Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 108 - Ilmu Mutlak Santet


__ADS_3

Korrina bersama yang lainnya di bawah oleh Sakti ke tempat kediaman-nya, ketika Korrina masuk ke dalam kediaman-nya yang terlihat sama persis-nya seperti gubuk. Aroma yang ia cium di dalam gubuk itu membuat dirinya mulai merasa ketakutan, ia bisa mendengar suara burung gagak di luar-nya. 


Terlihat banyak sekali lilin yang terletak di sekitar gubuk itu termasuk dengan tengkorak yang berwarna merah serta boneka-boneka yang dipenuhi dengan jarum, sepertinya Sakti sudah melakukan ilmu santet ini beberapa kali. Dan Korrina mulai merasakan banyak sekali asap yang keluar dari ruangan di depan-nya.


"Ruangan yang dipenuhi dengan asap itu adalah tempat dimana aku melakukan ilmu santet-ku."


"Aku juga memiliki TV di dalam-nya dan TV itu aku dapatkan dari dik Aditya karena dia mendapatkan TV itu dari negara jepang dimana TV itu dapat memata-matai orang-orang tertentu jadi aku bisa melihat proses ilmu santet itu terjadi."


Sakti masuk ke dalam ruangan-nya dan ia melihat ruangan itu berantakan karena bunga-bunga berserakan serta sayuran seperti timun juga.


Korrina masuk ke dalam ruangan itu dan ia segera menunjukkan ekspresi yang terlihat ketakutan ketika melihat sebuah pajangan manusia guling di ruangan tersebut, Korrina mundur beberapa langkah mencoba untuk menjauh manusia guling itu. Ia juga bahkan menyenggol sebuah manusia kecil yang memiliki kulit hitam serta tubuh kurus.


"Apa-apaan ini..." Ungkap Korrina yang mulai berkeringat dingin.


Sakit duduk di depan sebuah meja kecil dimana terdapat beberapa lilin menyala serta tengkorak di atas meja itu, ia juga melihat beberapa boneka yang berserakan di atas meja dan jarum tipis yang berjumlah lebih dari ratusan.


Sakti mulai mengusap telapak tangan-nya dan mempersiapkan dirinya untuk melakukan ilmu santet.


Korrina bisa melihat kepala Sakti mulai dihalang dengan kain merah, jadi dia seperti menggunakan sebuah tudung yang berwarna merah.


Aditya mulai menyalakan TV dimana layar-nya menunjukkan sesuatu yang tidak bisa terlihat begitu saja, asap itu mulai memenuhi ruangan tersebut sampai membuat Korrina batuk-batuk.


Pandangan Korrina mulai teralihkan kepada makhluk manusia kecil yang terletak di sebuah peti kecil, manusia kecil hitam itu memiliki taring yang tajam serta memiliki rambut dan kuku yang panjang.


Wajah yang dimiliki manusia itu terlihat persis seperti tengkorak dan mampu membuat bulu kuduk-nya naik.


"Ummm... Apa ini...?" Tanya Korrina yang mulai menunjuk manusia kecil itu.


"Ahhhh... Itu adalah Jenglot. Masyarakat Indonesia sebagian-nya meyakini bahwa jenglot adalah makhluk yang memiliki mistik dan dapat mengundang bencana. Dia juga bahkan memakan darah manusia..." Jawab Sakti.


Korrina segera mundur beberapa langkah dan tidak sengaja menyentuh manusia guling itu, "Hiiii...!!!" Korrina mundur ke belakang dan punggung-nya menyentuh dada Ophilia.


"Korrina, tidak perlu takut dengan manusia guling itu. Itu hanyalah patung, ohh... Aku lupa memberitahumu bahwa manusia guling itu memiliki nama yaitu [Pocong]."


"Pocong...!?" Korrina mulai terlihat ketakutan bahkan ia menjaga jarak di sekitarnya dan mulai sepenuh waspada karena tempat itu lama kelamaan akan membuat dirinya merasakan ketakutan yang berlebihan. Agfi mulai menggenggam erat telapak tangan Korrina, mencoba untuk menenangkan-nya.


"T-Terima kasih..." Korrina masih merasa ketakutan, ia mulai kehabisan kesabaran-nya karena ia ingin Sakti secepatnya melakukan ilmu Santet itu sebelum dia merasakan perasaan ketakutan yang berlebihan seperti tadi.


"Oi... Bisakah kau cepat melakukan ilmu santet apalah itu...!? Aku ingin secepatnya pergi dari semesta aneh ini, aku ingin membawa pulang Ophilia dan Agfi lalu membuat sebuah rencana untuk bisa menghentikan kegilaan raja iblis yang bernama Rxeonal itu...!" Ucap Korrina, kedua matanya mulai berkaca-kaca bahkan air mata hampir saja mengalir keluar dari mata-nya karena rasa takut yang ia rasakan terus bertambah.


"Sebentar lagi... Hmmmmmmmm....!!!" Sakti mencoba untuk mengumpulkan semua makhluk gaib yang dapat berkomunikasi dengan-nya karena ilmu santet itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan karena itu menggunakan banyak sekali energi serta Mana yang ia miliki, semakin banyak makhluk gaib yang ia miliki maka Sakti bisa melakukan ilmu sakti itu beberapa kali.

__ADS_1


"Lebih baik kita duduk dan menunggu abah selesai dalam persiapan ilmu santet-nya." Ucap Aditya dimana ia duduk dan menyandarkan punggung-nya.


Mereka semua mulai duduk di atas lantai dan sial-nya Korrina duduk di depan patung Pocong itu sampai membuat dirinya terus melirik ke belakang setiap detik berlalu karena ia takut Pocong itu mencoba untuk menyerang atau menakuti-nya lagi. Ia terus menarik nafas sebanyak mungkin lalu menghembuskan-nya dengan cepat seolah-olah ia terlihat seperti melahirkan.


"Korrina, kau sepertinya benar-benar takut dengan hantu yang ada di Indonesia ya." Andrian terkekeh.


"Diam...!" Tatap Korrina tajam dimana kedua pupil-nya sudah terbakar dengan api suci.


"Jangan kau coba sucikan tempat ini karena seluruh makhluk gaib yang aku kumpulkan akan terbunuh oleh kesucian-mu itu. Jika kau tidak bisa mengontrol ketakutan-mu itu maka kau akan menggagalkan ilmu santet ini!" Sakti mulai berbicara sambil memejamkan kedua matanya, ia mulai berbicara bahasa-bahasa yang tidak bisa dimengerti oleh Korrina.


"... ..." Korrina mencoba sekuat mungkin untuk menenangkan dirinya tetapi ia segera menegang ketika melihat seluruh lilin yang menyala di ruangan itu mati, suara angin besar mulai terdengar termasuk pohon-pohon yang ada di luar.


"Ahh...! Sepertinya makhluk gaib itu membawakan kita cemilan yang lezat ya..." Ophilia tersenyum karena ia melihat sebuah piring di sebelah-nya dimana di atasnya terdapat sebuah cabe-cabe yang sudah dihancurkan dan biji-biji polong.


"Ahhh...! Jengkol dan sambal ya...!" Agfi segera mengambil jengkol itu dan menambahkan-nya dengan cabe yang sudah dihancurkan itu atau sambal, ia langsung memakan jengkol itu sampai matanya terbuka lebar karena rasa-nya cukup lezat.


"Aku tidak menyangka alien akan menyukai ini..." Ucap Aditya.


"Oi, Aditya... Jangan bersikap tidak sopan seperti itu, mereka bukanlah Alien tetapi Legenda." Jawab Andrian yang sudah menghabiskan jengkol-nya.


Korrina terlihat kebingungan ketika menatap jengkol yang terdapat di atas piring-nya, ia mengambilnya dan segera mengoleskan-nya dengan sambal yang baunya terasa tidak sedap untuk dirinya. Korrina tiba-tiba melihat sesosok anak kecil berkulit hitam yang tidak memiliki rambut apapun sedang berdiri di pintu masuk ruangan tersebut.


"Kyaaaaaaaa...!!! Hweeeeeehhhhh...!!! Cukup...!!!!! Aku tidak suka pocong...!!! Aku tidak suka hantu di Indonesia....!!!!" Teriak Korrina keras sambil menangis dan membakar patung pocong itu menggunakan api Sacred-nya.


***


"Ugh... Hiks... Hiks..." Korrina memeluk kedua lutut-nya sambil menangis karena ia benar-benar takut dengan makhluk gaib yang ada di Indonesia. Persiapan untuk melakukan ilmu santet sudah sepenuh-nya siap dan Sakti mulai memegang erat boneka yang berbentuk sama persis-nya seperti manusia.


"Jadi Ilmu santet yang akan aku lakukan mungkin seperti biasanya... Semua makhluk gaib yang aku kumpulkan sudah sepenuh-nya siap untuk melaksanakan ilmu santet, berbeda dengan santet dari Dukun lain karena ilmu santet-ku itu tidak perlu susah mengumpulkan rambut atau kuku musuh yang akan disantet." Ucap Sakti, ia segera menatap TV itu sampai TV tersebut mulai menunjukkan ribuan Manusia yang sedang melakukan demo. 


"Ternyata manusia juga bisa melakukan kehancuran seperti ini ya...? Mereka juga bahkan mengerti dengan arti demo, mungkin saja mereka memiliki konflik pertentangan atau semacam-nya...?" Tanya Agfi.


"Begitulah, Era Indonesia sekarang itu rusak. Dipenuhi dengan peraturan yang tidak masuk akal." Ucap Aditya.


Korrina mulai berhenti menangis ketika melihat Tv itu menunjukkan beberapa ibu-ibu yang memegang sebuah sendal serta sapu, mereka semua menyerang manusia lain-nya seolah-olah mereka itu paling berkuasa.


Sepertinya wanita yang sudah pernah melahirkan atau memiliki anak adalah wanita terkuat di Yuutouri.


"Ahahaha~" Korrina mulai tertawa.


Mereka semua segera mengalihkan pandangan mereka kepada Korrina yang tiba-tiba ceria melihat seluruh ibu-ibu itu melakukan sesuatu yang cukup bar-bar sampai meruntuhkan beberapa rumah.

__ADS_1


"Kyahahaha...! Aku tidak menyangka bahwa wanita yang sudah menikah dan memiliki anak akan sekuat itu...!" Korrina mulai tertawa sampai air mata mengalir keluar dari mata-nya.


"Ahhh... Itu sih sesuatu yang cukup terkenal di kalangan masyarakat indonesia. Intinya tidak ada satupun manusia yang berasal dari negara Indonesia yang berani untuk melawan ibu-ibu seperti mereka, kami memanggil ibu-ibu seperti itu dengan sebutan [The Power of Emak-Emak]." Andrian mulai tertawa.


"Ahahaha...! Sebutan apa itu...!? Aneh sekali...!" Korrina masih tertawa terbahak-bahak.


"Baiklah, kita akan segera memulai ilmu santet ini...!" Sakti mulai menatap tajam seorang manusia yang memakai baju putih, manusia itu saat ini sedang membunuh manusia lain-nya menggunakan pisau yang tajam.


"Ternyata manusia juga mengetahui arti dari pembunuhan ya..." Ucap Ophilia pelan.


"Jelas kita tahu hal normal seperti itu...!" Jawab Aditya.


"Sudah-sudah, mari kita mulai. Aku bisa mengetahui nama manusia yang sedang membunuh itu... Dia bernama Riski Hermawan, jadi aku hanya harus menulis nama-nya." Sakti mulai menulis nama [Riski Hermawan] di belakang punggung boneka tersebut, dia mengetahui nama manusia itu karena bantuan dari makhluk gaib. Makhluk gaib itu tidak bisa dilihat oleh mereka kecuali Sakti mulai memberi dirinya sehelai rambut serta kuku dari Riski.


Sakti menempatkan boneka itu di atas meja-nya dan ia juga tidak lupa untuk menepatkan sehelai rambut dan kuku di atas boneka tersebut, "Hmmmmmm... Aku akan menggunakan ilmu santet yang aku pelajari sepenuh-nya yang bernama [Santet Gagak Hitam], kemampuan santet ini sangatlah kuat karena dapat menyebabkan musuh mengalami luka atau pendarahan di dalam tubuh mereka yang membunuh mereka dengan pelan sampai membuat mereka menderita..."


"...Setelah itu mereka akan mati dengan cara yang menderita dan sadis." Sakti mengambil sebuah jarum dan Korrina mulai menatap serius cara kerja dari ilmu santet tersebut.


Sakti mulai menusuk boneka bagian tubuh tengah-nya menggunakan jarum yang sangat tajam, sampai TV itu mulai menunjukkan Riski yang tiba-tiba memegang perutnya sampai darah mengalir keluar dari dalam mulut-nya, ia mulai berlutut dan tidak bisa melakukan apapun kecuali merasakan kesakitan yang dahsyat.


"Apa...!?" Korrina mulai bangkit dari lantai.


"Sekali lagi..." Sakti menusuk kepala boneka itu sampai mata kiri Riski mulai meledak dan menyebabkan dirinya menderita sampai ia mati dengan pelan-pelan.


"T-Tidak mungkin...!" Korrina sontak kaget melihat ilmu santet itu, kemampuan yang sangat kuat dan berbahaya. Bahkan berpotensi untuk membunuh musuh kuat tanpa harus menyentuh-nya.


"Sekarang... Apakah kau mengerti betapa kuat-nya Dukun itu bersama dengan kemampuan mereka dalam menyantet lawan...? Semua itu tidak mustahil karena Dukun dapat berkomunikasi dengan makhluk gaib dimana mereka dapat membantu kita dan melakukan pekerjaan dengan cepat." Sakti tersenyum sinis serta membuat Korrina benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Sakti mulai mengambil sebuah botol berisi air dan ia segera meminum-nya lalu kumur-kumur, "H-Hebat... Ilmu santet... itu adalah kemampuan yang bahkan bisa melebihi dewa-dewi...!"


"Sakti, aku mohon ajarkanlah aku ilmu Santet itu...!" Korrina menatap Sakti dengan tatapan yang serius karena ia ingin sekali menggunakan kemampuan itu kepada dewa-dewi yang sangat ia benci.


"Bufffffttttt....!!!" Sakti menyemburkan air yang ia kumur-kumur di wajah Korrina sampai membuat dirinya basah, hal itu membuat Aditya dan Andrian terkejut karena ketika Sakti menyemburkan air itu kepada seseorang maka orang itu akan melihat makhluk gaib yang membantu Sakti.


"Pffftt....!" Agfi menahan tawa-nya melihat Korrina yang basah, sepertinya Sakti memilih kematian dengan cepat.


"Apa yang kau...!!!" Kedua mata Korrina terbakar dengan api Sacred sampai membuat suhu ruangan itu memanas.


"...Lakukan!!!" Korrina segera menghantam wajah Sakti sampai ia terpental beberapa meter ke depan.


"Dasar ****...!!!" Teriak Korrina keras.

__ADS_1


__ADS_2