
Hinoka dan Konomi baru saja tiba di hadapan yang lainnya, Ako bisa melihat ekspresi khawatir dan ketakutan dari Konomi bahwa ia sepertinya melihat sesuatu yang menakutkan.
"Konomi, apa yang Hinoka lakukan sekarang? Melihat wajahmu yang pucat seperti itu aku yakin dia melakukan sesuatu yang bodoh." Tanya Koizumi.
"Apa maksudnya itu?! Aku tidak melakukan hal yang buruk..." Kata Hinoka selagi mengembungkan kedua pipinya.
"Tidak... hanya firasatku saja... aku merasa diperhatikan dari jari jauh sampai insting dan Indra perasa mulai menerima banyak sekali rasa khawatir."
"Kalau begitu, kita lanjut saja. Jangan sampai kita berpisah ya." Shinobu mulai melangkah pergi ke sebelah barat untuk menanjak batu lainnya agar mereka bisa tiba di atas puncak.
Mereka terus berjalan, menghabiskan banyak sekali waktu untuk tiba di puncak gunung Lawu. Tetapi semakin mereka berada di atas maka semakin kuat esensial makhluk halus yang dapat dirasakan oleh Konomi dan Ako.
"Kita sebentar lagi akan sampai." Kata Koizumi yang melihat Shinobu memimpin selagi menatap arah berbeda dengan kedua telinganya yang bergerak untuk mencari jalan benar.
"Benarkah?" Tanya Ako.
"Tidak, aku mengatakan itu agar kalian bisa merasa senang. Jangan selalu menunjukkan ekspresi gugup seperti itu, tidak akan ada yang mengganggu kita jika bersikap sopan santun."
"Mungkin yang akan diserang hanya si bodoh yang sedang menari itu." Ucap Koizumi selagi menunjuk Hinoka yang sedang menari sampai melompati banyak sekali batu-batuan.
"Tidak, Kakak. Sekali saja orang mengganggu dalam regu maka semuanya juga akan kena." Kata Shinobu sampai membuat mereka semua terdiam.
"I-Itu artinya... jika Hinosapi macam-macam maka yang akan ruginya juga kita semua?" Tanya Koizumi sampai Shinobu mengangguk lalu menanjak gunung di depannya.
Mereka semua mulai saling membantu satu sama lain dengan memegang erat tangan agar bisa menerima bantuan untuk menaiki batu yang besar dan panjang di hadapan mereka.
"Kita sudah dekat sekali dengan puncak." Kata Shinobu yang mulai membuka peta sampai ia mulai menatap Koizumi hanya untuk melihat pin waktu yang ia kenakan.
"Ke-Kenapa?" Tanya Koizumi yang terlihat gugup ketika Shinobu menatap dirinya dengan tatapan serius.
"Koneko cuman ingin lihat waktu..." Kata Shinobu sambil menunjuk pin di rambutnya itu, waktu menunjukkan pukul tiga sore sehingga ia berpikir akan sangat berbahaya jika jam enam masih menanjak sampai puncak.
"Begitu ya, aku lupa selalu menggunakan pin waktu ini." Kata Koizumi sambil menyentuh pin itu lalu ia menoleh ke belakang, melihat kedua saudara itu terus memperhatikan sekelilingnya.
"Mereka jarang sekali menunjukkan sikap seperti itu, Indonesia terkadang memang mengerikan juga." Kata Koizumi yang mulai mengikuti Shinobu sampai mereka bertiga terus mengikutinya.
"Lihat! Kita bisa melihat apapun dari ketinggian ini!" Seru Hinoka sambil menunjuk pemandangan di hadapannya, penuh dengan gunung kecil serta awan-awan putih yang dekat di atas mereka.
"Semakin tinggi kita maka semakin hebat pemandangan yang kita saksikan, inilah keuntungan dari mendaki gunung besar." Kata Konomi.
"Tetapi kenapa harus Indonesia..." Ucap Ako.
"Ayolah, jangan bersikap seperti pengecut."
"Walaupun kita adalah gadis, pendirian dan harga diri kita harus bisa diperkuat melebihi suara pria jantan dan tangguh." Ucap Hinoka yang mulai mengikuti Koizumi dan Shinobu.
Beberapa menit kemudian, mereka masih disambut dengan banyak sekali batu serta tanjakan yang perlu dilewati untuk bisa sampai puncak, waktu yang dihabiskan cukup lama.
"Apa-apaan ini... aku kira tadi katanya tidak akan ada lagi yang namanya tangga atau tanjakan tetapi ini yang sudah ke lima puluh atau lebih..." Ucap Hinoka yang terlihat frustrasi karena terus menanjak batu.
"Mood Kakak berubah begitu cepat ya." Kata Shinobu yang sudah menanjak batu itu selagi melihat pemandangan yang begitu indah.
"Tolong jangan datang dan menyerang teman-temanku ya, Astral Indonesia." Doa Shinobu selagi menyatukan kedua tapaknya karena ia sudah tidak melihat sesosok putih dan hitam itu.
Namun, Ako dan Konomi masih bisa merasakannya bahwa semua makhluk halus itu rasanya seperti mengikuti mereka bahkan sebagiannya ada yang berjalan bersebelahan tetapi tidak bisa dilihat.
"Manusia-manusia yang pernah menanjak gunung ini mungkin berpikir seperti ini..." Hinoka mulai memperagakan seseorang.
"Apakah kita perlu membuat lebih banyak tanjakan mudah atau tangga untuk membantu para pendaki? Ucap Manusia Indonesia dengan bahasa rendang itu." Kata Hinoka yang mencoba untuk membuat lelucon.
"Manusia Indonesia lainnya dengan bahasa rendang itu bilang... siapa yang peduli, sediakan lah mereka tantangan." Hinoka terkekeh, melihat mereka semua meninggalkan dirinya dengan menanjak ke atas.
__ADS_1
"Oh, ayolah! Setidaknya tertawa." Hinoka melangkah ke depan lalu menyentuh batu itu untuk menanjak, tetapi...
Celananya terasa seperti di tarik sampai mengejutkan Hinoka yang mulai melebarkan kedua matanya lalu melirik ke belakang, ia tidak melihat siapa pun di sana tetapi tarikannya tadi itu cukup kuat.
"Huh?" Hinoka memasang tatapan curiga.
"Lucu sekali, aku yakin kalian mencoba untuk membuatku ketakutan begitu?"
"Apa maksudmu? Kami selama ini sudah berada di puncak ini."
"Seseorang menarik diriku cukup kuat sampai celana dalamku terlihat!" Hinoka sempat turun lagi untuk membenarkan celananya lalu ia kembali menanjak lebih cepat.
"Seseorang menarik Kakak?" Tanya Shinobu.
"Itu benar! Aku yakin seseorang yang mesum, tetapi tidak mungkin juga jika mereka mencoba untuk menarik celana seorang idol~" Kata Hinoka selagi melakukan pose damai.
Mereka memasang tatapan datar kecuali Shinobu yang bertepuk tangan pelan selagi tersenyum, setelah itu mereka kembali melangkah menuju puncak paling atas dari gunung tersebut.
Kemudian, mereka tiba-tiba bertemu dengan dua manusia yang mengenakan pakaian biasa seperti pengunjung atau kemungkinan pendaki gunung yang hanya ingin menikmati pemandangan.
"Lihat, orang luar negara... melihat dari rambut mereka yang berwarna-warni itu, mereka pasti gadis bule!"
"Jarang sekali melihat gadis bule mendaki gunung ini, apakah mereka mengetahui peraturan yang perlu diterapi?"
"Mereka berbicara Indonesia murni sekarang, kita bisa mengerti apa yang ia coba katakan." Kata Koizumi sehingga mereka semua berhenti ketika melihat Shinobu menghampiri kedua manusia itu.
"Apakah abang-abang sedang mendaki gunung?"
"Iya, matahari sudah hampir terbenam jadi kami bergegas turun sebelum malam tiba..."
"...orang bule berambut emas sepertimu cukup hebat dalam menggunakan bahasa Indonesia ya."
"Begitulah..."
"Itu benar, kami ingin berkemah."
"Ahh... kalau begitu saya perlu memberi saran kepada Anda bahwa gunung di Indonesia penuh sekali dengan misteri dan hal mistis."
"Hohhhh..." Shinobu mengangguk lalu menyiapkan buku kecil dan sebuah pensil untuk menulis apa yang akan Manusia itu ceritakan, mungkin bisa dijadikan sebagai pelajaran.
"Kalian sudah tahu soal peraturan? Kalau tidak salah sebelum masuk ke dalam gunung ini kalian akan disambut oleh beberapa orang yang menjaga dalam pos."
"Hmm... soal menjaga sikap, tidak membuang sampah, tidak mengganggu, dan semua hal yang berbasis." Kata Shinobu.
"Gunung ini ya... tadi kami sempat melihat sesajen."
"Oh... Koneko ingat sekarang." Shinobu mulai menulis di buku itu karena ia perlu memperingati mereka semua untuk tidak menyentuh atau memakan sesuatu yang bernama sesajen.
"Sesajen itu apa?" Tanya Ako.
"Makanan untuk penunggu di gunung ini." Jawab Shinobu.
"Pokoknya kalian tidak boleh mengambil apapun atau bahkan memakan sesuatu secara sembarangan!" Peringat Manusia itu sampai mereka mengangguk sedangkan Hinoka terlalu sibuk bernyanyi dan menari sampai tidak mendengarnya.
Setelah menerima beberapa peringatan dari Manusia itu, mereka semua mulai berpisah sampai kembali mendaki beberapa batu hingga melihat sesajen yang dimaksud oleh Manusia tadi.
"Biarkan saja." Kata Shinobu yang melewati sesajen itu dengan tatapan polos karena ia tadi sempat melihat sesosok hitam yang sedang duduk di depan sesajen itu.
"Apa tu~" Hinoka melihat sesajen itu tetapi Koizumi langsung menariknya dengan gusuran agar ia tidak mencoba untuk melakukan hal bodoh yang dapat membahayakan mereka semua.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya telah tiba di puncak gunung Lawu sampai awan di atas mereka dapat disentuh, pemandangan yang dilihat terlihat begitu hebat dan indah.
__ADS_1
Setidaknya mereka sekarang bisa merasa tenang sedikit demi sedikit, Hinoka mulai duduk di atas tanah sambil menepati tas yang ia gendong untuk mengeluarkan camilan yang ia bawa.
"Kita sudah berjalan dan mendaki selama tiga jam lebih... akhirnya tiba juga di puncak gunung Lawu!" Kata Shinobu yang mulai menepati kedua tapaknya di atas tanah untuk meregangkan pinggul dan punggungnya seperti kucing.
"Selama ini kamu membawa itu?" Tanya Koizumi kepada Hinoka yang sedang menikmati camilan itu.
"Yup~"
"Tas yang kau bawa itu terlihat besar dan berat, kau membawa apa saja?" Tanya Koizumi yang mulai mendekati tas Hinoka tetapi ia langsung menariknya.
"Kenapa? Kenapa kau tidak mau memperlihatkannya?"
"Privasi, kamu ingin tahu saja, dasar Koizumi~" Kata Hinoka sampai ekspresi Koizumi berubah ketika ia tahu bahwa sepupunya pasti menyembunyikan alat pemberian Shinobu.
"Kau tidak membawanya bukan...?! Di puncak gunung Indonesia ini kau masih bisa menikmati hal bodoh seperti itu?!"
"Aku tidak dengar, la~ la~ la~" Hinoka mulai menyanyi selagi menikmati semua camilan yang ia bawa sampai menyebabkan Koizumi merasa sangat kesal.
"Hinoka, sebenarnya kamu bertahan dengan cara apa?" Tanya Konomi.
"Makanan dong, jelas sekali."
"Bagaimana denganmu, Shinobu?"
"Kamu harus percaya." Jawab Shinobu yang sudah merakit tendanya agar ia bisa bersantai lebih cepat dan menikmati makanan ketika sudah mendirikan tendanya.
Beberapa menit kemudian, mereka berhasil mendirikan tenda itu yang cukup untuk satu orang masing-masing, "Kalian menciumnya?"
Mereka langsung menatap Shinobu yang sedang mengumpulkan beberapa ranting untuk membuat api kecil, "Mencium apa?"
"Bau bangkai dan bau amis..." Kata Shinobu yang mulai menepati semua ranting itu lalu membakarnya dengan api menggunakan tangan teknologi yang muncul di bajunya.
Mendengar Shinobu mengatakan bau bangkai saja sudah cukup untuk membuat Ako dan Konomi yang merasa tenang bertambah gugup sampai khawatir lagi.
"Suplai air kita habis." Kata Koizumi yang melihat banyak sekali botol air minum berjajar di hadapannya, ia melihat Hinoka diam-diam meminum botol terakhir.
"Fuhhh~ rasanya mendaki gunung yang tinggi ini dengan disambut air putih yang begitu segar dapat menenangkan hati---" Koizumi langsung menghantam kepalanya.
"Awwwweee...!!!"
"Tidak ada yang namanya penolakan, kau cari sungai dan isi semua botol kosong itu!" Perintah Koizumi dengan tatapan kesal sampai Hinoka mulai bangkit dengan ekspresi bersemangat.
"Ayo! Ayo! Ayo! Mencari air~" Hinoka melarikan diri menuju Ako dan Konomi lalu menarik mereka berdua untuk mencari sungai agar bisa mengisi semua botol itu.
"Hehhh!? Jangan memaksa kami...!"
"Tidak...!!!"
"Hahh..." Koizumi menghela nafasnya.
"Hihihi... lucu juga ya..."
"Tidak boleh begitu... kami hanya ingin berkemah... Hihihi..."
Koizumi memasang tatapan kaget ketika mendengar Shinobu berbicara sendirian dengan tambahan tawa kecil yang begitu berbeda, "Um..."
"....Shinobu?"
"Sebenar ya.." Shinobu langsung menatap Koizumi dengan tatapan polos.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Tidak Jadi..."