
"Kenapa bisa menjadi seperti ini...? Padahal aku sudah kebal dengan manipulasi pikiran, tetapi ia bisa mengendalikan tubuhku ini tanpa kesulitan apapun."
"Apapun itu, jangan sesekali macam-macam dengan eksperimenku ini yang bernama Project Eo!" Shinobu mulai mengendalikan tubuh Korrina untuk menghilang Heaven's Prime sebelum ia menghancurkan segalanya.
"Kenapa, Koneko...?"
"Apa yang kau coba lakukan dengan Eldritch berbahaya itu...? Apakah kau tidak sadar bahwa Ragnarok telah dimulai karena disebabkan oleh Eo'syl?!"
"Aku tahu... tetapi yang sudah terjadi tidak akan bisa kita hentikan, lagi pula Eo sudah tidak memiliki urusan apapun tentang hal tersebut..."
"...itulah kenapa aku mencoba untuk mempelajari Eldritch dan Eo agar bisa menciptakan sebuah jalan untuk lepas dari labirin ini."
"Kau mengingat apa yang aku katakan sebelumnya, bukan...?" Tanya Shinobu dengan kedua matanya yang bersinar merah sampai menyebabkan Korrina mulai merasa takut ketika melihat cucunya yang serius.
"Harapanku sangat cerah dan tidak bisa dilihat oleh mereka yang tidak mengerti tentang diriku sendiri..."
"...kau mungkin salah satunya orang yang sudah buta karena terlalu lama melihat harapan itu, kau tidak akan pernah bisa mengerti solusi yang aku coba lakukan!"
Shinobu langsung meringis kesakitan, tangannya secara refleks menyentuh kepalanya yang terasa berat dan pusing karena menggunakan The Mind untuk menghentikan Korrina.
Sekarang ia tidak akan pernah bisa menyentuh Eldritch tersebut karena Shinobu menggunakan The Mind untuk menciptakan sebuah niat atau hukum dimana Korrina dilarang untuk membunuh atau memusnahkan Eo.
Ketika Korrina terlepas dari pengaruh Eo, ia bergegas menuju tabung itu lalu mencoba untuk menghancurkan tetapi ia seketika tidak tahu cara untuk menghancurkannya.
Rasanya ia seperti dihentikan oleh sesuatu yang berada di luar pikirannya sendiri, "Percuma saja, Nenek... aku menggunakan The Mind untuk mengatur dirimu agar tidak menghancurkan Eo."
"K-Kau bilang apa tadi...? Koneko, apa yang kau coba lakukan hanya akan memicu kehancuran lebih jauh lagi dibandingkan Ragnarok."
"Mungkin saja." Jawab Shinobu.
"Apa...?!" Korrina mendekati Shinobu lalu ia berlutut di hadapannya hanya untuk menyadari dirinya tentang Eldritch yang dapat mempermainkan konsep dan memberikan kebebasan.
"Apakah kamu tidak mengerti seberapa jauh aku pergi hanya untuk menghentikan Eldritch sialan itu...!?"
"Bertahun-tahun aku pergi menjelajahi berbagai macam ruang waktu serta layer berbeda demi bisa memaksa masuk ke dalam singularitas pertama dimana Eo'syl berada!"
"Aku berhasil menghancurkan dirinya, tetapi kenapa Zephyra dan Ragnarok tetap hadir!? Aku sudah menghancurkan Eo'syl...!!!" Teriak Korrina keras.
"Sulit sekali untuk menjelaskannya, tetapi Eo'syl berpindah menuju layer Touriverse lalu diambil alih oleh Zangetsu dan diwariskan kepada Anastasia untuk memusnahkan konsep sihir."
"Semua yang kau lakukan... aku tahu pengorbanan dirimu, tetap saja memusnahkan Eo tidak akan mengubah sebuah fakta dimana kita tetap akan menghadapi pengakhiran seperti Ragnarok."
Korrina mulai memasang ekspresi kesal karena ia sekarang mengerti apa yang coba Shira jelaskan, dia tidak akan pernah mengerti apa yang Shinobu pikirkan dan coba lakukan.
"Jika Nenek ingin membenci dan menganggap diriku sebagai musuh, boleh saja kok..."
"...lagi pula Koneko tidak melakukan semua ini untuk kalian, bukannya itu terdengar egois? Wajar saja karena aku adalah cucu dari seorang Nenek yang egois juga." Ucap Shinobu dengan ekspresi serius.
"Itulah kenapa mereka yang kebal dengan kebutaan dari harapan yang kumiliki akan tetap mendukung diriku sampai titik dimana aku mencapainya..."
"...aku membutuhkan Eo'syl untuk menggali lebih dalam informasi yang belum pernah aku ketahui sebelumnya."
"Tetapi, Koneko... kau hanya memanfaatkan Eo'syl, sama halnya dengan kau mencoba untuk memanfaatkan segalanya..."
"Mungkin."
"Koneko, kau telah menjadi musuh itu sendiri... musuh yang mencoba untuk menguasai dan memanfaatkan kemampuan Eldritch demi sesuatu yang mengerikan..."
__ADS_1
"Mungkin aku memang jahat dan musuh selanjutnya bagi kalian." Jawab Shinobu.
Jawaban itu langsung menyebabkan Korrina merasa pusing sampai ia tidak tahu harus berbicara apa selanjutnya ketika melihat cucunya yang saat ini terlihat begitu serius akan sesuatu.
Tujuannya begitu besar, tidak jauh berbeda dengan apa yang keturunan Shiratori inginkan, yang membedakannya hanyalah dirinya masih belum mengerti apa yang ia coba lakukan demi masa depan.
"Sudahlah, Nenek..."
"...apa yang kita hadapi, perlu kita selesaikan tanpa perlu mencari solusi lain karena itu sudah bisa dibilang terlambat."
"Kita memang harus menghadapi mengakhiri seperti Ragnarok, semoga saja kita bisa menang ya." Shinobu kembali tersenyum polos sampai tatapannya kembali terlihat lebih tenang seperti anak kecil.
Shinobu melangkah maju menuju tabung itu hanya untuk memindahkan Eo'syl menuju dunia gaib, Korrina dapat melihatnya dengan jelas bahwa ia juga menerima kekuatan hebat lainnya.
"Koneko."
"Iya, nenek?"
"Perjuanganmu... memberikan dirimu hasil apa?"
"Sebuah kekuatan untuk memecahkan segala misteri dan kebenaran yang terdapat di segala dunia... maupun itu dalam atau luar layer, aku akan mencoba untuk memecahkannya."
"Apakah Nenek mengetahui perkembangan yang aku alami selama ini?" Tanya Shinobu.
"Aku menjadi seorang penguasa dari segala Astral atau hantu, semua itu dapat aku manfaatkan demi masa depan yang selalu aku inginkan agar bisa menciptakan rasa kedamaian yang benar untuk semua orang."
"The Mind yang aku punya tetap berkembang sampai aku sekarang dapat mengakses persentase yang ketiga dimana aku dapat mengabaikan dan menghancurkan konsep kebal terhadap manipulasi pikiran."
"A-Apa...? Jadi begitu... itulah kenapa kau tetap mempengaruhi diriku." Korrina mulai bangkit dari atas lantai lalu ia menyentuh kedua bahu Shinobu.
"...semua yang akan takutkan ternyata benar-benar terjadi secara nyata dimana aku tidak dapat menghentikannya sama sekali!"
"Aku terus memikirkannya tanpa henti, karena kita sekarang sudah mengalami banyak perubahan... aku tidak bisa melihat mereka yang sudah menikmati kedamaian Touriverse gugur dalam Ragnarok!"
"Semua itu memang harus terjadi, Nenek..."
"...kita hanya sekedar budak bagi Zephyra, itulah kenapa kita sebagai budak diseret ke dalam medan perang paling besar untuk menunjukkan kesanggupan kita."
"Aku juga sama sepertimu, Nenek..."
"...semenjak aku tertidur dengan nyenyak untuk pertama kalinya, aku malah berpindah menuju sebuah ruangan yang terlihat seperti perpustakaan."
"Banyak sekali buku tak terhitung di dalam sana sampai aku mengira semua itu hanyalah mimpi dimana aku begitu terobsesi dengan membaca buku dan menggali informasi apapun..."
"...tetapi anehnya aku bisa membaca buku berisi tentang Eldritch, sampai sekarang aku mengingatnya..."
"...semua itu perlahan-lahan membuat diriku curiga sehingga aku menemukan sebuah buku yang berjudul 'Boundless', sekali saja aku membukanya..."
"...semua informasi yang terdapat di dalamnya terasa seperti berpindah kepada pikiranku sehingga sampai sekarang aku terus mengolahnya sedikit demi sedikit!"
"Tidak pernah beristirahat dengan tidur nyenyak lagi karena aku takut... Koneko takut mengunjungi perpustakaan aneh itu." Ucap Shinobu dengan ekspresi khawatir.
"Aku sudah tahu tentang Ragnarok sebelum nenek datang... itu berasal di halaman awal dalam buku tersebut menunjukkan Ragnarok akan terjadi dimana semua orang akan berjatuhan menjadi korban tak beranjak."
Shinobu dan Korrina terus membagi keluh kesah mereka tentang Ragnarok dan hal-hal mengkhawatirkan lainnya sampai mereka sudah tidak bisa menikmati istirahat seperti tidur melainkan terus memikirkan masalah seperti Ragnarok.
"Overthinking secara berlebihan itu tidak baik, Nenek." Ucap Shinobu yang dapat membantu Korrina untuk tidur menggunakan The Mind.
__ADS_1
"Aku tahu itu... tetap saja, semua ini terjadi karena kesalahanku sendiri... sial, kalkulasi yang aku lakukan tetap saja memberikan hasil yang menyedihkan." Korrina duduk di atas kursi selagi memegang kepalanya sendiri.
"Kita harus menerimanya..."
"...pada akhirnya, kita tetap bangsa Legenda yang ditugaskan untuk mencatat sejarah tak terhitung dan membangun kembali Touriverse menjadi sesuatu yang lebih baik."
Korrina mendengar perkataan yang terdengar positif dari cucunya sekarang, walaupun pola pikirannya memang rumit untuk dimengerti tetapi ia tetap melihat hal positif di dalam dirinya.
"Pada akhirnya... setiap perbuatan yang kau lakukan untuk membingungkan diriku, kamu ini tetap putri dari Kou Comi." Korrina tersenyum bangga lalu ia memeluk Shinobu.
"Terima kasih, nenek... karena sudah mengerti apa yang aku coba lakukan, semoga saja kita bisa memenangkan perang ini ya." Shinobu mulai mengelus kepala Korrina pelan-pelan.
Shinobu mulai menggunakan The Mind untuk mengendalikan pikiran Korrina agar ia bisa merasakan ketenangan yang mampu membawa dirinya menuju dunia mimpi untuk beristirahat dengan tidur.
Tidak lama kemudian, Korrina sudah tertidur dalam pelukan Shinobu dengan tenang, ini pertama kalinya ia dapat tertidur nyenyak tanpa harus memikirkan hal negatif yang memicu kekhawatiran.
Shinobu bergegas membawa Korrina menuju kamarnya hanya untuk menempati dirinya di atas kasur agar tubuh juga bisa beristirahat dengan keempukan dari kasur.
"Ternyata apa yang Mama katakan benar..."
"...Nenek terlihat putus asa tetapi beliau tetap berjuang demi bisa mengubah kesalahan apapun menjadi kebenaran." Shinobu merangkak di atas kasur itu.
"Maaf, Nenek... bagikan semua pengalaman dan ingatanmu di luar sana kepada diriku agar aku bisa mengerti..." Shinobu menepati keningnya di atas kening Korrina sehingga saling bersentuhan.
Semua ingatan dan pengalaman yang dimilik oleh Korrina pada saat perjalanannya dimulai telah terbagi dengan Shinobu sampai sekarang mengerti dengan pilihannya itu.
"Baiklah... belajar lagi...!"
"Koneko..."
"...akan bernaung!"
***
"Baiklah, aku memaafkan dirimu." Kata Koizumi selagi menatap arah lain dengan ekspresi serius.
"Ehh...?" Korrina memasang ekspresi bingung ketika mengetahui Koizumi datang dan menghentikan latihannya hanya untuk meminta maaf.
"Dengan syarat..."
"Syarat?"
"Aku ingin melihat secara langsung kemampuan dari Nenekku yang sering dikagumi oleh Ibuku sendiri, kalau begitu..."
"...apakah Nenek mau menerima tantangan latih tanding dariku tanpa menahan diri sedikit pun?" Tanya Koizumi yang langsung memunculkan belatinya.
Mereka semua memasang ekspresi kaget ketika mendengar Koizumi menantang dirinya dalam latih tanding tanpa harus menahan dirinya.
"Oi, kenapa syaratnya seperti itu!?" Tanya Arata.
"Aku hanya ingin melihatnya secara langsung..."
"Hmm, baiklah." Korrina mengangguk.
"Jangan menahan diri..."
"...itu sama saja hanya akan membuat diriku semakin tidak bisa memaafkan dirimu."
__ADS_1