
"... ..." Shira perlahan-lahan mulai membuka kedua matanya lalu ia menatap Korrina yang sedang menunggu Shira untuk bangun selagi menyilangkan kedua lengannya, ia perlahan-lahan mulai menggerakkan kedua lengannya yang terasa lemas dan mata kirinya mulai gelap serta lengan kirinya tidak bisa ia gerakan lagi dengan mudah karena pertarungannya melawan Majin dimana ia telah menghancurkan seluruh batasan sehingga membuat seluruh tubuhnya mati rasa, "Ughhh..." Shira merasakan bahwa seluruh lukanya telah disembuhkan oleh Korrina karena dia ada ditempat itu.
"Shira." Panggil Korrina, Shira mulai menatap Korrina dengan ekspresi yang terlihat bingung, "Korrina... Dimana yang lain...? Dimana Megumi---" Korrina langsung mencekik leher Shira dengan sangat kasar, "Guggghhhh!!!" Shira langsung membulatkan kedua matanya dan Korrina langsung menatap Shira menggunakan kedua pupil matanya yang berwarna merah Crimson, Shira tidak bisa melawan kembali dan oksigen-nya perlahan-lahan habis, "Aku membutuhkan penjelasan yang lebih tentang dirimu, penghianat." Korrina melempar Shira ke tembok yang berada di belakangnya dan Shira mulai menatap Korrina dengan ekspresi yang terlihat bingung.
"A-Apa... K-Kenapa kau melakukannya... Korrina...?" Tanya Shira selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat bingung, "Jika kau tidak mau membuka mulutmu maka kematianlah yang akan bertindak." Ucap Korrina yang mulai memunculkan katana-nya dan ia langsung menunjuk leher Shira menggunakan katana itu, "A-Apa... Apa yang harus lakukan...!? A-Apa yang kau mau!?" Tanya Shira.
"Aku telah mengetahui semua rahasia yang kau sembunyikan, Shira...! Ilusi-ku yang bernama Illusion of History Mind telah menemukan semua rahasia yang kau sembunyikan kepadaku, aku tahu sebabnya kenapa Alvin bisa terjebak di Crimson Realm dan tidak bisa kembali pulang...!!!" Ucap Korrina dengan ekspresi yang terlihat kesal, ia mulai memegang kerah baju Korrina dan Shira membulatkan kedua matanya ketika ia melihat Korrina yang mulai meneteskan beberapa darah, "K-Korrina...?" Shira merasa bersalah melihatnya dan ketika Korrina mengatakan itu maka sudah saatnya Shira mengatakan kebenaran tentang dirinya berasal darimana dan kenapa dia bisa berada di semesta Yuusuatouri.
"Baiklah... Aku akan menjelaskan-nya kepadamu... Aku ini adalah seorang manusia yang berasal dari dunia lain atau dunia asli, aku bertemu dengan Alvin Ghifari ketika aku berada di kota dan aku melihatnya dimana-mana dimulai dari jalanan dan bahkan televisi... Bahkan di iklan juga aku melihatnya! Bukan hanya itu, aku juga bertemu dirinya di dunia mimpi, dia mengajakku untuk pergi ke dunia ini... Yuusuatouri, ya! Alvin Ghifari adalah sesosok dewa yang telah membawaku ke dunia ini dan merubahku menjadi seorang Legenda!" Ucap Shira yang mencoba untuk menjelaskan semuanya, Korrina mulai mengerti sekarang ternyata semuanya benar, ia mulai menatap Shira tajam sehingga Shira mulai membulatkan kedua matanya dan kedua pupil matanya berubah menjadi warna Crimson, "Illusion of History Delet---"
ZBAASSSHHHHH!!!
Korrina terpental ke belakang ketika ia mencoba untuk menggunakan ilusi yang mampu menghapus ingatan Shira tentang Alvin, "A-Apa...?" Korrina mulai menatap Shira dimana kedua pupil matanya berubah menjadi warna biru muda atau bisa juga disebut melambangkan Sacred, "S-Sacred...?" Korrina terkejut melihat itu karena Shira memiliki sedikit sihir Sacred entah darimana itu.
"... ..." Shira hanya bisa diam dan menatap Korrina dengan ekspresi yang terlihat takut, "Hah... Hah... Hah... Aku juga mendapatkan sebuah gambaran tentang masa depan..."
"Masa depan...?" Korrina mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat bingung, "Suatu saat nanti Yuusuatouri akan di serang oleh---" Korrina langsung mencekik leher Shira dan mencoba untuk membunuhnya karena sepertinya Shira juga mendapatkan gambaran masa depan berkat mata kirinya yang bersinar dan mengandung Enchantment Testament Light dimana sihir ini dapat melihat sedikit gambaran masa depan walaupun si penggung akan merasakan halusinasi yang terlihat seperti asli.
"Crimson Nightmare Eat---" Haruki langsung mencekik leher Korrina dari belakang dan menjauhkannya dari Shira yang mulai bernafas berat selagi menatap Korrina, "Kita mendapatkannya!!!" Ucap Haruki yang sedang menahan Korrina, ia mencoba untuk kabur dengan menggerakkan seluruh tubuhnya, tetapi Haruki menahan seluruh tubuhnya dengan sekuat tanga sehingga Arata dan Shizen datang untuk menahan kedua kaki Korrina.
"GRAAAGGGGHHHH!!!" Teriak Korrina keras, teriakannya mulai mengeluarkan suara monster dan itu membuat Shira terkejut, "A-Apa?" Korrina yang sedang teriak mulai berubah menjadi aura merah kehitaman dimana wujudnya mulai berubah menjadi seseorang, "T-Tidak mungkin." Ucap Shira.
Korrina yang asli datang selagi menggunakan kacamatanya, ia menyuruh Tech untuk mencari informasi tentang seseorang yang sedang Arata, Haruki, dan Shizen tahan, "Tidak ada data yang jelas mengenai identitas, tetapi... Makhluk yang menyamar jadi dirimu ini jelas berasal dari Crimson Realm dan dia mencoba untuk melihat semua ingatan yang ada dalam Shira." Ucap Tech.
__ADS_1
"HAHHHH!!!" Makhluk Crimson itu mulai meledakkan dirinya sendiri sehingga membuat tiga Legenda yang menahannya terpental ke belakang, "Cih... Gagal karena sebuah kejutan yang tidak kusangka, Korrina... Aku tidak percaya bahwa kau bercinta dengan laki-laki lain." Ucap makhluk itu.
"Jangan salah sangka, Shira mendapatkan sedikit sihir Sacred bukan karena diriku yang bercinta dengannya, bahkan aku belum pernah meminum darahnya sedikit dan diapun begitu." Ucap Korrina, makhluk itu hanya menunjukkan ekspresi yang kesal. Makhluk yang menyerang Shira itu berwujud hanya aura merah kehitaman dengan wajah yang terlihat hanya kedua mata dan mulut saja, "Bukan hanya itu saja, Sacred dapat di bangkitkan oleh siapapun asalkan dia memiliki hati yang murni dan pikiran yang murni, Shira termasuk dan dia baru saja membangkitkan tahap ke satu dari sihir Sacred."
"Cih... Kutip kata-kataku ini, Korrina... Legenda... Hari-hari dimana kalian akan menikmati kedamaian akan berakhir beberapa saat nantu, ingatlah... Tidak ada satupun dari kalian akan selamat." Makhluk itu mulai menghilang dengan cepat, Korrina menghampiri Shira lalu ia mencabut sehelai rambutnya dan memberinya kepada Shira, "Sejak itu... Inilah kenapa sihir Sacred-mu bisa bangkit, kau memakan banyak sekali rambutku ketika kau terluka melawan Rionald serta... Hatimu itu terlalu murni bahkan kau mengampuni musuhmu termasuk Majin, hebat, Shiratori Shira." Korrina tersenyum selagi menunjukkan senyumannya.
"Sihir Sacred...?" Shira sendiri merasa terkejut karena ia memiliki sihir Sacred, sepertinya Shira mulai termotivasi untuk berlatih dan berjuang lebih tinggi lagi, sepertinya gambaran masa depan dan makhluk yang tadi ia lihat membuatnya dipenuhi dengan semangat untuk berjuang dan bertambah kuat, "... ..."
***
Turnamen masih terus berlanjut dan saat ini Agfi dan Rexa sedang bertarung melawan satu sama lain, mereka berdua bertarung dengan cukup baik sehingga senjata yang mereka pegang sama-sama hancur, tenaga dan semangat yang sama karena mereka berdua adalah putri dari Korrina Comi, Agfi saat ini sedang menahan kedua lengan Rexa yang mencoba untuk mengeluarkan sihir Crimson dan sihir Final Shine Attack, tubuh Rexa berada di bawah Agfi dan tubuh Agfi berada di atas Rexa, "Hrrgghhh... Sial, aku kira kau akan mengalah, Rexa..." Ucap Agfi selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.
"Kata siapa...? Jika aku mengalah maka Mama dan Papa akan menganggapku seperti sampah, aku ingin berjuang dan bertarung! Bukan mengalah!" Agfi langsung menghantam wajah Rexa beberapa kali menggunakan tinju kanannya, di serangannya itu Agfi menahan diri karena ia tidak mau adiknya terkena racun abadi yang mampu merusak anggota tubuhnya. Rexa mulai menahan semua serangan itu lalu ia memegang lengan kanannya, "KAU!!!" Rexa langsung menghantam wajah Agfi menggunakan tinju kanannya sehingga membuat Agfi terdorong ke belakang.
"Gunakanlah racun-mu itu jika kau berani, Kakak! Sihir Crimson-ku akan menghancurkan semua racunmu itu!" Agfi langsung mendorong Rexa mundur dan mulai menyerangnya bertubi-tubi menggunakan kedua tinjunya saja, mereka sudah tidak mampu menggunakan sihir lagi lantas Lenergy mereka yang habis, serangan Agfi terlihat cukup jelas untuk Rexa karena Agfi tidak terlalu mahir dalam pertarungan bela diri, "Aku bisa melihat seranganmu dengan jelas, apakah ini yang Papa ajarkan kepadamu?" Tanya Rexa, mereka mulai saling memukul satu sama lain dan serangan mereka mampu mengenai sasaran mereka.
BAG! BAG! BAG!
Mereka berdua mulai kesulitan dan gaya bertarung mereka hampir sama karena meniru gaya bertarung milik Korrina, "Sepertinya pertarungan antara kedua saudara ini sudah akan berakhir! Walaupun tadi... Sihir mereka yang teradu memang sangat epik dan intens!" Ucap Morgan. Agfi terus menyerang dan Rexa terus bertahan, Rexa tidak memiliki peluang untuk menyerang Agfi sama sekali karena kecepatannya yang jauh lebih cepat dari dirinya, Agfi mulai mengerahkan serangan tinjunya yang mulai terasa lebih keras dari sebelumnya, "Tidak berguna..."
"Jangan lengah!" Agfi menunduk lalu ia menghantam pergelangan tangan kiri Rexa menggunakan tinju kanannya, "Uhugghh!!!" Rexa mulai merasakan kesakitan yang lebih menyakitkan dari sebelumnya karena tinju tadi mampu membuat tulang di bagian pergelangan tangannya retak, Rexa mundur ke belakang dan ia melihat Agfi tersenyum serius, "Bagaimana? Apakah kau masih meremehkan seni bela diriku? Apakah aku baru saja merusak tulang yang terdapat di pergelangan tanganmu itu?" Tanya Agfi.
"Hehe..." Rexa hanya bisa terkekeh, "Hmph! Aku tidak akan kalah!" Rexa mulai menyerang sekarang menggunakan tinju kanannya, tetapi Agfi menahan serangan itu lalu ia mencoba untuk menghantam perut Rexa, tetapi Rexa menahan serangan itu menggunakan lutut kirinya lalu ia mencoba untuk menendang Agfi dan untungnya Agfi menghindari tendangan itu. Agfi melihat Rexa yang mulai melompat-lompat, Agfi mencoba untuk meluncurkan tinju kanannya, tetapi Rexa menghindar lalu mencoba untuk menendang Agfi, Agfi juga berhasil menghindar, "Cih... Sial..."
__ADS_1
"Hehe... Ayolah, adik kecil... Apakah ini kemampuan-mu?" Tanya Agfi yang mulai melakukan beberapa serangan tinju bertubi-tubi, Rexa menghindari dan menahan semua serangan itu selagi terpojok ke belakang karena ia tidak bisa menyerang sama sekali, "Sialan... Dia terlalu cepat dan aku tidak yakin bahwa dia sebentar lagi akan mengakhiri-ku dengan sebuah racun... Dia lebih banyak menyerang dibandingkan diriku yang hanya bisa bertahan." Ucap Rexa, ia mulai menatap Agfi yang mulai tersenyum dan giginya bisa terlihat, "Seni bela diriku lebih dominan kepada Mama!!!" Agfi langsung bergerak cepat sehingga ia menghantam perut Rexa dan Rexa tidak memiliki kesempatan untuk menahan atau menghindar.
BAGGG!!!
"GUHAGGHH!!!" Rexa meludah darah dari mulutnya dan Agfi tidak berhenti melainkan ia mulai melakukan serangan bertubi-tubi di perut Rexa, Agfi mencoba untuk mengakhirinya dengan menghantam wajah Rexa, tetapi Rexa langsung berguling ke depan dan berhasil menghindari serangan milik Agfi, Agfi melirik ke belakang lalu ia melihat Rexa yang mulai memegang perutnya yang terasa sakit, "Ugh... Apakah... Racunnya masuk...?" Tanya Rexa karena isi perutnya terasa seperti di gigit oleh serangga.
"Dengarkan aku, adik kecil. Tujuanku saat ini hampir sama sepertimu, tapi aku mencoba untuk bisa mengalahkan Mama nanti, salah satu dari kita akan menghadapi Akina atau Mama. Kegagalan adalah aib utama bagi keluarga kita. Itu sebabnya aku tidak mengakui kekalahan, bahkan jika aku mati, kegagalan bukanlah pilihan bagiku dan dirimu... Tidak, bagi keluarga kita, Rexa!" Ucap Agfi.
"Kegagalan itu memiliki arti sebagai aib. Tidak ada yang lain selain kemenangan, dengan cara apa pun yang mungkin! Menunjukkan kelemahan apa pun akan membuat Papa dan Mama malu, itulah satu-satunya alasan aku menginginkan kemenangan!" Agfi bergerak menuju arah Rexa dan Rexa mulai mengepalkan tinju kirinya yang mulai kembali pulih, "Jika kakak berkata seperti itu, maka akupun sama!!!" Agfi mencoba untuk menghantam wajah Rexa, tetapi Rexa terlebih dahulu untuk menghantam wajah Agfi sehingga ia terdorong ke belakang.
Rexa bergerak menuju arah Agfi, "Aku tidak berniat untuk kalah!!! KAKAKKKK!!!" Rexa melesatkan tinju kanannya ke depan dan Agfi memiringkan kepalanya lalu berhasil menghindari serangan tinju itu, ia mulai mengepalkan tinju kanannya dengan sangat erat sehingga terlumuri dengan sihir Crimson, "HAAGGGHHHH!!!" Agfi mulai menghantam kepala Rexa dengan sangat keras.
BAGGGGG!!!!
Mereka dengan bersamaan langsung menghantam perut mereka satu sama lain *BAGGG* "Guughhh!" Mereka sama-sama meludah darah yang cukup banyak melalui mulut mereka, mereka mulai saling memukul satu sama lain dan saat ini serangan mereka mampu tertangkis dan juga tertahan. Agfi melompat ke atas lalu ia mulai menendang wajah Rexa beberapa kali, tetapi Rexa menahan tendangan itu menggunakan kedua lengannya. Rexa memegang kaki kanan Agfi lalu ia menghantam-nya tepat di atas daratan, Agfi kembali bangkit tetapi kepalanya langsung terkena serangan tinju bertubi-tubi oleh Rexa.
BAG! BAG! BAG! BAG! BAG!
Rexa mencoba untuk mengakhiri Agfi dengan satu pukulan, "RASAKAN INI, KAKAK!!!" Teriak Rexa keras sehingga ia melesatkan tinju kanannya ke depan dan Agfi berhasil serangan itu lalu ai menghantam perut Rexa dalam sekali, "GUEGGHHH!!!" Rexa memuntahkan darah banyak sekali lalu ia terpental ke belakang, Agfi muncul tepat di depan Rexa lalu ia menghantam wajahnya lagi sehingga ia terjatuh di atas daratan dengan kondisi yang terkejut karena ia baru saja kalah karena lengah, "Hah... hah... hah..." Agfi mendarat di sebelah Rexa lalu ia berbaring di sebelahnya, "Aku menang, adik kecil."
"UHHH YEAAAA!!! DAN PEMENANGNYA TELAH RESMI...!!! AGFI GHIFARI DIMANA DIA AKAN MENGINJAK BABAK FINAL!!!" Teriak Jorgez keras.
Rexa hanya bisa tersenyum lalu ia memeluk Agfi dengan sangat erat, "Semoga beruntung, kakak. Kau harus bisa menyelesaikan tujuanmu itu." Ucap Rexa.
__ADS_1
"Tentu saja." Agfi mengangguk.