
Hari yang sangat di tunggu akhirnya telah tiba, ketiga saudara Comi akan menikah di siang hari yang begitu cerah dengan para tamu yang sudah berdatangan agar bisa melihat acara itu sambil menikmati semua hidangan yang di siapkan.
"Hahhh... hampir saja, aku kita akan telat menyiapkan semua hidangan ini." Kata Ophilia, ia menghela nafas panjang karena merasa lega melihat semua hidangan sudah tertata rapi di atas meja.
Arata bahkan sampai melakukan sentuhan terakhir kepada kue pernikahan yang sangat besar dan tinggi, ia mulai menutupnya karena kue itu hanya di lihat ketika pernikahan sedang berlangsung.
"Silakan, kalian masih belum terlambat untuk mengunjungi acara pernikahan bahkan jika tidak terbagi tempat... kalian dapat melihatnya melalui siaran langsung." Kata Tech.
"Tech, kamu sekarang yang mengganti posisi Kou?" Tanya Shira.
"Benar sekali, tuan Shira. Kou saat ini sedang dandan bersama Megumi jadi ia tidak memiliki banyak waktu untuk mengurusi soal semua ini karena dia juga akan menikah." Jawab Tech.
"Begitu ya... apa masih lama? Banyak sekali orang berdatangan hanya untuk melihat dan tentunya makan semua hidangan yang lezat itu." Kata Shira sambil menatap semua hidangan di hadapannya.
"Setengah jam lagi, tuan Shira. Kita hanya perlu menunggu sampai semua tertata dengan rapi karena para tamu juga datang membawa hadiah untuk diberikan kepada pengantin baru." Tech berjalan pergi untuk merapikan semua hadiah itu.
"Pernikahan ini cukup besar dan meriah juga... padahal belum di mulai, cukup mengejutkan juga." Shira tersenyum lalu berjalan menghampiri hidangan untuk mencicipinya sehingga Arata menepuk lengannya itu.
"Di larang makan sebelum acara pembuka di mulai. Bisakah kau menahan perut yang berlubang hitam itu?" Tanya Arata.
"Hahaha! Aku datang secepat mungkin bersama Megumi sampai tidak sempat untuk sarapan, satu gigitan saja mungkin...?"
"Tidak, aku tahu apa yang kau rencanakan, Shira. Lupakan saja karena kau pasti akan hilang kendali dan memakan semuanya." Arata menghela nafasnya dan ia melihat Haruki datang menghampiri dirinya dengan pakaian formal.
"Ahh, Haruki, kenapa kau datang mengenakan pakaian itu? Bukannya wajib untuk kita bangsa Legenda mengenakan Kisetsu di sebuah pernikahan?" Tanya Arata.
"Aku memiliki sedikit urusan lagi di Zuutouri, mungkin aku akan berada di acara ini selama pembukaan, setelah itu aku akan pergi dan mengurus sesuatu." Kata Haruki sambil menatap jam tangannya.
"Eldritch lagi?"
"Ya, salah satu temanku memperingati diriku bahwa terdapat seekor Eldritch besar yang lepas, mencoba untuk melahap bangsa Vampir." Perkataan Haruki hanya membuat Shira menjawab dengan tatapan biasa.
"Kau terlihat biasa saja, Shira... kau tidak tertarik? Biasanya kau selalu tertarik dengan hal bodoh seperti itu."
"Bukannya tidak tertarik sih, urusan seperti itu sudah di urus oleh orang lain bukan? Lagi pula aku sendiri tidak ingin membunuh bangsa Vampir karena cahayaku..." Shira menghela nafasnya.
Arata dan Haruki langsung sadar apa yang ia maksud, tubuhnya yang mengandung cahaya tak terbatas bisa saja melepaskan cahaya secara tidak sengaja sampai membunuh bangsa Vampir.
"Benar juga ya... itulah kenapa aku tidak jadi mengajakmu." Kata Haruki.
***
"Sudah jadi, Kou... kamu terlihat sangat anggun dan cantik sekarang. Seperti mawar yang berkembang." Kata Megumi yang baru saja selesai memakaikan Kou lipstik.
Kou mulai menatap dirinya sendiri di hadapan cermin, pipinya memerah seketika karena ia tidak menyangka dirinya akan terlihat lebih dewasa ketika mengenakan gaun, lipstik, dan dandan lainnya.
"Apakah itu benar diriku...?" Tanya Kou dengan tatapan kaget.
"Hm~ Kenapa kamu menjadi tidak percaya seperti itu, kamu terlihat seperti pengantin sekarang. Aku hanya perlu menata rambutmu sekarang..." Megumi mulai menyisir rambut Kou dan memasang sebuah mawar juga aksesoris.
"Terima kasih, ibu..." Jawab Kou sampai mengejutkan Megumi.
"Ehh, ibu...? A-Ahh... sekarang aku telah menjadi ibu mertuamu ya, hehehe. Aku mengharapkan banyak kebahagiaan untukmu ya, Kou. Semoga Shuan bisa membuatmu bahagia." Kata Megumi.
"Hm! Tentu saja..."
Kou melihat Haruka dan Honoka dari cermin yang terlihat sudah siap juga, mereka terlihat begitu mereka karena dandanan serta gaya rambut yang mereka gunakan.
"Waahhhhh~ Kak Haruka dan Kak Honoka selalu terlihat cantik juga anggun... hebat..." Kou tersenyum lebar ketika melihatnya bahkan ia sampai bertepuk tangan.
"Bukannya Kakak terlihat begitu cantik ketika menggunakan gaya rambut seperti ini, Kou...?" Tanya Honoka sambil menatap Haruka yang mengikat rambutnya menjadi gaya ekor kuda.
"Hm! Sangat!"
"B-Benarkah...? Aku kira gaya seperti ini tidak cocok karena aku sering mengikat rambut bagian depanku... apa sudah saatnya untuk memanjangkan rambutku ya?" Ucap Haruka sambil mengusap rambutnya itu.
"Sepertinya kalian sudah sepenuhnya siap untuk melaksanakan pernikahan ini." Kata Chloe.
Yuuna sempat mengambil beberapa foto lagi lalu ia memberikan mereka beberapa bunga merah untuk di bawa pada pernikahan yang akan terjadi beberapa menit kemudian.
"Wahhhh! Pas... sangat pas! Kalian benar-benar terlihat sudah siap untuk menikah." Ucap Ophilia sambil menatap ketiga saudara itu yang terlihat malu.
Megumi kembali untuk memberitahu ketiga saudara itu, "Permisi, pernikahannya sebentar lagi akan di mulai. Apakah kalian bertiga sudah siap?"
""Hm! Kami siap!""
Kou mulai berjalan pergi untuk mengambil sebuah pigura yang menunjukkan Korrina agar ia bisa mendapatkan sebuah perasaan bahwa Ibunya sendiri melihat pernikahan itu.
"Kou... apa yang akan kamu lakukan dengan pigura itu?" Tanya Ophilia dengan tatapan yang terlihat penasaran.
"Aku akan meminta Tech untuk memegangnya agar kita bertiga bisa mendapatkan sebuah perasaan dimana Mama di sana melihat kita menikah dan tumbuh dewasa bersama." Kou tersenyum sampai membuat Ophilia dan yang lain terkejut.
"Kalau begitu biar aku saja yang memegangnya..." Ophilia mulai mengambil pigura tersebut lalu menatap mereka bertiga.
"...sekarang, sudah saatnya kalian untuk pergi dan menemui pasangan kalian." Kata Ophilia, ketiga saudara itu mengangguk lalu berjalan pelan keluar untuk menemui pasangan mereka yang sedang menunggu di tempat.
Beberapa menit kemudian, para tamu bisa melihat ketiga saudara itu berjalan keluar dengan pakaian yang terlihat begitu mencolok, mereka semua langsung terkejut ketika melihatnya bahwa pernikahan satu ini cukup berbeda.
Tiga pasangan akan menikah secara bersamaan bahkan pakaian mereka memiliki kesamaan juga yaitu warna merah, Shuan sempat menatap Kou dan itu membuat dirinya gugup.
Rokuro sendiri bahkan tersipu ketika melihat Haruka yang terlihat sangat berbeda ketika mengenakan gaun itu, Bakuzen merasakan perasaan yang berbeda ketika melihat Honoka sampai ia tidak menyangka akan menikah dengannya.
Ketiga saudara itu mulai berdiri bersebelahan dengan pasangan mereka, ketiga pasangannya mulai menggenggam erat tangan pengantin mereka, setelah itu mereka mulai saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Kau terlihat jauh lebih imut sekarang, Kou..."
"Hehehe, terima kasih..."
"Haruka, aku tidak menyangka kamu akan terlihat begitu berbeda sekarang... mungkin karena gaya rambutmu dan gaun itu."
"Hm~ Aku senang kamu bisa menyadarinya karena aku saat ini merasa sangat malu berhadapan denganmu..."
"Honoka... kamu terlihat sangat anggun, terima kasih karena sudah mau menerimaku."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu...? Aku sudah bilang sebelumnya bukan bahwa cerita yang baru akan di mulai sekarang... aku yang seharusnya berterima kasih..."
Tech mulai datang menghampiri mereka dengan mengenakan jas merah, ia mulai mengatakan beberapa pidato sebelum mereka sah menjadi pengantin baru juga suami dan istri yang akan menjalani kehidupan baru bersama.
Pidato itu berjalan selama sepuluh menit dan semua orang mulai mengambil beberapa foto untuk di jadikan sebagai kenangan juga.
"Melihat semua ini terjadi... kita benar-benar berjuang mati-matian dalam menghentikan Zangetsu ya...?" Haruki mulai berbicara.
"Ya, semua itu berkat harga diri kita sebagai bangsa Legenda yang mau berjuang dan bertanggung jawab atas semua kehancuran serta konflik yang kita tarik." Jawab Shira.
"Jika saja aku tidak bertemu dengan kalian, mungkin aku bisa saja menjadi sesosok Legenda berbeda yang merasa stres dan tertekan karena konflik yang terus bermunculan..." Shira tersenyum serius.
"Aku yakin melihat sumber kebahagiaan sebesar ini, masa depan akan tetap memancarkan cahaya harapan." Shira mengepalkan kedua tinjunya lalu menatap ke atas langit cerah yang menjatuhkan beberapa partikel cahaya emas.
""Ya, kau benar.""
"Mama..." Ungkap Haruka
"...sekarang waktunya..." Ungkap Honoka.
"...hari yang selalu Mama tunggu sejak itu." Ungkap Kou.
""Kami akan menikah hari ini sekarang juga...""
"Dengan ini, aku menyatakan kalian telah menjadi suami-istri sampai akhir hayat tiba. Di persilahkan untuk mencium pengantin kalian..." Ucap Tech yang mulai mundur beberapa langkah.
Shuan, Rokuro, dan Bakuzen mulai mendekati wajah mereka lalu memberi pasangan mereka sebuah kecupan di bibir sampai seluruh penonton mulai bertepuk tangan lalu melempar kelopak mawar yang berjumlah banyak.
Mereka telah resmi menjadi suami-istri, semua orang bersorak keras dan merasa bahagia ketika melihatnya. Para orang tua seperti Shira dan yang lainnya terlihat begitu bangga.
***
Setelah resmi menjadi suami-istri, mereka mulai memotong kue besar itu lalu membaginya kepada semua orang sehingga mereka menikmati kue itu bersama-sama.
"Shuan, Kou, Rokuro, Haruka, Bakuzen, dan Honoka. Selamat ya~ kalian resmi menjadi sepasang suami dan istri..." Minami mulai mengucapkan selamat kepada mereka bersama yang lainnya.
Mereka berenam langsung tersenyum dan mengangguk, ""Terima kasih.""
Setelah itu, mereka bersama mulai saling menikmati hidangan sambil bercerita soal masa lalu sampai titik akhir sekarang, perkembangan yang cukup jauh sampai titik sekarang.
"Oi, Haruki."
Haruki berhenti lalu menoleh ke belakang, "Apa?"
"Semoga beruntung, tunjukkan kepada bangsa Vampir bahwa bangsa Legenda akan selalu berkembang setiap pertarungan yang mereka lakukan." Kata Arata.
Haruki melihat Shira mengacungkan jempolnya selagi menikmati hidangan itu, Haruki langsung mengangguk dan tersenyum serius karena ia akan mengakhiri semua Eldritch itu dengan cepat agar bisa bersatu kembali dengan keluarga dan temannya.
"Jika Haruki pergi seperti itu mungkin aku juga sama... aku sudah merencanakannya sejak awal ketika turnamen permohonan." Kata Shira sambil mengusap bibirnya yang dipenuhi noda makanan.
"Tunggu, kau juga ingin pergi merantau seperti Haruki dan Korrina...?"
"Tidak, aku dan Megumi hanya ingin berlibur di tempat yang pernah kita kunjungi ketika sedang berdagang. Misalnya inti semesta Palouce dan Reaoum..."
"...kami hanya ingin mengistirahatkan tubuh dan pikiran kita karena sudah terlalu sering bekerja keras dalam berdagang." Shira terkekeh.
"Begitu ya... aku mengerti, semua orang membutuhkan istirahat yang panjang dan aku sendiri entah kapan. Restoran ku terlalu terkenal sampai aku harus buka setiap hari..."
"Ahahaha, pikir kembali kapan kau harus beristirahat, Arata. Legenda juga membutuhkan istirahat panjang untuk menenangkan jiwa dan pikirannya..." Shira bangkit dari atas kursi dan melihat Megumi sudah siap untuk pergi.
"Yah, jaga dirimu baik-baik, Arata. Mungkin kami akan beristirahat cukup lama karena harus mengunjungi berbagai macam tempat di Palouce dan Reaoum." Shira mulai menghampiri Minami dan Shuan.
"Anak-anak, sudah waktunya kami pergi berlibur. Kalian harus bisa menjaga diri ya, jangan terlalu bekerja keras sampai membuat tubuh kalian tidak stabil..." Shira mulai mengelus kedua kepala anaknya.
"Minami, aku harap kamu dapat memulai kehidupanmu menjadi seorang guru yang mau mengajar bangsa Neko itu." Kata Shira.
"Hm! Ketika Ayah kembali, lihat saja... bangsa Neko Legenda akan di kenal oleh seluruh orang dan di anggap sukses...! Berbeda dengan sebelumnya!" Jawab Minami dengan senyuman.
"Dan Shuan... selamat menikmati kehidupan barumu sebagai seorang suami."
"Tanggung jawab yang besar dan tentunya kau nanti akan mengurus seorang anak." Shira mulai tertawa lalu ia berjalan pergi sambil menggenggam tangan Megumi.
"Ayah sepertinya sudah berpikir jauh ya..."
"Tidak, aku hanya menantikan generasi baru dari keturunan Comi dan Shiratori, cucuku pasti sangat kuat, aku semakin bersemangat saja!" Ucap Shira dengan nada yang keras.
Shira menatap kembali Shuan dan Minami, "Jika terjadi sesuatu yang tidak kita harapkan... ingatlah, kalian adalah penerus ku jadi kalian tahu apa yang harus di lakukan."
""Ya! Serahkan kepada kami!"" Kata Shuan dan Minami.
"Sampai jumpa, aku akan bertemu dengan kalian nanti." Kata Shira sambil melambaikan tangannya kepada teman-temannya bahwa ia akan pergi berlibur.
"Kamu tahu Palouce dan Reaoum itu sangat jauh bukan...? Menghabiskan waktu selama berhari-hari atau berbulan-bulan..." Kata Yuuna.
__ADS_1
"Itu masalah kecil bagiku karena dengan kecepatan cahaya yang aku miliki sekarang, satu hari saja sudah cukup." Shira tersenyum serius lalu ia menatap Arata.
"Kau juga, Arata. Jangan sampai melupakan suatu hal yang penting tentang Yuusuatouri, masalah bisa saja datang kapan pun."
"Kau benar... itulah kenapa aku selalu siap siaga dalam segala hal, Shira." Jawab Arata.
"Kita harus berpisah sementara ya... aneh juga." Shira terkekeh lalu ia menggenggam erat tangan Megumi.
"Baiklah, sampai jumpa lagi." Shira dan Megumi mulai memancarkan cahaya emas yang cerah sehingga mereka melakukan perpindahan cahaya menuju Palouce.
***
~Heaven~
"Sudah waktunya ya... era dan generasi baru di mulai, Touriverse sudah hampir berumur 100 biliun tahun..."
"...ketiga anakku akhirnya menikah." Korrina tersenyum sambil menatap buku emas yang ia pegang, buku yang menggambarkan Touriverse saat ini.
"Semoga kalian hidup bahagia... Haruka... Honoka... Kou... teman-teman..." Korrina tersenyum lebar dengan air mata yang menetes.
~Yuusuatouri: The Intermediate of a Legenda - End~
~Fin~
...
...
...
...mati
...tidak
...ingin
...
...
...
...tubuh
...
...
...
...neraka
...
...
...kebencian
...
...
...
...rendah
...penderitaan
Zangetsu muncul tepat di belakang Zoiru yang saat ini sedang memberi Bamushigaru beberapa ras yang naga itu anggap sebagai makanan lezat.
"Zangetsu... apa yang kau inginkan dariku? Kedatanganmu entah kenapa membuat diriku muak lama kelamaan." Zoiru bangkit lalu menatap Zangetsu dengan tatapan serius.
"Brengsek... berani-beraninya kau membantah perintah kami dalam menghancurkan mereka semua, semuanya terlambat karenamu." Zangetsu mulai memegang erat kerah baju Zoiru.
"Memangnya kenapa? Apa yang aku dapatkan... apa hasilnya akan tetap sama ketika aku membunuh Legenda yang bernama Shiratori Shira itu? Bukan hanya ia saja tetapi masih banyak bukan..."
Zangetsu mulai melakukan perpindahan bersama Zoiru menuju kediaman tersembunyi dari Ayahnya itu yang bernama Zenzaku.
Zoiru menoleh ke arah Zenzaku yang sedang duduk di takhtanya dengan ekspresi kesal karena ia sudah meminta Zoiru bersama dewa agung lainnya untuk menghancurkan Yuusuatouri.
Sampai sekarang Zoiru tidak pernah melaksanakannya karena baginya, itu tidak menarik karena keagungan dan harga dirinya yang ia miliki terlalu tebal sampai ia tidak menerima perintah siapa pun.
"Zoiru! Sudah berapa kali kau mengecewakan diriku, sejak masa itu sampai sekarang kau tidak pernah melaksanakan apa yang aku perintahkan..."
"...peringatan terakhir, hancurkan Yuusuatouri dan bunuh Shira bersama seluruh orang yang ia kenal...!!!"
"Perintah yang sama seperti biasanya..." Zoiru menghantam wajah Zangetsu tanpa perlu melihatnya sampai ia terhempas ke belakang dan memuntahkan banyak darah.
Zangetsu dan Zenzaku terkejut ketika melihat Zoiru membantah dengan kekerasan sekarang.
"Maaf, aku sebagai dewa agung Oath, Zoiru, menolak apa yang kau inginkan karena aku sendiri memiliki rencana apa yang aku inginkan bersama peliharaan ku Bamushigaru..."
"Arti lainnya..."
__ADS_1
"...aku menolak."