Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 1087 - Sembilan Ekor


__ADS_3

Haruki langsung menangkis serangan Brimgard sampai lengannya putus karena menerima dua tebasan dari pedangnya itu yang langsung menyebabkan refleks kepada dirinya untuk mundur ke belakang.


 


"Hah... Hah... Hah..." Shira menatap Haruki yang berada di hadapannya dengan tatapan serius karena ia berhasil memulihkan semuanya dengan benar sampai dirinya akan mencoba sebisa mungkin untuk melawan Brimgard.


"Waktumu sudah habis, mungkin sudah saatnya aku yang mengurus semua ini... hanya tersisa satu nyawa." Haruki memegang erat kedua pedangnya lalu ia merasa kesal ketika mengetahui Arata gugur begitu saja tanpa memberitahu mereka.


"Tidak ada lagi namanya tiga Legenda legendaris ya, cukup menyedihkan... awalnya kita bertiga bisa melangkah maju agar bisa lepas dari perbudakan layer lalu mencari bersama-sama jawaban yang terpendam itu." Haruki melakukan kuda-kuda berpedangnya.


"Bergembiralah, tidak ada yang namanya kematian sia-sia di hadapan diriku karena kalian sudah bertarung dengan penuh harga diri sebagai bangsa Legenda yang membuat ketangguhanku berkurang!" Kata Brimgard.


"Pujianmu dapat kami terima sepertinya, tetapi pertarungan dan peperangan ini masih bisa dihitung sebagai penghakiman dimana kita yang memutuskan siapa akan mati!!!" Haruki melesat maju menuju arah Brimgard.


***


Hana melepaskan banyak sekali naga Leviathan yang mencoba untuk menabrak tubuh itu, tetapi sembilan ekornya itu langsung menangkis semua sihir tersebut lalu menyerangnya dengan melancarkan gumpalan putih.


Rubah itu melepaskan gelombang kekosongan lainnya kepada mereka tetapi Koizumi langsung menyerapnya menggunakan pedang Greed itu sampai ia mulai terbiasa dengan kemampuan yang dinamakan sebagai Nothingness.


Rubah itu langsung melangkah menuju arah mereka untuk mencoba menyerangnya dengan cakar yang panjang serta injakan dari keempat kakinya itu, "Bersiaplah...!"


Rubah itu mendarat di hadapan mereka sampai melepaskan angin yang menghembus rambut mereka, rubah itu melancarkan satu cakaran menuju arah mereka yang langsung menghindar menuju arah berbeda.


"Daya kekuatan dan kecepatannya telah meningkat cukup drastis...!" Peringat Ako.


Rubah itu mulai mencoba untuk melukai Koizumi, Hana, Ako, dan Yuri yang terus menghindari semua serangan itu selagi mencoba untuk merancang sebuah strategi agar bisa melawan dirinya itu.


Rubah itu mulai menghantam dan menginjak-injak daratan sampai menimbulkan banyak sekali dorongan dan tekanan di sekitar mereka yang langsung menghempas banyak sekali pasukan di sekitarnya.


"Baiklah...! Maju!!!" Koizumi melesat menuju arah rubah itu lalu ia bisa melihat dirinya mencoba untuk melepaskan satu tebasan menggunakan cakar itu tetapi ia berhasil menghindarinya.


Ako dan Yuri mulai mengepung rubah tersebut dari depan serta belakang dengan panah yang mereka sudah siapkan untuk mencoba sebisa mungkin menahan pergerakannya agar Hana dan Koizumi bisa menyerang dirinya.


"Sepertinya terlihat kebingungan kemana dia akan menyerang dengan jumlah kita yang mencoba untuk mengepung dirinya..." Batin Hana.

__ADS_1


"Bagus! Sekarang...!" Seru Hana sehingga mereka semua menyerang rubah itu dari arah yang berbeda untuk menciptakan rasa bingung kepada rubah itu yang tidak tahu akan menyerang kemana.


Serangan mereka sudah hampir kena, tetapi tubuh mereka menerima tegangan kuat ketika keenam mata rubah itu memancarkan cahaya merah yang berhasil mengetahui cara agar menyerang mereka sekaligus.


Ekornya berhasil menghantam tubuh Koizumi dan Hana sampai mereka terpental ke belakang sedangkan untuk Ako dan Yuri mereka menerima banyak sekali injakan yang melepaskan dorongan besar sampai menghempas mereka ke belakang juga.


"Gawat sekali..." Koizumi dapat melihat mata rubah itu terus memancarkan cahaya merah yang berkedip-kedip seperti mencoba untuk menganalisis mereka.


"Oi! Hati-hati, dia mencoba untuk merencanakan sesuatu...!" Peringat Hana.


Rubah itu langsung memunculkan banyak sekali celah di belakang sembilan ekornya dimana semua itu langsung berpindah tepat di dekat mereka sampai menghantam keempat gadis itu satu per satu sampai menerima sayap yang banyak sekali karena ketajaman dari bulu ekornya itu.


Rubah itu menyerang secara membabi buta menggunakan sembilan ekornya itu sampai mencoba untuk mengubah tubuh mereka menjadi potongan kecil.


Semuanya menerima serangan ekor itu karena saking cepatnya serta tidak bisa diprediksi kapan akan muncul, Koizumi tidak dapat membaca masa depan sepuluh detik ke depan karena ia akan langsung menerima serangan itu.


Hana melihat ekor sembilan itu mencoba untuk meremukkan tubuh Koizumi yang baru saja bangun, "Koizumi! Di belakangmu...!!!"


Koizumi menoleh ke belakang lalu ia melihat semua ekor itu menerima tembakan energi dari atas langit dimana dirinya bisa melihat Konomi datang tepat waktu untuk membantu dirinya.


"Untungnya aku datang dalam waktu yang tepat." Konomi mendarat di sebelah Koizumi yang langsung mengangguk untuk memperlihatkan rasa terima kasihnya.


Rubah itu melancarkan tangannya kepada Konomi dan Koizumi, mencoba untuk menangkap mereka agar bisa menghancurkannya tetapi kedua gadis Legenda itu langsung menghindari serangannya dengan melompat ke belakang.


Konomi melihat rubah itu menandai dirinya, "Apakah kau mengarah diriku karena aku terlihat lemah di hadapanmu...?"


Konomi melepaskan tembakan peluru energi menuju arah rubah tersebut tetapi ia membalasnya dengan melepaskan banyak sekali gumpalan putih yang berhasil melenyapkan semua pelurunya itu.


Tetapi Koizumi berhasil menyelamatkan dirinya dengan melempar pedang Greed menuju gumpalan Nothingness itu hanya untuk menghisapnya sampai habis.


"Roaaaaggghhhhh...!!!" Rubah itu mulai melangkah lagi dan lagi sampai menyebabkan ruang ketiadaan itu berguncang dengan dahsyat setiap dia melangkahi daratan yang tak terlihat itu.


Rubah itu mengangkat sembilan ekornya hanya untuk melepaskan banyak sekali tembakan peluru energi yang langsung menyebar di sekitar medan perang, "Gawat...! Dia juga mengincar pasukan lainnya."


"Kemungkinan besar rubah ini memang hilang kendali sejak awal jika menyerang secara membabi buta sampai tidak memedulikan siapa musuh aslinya itu!" Kata Ako.

__ADS_1


Semua tembakan peluru itu langsung mereka atasi dengan melancarkan serangan yang menimbulkan banyak sekali ledakan, semua pasukan Touriverse dan Kountraverse langsung memunculkan perisai besar di atas langit agar bisa berlindung dari serangan tersebut.


Rubah itu langsung melompat ke belakang sampai menimbulkan dorongan besar menuju arah mereka sampai berkumpul dalam satu posisi, "Apakah semuanya baik-baik saja?"


Konomi menanyakannya selagi melempar botol ramuan untuk mereka minum agar bisa menerima sedikit pemulihan, "Ya, terima kasih, mungkin sekarang kita harus mengakhiri Beast Kitsuna satu ini."


Hana hanya bisa diam ketika dirinya sadar bahwa ia telah terjatuh ke dalam era yang bisa dibilang cukup baru dimana ingatannya langsung membawa dirinya kembali menuju masa-masa dimana seluruh temannya pernah bekerja sama juga.


Tetapi fakta menyedihkannya adalah mereka sudah gugur satu per satu sehingga menyisakan dirinya yang masih hidup, "Tante!"


Hana langsung kembali sadar ketika Koizumi memanggil dirinya dari dekat, "Ada apa?"


"Bisakah kau menciptakan sihir area air agar semua dorongan dan tekanan yang kita semua lepaskan tidak menyebar sampai medan perang?"


"Kita akan mengakhiri semuanya sekarang juga...!" Kata Koizumi yang mulai memunculkan pedang Wrath dan Greed yang akan ia gunakan untuk melawan Beast Kitsuna itu.


"Baiklah." Hana mengangkat kedua lengannya sampai memunculkan banyak sekali gelombang air di sekitar mereka yang mampu menjebak kelima gadis itu bersama Beast Kitsuna.


Dengan ini mereka tidak perlu mengkhawatirkan pasukan Touriverse yang akan terkena dampaknya, kelima gadis itu sudah memutuskan untuk mengakhiri kehidupan rubah itu secepat mungkin.


"Raaggghhh...!!!" Rubah itu melepaskan raungan yang sangat keras sampai ketiga mulutnya mulai mengisi gumpalan putih yang akan mereka lepaskan menuju ketiga gadis itu.


"Dia juga memutuskan untuk mengakhiri kita secepat mungkin karena tahu bahwa kehidupannya terancam dalam area kecil ini." Ako langsung melepaskan aura besar melalui tubuhnya.


Konomi memunculkan banyak sekali Railgun di sekitarnya hanya untuk menembak rubah tersebut agar ia merasa terganggu ketika mencoba untuk mengisi seluruh kekuatannya.


"Kita akan melakukan ini bersama-sama...!" Koizumi mengatakannya dengan ekspresi serius karena mereka semua memiliki peran yang cukup membantu dalam pertarungan ini.


Yuri melepaskan banyak sekali panah mawar menuju arah rubah itu yang langsung tumbuh besar menjadi bunga mawar yang dijadikan sebagai perisai untuk menahan serangan rubah tersebut.


Ako mengisi sihir pusaran lubang hitam untuk dilempar menuju arah rubah itu, walaupun membutuhkan waktu yang lama dirinya tetap sebisa mungkin untuk memperbesar pusaran lubang hitam tersebut.


Konomi terus menembak tubuh rubah itu sampai ia kesulitan untuk fokus mengisi penuh kekuatan tersebut, "Koizumi, kau bisa menahan dirinya bukan?"


"Ya, selama sirkuit sihir yang aku miliki masih bisa dikendalikan dengan baik." Koizumi menunggu aba-aba dari rubah itu yang mencoba untuk menyerang pertama atau tidak.

__ADS_1


"Kalau begitu, tahanlah dia, aku akan mengumpulkan seluruh Lenergy di dalam tubuhku." Hana memejamkan kedua matanya sampai tubuhnya diselimuti dengan gelembung air yang mulai membentuk sedikit demi sedikit.


"Ya, ayo...! Kita akhiri pengacau medan perang itu!"


__ADS_2