selanjutnya...?" Ungkap Shinra yang terus menganalisis semua pasukan Bam Bam dan kemampuan tersembunyinya.


Semua pasukan Bam Bam itu menyerang mereka semua secara bersamaan tetapi Shinra melepaskan cahaya yang sangat besar melalui tubuhnya sampai menarik perhatian mereka semua.


Shinra segera menyelimuti tubuhnya dengan rantai untuk melindungi dirinya dari gigitan semua pasukan Bam Bam yang melihat Shinra mengeluarkan banyak sihir lezat bahkan esensinya bertambah semakin lezat bagi mereka.


"Aku mengetahuinya sekarang... mereka lebih memilih mangsa dengan kekuatan yang di lepaskan, setiap kita mengeluarkan kekuatan atau sihir maka mereka akan menganggap kita sebagai hidangan yang sudah siap saji..."


"...tidak, bukan hanya kekuatan atau sihir melainkan kecepatan juga akan mereka incar. Mereka yang melepaskan kecepatan atau pergerakan yang begitu cepat... akan menjadi mangsa baru!" Ungkap Shinra dengan tatapan panik.


"Semua Bamushigaru kecil ini akan menyamakan kecepatannya dengan mangsanya lalu ia meningkatkan jauh lebih cepat agar bisa menyerangnya..." Shinra mencoba untuk meledakkan dirinya.


Kurota melihat Shinra merasa kesulitan karena di tekan oleh semua pasukan Bam Bam yang mencoba untuk memakannya.


"Shinra...! Cepat kemari....! Jangan lakukan apapun ceroboh, kau bisa saja mati!" Seru Kurota yang mencoba untuk membantunya tetapi Shinra menggelengkan kepalanya.


"Kalian pergi duluan..."


***


Selvia terhempas ke belakang dengan tatapan yang terlihat kesakitan, seberapa besar ia mengeluarkan semua kekuatan dan sihirnya, Zoiru berhasil melawannya dengan mudah.


"Itu saja yang kau miliki...? Apakah kau tidak sadar bahwa dirimu sudah mengecewakan Ayahmu sendiri di neraka?" Tanya Zoiru yang mulai menunjuk Selvia menggunakan jari telunjuknya.


Jari telunjuk itu melepaskan beberapa laser yang menusuk tubuh Selvia beberapa kali sampai ia terjatuh di atas tanah dengan darah hitam yang terus mengalir keluar.


"Ugh... sebagai ratu Iblis, sudah tugasku untuk melindungi bangsa Iblis dan tentunya mengurusi penyusup besar sepertimu." Selvia kembali bangkit dengan tatapan kesal.


"Aku mungkin tidak bisa mengalahkan dirimu... semua pasukan Iblis ku setidaknya mati dalam peperangan besar ini, mati dengan harga diri besar dalam menjalani peperangan kecil ini!!!" Selvia mengayunkan rantainya ke arah Zoiru.


Rantai itu mulai menepis punggungnya sampai berdarah, Zoiru sekarang bisa melihat Selvia melepaskan semua kekuatan dan tenaga terakhirnya untuk membunuh dirinya.


"Setidaknya aku menyukai apa yang kau lakukan kepada pasukanmu, bangsa Iblis dulunya adalah penakluk tetapi kau mengubah semuanya menjadi bangsa Iblis yang menyukai peperangan..."


"...peperangan dengan tujuan untuk melindungi sesuatu dan menjaga keseimbangan terhadap Zuusuatouri." Zoiru memegang erat rantai itu lalu ia menariknya sambil Selvia tertarik ke arahnya.


Zoiru mencekik leher Selvia lalu membantingnya di atas tanah, Selvia mencoba untuk melawan lagi, kali ini ia memegang erat lengannya selagi menendang perutnya beberapa kali.


"Awww... Bukannya itu lucu, Selvia?" Perut Zoiru terbuka lebar lalu melahap kedua kaki Selvia sampai ia menjerit kesakitan.


"Kau menantikan kelahiran anakmu ya? Sayang sekali... kau mencoba untuk menghalangi diriku, itu artinya kau menemukan jalan menuju kelahiran menjadi kotoran di dalam perut Bamushi!" Zoiru menendang wajah Selvia sampai kerangkanya hancur.


Zoiru tersenyum, "Kau ratu iblis yang membanggakan... tidak semua orang dapat mengubah pandangan Iblis soal Zuusuatouri. Apa yang mereka ketahui hanya pembunuhan dan penaklukan...!"

__ADS_1


Jari Zoiru melepaskan beberapa laser hijau yang menusuk tubuh Selvia sampai menghancurkan paru-paru kanannya, laser itu juga mengenai mata kanannya, menggores jantungnya dan semua organ tubuh lainnya.


Selvia ketika menerima serangan itu, ia masih bisa berdiri dengan tatapan yang terlihat mati, ia mencoba untuk melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat.


"Aku..."


"...aku..." Pandangan Selvia mulai melihat Ibunya sendiri.


"...harus memberitahunya..."


"...memperingati mereka..." Selvia mengepalkan lengan kanannya sehingga Zoiru melebarkan kedua matanya ketika perutnya tertusuk dengan satu rantai tajam.


Rantai itu terlepas ke arah Selvia dan menusuk perutnya cukup dalam sampai ia bisa mendapatkan satu daging Zoiru dan sedikit darahnya, ia mulai menyelimutinya dengan aura sihirnya.


"Kau masih bisa bertarung ya..." Zoiru menyilangkan kedua lengannya dan melihat Selvia merapatkan giginya lalu memasang tatapan kesal.


"HAAAAARRRRGGGGHHH!!!" Selvia melepaskan teriakan terlahirnya lalu ia melempar gumpalan sihirnya ke arah Zoiru yang mulai menangkisnya ke atas.


Selvia melihat gumpalan itu melayang keluar dari planet itu dan melaju cepat menuju Yuusuatouri untuk memperingati seseorang yang dapat melihat gumpalan itu.


"Sihirmu lepas keluar begitu saja..." Zoiru menunjuk gumpalan itu tetapi ia tersenyum, menghormati apa yang Selvia lakukan dalam detik-detik kematiannya.


"Kau memiliki harga diri dan tentunya aku juga, melihat dirimu terus berjuang walaupun tahu akan kalah, aku biarkan saja." Zoiru menghampiri Selvia dengan senyuman serius.


Selvia masih bisa merasakan tubuhnya yang terasa kesakitan, ia masih bisa bernafas berat sedikit demi sedikit dan Zoiru berada dalam perjalanan untuk mendekati dirinya.


"Ini gawat... aku tidak bisa bergerak... mengeluarkan kekuatan atau sihir saja sudah di tidak bisa..." Ungkap Selvia.


"Ternyata apa yang di katakan... bangsa Legenda benar... masalah bisa saja muncul kapan pun dan itu tergantung... orangnya jika ingin mengurusi atau tidak..."


"...dewa Agung Zoiru, yang katanya pernah... berteman dengan Ayahku... aku tidak menyangka dia akan sekuat ini..." Selvia berlutut di atas tanah dengan bantuan katananya yang sudah patah.


Selvia mencoba bangkit sekuat mungkin tetapi tidak bisa, ia hanya bisa memegang erat katana itu yang membantu dirinya untuk berlutut.


"Sihir Void ku... aku tidak menyangka dewa sepertinya akan membiarkan serangan terakhirku begitu saja... harga dirinya begitu kuat dan besar..."


"...rasanya kita semua yang salah untuk berurusan dengannya tetapi... apa yang ia coba lakukan tentunya salah, menganggap semuanya menjadi makanan..."


"...aku sudah melakukan semua yang terbaik, mungkin... ini... adalah akhir... bagi garis keturunanku... aku menantikan kelahiran anakku tetapi..."


"...takdir mengatakan tidak." Selvia memejamkan kedua matanya dan menghembuskan nafas terakhirnya.


"Oni Selvia, kau menghabiskan seumur hidupmu menjadi seorang ratu Iblis yang dapat memimpin semua pasukanmu dengan benar."


"Melihat dirimu berlutut dengan bantuan katana itu, kau benar-benar menunjukkan harga dirimu sebagai ratu sampai titik kematianmu." Zoiru menjentikkan jarinya untuk mengeluarkan Bamushi.


Bamushi mengerang keras lalu ia membuka mulutnya lebar dan melepaskan dorongan yang mampu mencincang tubuh Selvia menjadi bagian kecil, setelah itu ia memakannya sampai habis.


Punggung Zoiru langsung tertusuk dengan sebuah pedang yang terbakar, ia mengerutkan dahinya karena seseorang berani-beraninya menyerang dirinya lagi.


"... ..." Zoiru menoleh ke belakang dan melihat seorang Iblis mendarat tepat di belakangnya dengan ekspresi kesal.


"Kenapa Dewa Agung seperti dirimu keluar dari kandang...?" Tanya Iblis itu yang menarik kembali pedangnya.


"Dan kenapa perwakilan dosa amarah sepertimu mengurusi masalah mortal..."


"...Kizura?"

__ADS_1


[Oni Selvia - Gugur]


__ADS_2