Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 865 - Siapa yang akan Menyerang duluan?


__ADS_3

"Yang kau lihat ini memang kebenaran... sebelumnya kau sudah terpengaruh dengan The Mind, aku lakukan hal itu agar kau tidak mengorbankan nyawa tidak bersalah."


Shinobu menggunakan kekuatan dari Golden Sunshine sampai tubuhnya mengeluarkan aura emas yang memancarkan semua sinar itu menuju seluruh planet yang sudah hancur terbelah menjadi dua.


Shinobu menghantam tanah sehingga terjadi guncangan dahsyat yang mengeluarkan banyak cahaya dari dalam daratan, keterbelahan itu mulai kembali menyatu karena kemampuan Golden Sunshine yang bisa menjadi kehancuran dan pemulihan.


"Masalah yang kau perbuat seharian tidak berkaitan dengan mereka yang tak bersalah... kau sudah menjatuhkan banyak korban yang membuatku kesal!"


"Kau memang sudah menghancurkan planet ini tetapi Golden Sunshine masih bisa memperbaikinya... mungkin bagimu cahaya yang aku lepaskan dapat membutakan dirimu..."


"...tetapi aku melakukan semua ini demi kebaikan, demi Mamaku sendiri yang sudah memberitahuku untuk tidak membiarkan mereka yang gugur karena masalah orang lagi menjadi sia-sia!"


"Kebenaranmu... lama-lama tidak bisa menjadi kenyataan, Demetrio. Aku meminta dirimu untuk menghentikan semua paksaan itu dan menyerah sekarang juga." Peringat Shinobu yang ingin mengubah dirinya


"Satu saja... tidak ya." Shinobu membaca pikiran dan niatnya, tidak ada lagi jalan keluar untuk dewa sepertinya yang pantas untuk dihukum karena sudah terlalu lama hidup.


"A-Apa...!?" Demetrio memasang tatapan kaget ketika melihat planet itu kembali pulih, kali ini daratan menumbuhkan rumput emas di sekitarnya bersama Shinobu.


Demetrio membulatkan matanya ketika melihat Shinobu melancarkan satu pukulan menuju arahnya, tetapi...


Sebuah gelombang air menyentuh tubuh Demetrio sampai pukulan Shinobu berhasil tertahan dengan air itu, ia tidak bisa bergerak atau menembusnya karena gelombang itu berasal dari Dewi air Dallas.


"Begitu ya..."


"Siapa yang akan menunggu dan menyerang...? Kau atau aku... keputusan berada di tangan siapa pun." Shinobu mengatakan sesuatu yang tidak bisa Demetrio mengerti.


Dengan ini tugasnya untuk menyingkirkan semua Grimoire sudah selesai, ia melihat tubuh Demetrio perlahan-lahan terangkat ke atas dan ia juga sempat memasang tatapan kesal kepada Shinobu.


"Aku akan menunggunya... kartu as yang belum kau gunakan, tujuan kami selanjutnya adalah menyingkirkan mereka yang memaksa semua orang masuk ke dalam kepercayaan!"


"Bocah... jangan sombong dulu, ini hanyalah sebuah permulaan... dengan melihat semua ini sekarang aku mengerti bahwa kau bukan sekedar kalengan biasa."


Demetrio terbawa oleh gelombang air itu, Shinobu tidak merasa takut atau khawatir melainkan ia sudah bersalah untuk membiarkan banyak korban tidak bersalah berjatuhan seperti itu.


"Shinobu!" Panggil Konomi yang sudah menyiapkan tombaknya untuk menyerang Demetrio tetapi ia menghilang entah kemana.


Serpihan buku yang berjatuhan dari Grimoire itu bisa terlihat oleh Konomi, semua perebutan akhirnya sudah selesai karena tidak ada lagi yang namanya sumber kekuatan.


Namun, Shinobu tetap waspada dengan Demetrio bahwa dirinya memiliki kartu as yang belum ia gunakan, entah itu apa tetapi gelombang air yang menyelamatkan dirinya tadi sudah pasti berasal dari kandidat.


"Marina dan Daria... apakah mereka sudah berhasil bebas dari pembekuan itu? Aku tidak melihat mereka sama sekali..." Shinobu memegang dagunya lalu ia melihat semua temannya berkumpul.


"Kita sudah menang bukan?" Tanya Ako.


"Tujuh Grimoire sudah kita hancurkan... tanpa menghitung Grimoire of Light dan Grimoire of Dark maka kita bisa menyapu para Saint dan kandidat itu!" Ucap Hinoka yang terlihat senang.


Koizumi meregangkan kedua lengannya lalu ia menghembuskan nafasnya, "Akhirnya... aku bisa memenuhi apa yang sebenarnya Kakekku inginkan sekarang."


"Apa yang Kakekmu inginkan?" Tanya Konomi.


"Kepala seorang Dewa atau Dewi... jika aku berhasil mendapatkannya maka Kakekku akan memberikan diriku latihan yang sangat sulit dan spesial." Koizumi melakukan sedikit pemanasan kecil.


Shinobu melihat mereka semua bersemangat tetapi ia memiliki rasa kesalahan yang begitu besar untuk membiarkan semua orang tidak bersalah mati begitu saja karena para kandidat itu.

__ADS_1


Jika saja Golden Sunshine yang ia miliki dapat memperbaiki luka fatal untuk menghidupkan kembali korban maka dia sudah pasti bisa merasa tenang, tetapi sekarang apa yang ia rasakan adalah murni rasa bersalah yang menghasilkan amarah.


"Dewa brengsek...!" Shinobu mengepalkan kedua tinjunya sampai giginya menumbuhkan banyak taring yang menggigit bibirnya sampai berdarah, kedua matanya berubah menjadi mata Beast.


The Mind kembali menenangkan Shinobu yang mulai menarik nafas dalam-dalam lalu menghembusnya pelan sehingga ia menatap ke atas langit lalu melihat banyak sekali partikel emas.


Semua partikel itu disebabkan oleh dirinya yang memindahkan semua nyawa atau arwah dari korban gugur untuk menjaminkan mereka surga, arwah emas yang artinya pantas sedangkan arwah kegelapan akan ia sucikan.


Maupun itu korban jahat dan tidak mempercayai dirinya sama sekali, setidaknya planet ini sangat aman dan mereka tidak menyebabkan masalah apapun kepada dunia atau lebih buruknya merugikan orang lain.


"Golden Astral." Semua arwah emas itu merasuki tubuh Shinobu yang sudah berjanji akan menampung semua arwah mereka yang tidak akan pernah mati dalam arti [Legends Never Dies].


"Keguguran kalian tidak akan bisa aku jadikan sebagai sia-sia... Koneko akan berjuang, itu sebuah janji untuk menghajar mereka!" Shinobu memasang tatapan serius.


"Kamu tidak perlu khawatir, putriku..." Shinobu merasakan sebuah sentuhan di belakangnya tetapi ia tidak tahu dia itu siapa.


Hanya sentuhan yang bisa ia rasakan, suara yang dikeluarkan oleh arwah itu tidak terdengar sama sekali bahwa wujudnya juga tidak bisa dilihat oleh dirinya yang masih belum menggapai surga.


Selama ini arwah yang menyentuhnya adalah Kou dari surga yang melihat perjuangan dirinya, sungguh penuh keseimbangan sampai ia tidak bisa menjelaskan betapa bangga dirinya kepada Shinobu yang masih berjuang sampai titik ini.


"Apa yang kamu capai hingga titik ini adalah kemenangan mutlak..." Kata Kou selagi berbisik di telinga Shinobu sampai dirinya merasa tenang lalu berbicara dengan yang lainnya.


"Takdir adalah budak yang tertidur... dan kita harus membebaskan budak itu. Itulah kemenangan dirimu, nak..." Kou tersenyum bangga lalu memberi dirinya sebuah kecupan lalu menghilang.


Shinobu menoleh ke belakang karena sentuhan lembut yang ia rasakan tadi menghilang begitu saja, "Nobu!"


"Y-Ya?" Shinobu kembali seperti biasanya, ia melihat Ako yang mendekati dirinya selain meraih kedua tangannya bahwa mereka sudah berhasil menyelesaikan tahap awal.


"Kita berhasil bukan!? Kita berhasil...! Akhirnya kita bisa menyelesaikan tugas kita yang sebenarnya...!" Kata Ako sampai Shinobu terkekeh lalu mengangguk.


"Menyerangnya sekarang bukanlah pilihan yang baik... melihat Demetrio melarikan diri dengan perpindahan air, aku yakin kita pasti akan diserang secara beregu oleh mereka."


"Kita berurusan secara langsung dengan Saint, kandidat, dan Dewa yang kemungkinan merasuki mereka menjadi seorang [Pseudo-God], pengikut mereka juga sudah pasti akan ikut bertarung."


"Hari ini kita sudah mengalami banyak hal... memerlukan istirahat dan pemulihan yang pas... anu... mungkin kita juga perlu membagi tugas untuk menyingkirkan mereka semua."


"Tidak ada yang mustahil... kita bisa saja menyaksikan sesuatu yang berbeda besok, semoga saja semuanya berjalan dengan lancar dan tidak mengorbankan lebih banyak nyawa."


"Anu... sebagai pemimpin... anu... ayo berjuang...! Koneko akan berjuang juga!!!" Shinobu memasang tatapan yang penuh dengan tekad sampai tekad tersebar ke dalam mereka semua.


""Hm! Benar!""


""Legends never dies...!!!""


Mereka sempat merayakan perayaan kecil, seseorang dari jauh melihat mereka lalu memasang tatapan bangga dan bersyukur bahwa mereka berhasil menyelesaikan tahapan awal untuk menghentikan kekuatan sihir mereka yang tidak terbatas.


"Baiklah! Satu juta Legend's Diamond untuk diriku... Shinobu berhasil menghancurkan buku sihir yang pertama." Kata Shira sambil meminum kopinya sampai habis.


"Sial... taruhan selanjutnya... aku tidak akan kalah, Shiratori Shira!" Seru Arata yang sudah merasa yakin bahwa Koizumi akan membunuh lebih banyak musuh.


"Taruhan selanjutnya... seberapa banyak musuh yang bisa mereka bunuh, sesuai dengan poin... pengikut biasa satu... Saint dua... kandidat tiga... Dewa lima..." Ungkap Haruki.


"Baiklah, taruhan selanjutnya bernilai sepuluh juta berlian...!" Shira, Haruki, dan Arata mulai melakukan adu jotos untuk menyepakatinya.

__ADS_1


Di sisi lainnya, para nenek juga memperhatikan perjuangan mereka yang sangat membanggakan. Hanya saja mereka menonton dari dalam kubus waktu Haruka yang memperlihatkan semua perjuangan mereka dari awal.


"Kekuatan mereka sungguh hebat ya... aku tidak menyangka mereka akan menjadi pemberontak handal untuk mengurus para Dewa." Kata Megumi.


"Mereka semua memiliki darah daging kita juga, itulah kenapa mereka mencapai semuanya begitu cepat dengan perjuangan mereka dari umur empat tahun melawan Zodiac Crusaders sampai para dewa." Ucap Chloe.


"Waktu berlalu begitu cepat ya... awalnya mereka lahir begitu imut dan tidak berdosa tetapi sekarang mereka menjadi pembunuh berantai yang lebih menggemaskan." Kata Ophilia selagi terkekeh.


"Benar-benar... aku tidak menyangka mereka bisa mencapai titik ini, menghadapi semua Dewa dan mengakhiri mereka. Semoga saja tahapan selanjutnya tidak terjadi apa-apa..." Ucap Yuuna.


Haruka menghela nafasnya, "Apa aku boleh bekerja sekarang...?"


"Perlihatkan lebih banyak Replay lagi, Haruka~!"


"Hahhhh..."


***


Shinobu masih berada di lokasi itu untuk melihat keadaan penghuni yang bertahan, apa yang ia lihat ternyata membuat dirinya bertambah semakin bersalah ketika melihat ekspresi yang mereka gunakan.


Penuh rasa putus asa, ketakutan, tangisan, dan penderitaan karena sudah kehilangan seseorang yang dekat dengan mereka seperti keluarga atau seseorang yang paling penting.


Semua itu disebabkan karena Demetrio dan juga dirinya yang sudah pasti terlibat, seharusnya ia melindungi planet ini dengan Golden Sunshine agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di Xuutouri juga.


Semuanya menangis, tangisan yang ditunjukkan untuk seseorang yang sudah meninggalkan mereka selamanya, sama seperti kedua orang tuanya yang meninggal.


"Sialan..." Shinobu menggigit bibirnya sampai berdarah lalu ia memasang tatapan mengancam.


"Ternyata belas kasihan memang tidak dibutuhkan untuk seseorang yang busuk..."


"...aku mengerti sekarang..."


"...akan aku bunuh mereka semua! Memberikan takdir penderitaan yang sama dengan mereka!!!" Kedua mata Shinobu menajam sampai memancarkan cahaya merah.


...


...


"Marina... Daria... kau sudah datang... itu artinya kartu as yang akan kita gunakan sekarang sudah selesai?" Tanya Demetrio.


"Sebentar lagi, tuanku~ kita hanya perlu memeriksa kembali dengan pergi menuju kediaman manusia yaitu bumi." Kata Marina selagi menunjuk ke belakang.


Sebuah portal air terbuka lalu menunjukkan bumi di dalamnya, Demetrio bisa melihat para kandidat sudah berkumpul dan mereka tidak sadar bahwa dirinya adalah Dewa agung tanah yang terlahir kembali.


"Baiklah... lupakan soal kepercayaan itu. Lebih baik melepaskan ancaman itu lalu menyapu kelima pemberontak dan penyihir itu."


"Menuju planet Bumi sekarang juga, aku yakin kau sudah mengumpulkan dan membawa semuanya... bukannya begitu?" Tanya Demetrio.


"Ya, ayo~"


Demetrio memasang tatapan serius, "Shinobu Koneko..."


"...bersiaplah."

__ADS_1


"Hukuman dewa sebentar lagi akan turun!"


__ADS_2