Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 36 - Untuk yang terakhir kali-nya


__ADS_3

"BAJINGAAAANNNNN!!! KELAS TIGAAAAAAAGGGGGGHHHHHHHHH!!!" Teriak Katrina keras sehingga seluruh tubuhnya mulai terbakar dengan api-api sacred-nya, teriakan itu mampu membuat Katrina terjebak di dalam ruangan ilusi dimana ia bisa melakukan apapun di tempat itu seperti melampiaskan kemarahan-nya adalah salah satu contoh, "HRGGHH... HRRRGGHHHH... HAAAARRGGGHHH..." Katrina mulai bernafas dengan sangat kasar.


Katrina mengangkat kedua lengannya sehingga kedua lengannya mulai terbakar dengan api sacred yang berwarna biru tua, "PUTRI KETIGA COMI YANG DIRUMORKAN UNTUK MENJADI DEWI SACRED-NYA TIDAK MEMILIKI KEKUATAN LEMAH SEPERTI INI!!!" Teriak Katrina keras sehingga seluruh tubuhnya mulai terbakar dengan api sacred kecuali kepalanya, ia mendarat di atas tanah lalu ia mulai mengamuk dan menghancurkan apapun yang ia lihat di ilusi ruangan tersebut tanpa memikirkan tujuan dan rencananya lagi, ia benar-benar telah kehilangan kendali dan akal sehatnya.


Di sisi lainnya, Shira masih memantau pertarungan antara Rexa melawan Majiru dan Agfi melawan Sabrina, sepertinya pertarungan itu berjalan cukup lancar sehingga Majuri dan Sabrina terluka cukup parah mereka berdua. Sabrina bangkit dari atas tanah lalu ia mulai meluncurkan api sacred di perut Agfi sehingga ia terpental ke belakang dengan perut yang terbakar, "Kakak!" Rexa mencoba untuk menyelamatkan Agfi, tetapi Majiru langsung memegang wajahnya dan mendorongnya mundur, ras iblis mampu memanjangkan kedua lengan dan kakinya. 


Rexa terdorong ke belakang sehingga mengenai tembok akademi, Sabrina mulai melempar katana-nya ke arah perut Agfi sehingga katana itu menusuk perut Agfi dengan sangat dalam, "HUGGHHH!!!" Agfi memuntahkan banyak sekali darah sehingga ia mulai berubah menjadi seorang Legenda yang berbeda, ternyata itu adalah Agfi palsu. Majiru menyadari itu dan ketika ia melihat kejadian tersebut, ia langsung meluncurkan gelombang sihir berwarna hitam tepat di depan Rexa. *BAM!* "AAAARRRRRRRRGGGGHHHHH!!!" Teriak Rexa kesakitan sehingga ia mulai berubah menjadi Legenda lain lagi.


Sabrina menunjuk mereka berdua lalu ia mengumpulkannya di depan selagi menjebak mereka di aura Sacred-nya, "Wah-wah. Sepertinya ada penghianat yang mencoba untuk menyerang kita. Sihir ilusi kalian sangat lemah dan mudah untuk ditebak..."" Ucap Sabrina, Majiru melompat menuju arah Sabrina lalu ia mendarat disebelahnya selagi menatap dua gadis yang berasal dari kelas empat dan kelas satu di mulai dari Ichinose Yuuna seorang Saint Soul dan Arceolus Mina seorang Legenda yang mampu memanipulasi sel. Tujuan mereka menyamar menjadi Agfi dan Rexa adalah agar Sabrina sadar dan ketakutan bahwa mereka akan melawan anak dari Korrina, biasanya seorang putri dari seorang ibu yang kuat akan memiliki kekuatan yang jauh lebih kuat dari ibunya sendiri.


Yuuna bisa meniru wujud Agfi karena ia memiliki kekuatan Saint Soul dimana sihirnya dapat meniru sebuah arwah seseorang yang ia lihat dengan kedua matanya yang berlambang tengkorak lalu arwah itu memasuki tubuhnya sehingga ia bisa berubah menjadi Agfi Ghifari sedangkan Mina, dia ini seorang Legenda yang memiliki kekuatan untuk memanipulasi sel apapun jadi ia bisa menghalang seluruh tubuhnya dengan sel kulit dan daging dari seseorang yang ia lihat, dia juga bisa berubah wujud menjadi seseorang ketika ia sudah menganalisis sel yang ia lihat. Sepertinya Mina sudah menganalisis seluruh sel dari Rexa Ghifari.


Shira menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut dan lelah, terkejut karena ia sudah bisa melihat jelas bahwa cara bertarung Agfi dan Rexa terlihat berbeda dari yang asli, lelah karena kedua penglihatannya sudah tidak bisa mempercayai apapun yang ia lihat karena konflik tentang Korrina ini dipenuhi dengan ilusi sehingga ia sudah muak dan bosan mendengar atau melihatnya, "Ichinose Yuuna dari kelas empat dan Arceolus Mina dari kelas satu... Apakah kalian siap untuk menanggung konsekuensinya?" Tanya Sabrina.


Majiru mulai memukul telapak tangan kirinya sehingga membuat mereka berdua ketakutan, Sabrina menunjuk mereka berdua dan siap untuk membakar mereka hidup-hidup, tetapi ia langsung mendapatkan sebuah panggilan dari Katrina dengan menggunakan sihir telepati, "Kakak, sudah saatnya kita melapor dan melaksanakan rencana terakhir karena kita sudah memiliki bukti besar. Termasuk dengan semua pemandu yang mulai curiga juga." Ucap Katrina.


Sabrina tersenyum dengan sangat jahat ketika mendengar itu, "Apakah mereka semua mulai mencurigai Korrina?" Tanya Sabrina, "Ya... Aku sudah bisa melihat banyak sekali poster yang menunjukkan kak Korrina dimana terdapat tulisan di cari." Ucap Katrina.


Sabrina langsung menunjukkan ekspresi yang terlihat senang sekali karena sebentar lagi Korrina akan dikeluarkan dari akademi dan itu artinya Korrina tidak akan bisa memenangkan Tournament of Solicication, "Baiklah!!! Aku akan menyusulmu di ruangan kepala akademi!" Ucap Sabrina sehingga ia mulai berhenti menghubungi Katrina, ia melirik ke belakang lalu menatap wajah Majiru yang terlihat seperti ingin secepatnya membunuh kedua gadis itu, "Majiru, aku serahkan sisa-nya kepadamu." Ucap Sabrina, ia mulai menghilang dan pergi dari ruangan ilusi itu.


"Sudah waktunya, aku menghabiskan kalian!" Kedua lengan Majiru mulai terlumuri dengan aura hitamnya, tetapi Shira muncul di depannya lalu ia mulai mendorongnya mundur sehingga Majiru lengah terhadap keberadaan dan kecepatan Shira, Majiru menatap ke depan dimana ia melihat Shira dengan mata kanan-nya yang bersinar cerah, "Aku tahu bahwa kau selama ini mengikutiku dan nona Sabrina, sepertinya aku baru saja mendapatkan tiga jatah untuk dihabiskan." Majiru mulai menggerakkan lehernya sehingga lehernya mulai mengeluarkan sebuah suara tulang yang retak.


CRACK!


Shira mulai menatap Majiru dengan ekspresi yang terlihat serius, ia tadi tidak membantu Yuuna dan Mina bertarung karena ia yakin bahwa ia hanya akan membebani mereka semua karena Sabrina adalah seorang Legenda yang jauh lebih kuat dari dirinya sendiri, "... ..." Shira tidak mengeluarkan kata apapun karena ia yakin bahwa Majiru adalah iblis yang sangat kuat dan tidak bisa diremehkan begitu saja, Shira juga yakin bahwa ia bisa bertarung melawan Majiru dengan kekuatannya saat ini karena dia sudah berlatih di ruangan imajinasi itu, jadi ia harus terus yakin dan mencoba untuk tidak terlalu percaya diri.


SWOOSSSHHH!!!


Majiru melesat menuju arah Shira lalu ia mulai memukul seluruh tubuhnya tanpa henti dengan kecepatan suara, pukulan Majiru bergerak secara bertubi-tubi, tetapi Shira menahan semua serangan itu dengan kedua lengannya. Shira mulai terdorong ke belakang karena serangan Majiru yang bertubi-tubi. Setiap pukulan yang mengenai pertahanan Shira maka sebuah dorongan dan ledakan mulai bermunculan di sekitar mereka, "Kuat sekali... Aku tidak yakin bahwa wujud Saint Enchanted-ku itu akan cukup untuk dirinya." Ungkap Shira yang mulai melompat ke atas lalu muncul di depannya selagi melepas perban yang ada di lengan kirinya.


"Enchantment Light!" Lengan kiri Shira mulai bersinar cerah sehingga Majiru tidak bisa melihat lengan kirinya yang sudah dilindungi dengan sinar cahaya kuning, Majiru melesat ke depan lalu ia memukul Shira lagi tanpa henti menggunakan kedua tinjunya, tetapi Shira menahan semua serangan itu dengan hanya menggunakan lengan kirinya saja yang bersinar cerah dan meresap pukulan yang dikerahkan Majiru.


Shira masih saja terpojoki ke belakang karena serangan Majiru yang bergerak sangat cepat, "Cih...!!! HAARRRGGGHHH!!!" Teriak Shira keras sehingga ia melepaskan dorongan yang besar dan mampu membuat Majiru terdorong ke belakang, Shira melepas perban di mata kirinya sehingga mata kirinya mulai bersinar dengan sangat cerah dan mampu membuat Majiru terdorong ke belakang, kedua matanya juga mulai silau ketika menatap mata kiri Shira yang bersinar tanpa henti dan tanpa batasnya, "HAAAAAAAAAARRRRRRRRRGGGGGGHHHHHHHHH!!!" Shira perlahan-lahan mulai meningkatkan aura-nya dan rambutnya mulai perlahan-lahan berubah menjadi emas.


"GRAAAAGGGHHHH!!!" Shira mengepalkan kedua tinjunya sehingga sebuah cincin emas muncul di belakang punggung-nya, Shira membuka mata kanannya yang mulai membentuk sebuah pupil yang berwarna emas, itu artinya Shira sudah mengendalikan wujud itu sampai potensi penuhnya, "HAAAHHHHHH!!!" Shira melepaskan dorongan yang besar lagi sehingga membuat Majiru merasa kesal karena Shira terus meluncurkan beberapa dorongan lagi dan lagi.


Majiru menatap ke depan dan kedua matanya terus tersinari dengan cahaya yang terdapat di mata dan lengan kiri Shira, "Enchantment Testament Light!" Seluruh tubuh Shira mulai merasa kesakitan dan merasa kuat, Shira mulai menatap Majiru dengan ekspresi yang terlihat serius dan sepertinya Shira bisa mengendalikan Enchantment Testament Light untuk sementara karena sihir itu juga bisa dikendalikan ketika si pengguna sedang bertarung melawan seseorang yang tangguh, "Enchantment Light Creation: Caliber of Light!" Shira mulai menciptakan sebuah pedang cahaya melalui lengan kanannya lalu ia memegang gagang pedang itu menggunakan tangan kanannya.


Shira mulai menunjukkan kuda-kuda berpedangnya, Shira sudah memiliki bakat di dunia asli dimana ia bertarung dengan pedang menggunakan tangan kirinya, Majiru menyadarinya dan hal itu membuat dirinya terkejut dan bingung, "Apakah dia berpikir untuk melawanku menggunakan pedang yang ia pegang di tangan kirinya...?" Ungkap Majiru. Ia mulai tersenyum dengan sangat lebar melihat wajah Shira yang terlihat serius.

__ADS_1


Majiru mulai mengambil pedang-nya yang berada di dadanya, ia mulai memasukkan lengan kanannya ke dalam dadanya lalu ia menarik tulangnya yang mulai membentuk sebuah pedang, "Death Skezet!" Majiru menamai pedang tulang tajam itu dengan nama Death Skezet, Shira bisa mendeteksi beberapa racun di pedang tersebut melalui mata kirinya. Mereka berdua mulai melesat menuju arah satu sama lain selagi mengayunkan pedang mereka dengan bersamaan.


CLAAAAANG!!!


Mereka mulai mengadukan pedang mereka beberapa kali sehingga racun yang terdapat di pedang milik Majiru mulai menghilang karena pedang cahaya Shira yang bernama Caliber of Light, Shira melesatkan kaki kanannya menuju arah kepala Majiru, tetapi Majiru menahan tendangan itu menggunakan pedangnya sehingga Shira melompat ke belakang. Mereka berdua mulai melesat ke atas selagi mengadukan pedang mereka, mereka melakukan hal itu selagi terbang ke segala arah.


CLANG! CLANG! CLANG!


Mereka sekarang mulai bermunculan di sekitar tebasan dan mulai saling menebas satu sama lain, Yuuna membuka mulutnya dengan sangat lebar ketika melihat pertarungan mereka yang terlihat sengit. Majiru mulai menangkis pedang Shira ke atas lalu ia mulai memegang lengan kanannya dengan sangat erat dan mencoba untuk tidak melepasnya, "Sepertinya kau adalah Saint Light yang malang karena sudah didaftarkan di akademi yang dipenuhi dengan saingan tangguh sekali. Aku akan tunjukkan saingan tangguh itu---" Shira menebas wajah Majiru sehingga itu membuatnya kesal, ia muncul di belakang Shira lalu ia mendorongnya menuju daratan.


BAAMMM!!!


"Grrrgghhh!!!" Majiru mulai menyentuh luka tebasan yang terdapat di wajahnya dan ia bisa merasakan darah yang keluar, "SIALAN---" Majiru tiba-tiba melihat Shira yang mulai menarik pelatuk dari senjata api yang bisa disebut dengan machine gun, Majiru mulai menunjuk semua peluru cahaya itu lalu ia mulai memukul langit-langit sehingga semua peluru itu melesat kembali menuju arah Shira. Majiru baru saja menggunakan sihir Death Presence, dimana ia bisa mengendalikan sihir apapun dengan menggunakan kedua telapak tangannya lalu mengirimnya kembali kepada seseorang yang telah meluncurkannya.


Shira melempar machine gun cahaya-nya ke depan lalu ia melompat ke atas dan menghindari semua peluru yang bergerak cepat itu. Shira melesat ke depan dan memotong beberapa peluru menggunakan pedangnya lalu ia mengayunkan pedangnya secara horizontal menuju arah Majiru dan Majiru langsung menahannya sehingga ia terpelanting ke belakang, Shira melesat lagi menuju arah Majiru dan ia mulai mengayunkan pedangnya beberapa kali, tetapi Majiru menangkis semua serangan itu sehingga mereka berdua mulai saling mengadukan pedang mereka.


CLANG! CLANG! CLANG!


Setiap pedang mereka yang teradu dan mengeluarkan suara bising, daratan mulai retak dan langit-langit mulai kehilangan awan-awan yang melayang. Yuuna dan Mina bahkan menutup rapat kedua telinga mereka karena jika mereka tidak melakukannya maka gendang telinga mereka akan pecah sehingga mereka tidak bisa mendengar lagi, "Apakah kau merasa puas bertarung dengan saingan tangguh itu?!" Tanya Majiru selagi mengayunkan pedangnya beberapa kali dan Shira menahan semua serangan itu, "Tidak cukup!"


Shira mengayunkan pedangnya dari arah kiri dan Majiru berhasil menahannya menggunakan pedangnya. *CLANG!* "HARGH!!!" Majiru menendang kepalanya dan Shira menyerang balik dengan mengayunkan pedangnya secara vertikel, tetapi Majiru menghindari serangan tersebut lalu ia menunjuk wajah Shira, "Death Shockwave!" Telapak tangan kiri Majiru bersinar hitam sehingga melepaskan dorongan yang mampu membuat Shira terpental ke belakang.


Shira melirik ke belakang lalu ia menancapkan pedangnya di tembok yang ada di sebelah kirinya, akademi Solicitation mulai hancur dan mereka tidak memperdulikannya karena mereka sedang berada di dalam ruang ilusi, "Kau masih menahan diri sepertinya." Shira menyadari sesuatu kesalahan yang dilakukan Majiru yaitu menahan diri, "Kau juga." Jawab Majiru karena Shira juga terlihat seperti menahan diri.


Shira mulai menciptakan sebuah revolver di tangan kanannya lalu ia menarik pelatuknya dan membidik semua kepala tengkorak itu dan menembakkan peluru cahaya, semua peluru yang ia tembakan mengenai sasaran yang Shira incar sehingga semua tengkorak itu langsung hancur, Shira berpengalaman juga dalam hal menembak di dunia nyata karena ia sering pergi latihan menembak, Shira melihat beberapa kepala tengkorak yang melesat menuju arahnya, "Cih!" Shira melempar revolver-nya ke depan lalu ia terbang pergi meninggalkan tengkorak-tengkorak itu.


SWOOOSSHHH!!!


Shira melesat ke atas dan ke belakang dimana ia melihat ketiga tengkorak itu melesat ke atas dan melesat menuju arahnya, Shira mulai menciptakan revolver lagi lalu ia menarik pelatuknya sehingga ia menembakkan tiga peluru yang mengenai ketiga kepala tengkorak itu. *CRACK!* Shira meresap kembali revolver itu menjadi sumber Lenergy lalu ia menghela nafasnya pelan selagi menatap Majiru yang meluncurkan Death Burst lagi, Shira mulai menghindari semua tengkorak itu lalu ia menebasnya menjadi dua menggunakan pedangnya.


BAMMM!!! JWOOSSHH!!!


Seluruh tubuh Shira mulai bersinar dan auranya mulai membesar sehingga membuat semua tengkorak itu hancur ketika mendekati Shira, "Hahhh!!!" Shira melesat ke atas selagi menghindari semua tengkorak yang mengejarnya tanpa henti, "DEATH FATALITY!!!" Majiru meluncurkan gelombang hitam yang dilumuri dengan api hitam di sekitarnya, gelombang itu melesat menuju arah Shira dan Shira langsung memegang pedangnya di tangan kanannya dan setelah itu ia memegang gelombang tersebut menggunakan tangan kirinya sehingga lengan kirinya mulai bersinar cerah, "AMBIL INI KEMBALI!!!" Teriak Shira yang mulai berputar 360 derajat lalu ia melempar gelombang itu kembali menuju arah Majiru.


"Ahh---"


BAAAAMMM!!!


Shira memegang pedangnya lagi menggunakan tangan kirinya lalu ia melesat menuju arah Majiru yang lengah, "HYAGGGHHH!!!" Shira menusuk perut Majiru menggunakan pedangnya, "HUEEGGHHH!!!" Majiru mulai memuntahkan banyak sekali darah melalui mulutnya, Shira mulai menebas seluruh tubuh Majiru tanpa henti dan setiap tebasan yang mengenai tubuhnya, muncullah sebuah gelombang cahaya di seluruh tubuh Majiru yang melesat ke segala arah dan memiliki suara yang terdengar seperti suara tembakan laser. Shira menebas perutnya dua kali lalu ia menebas pinggangnya dan dagunya, setelah itu ia mengakhiri kombinasinya dengan menghantam punggung Majiru menggunakan gagang pedang tersebut.

__ADS_1


BAAMMM!!!


"UAAAAHHHH!!!" Teriak Majiru keras sehingga ia terpental menuju daratan dan ia tiba-tiba melihat Shira yang muncul di bawahnya, "INI HADIAH UNTUKMU!!!" Shira menusuk perut Majiru dengan sangat dalam menggunakan pedangnya lalu ia mendorongnya mundur menggunakan telapak tangan kirinya sehingga Majiru terpental menuju atas langit. Shira melesat ke atas langit dan melewati Majiru.


Ia mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat mematikan saat ini, Shira mulai menarik kedua tangannya ke belakang selagi mengumpulkan cahaya di ruagan ilusi tersebut. Kemudian, Shira menempatkan bagian bawah telapak tangan mereka bersama-sama, membentuk bola energi yang memancarkan baut sporadis dari cahaya kuning listrik yang melesat ke segala arah. Shira mengumpulkan cahaya yang lebih besar dan terang di kedua tangannya seperti varian dari Megura Light dan kemudian melepaskannya dengan tangannya dalam posisi terbalik, "MEGURA ATOMIC LIGHT!!!" Shira meluncurkan sinar yang mampu merusak bahkan mereka yang lebih kuat dari Shira sendiri.


Gelombang cahaya yang dilingkari dengan listrik kuning mengenai seluruh tubuh Majiru, "GRRRRRRRRRGGGGGGGHHHHHHH...!!!" Gelombang cahaya itu mampu membawa Majiru keluar angkasa dan melewati beberapa planet yang tidak berpenghuni, "TERKUTUK KAU...!!! BANGSA LEGENDAAAAAAAAAAAA!!!" Teriak Majiru keras sehingga gelombang itu mulai meledak di luar angkasa sehingga menyebabkan ilusi ruangan itu hancur.


CRAACCKKK!!!


Ruangan ilusi itu hancur, Shira mulai menghalang lengan dan mata kirinya menggunakan perban lalu ia tersenyum kecil dan mulai duduk di atas lantai dengan keringat yang mulai berjatuhan dari wajahnya, "Hah... hah... hah... Sepertinya aku baru saja menghancurkan batasanku." Ucap Shira yang mencoba untuk menggerakkan lengan kirinya dan ternyata tidak bisa, ia terasa seperti lengan kirinya mulai mati rasa, "Cih... Ternyata benar." Shira menghela nafasnya pelan lalu ia perlahan-lahan bangkit dari atas tanah dan mulai membantu Yuuna berdiri.


Shira menatap Mina lalu ia membantunya berdiri juga, "Syukurlah aku datang tepat waktu karena jika tidak maka kalian akan kehilangan nyawa kalian sendiri." Ucap Shira, ia mulai tersenyum dan membuat Yuuna serta Mina tersenyum juga, "Terima kasih banyak, Shiratori Shira dari kelas tiga." Ucap mereka bersamaan.


"Simpan terima kasihnya untuk nanti karena kita harus bergegas secepatnya untuk menghentikan Sabrina dan Katrina yang mencoba untuk menghadapi Morgan." Shira berjalan pergi dengan langkahan lambat karena tubuhnya masih terasa lemas, "Ya... Menghadapi!"


ZWOOSSSHHH!!!


"AGGGHHHHHHH!!!" Shira membulatkan mata kanannya karena perutnya baru saja tertusuk dengan pedang yang sangat tajam, "A-A-Apa...?" Shira melirik ke belakang lalu ia melihat Mina yang baru saja menusuknya menggunakan sebuah pedang yang tajam, Mina perlahan-lahan berubah wujud menjadi seorang gadis lainnya, "A-Apaan ini...!? SEMUA INI MUSTAHI--- HUEEKK!!!" Shira mulai memuntahkan banyak sekali darah lalu ia berlutut di depan gadis yang baru saja menusuknya.


"Ilusi lainnya?!" Yuuna mencoba untuk menyerang gadis itu, tetapi gadis itu langsung mendorong Yuuna ke belakang dan menjebaknya di dalam auranya yang berwarna ungu, "Aku adalah Irusion Shion, peserta dari kelas empat... Sepertinya adikku terbunuh oleh peserta kelas tiga." Shion menarik pedangnya lalu ia menjilat darah yang terdapat di pedang itu, "Kau juga berasal dari kelas tiga bukan...? Itu artinya aku bisa melampiaskan kemarahanku kepadamu." Shion mulai tersenyum seperti seorang psikopat.


***


Sabrina yang sedang menunggu di depan pintu ruangan kepala akademi mulai merasa kesal karena Katrina masih belum bertemu dengannya, "Adik sialan itu sebenarnya memikirkan apa mencoba datang terlambat...?" Tanya Sabrina kepada dirinya sendiri, ia mulai menatap jam di dinding dan jam itu mulai menunjukkan pukul empat malam, "Sebentar lagi~" Sabrina mendengar sebuah langkahan di depannya lalu ia menatap ke depan dan melihat Katrina dengan seluruh tubuhnya yang terluka parah karena bekas pertarungan dari Ophilia dan Mirai.


"Lihat dirimu, apakah kau baru saja kalah oleh kelas tiga?" Tanya Sabrina.


"Mereka melarikan diri, jadi itu tidak bisa dihitung sebagai kalah." Ucap Katrina, "Untuk sekarang mari kita berbicara dengan Morgan." Katrina mulai mengetuk-ngetuk pintu yang berada di sebelah Sabrina sehingga pintu itu mulai terbuka lebar dan menunjukkan ruangan yang gelap.


BUSSHHH!!!


Tiba-tiba ruangan itu mulai terang ketika beberapa api merah muncul di atas lilin yang melekat dengan tembok-tembok di bagian kiri dan kanan, Katrina bisa melihat Morgan yang sedang tertidur di atas meja. Mereka berdua berjalan menghampiri Morgan sehingga Morgan mulai bangun lalu menatap mereka berdua, ia bangun dari tidurnya karena instingnya merasakan keberadaan seseorang yang sangat kuat, "Katrina dari kelas empat dan Sabrina dari kelas dua... Apa yang kalian mau?" Tanya Morgan.


"Apakah tuan Morgan sudah mengetahui tentang kasus peserta yang bernama Korrina Ghifari? Kelas tiga?" Tanya Sabrina, Morgan mengangguk lalu menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal. Ia mulai mengambil beberapa berkas yang berisi laporan tentang semua keburukan Korrina, semua murid sudah melapor ke setiap pemandu dan bahkan Morgan sendiri.


"Sepertinya aku tidak akan menyangka bahwa Korrina akan bersikap seperti ini di akademi." Ucap Morgan yang mulai bangkit dari atas kursinya, lalu ia membuka laci mejanya dan mengambil dua kertas, "Diskualifikasi." Ucap Morgan yang mulai melakukan sebuah cap di kedua kertas itu menggunakan stempel-nya, Sabrina dan Katrina langsung tersenyum dengan sangat jahat ketika melihat Morgan baru saja mencap dokumen Korrina.


Morgan menghampiri mereka berdua selagi memegang dua kertas, Sabrina langsung membulatkan kedua matanya ketika ia melihat kertas itu menunjukkan dokumen milik Sabrina dan Katrina, "T-Tunggu, tuan Morgan... Bukannya kau mencap peserta yang salah?" Tanya Sabrina yang mulai berkeringat.

__ADS_1


"Aku tidak salah kok." Tiba-tiba suara Morgan mulai terdengar persis seperti suara Korrina dan hal itu membuat Sabrina serta Katrina membulatkan kedua matanya, "A-Apa...?" Morgan mulai berubah menjadi Korrina yang asli, ia memegang kedua kertas bukti bahwa Katrina dan Sabrina akan dikeluarkan dari akademi ini, "Kalian adalah saudaraku yang cerdas karena sudah mencoba untuk membuatku keluar, tetapi... Rencana kalian sudah tertangkap basah dari awal." 


Korrina tersenyum sinis, "Apakah kalian siap untuk menanggung hukumannya?"


__ADS_2