
Honoka membuka pintu kamar lalu ia membawa mereka semua pergi dari ruangan itu dan membiarkan Haruka berduaan bersama Korrina, untungnya mereka semua menuruti apa yang baru saja Honoka katakan hingga mereka kembali bekerja di dalam laboratorium. Haruka duduk di pojok dan ia menyandarkan punggung-nya sambil menatap atap dengan tatapan yang terlihat kosong.
"Haruka..." Korrina menghampiri Haruka dengan senyuman tipis-nya, Haruka menatap Korrina dengan tatapan kosong-nya itu... ia tidak berbicara melainkan menatap Korrina, Haruka terlihat putus asa dan itu membuat Korrina semakin khawatir karena ia mendengar percakapan diri-nya bersama Alvin beberapa detik yang lalu.
Korrina duduk di sebelah-nya, "Kamu tidak harus bersedih seperti itu... Semua orang pasti berjuang di dalam hidup mereka sendiri untuk bisa dipercayai, Mama salah satu-nya... bukan-nya beberapa hari yang lalu Mama dibenci oleh semua orang, tetapi kalian-lah yang sudah mengembalikan rasa kepercayaan itu, terima kasih, Haruka."
Walaupun Korrina mencoba untuk membuat Haruka membaik, ia tetap diam dan wajah-nya masih terlihat datar... Korrina terus membicarakan tentang kehidupan, terkadang hidup berjalan cukup baik dan buruk itulah arti dari keseimbangan yang sesungguh-nya. Tidak selalu kebaikan melanda tetapi keburukan juga akan melanda suatu saat nanti.
Korrina berbicara sambil membelai rambut Haruka dengan lembut dan pelan, ia mulai berbicara dengan lemah lembut sehingga Haruka terlihat terharu ketika mendengar-nya... walaupun sudah mendengar perdebatan Haruka dan Alvin, Korrina sudah tidak memiliki rasa ragu karena Haruka sudah melakukan yang terbaik untuk melindungi seseorang yang ia sayangi dan percayai.
Dengan pelan Korrina memindahkan kepala Haruka di atas paha-nya agar ia bisa berbaring di atas paha-nya sambil mendengar Korrina terus berbicara dengan lembut, suara yang dapat menidurkan seorang bayi... ia sering melakukan-nya ketika Haruka menangis sejak bayi.
"Setidaknya aku bisa membantu-mu, Haruka... aku tidak bisa membantu-mu dalam memperbaiki apa yang sudah terlalui..."
"Mama... hentikan..." Suara lembut Korrina mulai mempengaruhi Haruka, ia kembali tetapi rasa sedih melanda diri-nya sehingga ia tidak bisa menahan lagi semua rasa sedih itu.
"Kamu lelah ya, nak... istirahat saja dulu, biarkan Mama memanjakan-mu seperti anak kecil lagi." Korrina tersenyum sambil mengusap kepala-nya beberapa kali, "Apakah masih banyak masalah yang selalu mengganggu pikiran-mu...? Lupakan-lah sejenak karena Mama akan selalu ada disisi-mu... Apa yang kamu lakukan itu sungguh hebat, kau memang seorang pahlawan... sama seperti-ku."
Haruka menahan air mata-nya yang mencoba untuk mengalir keluar, ia sudah tidak bisa menahan suara Korrina yang sangat lembut serta usapan-nya itu yang terasa lembut, "Mama... aku lelah... aku sudah tidak bisa lagi menahan-nya, aku benci... aku benci kelahiran-ku dan keberadaan-ku sendiri... kenapa aku harus lahir ke dunia sekejam ini..."
__ADS_1
Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama, Haruka melampiaskan kesedihan dan kelelahan-nya... ia sudah lelah menjalani semua-nya dengan normal dan biasa saja. Ini pertama kali-nya Haruka menangis tersedu-sedu seperti anak kecil, ia memeluk Korrina dengan sangat erat karena ia benar-benar lelah dengan konflik yang selalu bermunculan di sekitar-nya.
"Aku sudah berusaha... mengubah masa depan dan takdir buruk yang selalu aku lihat, tetapi aku selalu saja gagal... aku selalu saja berakhir kesakitan hingga semua orang tidak mempercayai perbuatan yang aku lakukan demi mereka semua, kadang aku membenci mereka tetapi mereka itu berarti dalam kehidupan-ku..."
"...tempat ini dan dunia ini juga, aku sangat mencintai semua-nya yang ada di sekitar-ku, jika mereka menyayangi-ku maka aku juga menyayangi mereka semua lebih dari apapun! Aku sebenarnya ingin melindungi mereka semua, Mama...! Aku sudah melakukan segala cara agar mereka bisa selamat... agar mereka bisa hidup damai...!" Haruka memegang erat baju Korrina sambil menangis tersedu-sedu.
"Walaupun begitu..." Korrina berbisik kepada Haruka, "...Haruka tidak pernah menyerah sedikitpun 'kan?" Kata-kata itu membuat Haruka semakin terharu hingga ia terus menangis tersedu-sedu dan memeluk Korrina dengan sangat erat, Korrina malah ikut menangis dan ia memeluk-nya erat.
Setidaknya Korrina berhasil membangkitkan semangat Haruka kembali untuk melindungi Touri, sekarang... masalah selanjut-nya terdapat di Xuusuatouri dimana Komi masih ditahan oleh Asuka bersama yang lain-nya, untungnya Korrina sudah menghubungi beberapa bala bantuan seperti Haruki dan Yuuna untuk menyerang Komi di Xuusuatouri secara bersamaan.
***
Haruka terlihat kesal ketika menatap Komi bahwa ia sendiri tidak mampu melukai-nya ketika melawan-nya secara berhadapan, Yuuna yang sudah menggunakan seluruh sihir-nya saja tidak bisa tetapi Asuka masih melayang tepat di hadapan Komi dengan ekspresi yang terlihat kesal, akhir-akhir ini Asuka menunjukkan ekspresi-nya kepada Komi.
Walaupun dia sudah berada di wujud akhir-nya, dia masih belum bisa melukai Komi sama sekali. Komi mulai berdiri kembali dan bersiap untuk bertarung melawan Asuka, ia melakukan pergerakan yang pertama dan mengarahkan satu serangan ke arah leher Asuka tetapi ia berhasil menghindari-nya dengan berubah menjadi kelopak bunga mawar.
Komi melakukan salto ke belakang hingga ia berhasil menendang Asuka yang muncul di belakang-nya, menggunakan sihir atau kecepatan yang dapat memindahkan keberadaan itu tidak berguna untuk Komi yang bisa merasakan apapun disekitar-nya, melihat reaksi wajah Asuka yang gugup dan kembali datar membuat Komi merasa kenikmatan bertarung di dalam diri-nya.
"Nikmat... Ini nikmat... Ini yang aku rasakan!!! Kenikmatan untuk bermain dengan-mu, malaikat yang bernama Asuka!!!" Komi menunjukkan ekspresi yang penuh dengan nafsu.
__ADS_1
Asuka melakukan tarian pedang-nya, Komi sengaja untuk tidak melakukan apapun karena serangan tipe kuat apapun hanya akan membuat-nya terluka, dia bisa merasakan kesakitan dari serangan Asuka... serangan demi serangan Komi mulai menjerit lalu dilanjutkan dengan tawa yang terbahak-bahak hingga membuat semua orang tercengang bahwa kekuatan Komi meningkat lebih cepat dan lebih tinggi.
"Kesakitan itu hanya akan membuat-ku lebih kuat...!!!" Komi menatap Asuka dengan ekspresi yang terlihat kejam, Asuka memejamkan kedua mata-nya karena tatapan itu hampir saja membuat tubuh-nya melemah, ia bisa merasakan organ di dalam tubuh-nya mulai terluka karena melihat tatapan-nya dalam waktu satu detik.
Tatapan itu mengandung sihir Crimson yang masuk ke dalam tubuh Asuka, jika ia menatap-nya selama lima detik maka salah satu organ tubuh-nya sudah robek dan mengalami pendarahan yang cukup dalam, Asuka untung-nya memikirkan cara lain-nya yaitu menggunakan kemampuan mawar kebajikan-nya untuk melindungi seluruh tubuh-nya dari segala efek negatif.
Asuka mengayunkan kedua pedang-nya beberapa kali ke arah Komi, Komi mulai serius karena ia melihat kekuatan Asuka meningkat karena kemampuan mawar kebajikan-nya itu, sekali serangan tersebut mengenai diri-nya maka sihir Crimson-nya akan tersucikan... Asuka tetap tidak menyerah dan semakin meningkatkan kekuatan setiap ia melakukan serangan sambil menari di sekitar kelopak bunga mawar.
Tarian pedang itu cukup menyusahkan bagi Komi karena ia tidak bisa melihat celah, kelopak bunga yang terdapat di sekitar-nya itu bisa dijadikan sebagai serangan yang cukup mematikan. Asuka terus menyerang-nya tanpa henti hingga ia mengganti cara menari-nya untuk membingungkan Komi, ia berharap bahwa satu serangan dapat melukai-nya jadi ia mendapatkan keuntungan untuk bisa mengenai serangan lain-nya.
Asuka tidak mengharapkan apapun dari pertarungan ini karena ia hanya harus menahan Komi dari laboratorium orang tua-nya, ia juga harus melindungi Akina yang saat ini sedang memulihkan diri, amarah karena kehilangan orang tua-nya membuat Akina menyerang secara membabi buta, untung-nya Asuka sudah memperingati-nya bahwa kekuatan dari amarah yang tidak bisa terkendalikan itu sia-sia.
"Sepertinya aku sudah bosan bermain dengan-mu... kau terlalu banyak menyerang dan pertahanan-mu itu terlalu ketat, aku tidak terangsang penuh dengan kekuatan jika terus bertarung melawan-mu." Komi berniat untuk menyerang balik dan Asuka segera mengubah tarian-nya menjadi tipe tarian untuk melindungi diri dari segala serangan.
Komi menaikkan jari kelingking-nya hingga tubuh Asuka langsung diselimuti dengan aura Crimson serta membakar seluruh kelopak bunga di sekitar-nya, kedua pedang-nya juga bahkan terbakar dan berubah menjadi debu. Dengan satu hembusan nafas, Komi menciptakan gelombak ledak yang mampu membuat Asuka terpental cukup jauh sampai menghancurkan belasan gedung dan menabrak beberapa malikat.
Asuka langsung pingsan ketika menerima serangan itu, walaupun terlihat biasa saja... serangan itu masih bisa disebut sebagai serangan yang sangat mematikan. Haruki mulai merasa percaya diri dan ia segera berubah menjadi wujud Abyss Phantom-nya untuk bertarung melawan Komi di ronde kedua.
"Komi...!!! Lawan-mu adalah aku!!!" Seru Haruki keras hingga Komi muncul tepat di hadapan-nya, nafas Haruki tersendat ketika Komi tiba-tiba muncul tepat di hadapan-nya sambil menebar senyuman yang mengancam.
__ADS_1
"Apakah kau yakin bisa membuatku merasakan kenikmatan dalam bertarung melawan-mu, Ha-ru-ki...?"