Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 859 - Balok


__ADS_3

"Shinobu, apakah kau yakin akan membiarkan kandidat bersama Dewinya itu menerima kekuatan dari Golden Sunshine?" Tanya Koizumi dengan ekspresi yang terlihat memastikan.


"Apakah Kakak akan tetap tidak mempercayai mereka ketika merasakan Grimoire itu adalah yang asli...?" Jawab Shinobu selagi membuka kertasnya, hanya tersisa dua lagi sekarang.


"Aku percaya pada Nobu kok... Grimoire itu juga mengandung God Lenergy yang sangat besar sampai aku sendiri tidak percaya bahwa Dewi itu meminta kandidatnya untuk menghancurkannya."


"Mm, tidak ada yang harus kita khawatirkan soal Dewi alam karena ia bersama kandidatnya sudah memberitahu kita bahwa tujuan mereka berbeda dengan Admon."


"Namun, Saint Plant tidak berada di sisi yang sama dengan mereka berdua, ia tetap mengikuti ideal Admon untuk mengumpulkan banyak pengikut dengan mengancam mereka semua."


"Ancaman itu mungkin salah satunya bisa dibilang Golem dan makhluk sihir lainnya... kita hanya perlu waspada, dan mencegah semua itu agar tidak merugikan orang lain."


Shinobu tidak ingin melihat korban berjatuhan lagi, sama halnya ketika berada di Xuutouri dimana hampir semua Elf yang berada dalam planet tersebut mati begitu saja.


Mengingatnya sudah membuat dirinya merasa sangat kesal sampai perbuatan Admon tidak bisa dimaafkan karena sudah memberi Demetra sebuah kunci terhadap kekuatan berbahaya yang dapat menyebabkan ancaman.


Jika seorang Dewi memperingati Shinobu soal Admon maka dia kemungkinan menjadi kunci atas masalah seperti ini, "Teman-teman..."


Mereka mendengar Shinobu memanggil dirinya seketika, "Kenapa, Shinobu? Apakah kamu sudah merubah pikiranmu itu? Biarkan aku menghajar mereka sekarang."


"Bukan itu...!" Shinobu mengembungkan pipinya lalu ia membahas soal kandidat dewa tanah itu yang bernama Admon.


"Ini soal peringatannya tadi itu loh... Rosa, di bilang Admon adalah kandidat dewa tanah yang mengartikan dewa tanah memiliki julukan atau kekuasaan yang lebih tinggi dari dewa elemen lainnya!"


"Koneko pikir itu memang masuk akal karena bumi sendiri bisa menghasilkan semua elemen seperti itu..."


"...kita juga bisa melihat Admon memimpin rapat itu, itu artinya Rosa memang tidak berbohong bahwa Admon memang bisa dibilang sebagai pemimpin kandidat dan Saint elemen lain." Shinobu memegang dagunya.


"Kristal yang Kak Anastasia maksud itu... apakah benar mengandung banyak God Lenergy di dalamnya?"


"Benar sekali... terkadang kristal itu akan mengubah mereka menjadi apapun yang Dewa itu masukkan ke dalamnya, mungkin jika Saint Earth itu tidak menerima kristal tersebut..."


"...tunggu, kita pakai contoh saja. Jika kristal itu berakhir masuk ke dalam jantung Saint Ice maka dia kemungkaran akan berubah menjadi sesuatu yang berkaitan dengan sihir esnya itu."


"Seperti Saint Water menjadi Kraken... dan tentunya Saint Fire menjadi makhluk mengerikan yang terbuat dari lahar atau api neraka." Anastasia tahu soal itu karena kristal bisa di bilang tahap pertengahan dari kristal kekacauan yang ia pegang.


"Begitu ya... Koneko juga ingin memilikinya, satu saja~!" Shinobu terlihat bersemangat seketika, kedua telinga dan ekornya terus bergerak karena ingin mempelajari kristal itu.


"Crystal of Awakening! Kristal itu dapat membangkitkan potensi kekuatan pemberian dewa... tergantung dengan sumber Lenergy yang dimasukkan ke dalamnya."


Mereka semua memasang tatapan kaget ketika mendengar Shinobu ternyata mengetahui kristal yang masuk ke dalam jantung Demetra.


Bukan hanya teman dan sepupunya saja yang kaget tetapi Anastasia juga sampai tubuhnya mulai berkeringat karena Shinobu memang bukan seseorang yang bisa diremehkan begitu saja.


"Dia mengetahuinya... Crystal of Awakening, mendekati dengan Crystal of Catastrophe yang sedang aku jadikan sebagai eksperimen." Anastasia menggigit bibirnya sendiri.


"Ternyata kamu mengetahuinya ya, Shinobu. Sungguh gadis yang cerdas." Koizumi memuji dirinya yang membangkitkan sikap malunya sampai pipinya memerah.


"Itu... anu... itu bukan sesuatu yang harus dipuji dan banggakan...!" Kata Shinobu dengan ekspresi yang terlalu malu sehingga mereka semua ikut memuji dirinya.


"Ahhh~ sungguh perasaan yang begitu puas untuk memiliki seorang sepupu cerdas seperti Koneko." Hinoka memeluk Shinobu selagi terbang menuju lokasi berikutnya.


"Bagaimana kamu bisa tahu soal kristal itu, Shinobu?" Tanya Konomi.


"Anu... Koneko memiliki buku yang menceritakan ilmu kekuatan dan sihir, tidak ada yang tahu berapa jilid tetapi aku kebetulan membaca informasi tentang berbagai macam kristal sihir."


"Alasan Demetra tidak bisa mengendalikan dirinya menggunakan kristal itu karena dia masih kurang pengalaman dan kekuatan untuk menyesuaikan tubuhnya..."


"...kristal itu juga masih memiliki kekurangan soal pengendalian sampai mengubah Demetra menjadi Golem untuk selamanya karena bergabung dengan jantungnya."


"Sayang sekali, Demetra juga tidak dapat mengontrolnya. Koneko ingin bisa memiliki satu saja untuk bisa belajar soal kristal itu." Shinobu terkekeh.


"Shinobu, apakah terdapat sesuatu yang tidak kamu ketahui?" Tanya Koizumi untuk memastikan karena ia pikir Shinobu bisa mengetahui semua misteri atau mungkin segala hal secara 99%.


"Anu... Mmm... apa yang..."


"Kalau begitu, kamu tahu tidak apa yang pria sembunyikan dalam celana---" Hinoka mencoba untuk menanyakan hal itu karena ia pikir pria menyembunyikan sesuatu yang menggemaskan di dalam celana mereka.


Ketika ia mengatakan hal tersebut kepada Shinobu, kepalanya menerima satu hantaman tongkat Crimson yang Koizumi ciptakan karena ia pikir Hinoka mencoba untuk menodai pikiran dan perasaannya yang masih polos.


"Sa-Sakit...!!! Kenapa kamu memikul diriku, Sapizumi...!?" Tanya Hinoka selagi mengusap kepalanya sendiri.


"Apa yang kau coba bicarakan, hah!? Kau bodoh atau memang bodoh kelebihan...!? Kau tidak boleh membahas hal itu kepada sepupu kita yang polos!" Seru Koizumi dengan pipi yang memerah.

__ADS_1


"Anu... apa yang pria sembunyikan dalam celana mereka? Koneko tidak tahu..." Shinobu memasang tatapan sedih karena ia merasa bodoh sekarang karena tidak tahu apa yang pria sembunyikan.


The Mind yang Shinobu kuasai menjauhi penggunanya dari sesuatu yang berkaitan dengan kehancuran pikirannya, itu semua karena Kou yang mengaturnya agar Shinobu tidak perlu mengetahui sesuatu yang sangat memalukan.


Terutama lagi hal yang berkaitan dengan seksual atau sesuatu yang akan diketahui nanti ketika mereka sudah dewasa, jika seseorang menyadarinya maka dia akan bersikap sangat polos.


""Kamu tidak tahu!?"" Kata mereka semua dengan pipi yang merah kecuali Anastasia karena ia sendiri sudah begitu dewasa.


"Memangnya apa...? Beritahu Koneko dong... tolong..." Shinobu memohon kepada mereka dengan tatapan sedih sampai Hinoka langsung tersenyum nakal.


"Jadi bentuknya itu sama seperti sosis! Namanya adalah pen---" Koizumi mengangkat tubuh Hinoka lalu melemparnya menuju planet lain agar ia bisa berhenti mengotori pikiran Shinobu.


"Jangan mengotori pikiran sepupu kecilku yang masih suci dan polos!!!" Teriak Koizumi yang langsung mengejar Hinoka untuk memberinya pelajaran.


"Sosis...!?" Shinobu memasang tatapan yang terlihat senang seketika sampai ekornya naik seperti ia memikirkan sosis yang sungguh gurih dan lezat sampai ia kadang memakannya.


"Oh tidak..." Konomi merasakan firasat buruk melihat Shinobu seperti itu, mengetahui dirinya yang polos dan sering memakan apapun mungkin akan berakhir tidak begitu baik.


"Anu... apakah benar...!? Ako! Apakah benar...!?" Shinobu mendekati Ako dengan tatapan polosnya itu bahwa ia dapat melihat sosis di dalam celana milik seorang pria.


Ako memasang tatapan panik seketika sampai wajahnya memerah karena Shinobu baru saja mengatakan sesuatu yang rumit sampai ia sendiri tidak mau menjelaskannya karena itu terlalu memalukan.


"Bisa di bilang ya... tetapi kamu tidak boleh memakan so-so-sosis... milik seorang... p-pria...!" Ako langsung menutup wajahnya seketika karena ia tidak mau mengatakan arti asli dari sosis di dalam celana itu.


"Hehhh... kenapa...? Sosis kan makanan...?"


"Pokoknya tidak boleh...! Itu adalah sumber kelemahan mereka paling besar...! Sangat amat besar...!" Peringat Ako sampai Konomi menepuk punggungnya pelan untuk menjelaskan hal itu secara langsung.


"Sama halnya dengan kita para gadis untuk tidak menunjukkan sesuatu di balik pakaian kita... lelaki juga sama, intinya kamu tidak boleh melihat sosis itu sebelum kamu menikah ya." Kata Konomi sambil mengusap kepalanya.


"Cinta dan menikah ya... kalau begitu, Koneko ingin melihat sosis kakek saja! Dia adalah keluarga dan kakek..." Shinobu tersenyum polos sampai Konomi dan Ako memasang tatapan sangat kaget.


"Koneko... tidak boleh." Anastasia mulai turun tangan sampai Shinobu menatap dirinya dengan kepala yang ia miringkan.


"Kenapa?"


"Tidak boleh, apapun yang terjadi. Jangan sampai kamu menghilangkan kesucian dan kepolosan itu dengan melihat rahasia seorang pria sampai waktunya tiba..."


"Fueeehhhh!? Mm...! Koneko mengerti...!" Shinobu mengangguk dengan tatapan ketakutan sampai ia melihat Koizumi datang bersama Hinoka yang sedang tertawa.


"Hinosapi... sekali lagi kau mencoba untuk mengotori pikirannya maka bersiaplah untuk menerima neraka yang akan aku sediakan!" Ancam Koizumi dengan pipi yang memerah karena ia tidak mau mendengarkan rahasia apapun dari lelaki.


"Te-he~" Hinoka menepuk kepalanya sendiri selagi menjulurkan lidahnya.


***


"Si sialan Gallus itu... dia mengkhianatiku, tanpa kekuatan tumbuhan itu... kita tidak memiliki sepuluh persen untuk menginjak kesempurnaan dari seratus persen."


Admon menggerakkan gelas berisi minum keras lalu meminumnya sampai habis selagi melihat langit yang begitu biru sampai ia bisa merasakan keberadaan para pemberontak mulai mendekat.


"Tarrant... untuk sekarang kau tidak perlu menjaga Grimoire itu, keduanya berada di planet ini... lebih baik kau mempersiapkan dirimu sendiri di Lemia." Admin menghancurkan gelas itu.


"Kau akan mengurusnya sendiri? Kau yakin...?" Tanya Tarrant yang melihat Admon melepas jasnya karena ia akan turun tangan untuk menghentikan mereka satu per satu.


"Aku sudah menguasai semua sihir tanah... aku bahkan dapat merebut apa yang mereka miliki dengan batu, logam, dan tanah liat." Kata Admon selagi menggerakkan lehernya yang mengeluarkan suara.


"Aku juga masih memiliki dua kartu as yang di simpan... salah satunya adalah Saint Plant yang saat ini sedang menunggu panggilan diriku."


Tarrant melihat Admon menghilang begitu saja, menjadi balok-balok kecil yang terbang ke atas langit lalu bersatu dengan tanah, hampir sama seperti kamuflase.


Tidak lama kemudian, kelima pemberontak bersama penyihir musik telah tiba di lokasi hutan yang lumayan lebat sampai mereka bisa melihat bulan purnama di atas langit.


"Sudah malam saja ya... cepat sekali--- cerah sekali!" Koizumi sempat menutup kedua matanya karena menerima sinar matahari buatan dari rambut emas milik Shinobu.


"Fuehhh...!?" Shinobu memasang tatapan kaget ketika melihat rambut emasnya bersinar tanpa perintahnya sendiri, ia mencoba untuk mematikannya tetapi Konomi menghentikannya.


"Kita membutuhkan sumber cahaya itu... musuh bisa saja bersembunyi di hutan gelap seperti ini." Peringat Konomi yang mulai maju dulu karena ia bisa merasakan Grimoire itu.


Mereka semua maju ke depan, Shinobu berjalan di belakang mereka dengan kedua telinga yang terjaga untuk mendengarkan pergerakan apapun.


Rambut Shinobu berhenti memancarkan cahaya, mereka semua langsung menatap dirinya dengan tatapan yang terlihat kebingungan.


"Loh, Nobu? Kenapa kamu mematikannya?" Tanya Ako.

__ADS_1


"Aneh sekali... sudahlah! Jangan menghabiskan banyak waktu." Shinobu melangkah cepat ke depan sampai mereka mengikuti dirinya lalu keluar dari hutan itu.


Melihat sebuah desa yang lumayan luas, Konomi menunjuk ke arah barat bahwa ia bisa menemukan sumber God Lenergy yang sangat dekat.


"Mmm..." Shinobu merasakan panggilan alam, ia awalnya sudah mengikuti Koizumi tetapi tertinggal begitu saja karena ia membutuhkan ruangan kecil.


Untungnya Ako melihat Shinobu menggerakkan kedua kakinya itu, mencoba untuk melakukan sesuatu. Ia segera mendekati dirinya dengan tatapan bingung.


"Ada apa, Nobu...?"


"Aku... anu... panggilan alam... Koneko tidak bisa menahannya..." Ketika ia berbicara seperti itu, Ako mengangguk lalu memutuskan untuk menemani dirinya yang akan buang air kecil di balik semak-semak.


Ako duduk di sebelah pohon selagi melihat mereka semua yang sudah pergi duluan karena mendengar perkataan Ako bahwa ia akan menunggu Shinobu menyelesaikan panggilan alam itu.


Mereka tetap merasa waspada dengan sekitar, dan tentunya harus secepatnya mengejar Grimoire itu sebelum direbut oleh tangan yang salah.


"Ako." Panggil Shinobu.


"Oh, sudah?"


"Mm~ ayo." Shinobu berjalan pergi mengikuti mereka bersama dengan Ako.


...


...


"Lega..." Shinobu menutup kembali lubang yang baru saja ia gali lalu ia berjalan mendekati pohon untuk menghampiri Ako yang sedang menunggu.


"Ayo, Ako."


"Ehh...?" Shinobu melihat Ako menghilang begitu saja.


"Ako...?" Shinobu melihat sekeliling lalu mencoba untuk merasakan keberadaannya yang sudah sangat jauh sekali, lokasinya berada di depan dirinya.


"Fuehhh...!? Jangan tinggalkan aku---" Kedua telinga Shinobu terangkat seketika karena mendengar sesuatu, entah itu dimana tetapi ia bisa mendengarnya sampai tidak merasakan keberadaan dari pergerakan tersebut.


"Mu-Musuh...?!"


Shinobu melihat ke sekeliling lalu merasakan hawa kehidupan yang dapat ia rasakan dengan Golden Sunshine, "Aku merasakannya..."


"Kau benar." Admon mulai berbicara.


"... ...!?"


"Teman-teman! Musuh akan aku tahan, lari---" Admon keluar dari dalam tanah lalu mencabut sebuah balik dari leher Shinobu yaitu pita suaranya agar ia tidak bisa berbicara dan bernafas.


"Tenggorokanku...!?" Ungkap Shinobu yang mulai menutup bekas luka di lehernya lalu melakukan beberapa serangan kepada Admon yang bersatu dengan tanah lagi.


Ketika Shinobu melakukan sebuah tendangan, tapak kakinya berubah menjadi balok yang berhasil Admon rebut lagi dengan membentuk tangannya melalui tanah.


"M-Mustahil... cahaya Koneko... tidak bisa mengincarnya...!"


"Kapan... kapan dia menyerang diriku...? kenapa Koneko tidak melihatnya..."


"Dia... mencangkel tubuhku... itu artinya..." Shinobu mencoba untuk menjaga jarak tetapi mata kanannya langsung membentuk kotak sampai mengeluarkan balok berisi mata kanannya itu.


Shinobu dengan cepat menghantam daratan sampai menumbuhkan tumbuhan yang mengeluarkan banyak daun emas yang melayang ke atas langit sampai ia bisa melihat tanah liat terangkat oleh daunnya.


"Dia dapat... melakukan kamuflase dengan tanah...? Dan bergabung?" Ungkap Shinobu yang menutup semua lubang di mata dan lehernya untuk menghentikan pendarahan.


"Kemampuan tanah ini... sangat kuat... melebihi Demetra sampai aku yakin bahwa dia adalah kandidat itu..."


Shinobu mulai menembak beberapa Golden Repulsor menuju tanah itu tetapi Admon langsung memisahkan semua tanah liat itu yang awalnya menyatu.


Semua tanah liat itu kembali masuk ke dalam tanah, dan menyatu sampai mengeras. Tanpa berpikir lagi, ia langsung menyerangnya sampai menciptakan lubang lumayan besar.


"Sayang sekali, Shinobu. Itu hanya tanah biasa untuk menipu dirimu!" Kata Admon yang berada di wujud tanah liat itu, dirinya saat ini menempel di salah satu tubuhnya.


Dengan cepat ia mencangkel keluar jantungnya sampai balok itu terjatuh ke dalam tanah yang mulai Admon tutup, bekas dua lubang di leher Shinobu mengeluarkan darah deras seperti air terjun.


"K-Kuat... dia... mengincar... satu-satu..." Shinobu terjatuh di atas tanah dengan mata kanannya yang terbuka lebar sampai ekspresinya terlihat ketakutan.


"Dia... tak terkalahkan...?"

__ADS_1


__ADS_2