Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 656 - Untuk Sekarang, Fokus dengan satu Tujuan


__ADS_3

"Gahhhh~" Koizumi mulai bermain dengan bayi Phoenix, Ophilia hanya bisa memperhatikan dengan wajah yang senang melihat Koizumi sangat imut dan kecil.


"Ahh~ Aku tidak menyangka cucuku akan seimut dan sekecil ini... dia juga bahkan sudah pandai berbicara dan mendengar." Ophilia mulai mencolek pipi Koizumi.


"Sepertinya dengan garis keturunan Comi, dia berkembang begitu cepat soal ilmu pengetahuan sedangkan nanti... aku yakin dia akan menjadi Legenda hebat karena garis keturunan Shimatsu."


"Itu benar, ibu, aku ingin Koizumi bisa mengikuti berbagai macam pelajaran dan tantangan sebagai Legenda agar ia bisa menjadi layak sejak..."


"...ketika sudah besar maka kita memiliki harapan baru yang di pegang oleh Koizumi." Kata Haruka sambil melihat Koizumi memeluk erat bayi Phoenix itu.


"Koizumi~" Arata mulai menempati beberapa camilan untuk Koizumi makan, ini pertama kalinya Haruka melihat Arata dan Ophilia sebahagia itu.


Mungkin dirinya dan Koizumi yang datang untuk melihat keadaan telah berhasil menghilangkan rasa khawatir dan penderitaan mereka menjadi Legenda yang sangat dibenci oleh seluruh penghuni Touriverse.


"Gwahhh... auuu..." Koizumi mendorong mangkuk itu karena tidak menyukai semua itu kecuali kentang goreng, ia mulai merangkak kepada Haruka.


"Kwentwang... Uwu..."


"Ayah, bisakah kamu membuat kentang goreng untuk Koizumi? Ia sangat menyukainya." Haruka tersenyum, Arata segera bergegas ke depan untuk membuatkan banyak kentang goreng.


"Masih bayi tapi sudah menyukai makanan seperti itu... apakah kamu merawat putrimu dengan benar, Haruka?" Tanya Ophilia.


"Tentu saja tetapi... Koizumi sangat nakal dan tidak bisa diam, 24 jam dia selalu aktif dan penuh energi karena pengendalian waktunya..."


"...dia berkembang dengan cepat, sama seperti diriku sejak itu. Untuk sekarang Koizumi sudah mau menurut karena kentang goreng." Haruka mengelus kepala Koizumi yang kembali bermain dengan Phoenix.


"Ibu... maaf untuk membahasnya lagi tetapi apakah semuanya akan baik-baik saja...?" Tanya Haruka, Ophilia hanya tersenyum pahit karena mau tidak mau dirinya harus bisa menerima situasi sulit seperti ini.


"Tidak apa-apa kok... sudah risiko dari atas sana, walaupun kita sudah di benci oleh beberapa orang, aku yakin masih banyak sekali orang yang mau menerima kami."


"Biarkan aku dan Arata merasakan apa yang Korrina rasakan sejak itu... dia dulunya keturunan Comi yang sangat terkutuk sampai semua tidak ada yang menerimanya."


"Tetapi semuanya berubah ketika dia mau berusaha untuk memperbaiki sesuatu, takdir sudah terlihat dengan jelas... cukup buruk bagi kita tetapi tidak terlalu karena kami masih memiliki keluarga dekat."


Ophilia tersenyum dengan tulus sampai membuat Haruka ingin membantu dirinya soal biaya juga nanti, ia akan memberitahu Rokuro soal semua ini.


"Kalau begitu aku harus memberitahu---"


"Tidak perlu repot-repot, Haruka. Kou sudah mengurusi semuanya untuk kami dan dia bilang bahwa ia tidak ingin mengacaukan kebahagiaan kalian berdua." Ophilia mulai mencolek pipi Koizumi.


"Aku setuju dengannya... lebih baik kalian merasakan kebahagiaan itu sebelum habis, puaskan lah diriku kalian dan jaga lah harapan baru kalian ini." Kata Ophilia sambil menatap Koizumi.


"Baiklah, kalau begitu..." Haruka mengangguk, melihat Kou ternyata sudah melakukan semuanya sendiri tanpa meminta bantuan apapun kecuali dirinya sendiri dengan ciptaan dan ilmu pengetahuannya.


"Terima kasih, Kou."


"Hm~ Sudah pekerjaanku kok..." Kata Kou sambil memperhatikan lensa kacamatanya untuk melihat beberapa berita yang terus bermunculan.


"Ini dia kentang goreng untuk cucuku tersayang!" Arata menempati mangkuk besar berisi kentang goreng sampai Koizumi menunjukkan ekspresi yang terlihat senang.


Bibirnya menjatuhkan beberapa air liur lalu ia mulai merangkak kepada mangkuk itu untuk mengambil beberapa kentang goreng dan memakannya dengan pelan.


"Mmmmm~" Koizumi menyentuh kedua pipinya karena rasa kentang itu terasa jauh lebih lezat di bandingkan milik Rokuro.


Haruka tersenyum melihat Koizumi bisa merasa bahagia seperti itu, untuk sekarang semuanya akan baik-baik saja tetapi ia masih mengkhawatirkan sejarah gelap yang terulang.

__ADS_1


Jika Legenda sudah mulai memunculkan ras kebencian dan perselisihan terhadap satu sama lain maka masa depan untuk bangsa itu akan terlihat sangat tidak jelas, bisa saja dipenuhi dengan peperangan.


"Kalau begitu aku harus pergi dulu..." Kou bangkit dari kursinya sehingga Haruka mulai menghentikan dirinya sebentar.


"Kou, boleh aku minta tolong...?"


"Ehh?"


***


Kou menggendong Koizumi yang saat ini masih memakan kentang goreng itu, ia melihat Haruka maju ke depan lalu memejamkan kedua matanya untuk melakukan sebuah ritual yaitu menciptakan dimensi alternatif lain.


"Gwahhh..." Koizumi mulai menawarkan Kou kentang goreng.


"Ehh...? Aku tidak begitu suka makanan cepat saji..." Kou menolaknya halus-halus dan Koizumi langsung memasang senyuman terbalik yang begitu sedih.


"Ba-Baiklah... satu saja, jangan menangis." Kou membuka mulutnya dan Koizumi mulai menyuapinya satu goreng sampai ia menekannya.


"Enak juga ya... tetapi madu jauh lebih lezat." Kou terkekeh sambil mencolek pipi Koizumi yang begitu tembam sampai ia tidak bisa menahannya.


"Kalau anakku sudah lahir... jadilah teman dan sepupu yang baik ya, Koizumi~"


"Uuuuuu..." Koizumi kembali memakan kentang gorengnya pelan-pelan selagi memperhatikan Haruka yang memunculkan cahaya surga dari dalam tubuhnya itu.


"Heaven's Time...!!!" Haruka melebarkan kedua matanya.


Ia menggunakan waktu surga untuk menciptakan dimensi alternatif yang sama dengan Yuusuatouri palsu tetapi memiliki sejarah yang berbeda di dalamnya.


Tidak memakan waktu yang cukup panjang sampai kedua jarum jam di matanya berhenti, Haruka mulai menatap kedua tapak tangannya dan ia tidak menanggung risiko apapun karena sudah menggunakan Heaven's Time.


Haruka pergi menghampiri Kou dan melihat air liur Koizumi membuat pakaian Kou basah karena dirinya yang merasa terlalu keenakan memakan semua kentang goreng itu.


"Astaga, Kou... maafkan, Koizumi. Dia memang tidak bisa mengontrol air liurnya ketika sedang memakan sesuatu yang enak." Haruka mulai mengusap pipi Koizumi yang berlepotan.


"Tidak apa-apa, dia masih bayi dan air liur bayi itu wangi juga... apalagi Koizumi." Kou mengangkat tubuh Koizumi sampai ia mulai tertawa.


"Twan... twe..."


"Rasanya aneh juga ya di panggil Tante." Kou terkekeh karena ukuran tubuhnya tidak cocok di panggil Tante.


"Panggil saja Kou, lebih mudah." Kou memberikan Koizumi kepada Haruka karena ia sudah kehabisan waktu, sudah saatnya ia mengunjungi tempat lain untuk melaksanakan tugasnya.


"Baiklah, aku akan pergi dulu." Kou melambaikan tangannya kepada Haruka dan Koizumi.


"Tatata~" Koizumi melambaikan tangannya dan Haruka mulai teringat tentang seseorang yang mungkin berkaitan dengan semua sejarah gelap dan aib yang kembali terbuka.


"Kou, tunggu."


"Hm?"


"Mungkin semua ini ada kaitannya dengan sepupu kita... Kojima Comi dan Kotoko Comi, mungkin kau harus memeriksa perpustakaan itu." Kata Haruka karena ia pernah mendengar sebuah cerita panjang dari Korrina soal keluarganya.


"Sudah tiga hari aku memeriksa perpustakaan di pusat kota itu... mereka tidak ada dan buku sejarah itu juga sepertinya di sembunyikan." Jawab Kou.


"Untuk sekarang, aku akan mengurus yang lain dulu dan setelah itu maka aku akan berbicara dengan mereka... lebih baik lagi jika aku bertemu dengan kedua tanteku." Kou mengaktifkan zirah bagian kepalanya.

__ADS_1


"Hati-hati, Kou. Selamat bekerja dan jangan memaksakan diri karena gadis hamil membutuhkan waktu istirahat yang panjang."


"Aku mengerti..." Kou mengangguk lalu ia terbang tinggi ke atas untuk mengunjungi Shira selanjutnya karena ia baru saja melihat beberapa pelanggannya yang protes.


Shira dan Megumi tidak melanjutkan pekerjaannya seperti biasa, mereka mungkin masih merasa sedih karena Minami yang sudah meninggalkan, semoga saja ia dapat membuat mereka kembali melanjutkan kehidupan.


"Semoga saja aku bisa bertemu dengan kedua sepupuku dengan cepat sebelum mereka mencoba untuk membuka aib lainnya..." Kou mengepalkan kedua tinjunya.


"Satu perselisihan muncul dapat menyebabkan kekacauan untuk yang lainnya... berlaku dengan bangsa Legenda tetapi aku juga menyadari sesuatu..."


"...bangsa Iblis juga sudah kembali ke awal, raja iblis mulai bermunculan dan mereka kembali menaklukkan apapun yang mereka inginkan karena ratu Selvia yang sudah gugur juga."


Pikiran Kou saat ini penuh dengan masalah bercabang sampai ia terus berharap bisa menyelesaikan semuanya sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk lagi.


Beberapa menit kemudian, Kou terkejut ketika melihat Shira sedang berdiri luar halaman selagi bertarung dengan Megumi, awalnya ia berpikir mereka sedang bertengkar tetapi ia bisa melihat Shira tertawa.


"Hahaha, Megumi... kau tidak akan bisa melawan musuhmu yang lebih tinggi jika seperti itu." Shira mulai melompat ke belakang dan melihat Kou mendarat di sebelahnya.


"Selamat siang..." Kou membuka zirah bagi kepalanya untuk menyambut mereka sehingga Shira dan Megumi langsung tersenyum lembut.


"Ahh, Kou, ada apa? Kamu membutuhkan sesuatu dari mertuamu?" Tanya Shira yang mulai mendekati dirinya.


"Aku hanya ingin memeriksa kondisi kalian... banyak sekali yang protes soal dagangan kalian tidak pernah kembali lagi." Kata Kou.


"Ahh... sudah waktunya kami untuk beristirahat dan pensiun dari dunia perdagangan sepertinya." Jawab Shira sampai mengejutkan Kou.


"Ehh...? Kenapa kalian ingin pensiun?"


"Kita sudah tidak tahan melakukan sesuatu yang begitu santai... aku sendiri hanya ingin fokus kepada satu tujuan utama sebelum melakukan hal yang lain."


"Bertambah kuat... aku sendiri sadar ketika bertarung melawan Zoiru memiliki kekuatan yang belum cukup untuk menandinginya." Shira mengepalkan kedua tinjunya.


Shira masih memiliki perasaan yang bercampur aduk bahkan dirinya masih bisa di bilang hancur karena perasaan sedih terhadap kehilangan putri dan kakaknya itu karena dirinya yang terlalu lemah.


Berkat bantuan dari kemampuan cahaya itu, Shira masih bisa menenangkan diri sebelum kemampuan cahayanya memasuki jalan kekuatan terhadap amarah yang besar.


"Megumi juga ingin berlatih denganku... jadi ya, kita fokus setiap hari dengan melakukan beberapa latihan dan tentunya aktivitas yang wajib untuk diri kita sendiri." Kata Shira.


Kou entah kenapa memiliki perasaan yang campur aduk juga, entah ia harus merasa lega atau khawatir karena mereka terlihat begitu memaksa untuk melakukan semua ini.


"Kalian tidak perlu memaksakan diri kalian sendiri... berlatih itu baik tetapi jangan berlebihan seperti itu." Kou mulai memeluk Megumi dan Shira untuk memenangkan mereka.


"Kehidupan itu harus tetap berjalan tahu...? Anggap saja kehidupan itu seperti roda yang berputar, terkadang kita akan selalu berada di atas dan bawah."


"Seimbang... untuk sekarang kita berada di fase roda bawah dan kemungkinan akan masuk ke tengah-tengah... kemudian kembali berbahagia." Kou menatap Shira.


"... ..." Shira meneteskan beberapa air mata karena dirinya sudah tidak memiliki motivasi mengetahui kakak dan putrinya mati begitu saja.


"Ck... aku cukup menyedihkan, Kou... aku terlalu naif... aku terlalu bodoh untuk berpikir kedamaian abadi itu memang akan terjadi tetapi ternyata tidak..."


"Apa yang aku dapatkan...? Kehilangan... tidak ada... rasa penyesalan yang dipenuhi rasa kesal karena aku tidak dapat menyelamatkan mereka berdua." Shira berlutut di atas tanah.


Kou bisa melihat Megumi mulai berlutut di sebelah Shira selagi mengelus punggungnya, situasi sudah terasa semakin buruk seketika sampai Kou mendapatkan panggilan lain dari Tech.


"Nyonya... terjadi keributan di desa Letania dan Lemanoka... kemudian terdapat pembunuhan masal yang tidak jauh dari desa itu."

__ADS_1


"A-Apa...?"


__ADS_2