
Seluruh galaksi dan semesta hancur berserakan menjadi serpihan kecil dimana-mana, tidak ada lagi populasi atau makhluk hidup yang terlihat, sebagian dari mereka mencoba untuk melindungi diri dari dua sesosok makhluk yang berukuran sangat besar, melebihi ukuran alam semesta... bisa dibilang bahwa ukuran mereka tidak terbatas karena mereka masih bisa bertambah besar.
Pertarungan antara mereka sepertinya mampu menghancurkan apapun yang menghalangi diri mereka masing-masing, Haruka yang sedang berdiri di atas asteroid melihat mereka berdua dengan ekspresi yang terkejut bahwa dengan kekuatan mereka yang terus bertambah kuat dan meningkat, seluruh galaksi, dimensi, dan bahkan semesta bisa hancur menjadi kepingan kecil seperti ini.
Ukuran mereka berdua tidak bisa dibandingkan begitu saja dengan ukuran Haruka yang terlihat seperti bakteri, bakteri yang tidak dapat dilihat dengan mudah. Entah kenapa... pandangan-nya menatap sesuatu yang mengerikan dimana Komi dan Korrina sedang bertarung melawan satu sama lain dengan ukuran yang sangat besar, sepertinya mereka benar-benar melupakan semua nyawa yang ada di sekitar mereka.
"...Tidak mungkin." Haruka sendiri ketakutan ketika melihat-nya bahwa ukuran mereka sangat besar, kekuatan atau keberadaan mereka tidak bisa dirasakan setitik apapun, Haruka hanya bisa melihat mereka berdua tetapi pergerakan mereka tidak bisa karena mereka bergerak cukup cepat sehingga tidak bisa dilihat begitu saja dengan mata telanjang.
Korrina dan Komi saling menatap satu sama lain, terlihat sebuah senyuman sadis di wajah Komi bahwa ia menikmati pertarungan sengit-nya bersama Korrina, tetapi ekspresi Korrina berbeda karena ia terlihat lebih serius dan tenang... dengan kedua mata-nya yang memancarkan cahaya suci berwarna putih.
Korrina tiba-tiba mengubah inti Touri menjadi bola yang besar, inti Touri itu melayang tepat di kedua telapak tangan Korrina, ia lebih mengutamakan keselamatan mereka terlebih dahulu karena serangan yang akan ia lakukan selanjut-nya itu akan berakhir cukup dahsyat, ia memindahkan inti semesta itu ke suatu tempat yang sangat aman.
Mereka berdua kembali bertarung, setiap serangan yang saling beradu mampu menciptakan suara dahsyat dimana-mana, bahkan sampai membuat inti Touri diguncangkan dengan guncangan yang sangat dahsyat, Haruka tidak bisa melakukan apapun karena ia diperintahkan oleh Korrina untuk tidak ikut campur, sihir waktu-nya saja tidak berguna karena ia masih berada di wujud anak kecil.
"Hah... hah... kenapa...? Kenapa... semua ini menjadi buruk...!!!???"
***
"Aaaaahhhhhh...!!!!" Haruka mengerang keras ketika kedua mata-nya yang melambang jarum jam mulai berputar sangat cepat sehingga memancarkan cahaya hijau, Okaho yang melihat kejadian itu langsung mencoba untuk menyadarkan Haruka karena melihat masa depan dan takdir itu terlalu rumit sehingga Haruka bisa saja langsung pindah ke masa yang ia lihat.
Haruka masih menjerit keras, ia mengacak-acak rambutnya karena ia masih melihat takdir dan masa depan yang mengerikan itu, ia bersama Okaho sudah melakukan-nya beberapa kali tetapi masa depan yang Haruka lihat sekarang itu jauh lebih buruk dari sebelum-nya, Korrina benar-benar melupakan jati diri yang sebenarnya di masa itu.
"Oi, Haruka...!!! Sadarkan diri-mu kembali...!!! Oi, dasar bodoh!!! Dasar *****!!!" Seru Okaho sambil menepuk kedua pipi-nya berkali-kali hingga jarum jam yang terdapat di mata-nya bergerak pelan lalu membuat Haruka kembali sadar dan melihat Okaho yang berada di depan-nya dengan ekspresi yang terlihat kesal.
"Ahhhh...!!! Hah... hah... hah..." Haruka hampir saja jatuh dari kasur-nya tetapi Okaho menahan-nya dengan menarik-nya mundur lalu mereka berbaring di atas kasur.
"Apa yang kau lihat...? Sepertinya pandangan-mu terlihat berbeda dari masa depan yang kau lihat sebelum-nya, apakah berubah?" Tanya Okaho.
__ADS_1
"Jauh lebih mengerikan... masa depan benar-benar berubah menjadi masa depan yang sangat mengerikan, penuh dengan kehancuran bahkan Mama sendiri melupakan jati diri-nya serta harga diri dari marga Comi. Uhhh... aku tidak tahan melihat takdir dan masa depan secara paksa, Okaho!" Haruka berguling-guling di atas kasur karena ia lelah melihat sesuatu yang mengerikan yaitu masa depan serta takdir yang seharusnya tidak ia lihat begitu saja.
"Jangan berbicara seperti itu, bodoh! Bukan-nya kau yang sudah mengajak-ku untuk mengikuti rencana-mu yang sangat brilian ini!? Kita sudah melakukan ini lebih dari sepuluh kali, itu artinya masa depan masih bisa kita ubah, takdir bisa kita ubah secara paksa!" Okaho menggenggam tangan Haruka erat.
"Tapi, Okaho... aku benar-benar tidak tahan melihat masa depan tadi... Ini pertama kali-nya aku merasa takut karena sihir-ku sendiri, takdir dan masa depan yang sangat terkutuk... aku harus secepat-nya melupakan itu---" Haruka hampir saja menghapus ingatan-nya menggunakan sihir waktu-nya tetapi Okaho menghentikan-nya karena ia ingin memindahkan ingatan itu ke dalam diri-nya.
"Tahan dulu...!!!"
Okaho berhasil mendapatkan informasi dan penglihatan masa depan Haruka, setelah ia berhasil mendapatkannya... Haruka segera menghapus-nya karena ia tidak kuat untuk terus mengingat-nya, ia tidak mau melihat Korrina dan Komi bertarung dengan ukuran yang sangat besar bahkan melebihi segala-nya.
Okaho tertawa terbahak-bahak ketika melihat masa depan tersebut, sepertinya masa depan yang dilihat-nya itu mampu membuat diri-nya tertarik sehingga Haruka menatap-nya dengan ekspresi yang terlihat mengancam, "Apa yang harus ditertawakan, hah? Bukan-nya itu buruk...? Aku bahkan tidak bisa merasakan keberadaan-mu loh..."
"Hahahahaha, maaf-maaf.... habis-nya semua yang aku lihat itu terlihat mustahil dan lucu, mana mungkin Mama akan memiliki kemampuan yang dapat mengubah ukuran tubuh-nya menjadi sebesar itu! Jika Komi melakukan-nya sudah sudah tidak ragu-ragu lagi karena dia adalah seorang dewi segala-nya, bukannya hanya dewa-dewi tingkat tinggi yang dapat mengubah ukuran tubuh mereka?" Okaho menatap Haruka.
"Kau ada benar-nya, tetapi... jangan meremehkan mortal seperti Mama, walaupun dia sudah menolak julukan sebagai seorang dewi, ia mampu bertambah kuat seiring waktu berjalan... dia benar-benar memiliki tujuan untuk bertambah kuat hanya mengandalkan jati diri-nya sebagai seorang Mortal serta kecerdasan atau pengetahuan yang dia miliki...."
"Uwaahhh, ide yang bagus tuh. Mari kita coba---" Haruka menghantam kepala Okaho dengan botol Vodka yang habis, "Dasar bodoh! Jangan bertindak gegabah seperti itu, realita adalah sesuatu yang tidak seharusnya kita ubah."
"Bukan-nya waktu lebih parah---" Haruka menghantam kepala-nya lagi dengan botol vodka lain-nya, "Sihir waktu dan aku adalah pengecualian, lagipula aku adalah anak yang baik dan bijak, tehe~" Haruka menjulurkan lidah-nya.
"Jijik banget! Kenapa aku harus mengalami reinkarnasi menjadi seorang adik dari gadis seperti-mu...!!?? Seharus-nya aku adalah kakak-mu!!!" Okaho menyilangkan kedua lengan-nya.
"Hehhhhhh..." Haruka tersenyum mengejek.
"Ck... Sial!"
***
__ADS_1
Haruka dan Okaho sedang dalam perjalanan menuju laboratorium milik Korrina yang baru dan juga sangat besar, mereka bisa melihat banyak sekali penemuan dan ciptaan yang sangat unik serta hebat ketika berjalan di sebuah lorong yang dipenuhi dengan kaca, kaca itu menunjukkan semua penemuan dan ciptaan milik Korrina.
"Sepertinya Mama benar-benar sibuk, apa bagus-nya sih menjadi seorang mortal...? Sangat menyusahkan." Okaho menatap semua ciptaan itu.
"Bukannya menarik? Ini pertama kalinya aku melihat mortal yang berjuang sebesar itu, maksud-ku itu, ya... jangan anggap Kuro dan Hikari dulu, sangat langka sekali bahwa kakek kita yaitu Zangges memiliki seorang cucu moyang yang ingin hidup dan bertambah kuat menjadi mortal biasa." Haruka tersenyum.
"Jadi itukah alasan kau memilih Korrina Co--- Mama, maksudku." Okaho hampir saja dihantam oleh botol vodka karena ia baru saja memanggil nama Ibu-nya sendiri, "Tidak... takdir mempertemukan kami, aku juga senang bisa menjadi putri dari Korrina Comi---"
Okaho menghantam kepala Haruka menggunakan vodka, "... ...!!!" Haruka melebarkan mata-nya lalu ia menatap Okaho yang terlihat seperti mengejek-nya.
"Heh! Kau baru saja melakukan kesalahan, Kakak bodoh!" Okaho tertawa terbahak-bahak.
Pintu yang terdapat di depan mereka terbuka lebar lalu menunjukkan Akina yang sedang memohon kepada Korrina sambil menangis, terdengar permintaan maaf yang berlebihan dari Akina karena ia pernah menyerang Korrina bahkan sempat untuk melukai diri-nya.
"Korrina... maaf... maafkan aku..." Kata Akina sambil menangis.
"E-Ehh... Jangan berlebihan seperti itu, Akina... astaga." Korrina berlutut lalu ia mengangkat kepala Akina yang tertunduk. "Aku sudah memaafkan kamu kok, lagipula kita ini sahabat 'kan?"
"Korrina.... aku sudah melakukan banyak kesalahan sejak awal kita bertemu, bukan-nya aku tidak sengaja membunuh-mu pada saat turnamen itu?"
"Jangan menghiraukan masa lalu, yang lalu biarkan berlalu. Sudahlah, aku memaafkan diri-mu." Korrina menghapus air mata Akina lalu mereka berpelukan sehingga Akina sekarang mengulang ucapan-nya berkali-kali untuk berterima kasih.
"Kenapa banyak yang meminta maaf berlebihan seperti itu kepada Mama sih...?" Okaho penasaran ketika melihat Akina yang baru saja menangis tersedu-sedu sambil mencoba untuk meminta maaf.
"Itu karena..."
"...dia adalah pahlawan Touri yang sudah menyelamatkan Touri!" Haruka tersenyum.
__ADS_1