
"Ahhhh~~~ Mengakhiri pemandian air hangat dengan sebuah susu memanglah yang terbaik!" Ucap Korrina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat senang dan tenang, ia mulai memegang lengan kanannya dan itu terasa mulus, "Air-nya jernih sekali... Rasanya aku mandi susu." Korrina pergi meninggalkan ruangan pemandian air panas itu.
Korrina memandang ke depan dimana ia melihat Akina sedang memakai celana dalamnya, "Akina...?" Korrina mulai menatap Akina dan Akina mendengar suara Korrina lalu ia menatap wajah Korrina dengan ekspresi yang terlihat bingung, "Loh, Nona Korrina?"
"Panggil Korrina saja---" Korrina membulatkan kedua matanya ketika ia melihat dada milik Akina yang besar sekali, "Besar...!? Apa tuh...!? Melon!?" Korrina mulai merasa cemburu melihat dada Akina yang besar sedangkan dirinya itu rata dan kecil, ia mulai membandingkan dada-nya dengan dada Akina dan ternyata beda jauh, Akina di sisi lainnya mulai berpikir-pikir kenapa ia terus bertemu dengan Korrina, "K-Korrina ya...?" Akina tersenyum.
Korrina mengangguk selagi menatap dada Akina, "Bukannya tadi kamu sedang berada di aula berbicara dengan seorang laki-laki yang ada di kelas empat?" Tanya Akina, Korrina mulai merubah ekspresinya menjadi bingung karena Akina baru saja mengatakan dirinya yang baru saja dengan kelas empat, "Kelas empat...? Aku tadi berada di pemandian air panas menikmati kepanasan yang dimiliki air tersebut... Laki-laki dari kelas empat ya...? Aku tidak mengenal siapapun di kelas itu kecuali adik-ku yang bernama Katrina." Korrina tersenyum.
"Bukan hanya itu... Aku bertemu denganmu ketika aku masuk ke dalam ruangan pemandian air panas wanita ini." Ucap Akina karena beberapa menit yang lalu ia melihat Korrina pergi meninggalkan pemandian air panas, "Heh...? Aku baru saja bangun." Korrina menghela nafasnya dan ia mulai mendekati Akina, "Akina..."
"Ya...?"
"Bagaimana caranya itu besar...? Apa ada caranya...?" Bisik Korrina kepada Akina hingga Akina mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat malu, wajahnya mulai memerah, "T-Tidak...! D-Dadaku tumbuh alami kok...! Aku tidak melakukan apapun untuk membesarkannya...!" Ucap Akina dengan nada yang terdengar gugup dan canggung, ia menghalang kedua payudaranya dan ketika mendengar perkataan Akina, Korrina langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut setengah mati, "A-ALAMI!?"
"Hmm..." Akina mengangguk pelan, "Dunia kadang tidak adil..." Korrina menundukkan kepalanya karena ia merasa kecewa, walaupun dia sudah menikah dan punya anak tetapi dada-nya masih tetap saja kecil dan rata tidak sebesar Akina yang belum menikah, "A-Akina, umur-mu itu berapa?" Tanya Korrina selagi memegang dagunya karena Akina terlihat sangat muda, "Enam belas tahun." Akina tersenyum.
Kata-kata itu mulai berubah menjadi pedang dan pedang itu menusuk jantung dan harga diri Korrina, "ENAM BELAS TAHUN...!? HUEGH!!!" Korrina mulai memuntahkan susu yang baru saja ia minum, ia mulai berlutut selagi memegang dadanya yang terasa sesak karena Akina yang berumur enam belas tahun bisa memiliki dada sebesar itu sedangkan Korrina yang baru saja menempuh 100 tahun dan sudah mempunyai lima anak, dadanya masih kecil dan rata, "K-K-Korrina!? A-Ada apa...!?" Akina membantu Korrina berdiri dan mengusap sisa susu yang ada di mulutnya, Akina merasa sangat terkejut bahwa Korrina bisa sekaget itu ketika mendengar umurnya.
"A-Ada apa dengan umurku?" Tanya Akina.
"HUUUUUUHHHH!!! SIALAAAAANNNN!!!!" Korrina mulai meremas-remas dada Akina beberapa kali untuk melampiaskan rasa cemburu terhadap dada yang lebih besar dari dirinya, "K-KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!" Teriak Akina keras hingga mampu membuat ruangan pemandian air panas pria bergetar hingga beberapa pria yang berada di dalam itu bisa mendengar suara Akina dan memikirkan hal-hal yang aneh.
***
Di taman akademi itu, di malam hari ini terdapat seorang laki-laki yang sedang berlatih menggunakan kedua pedangnya. Dia berasal dari kelas tiga namanya adalah Shichiro Haruki, malam hari yang indah dan dingin ini ia masih berlatih sendirian, ia terus mengayunkan kedua pedang itu dengan kecepatan suara, "Hah... hah... hah...." Haruki mulai berkeringat lalu ia menancapkan kedua pedangnya di atas tanah dan setelah itu ia berlutut karena lelah, "Aku harus mendapatkan Solicitation's Order..." Ucap Haruki hingga ia melihat refleksi Korrina dari pedang tersebut, Korrina terlihat seperti memasuki sebuah ruangan rahasia, "Bukannya itu gadis popular yang bernama Korrina...?"
Haruki bangkit dari atas tanah lalu ia menarik kedua pedangnya dan setelah itu ia menyimpannya kembali di belakangnya, "Kok aku merasakan firasat yang tidak enak ya...?" Haruki berjalan ke depan lalu diam-diam menghampiri ruangan yang baru saja Korrina masuki, "Aroma ini...?!" Kedua lubang hidung Haruki mulai mencium bau aneh seperti darah, Haruki maju ke depan dan memasuki ruangan tersebut tiba-tiba ia menginjak genangan darah, "A-Ahh...!?" Haruki mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat jijik, "...darah...?"
__ADS_1
Haruki menatap ke depan lalu ia melihat seorang mayat yang dipenuhi dengan darah diseluruh luka-nya dan luka-luka itu terlihat seperti luka bakar, "Astaga...!" Haruki menghampiri mayat tersebut lalu ia mulai menyentuh kulit dari mayat tersebut hingga jarinya mulai terasa panas, "Cih... Panas..." Haruki melirik ke kanan dimana ia melihat sebuah api yang memiliki warna biru muda, "B-Bukannya itu adalah api yang pernah Korrina gunakan...?" Haruki tiba-tiba merasakan keberadaan seseorang, ia melirik ke atas lalu ia melihat Korrina yang sedang berdiri di atas atap selagi menunjukkan senyuman seriusnya.
"Sepertinya aku tertangkap basah ya." Korrina mendarat di depan Haruki selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut, "Kau... Apakah kau melakukan semua ini?!" Tanya Haruki selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, ia pernah mendengar rumor bahwa Korrina adalah seorang Legenda yang mampu membunuh musuhnya dalam sekejap karena ia memiliki sihir waktu, "Tentu saja aku membunuh mereka..." Korrina langsung memanggil Shinsei-no-Muramasa, Haruki mundur beberapa langkah karena ia bisa merasakan aura pembunuh Korrina yang sangat menyengat.
"A-Apa sebenarnya tujuanmu...!? Kenapa kau membunuh peserta dari kelas empat!?" Tanya Haruki.
"Untuk menghalang seluruh peserta yang rendah, tujuanku adalah menang dan aku hanya ingin secepatnya mengikuti turnamen itu agar aku bisa meraih Solicitation's Order...!" Korrina tersenyum jahat lalu Haruki menarik kedua pedangnya dan setelah itu ia melesat ke depan, "Kau harus dihukum...!!! Kau telah melanggar peraturan dan kau harus dihentikan sebelum pihak akademi ini terbunuh oleh kau!!!" Teriak Haruki keras lalu ia mengayunkan kedua pedangnya beberapa kali dan tiba-tiba pedang yang Haruki pegang menembus seluruh tubuh Korrina.
"A-Apa...." Haruki membulatkan kedua matanya karena ketika ia menyerang Korrina, ia terasa seperti menyerang udara atau angin, "Ilusi ap---"
Korrina langsung menebas wajah Haruki hingga itu meninggalkan luka tebas di wajahnya, untungnya tebasan itu tidak mengenai salah satu dari matanya, jika ya maka Haruki tidak akan bisa melihat lagi. Korrina langsung menarik keluar katana-nya dan setelah itu ia memutarkan katananya 360 derajat hingga daratan dan bangun di sekitar Haruki mulai tertebas dan rusak, "S-Sial!" Haruki langsung bergerak menjauh dari Korrina dan menghindari semua serangan yang tak terlihat itu.
Korrina muncul di depannya lalu ia mulai menebas ke depan, tetapi Haruki menunduk dan mulai melarikan diri lagi, ia tidak bisa lari karena Korrina seperti menjebaknya di satu tempat agar ia tidak bisa melaporkan kejadian itu kepada seseorang, Korrina mulai mengayunkan katana-nya beberapa kali hingga daratan yang Haruki injak mulai retak, "Kuat sekali..." Korrina muncul di depannya lalu ia menendang wajahnya hingga Haruka terjatuh, tiba-tiba Haruki mulai terkepung oleh banyak sekali Korrina, "I-Ilusi apa ini...!?" Tanya Haruki kepada dirinya sendiri.
Korrina mulai menebas tubuhnya beberapa kali hingga seragam-nya mulai robek dan ia mendapatkan beberapa luka tebasan, Haruki melompat ke belakang lalu ia bernafas selagi mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya, "Tidak mungkin... Pasti ada cara lain untuk menghancurkan ilusi tersebut." Haruki mulai memegang erat kedua pedangnya. Haruki melesat ke depan lalu ia menebas semua Korrina yang ia lihat tetapi serangannya terus menembus tubuh Korrina sehingga Korrina menyerang balik dengan menghantam wajah Haruki menggunakan sarung katananya.
BAG! BAG! BAG!
Kedua pedang Haruki mulai terlindungi dengan aura berwarna merah kehitaman, "Chaos Extinguisher...!" Haruki memegang erat kedua pedangnya lalu ia melesat ke depan dan mulai menghancurkan semua ilusi Korrina menggunakan kedua pedangnya, "A-Apa!?" Korrina membulatkan kedua matanya ketika melihat Haruki yang berhasil menghancurkan ilusinya termasuk dengan ilusi tempat, Haruki bisa melihat langit-langit retak yang mengartikan bahwa dia sedang berada di dalam ilusi yang Korrina gunakan.
"Jangan berharap untuk lolos!" Korrina mengangkat katana-nya ke atas hingga katana itu mulai menciptakan pedang api sacred yang panjang, "SACRED OF HEAVENLY PUNISHMENT!!!" Korrina mengayunkan pedang besar itu ke arah Haruki dan Haruki mulai tersenyum, "CAVALRIES OF THE THOUSAND BLADE STRIKE!!!" Haruki membuat serangan seribu tebasan dengan kecepatan yang sulit dilihat untuk Korrina, serangan itu mampu membuat ilusi Korrina hancur termasuk dengan sihir Korrina bersama katana-nya.
"T-Tidak mungkin....!"
"RASAKAN INI!!!" Haruki mulai membelah Korrina menjadi dua hingga kedua penglihatan Haruki mulai menunjukkan sesuatu yang bersinar dan setelah itu ia kembali melihat pohon yang besar, di depan pohon itu adalah tempat latihannya, "Ahh...!?" Haruki melihat sekeliling dan semua terlihat normal kecuali tubuhnya yang dipenuhi luka dan seragam-nya yang sudah robek, "I-Ilusi... Ilusi lagi, ilusi lagi... Sebenarnya dia iini memiliki ilusi seperti apa?!" Tanya Haruki.
Haruki melirik ke arah ruangan dimana ia melihat Korrina memasuki ruangan rahasia itu, Haruki melesat menuju arah ruangan itu dan ia tidak melihat apapun kecuali bayangan dari bangunan akademi itu, "Apakah sesuatu yang aku lihat itu nyata...? Apakah semua ini ilusi...?" Tanya Haruki, ia mulai menggaruk-garuk rambutnya, "Aku hanya mempercayainya lima puluh persen... Tapi serangannya itu terasa nyata." Ucap Haruki, "Aku harus waspada nanti... Sialnya aku tidak memiliki bukti bahwa Korrina telah melanggar sebuah peraturan."
__ADS_1
"Cih... Sialan." Haruki berjalan pergi meninggalkan taman itu lalu ia bergegas menuju kamarnya untuk mandi, menyembuhkan dirinya sendiri, dan belajar tentang ilusi-ilusi karena ia ingin sekali melawan ilusi milik Korrina, untungnya tidak ada peserta yang melihat Haruki terluka seperti itu karena mereka bisa saja berpikir bahwa Haruki baru saja bertarung dengan seseorang dan ia berakhir terluka parah seperti itu, mereka bisa saja berpikir bahwa Haruki telah membunuh seseorang.
***
Seorang gadis yang memakai jaket mulai menghampiri taman dimana tidak ada orang lain di sana, "Aneh..." Gadis itu bernama Catherine dan ia berada di kelas tiga, itu artinya ia sekelas bersama dengan Shira dan yang lainnya, "Apakah cuaca-nya makin dingin atau ini firasatku saja...?" Tanya Catherine hingga ia tiba-tiba melirik ke belakang dimana ia melihat Korrina mengayunkan katana-nya ke arah wajahnya, tetapi Catherine langsung melompat ke atas dan berhasil menyelamatkan lehernya yang akan putus ketika ia tadi tidak menghindar.
"Cih, apa yang kau mau?" Tanya Catherine kepada Korrina, "Menyingkirkan peserta yang tangguh sepertimu... Kau adalah Saint Dimension ya? Itu artinya kau bisa membelah dimensi." Korrina muncul di belakang Catherine selagi memegang katananya dengan sangat erat lalu Catherine mulai tersenyum kecil, "Ternyata pemenangan dari turnamen ini adalah Korrina Ghifari yang sebentar lagi akan melakukan sesuatu yang licik ya? Perbuatanmu ini melanggar aturan akademi ini."
Catherine mulai menatap daratan dimana ia melihat banyak sekali mayat dari kelas empat, "Pantas saja sepi, kau membunuh mereka semua---" Catherine hampir saja kehilangan lehernya lagi, ia menghindari serangan Korrina dengan terbang ke belakang. Catherine mulai menciptakan beberapa portal di sekitarnya lalu ia memukul semua portal itu menggunakan kedua tinjunya hingga beberapa portal muncul dan mengelilingi Korrina, "Sihirmu itu sangat unik, aku suka." Korrina menghindari semua serangan Catherine selagi melesat menuju arahnya dengan katananya yang sudah terbakar.
"Final Shine Attack!" Korrina meluncurkan gelombang merah melalui telapak tangan kirinya lalu Catherine tersenyum dan setelah itu sebuah portal besar muncul di depannya hingga gelombang sihir milik Korrina terhisap masuk ke dalam portal tersebut, tiba-tiba portal yang ada di depan Catherine muncul di belakang Korrina sehingga keluarlah gelombang Final Shine Attack yang baru saja Korrina luncurkah, "Cih!" Korrina melesat ke atas langit selagi menatap Catherine dengan ekspresi yang terlihat kesal, "Kau mencari musuh yang salah, Korrina." Catherine tersenyum naif.
Korrina muncul di depan Catherine lalu ia menendang perutnya hingga ia terpental ke belakang lalu Korrina muncul di belakangnya dan setelah itu ia menebas kepalanya, "Hmph... Dimensional Shatter..." Tiba-tiba seluruh tubuh Catherine mulai berubah menjadi partikel-partikel warna-warni dan serangan yang Korrina lesatkan tadi tidak mampu melukainya karena ia menggunakan sihir yang sama seperti sihir teleportasi atau ilusi, "Hah...?" Tiba-tiba partikel itu mulai membentuk Catherine kembali dengan sebuah bola hitam di telapak tangan kanannya, Catherine langsung menghantam bola hitam itu ke dalam perut Korrina hingga ia terpental ke belakang.
BAMMM!!!
Korrina menatap Catherine lalu ia melihat sebuah portal besar di atas kepalanya mulai meluncurkan gelombang api yang memiliki bermacam-macam warna, Korrina tidak bisa bergerak karena ia merasakan tekanan besar dari api-api itu.
KABOOM!
Korrina menahan api-api itu menggunakan kedua lengannya hingga menyebabkan bajunya terbakar habis, "Cih..." Catherine mulai tertawa terbahak-bahak karena sekarang ia bisa melihat pakaian dalam milik Korrina, Korrina tidak memiliki rasa malu dan rasa keberatan ketika ia terjadi melainkan ia melesat menuju arah Catherine, tetapi Catherine berubah menjadi partikel-partikel lagi lalu ia kembali membentuk di belakang Korrina, "Sepertinya bertarung denganmu itu cukup menyenangkan."
Catherine mengeluarkan sebuah batu meteor lalu ia mengubah batu itu menjadi pedang, "RASAKAN INI!" Catherine melirik ke belakang lalu ia mengayunkan pedangnya tepat di wajah Korrina, Korrina menundukkan kepalanya dan ia bisa melihat pedang yang Catherine ayun-kan meluncurkan gelombang partikel angkasa yang aneh. Korrina mulai menghindari seluruh tebasan yang Catherine luncurkan, Korrina mulai membakar perut Catherine menggunakan kedua telapak tangannya.
BAAAMMMM!!!
"Cih... Api-api itu terasa berbeda." Catherine mulai menghilang pedangnya lalu ia memunculkan portal berwarna biru di belakangnya, "Aku tidak tertarik dengan permainan yang kau buat itu, Korrina atau apalah kau... Tapi, semua ini terjadi karena kau menggunakan ilusi yang mencoba untuk menjebak-ku." Catherine sadar bahwa cara bertarung Korrina dan api-nya itu terasa berbeda dengan Korrina yang asli.
__ADS_1
"Mungkin lain kali kita akan bertemu, tetapi... Kau pasti akan menyesalinya dan merasa sengsara oleh seseorang." Catherine masuk ke dalam portal itu lalu ia terbebasi dari ilusi yang digunakan oleh Korrina, portal tadi mampu membebaskan Catherine dari ilusi apapun termasuk dimensi apapun, nama dari sihir itu adalah Reality Dimensional.
Beberapa menit kemudian, Akina mulai bangun dari kasurnya lalu ia bangkit dan setelah itu ia membuka tirai dimana ia melihat Catherine yang berjalan menuju akademi dengan jaket-nya yang terlihat sobek dan Akina juga bisa melihat beberapa luka di tubuhnya, "Apa ada sesuatu yang terjadi---" Akina tiba-tiba melihat Korrina yang sedang menculik seorang laki-laki, "K-Korrina...?"