
"Shinobu... Koneko...!!!" Keith terus memegang kepalanya dengan sangat erat sampai jarinya mencengkeram kepalanya cukup kasar sampai merobeknya karena rasa kesal ia rasakan.
Memang tidak ada harapan tersisa baginya, harapan yang ia lihat dari Shinobu adalah kepalsuan, semuanya palsu sampai ia terus melukai dirinya sendiri dengan tatapan kesal bahwa semua orang sama saja.
Maupun itu seorang gadis kecil polos seperti Shinobu, dia tetap bersikap layaknya seperti sampah bagi dirinya sampai pandangannya terhadap gadis dan dunia berubah terbalik, ia sekarang haus akan pembalasan dan lampiasan.
"Sialan...!!! Sialan...!!! Sialan...!!!" Keith terus melepaskan banyak sihir angin yang mengelilingi tubuhnya, ekspresinya bertambah semakin kesal sehingga ruangan yang ia tempati mulai bergetar.
Semua angin itu menghancurkan apapun sampai meretakkan tembok dan menarik perhatian para pendeta yang bertugas untuk menjaga dirinya sampai ia sembuh.
"Apakah kamu baik-baik saja, tuan Keith?"
"APAKAH AKU TERLIHAT BAIK-BAIK SAJA, ******!?"
"LIHAT AKU SEKARANG...!!! HANCUR... SEPERTI KACA YANG PECAH KARENA TERKENA HANTAMAN BOLA...!"
"SIALAN...!!!" Keith melepaskan teriakan yang keras sampai menggunakan para pendeta itu sebagai pelampiasan atas kebencian dirinya kepada gadis terutama Shinobu.
"Kau tunggu saja... Shinobu Koneko...!"
"Semua harapan yang kau berikan padaku... kepalsuan itu... semuanya sudah menghancurkan diriku sampai aku..."
"...sekarang tahu harus apa, karena kau aku tidak bisa mempercayai wanita... aku akan bertambah kuat karena sebentar lagi... kita akan bertemu."
"Bertemu sebagai musuh... kekalahanmu, kau akan aku jadikan sebagai mainan dan alat...! Sama halnya dengan yang kau lakukan padaku, Shinobu Koneko!" Seru Keith yang mulai melampiaskannya kepada seluruh pendeta.
***
Lucia muncul dalam perkumpulan para kandidat itu, ia melihat Beval dan Admon yang sedang membicarakan sesuatu, berkaitan tentang Grimoire yang sudah hancur karena perbuatan kelima pemberontak itu.
"Aku sudah gagal." Kata Lucia.
Mereka berdua langsung menatap dirinya dengan tatapan biasa saja, "Sudah pasti sih, kau melawan seseorang yang dapat mengendalikan waktu dan arwah."
"Generasi sekarang cukup sulit, terutama lagi jika mereka berada di sisi yang salah. Kelima pemberontak itu adalah pengacau karena kemampuan dan kekuatan yang mereka pegang." Kata Admon.
"Salah satunya adalah otak mereka yaitu Shinobu Koneko, dia dapat menipu Dewa Erion dan Keith yang sudah terpilih sebagai satu-satu Legenda yang akan membawa arus angin kepada seluruh alam semesta." Ucap Beval.
"Terus, apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Lucia.
"Kita hanya perlu menunggu sampai para kandidat kembali, mereka semua sedang mencoba untuk mencari Grimoire yang masih bertahan."
"Setidaknya kita masih memiliki kuil---" Ketika Admon berbicara seperti itu, terjadi banyak sekali ledakan sampai beberapa pengikut mulai melapor dengan tatapan yang terlihat panik.
"Tuan! Tuan! Tuan! Kuilnya...! Kuilnya...! Semuanya hancur karena tabrakan matahari kecil yang membakar hutan dan daratan...!!!" Teriak pengikut kepercayaan tanah yang melihat kejadian dari jauh.
"Itu pasti Shinobu." Kata Beval yang mulai menjentikkan jarinya sampai kumpulan angin muncul di atas mereka, menunjukkan gambar Shinobu yang menciptakan matahari melalui cahaya di sekitarnya.
"Dia menghancurkan kuil angin... pasti dia mengincar kuil lainnya, kalian perlu waspada terhadap dia yang sangat pintar sampai mengetahui lokasinya."
"Gadis itu sejak kecil sudah menyelesaikan banyak ujian dan pelajaran sesulit apapun, mungkin semua buku sudah ia baca sampai tahu harus apa sekarang."
"Dia adalah anak dari ratu Touriverse bernama Kou Comi, aku dengar ibunya juga sangat cerdas sampai bisa menyelesaikan konflik penyerangan Zoiru karena rencana itu." Admon memegang cangkir tehnya lalu meminumnya.
"Dewa tanah sempat memperingati diriku bahwa kelima gadis itu tidak biasa, mereka sudah terlatih sejak berumur sangat kecil..."
"...kita memiliki keturunan Shiratori yang seharusnya garis itu lanjut kepada garis dewa karena Shinji, tetapi Shinobu sepertinya berada di garis yang sama dengan Shukaku."
"Kita juga memiliki dua keturunan yang melakukan pekerjaan mereka sebagai pembunuh dan pembantai... Shichiro dan Shimatsu."
"Ingat, ketiga gadis itu yang bisa di bilang sebagai sepupu. Dua rambut merah dan rambut emas, mereka adalah keturunan Comi yang bisa saja membagi kesialan itu kepada kita."
__ADS_1
"Kau memang tahu banyak, Admon. Apakah dewa tanah sudah bisa menjadikan dirimu sebagai wadah atau Pseudo?" Tanya Beval yang terlihat penasaran.
"Tidak, aku hanya tahu melalui pengalamanku sendiri... aku sudah tinggal bertahun-tahun lamanya sampai Shinji masih ada." Kata Admon sampai mengejutkan Beval dan Lucia.
"Inilah kenapa kita harus bisa bersatu dan bersama menghentikan kelima gadis itu... itu hanya tujuan sampingan tetapi keutamaan kita adalah membebaskannya para dewa-dewi elemental!"
"Sekarang... kita hanya perlu menunggu laporan soal Grimoire itu, jika semuanya hancur maka kita akan menghabiskan waktu lebih lama lagi." Ucap Beval.
"Sudah dua Grimoire hancur... hanya menyisakan lima agar bisa membuka gerbang Realm yang berbeda." Beval dan Admon terlihat biasa saja ketika mengetahui para pemberontak itu berhasil menghancurkan kuil dan buku sihir.
Lucia terlihat bingung, entah kenapa ia tidak bisa bersikap tenang karena Dewa Asper pasti akan memarahi dirinya karena sudah membiarkan Grimoire of Ice dan tentunya kuilnya hancur oleh Shinobu.
"Kenapa kalian para kandidat bisa bersikap tenang seperti itu ya?" Tanya Lucia yang mulai mengeluarkan sebuah kipas untuk mengipas tubuhnya yang terasa gerah.
"Karena... setiap jalan buntu akan selalu memperlihatkan jalan di belakangnya, aku tidak akan menyerah dan menunggu lama lagi." Ucap Admon.
"Kau pasti akan tahu, Lucia." Jawab Beval yang berjalan pergi untuk memeriksa kondisi Keith karena dia adalah kunci untuk menghentikan Shinobu karena dendamnya yang besar.
***
Shinobu baru saja menyelamatkan pekerjaannya untuk memusnahkan semua kuil, setelah itu ia kebetulan berpapasan secara langsung dengan Koizumi dan Konomi yang sudah menyelesaikan tugasnya untuk menghancurkan Grimoire of Ice.
"Shinobu, aku senang kau baik-baik saja... apakah kau berhasil melakukannya?" Tanya Koizumi.
"Mm~ mereka semua terlihat sangat kaget sampai tidak bisa mengeluarkan perkataan apapun!" Ucap Shinobu dengan tatapan polosnya itu.
"Dengan kehancuran kuil... kita bisa mengurusi semua kandidat itu tanpa menahan diri, ditambah lagi sumber kekuatan asli mereka dari Grimoire sudah hilang." Ucap Konomi.
"Para kandidat itu bukan sekedar Legenda biasa... mereka sudah diberi kekuatan oleh dewa itu secara langsung, bisa dibilang kandidat itu bagaikan wadah untuk para dewa-dewi." Kata Shinobu.
Koizumi dan Konomi mengerti apa yang ia coba jelaskan karena Lucia sempat menerima kekuatan dari dewa es, kedua matanya melambangkan es sampai bersinar dengan memancarkan banyak tekanan yang membekukan.
God Lenergy di dalam dirinya juga terasa sangat besar sampai tidak bisa diukur lagi karena God Lenergy hanya bisa dirasakan oleh mereka yang memiliki God Lenergy juga.
"Setelah semua Grimoire hancur... apakah langsung sikat saja? Pukulan dan tentunya hasrat yang aku miliki untuk membunuh para kandidat dewa tidak bisa ditahan lagi!" Ucap Koizumi selagi menepuk tapaknya menggunakan tinjunya sendiri.
"Mmm, semuanya pasti akan berjalan lancar... kita hanya perlu merebut Grimoire yang pastinya sedang dicari oleh banyak sekali kandidat."
"Kalau tidak salah... sebelumnya kalian melawan Lucia---"
"Kenapa kamu bisa tahu!?" Konomi memasang tatapan kaget tetapi Shinobu hanya terkekeh pelan dan menyebut alasan yang sama bahwa ia bisa membaca pikiran mereka.
"Ahh... iya, aku lupa." Konomi terkekeh.
"Aku membaca keluhan kalian soal Lucia, dia memang memiliki kekuatan elemen es yang begitu kuat ya... jika saja Kakak tidak menggunakan Greed maka kalian pasti akan membeku untuk selamanya."
"Strategi yang kalian lakukan cukup baik... semua kekuatan yang diterima oleh Lucia berasal dari jumlah pengikutnya, semakin banyak maka semakin kuat dan dahsyat kemampuan serta kekuatan yang diperoleh."
"Koneko sudah membaca buku sejarah dulu sekali... para dewa dan dewi mendapatkan kekuatan tambahan dari jumlah pengikut yang mereka miliki." Shinobu mulai memegang dagunya untuk menjelaskannya secara rinci.
Koizumi dan Konomi mulai mendengarkan, mereka juga menggunakan indera perasa Lenergy untuk mencari lokasi Grimoire lainnya tetapi mereka juga perlu mengingat bahwa Ako dan Hinoka melakukan hal yang sama.
Mereka mengincar Grimoire yang masuk ke dalam planet bumi, Anastasia juga kebetulan ikut dengan kedua gadis itu sebagai penyihir yang melepaskan sihir peningkatan dan pemulihan.
"Kekuatan tambahan berdasarkan pengikut ya... seperti pendukung, sama seperti raja dan kaisar dimana mereka akan menerima harapan semua penduduknya." Kata Shinobu.
"Perlu di ingat, Kakekku sempat menggunakan Touri's Hope untuk mengalahkan raja iblis yang bernama Rxeonal..."
"...dia menyerap semua harapan bangsa Legenda yang tidak mempercayai raja dan kaisar melainkan mereka yang sudah berjuang dalam Medan perang."
"Kakek juga menerima semua harapan itu sebagai kekuatan tambahan yang ia ubah menjadi satu pukulan untuk mengakhiri Rxeonal."
__ADS_1
"Di saat itulah Kakek tidak pernah menggunakannya lagi sampai melawan dewa Oath yang bernama Zoiru tetapi gagal karena harapan itu kurang."
Ketika Shinobu membahas kembali peristiwa masa lalu, Konomi langsung mengerti dengan perkataannya bahwa para dewa atau kemungkinan kandidat bisa mengumpulkan harapan pengikut mereka.
"Shinobu!" Konomi mengangkat tangannya.
"Jangan-jangan mereka juga bisa menggunakan Touri's Hope?"
"Mm, sudah benar. Tapi namanya berbeda... diubah menjadi [God's Hope], jika mereka menggunakan kemampuan itu maka kita harus bisa bertahan." Shinobu tersenyum polos sampai Koizumi langsung penasaran tentang sesuatu.
"Jika pengikut mereka bisa dibilang cukup menyebalkan... bagaimana tidak menyingkirkan mereka terlebih dahulu?" Tanya Koizumi.
"Itu jauh lebih buruk, Kakak. Semua pengikut dewa ketika mati... semua arwahnya akan pindah ke dalam tubuh seorang kandidat atau dewa, memberikan mereka kekuatan yang lebih besar."
"Maka dari itu, kita hanya perlu melawan para kandidat sebelum mereka membuka gerbang segel Realm of Elementals." Kata Shinobu sampai Koizumi mulai mengangguk.
"Shinobu cerdas sekali ya..."
Shinobu tersipu malu, "Tidak cerdas... Koneko sering dipanggil kutu buku..."
"Kutu buku atau apapun itu... kamu tetaplah kebanggaan diriku, sepupu yang aku anggap sebagai adik kecil!" Koizumi menarik Shinobu lalu memeluknya erat sehingga wajahnya tertutup dengan dadanya.
"Muuuu... Muuuu...!" Shinobu kesulitan bernafas seketika.
"Koizumi... kamu mencoba untuk membunuhnya..."
"Ahh!" Koizumi melepas Shinobu lalu ia melihat ekspresinya terlihat pusing karena wajahnya menerima rasa empuk yang membuat kepalanya berputar.
"Aku lupa bahwa kamu itu kecil, Shinobu... tapi ya, sekecil apapun itu kamu tetap adik kecil yang sangat aku cintai." Kata Koizumi.
"Maksudku itu... kamu tetap saingan diriku karena Ayahku membenci diri Ayahmu!" Kata Koizumi yang mulai tersipu karena sudah memberi dirinya kasih sayang yang berlebihan.
Shinobu memasang tatapan kaget ketika Koizumi memanggil dirinya kecil, "Fueeehhhhhh...! Koneko tidak kecil...!"
"Dari ukuran yang aku lihat kecil kok, terlihat imut... tidak maksudku, kuat...?"
"Fweeehhhh...!!! Koneko tidak kecil! Kak Koizumi jahat...!" Shinobu langsung menangis ketika berpikir Koizumi mengenal dirinya karena dia kecil dan terlihat seperti anak berumur lima tahun.
""Kamu menangis?!"" Konomi dan Koizumi terlihat kaget ketika melihat Shinobu yang dulunya tidak pernah menangis bisa mengeluarkan air matanya secepat itu ketika tidak sengaja memanggilnya kecil.
"Ahh, Shinobu... Maaf... Kau tidak kecil sama sekali kok, aku yakin tiga tahun yang akan datang kan besar... bahkan lebih besar dari sepupu bodohmu Hinoka."
"Kenapa malah aku yang di ejek sekarang..." Ucap Hinoka yang baru saja tiba bersama Anastasia dan Ako.
"Benarkah...?" Tanya Shinobu yang mulai menghapus air matanya.
"Benar, kamu imut dan besar." Kata Koizumi yang mulai mengelus kepalanya.
Shinobu langsung tersenyum lebar sampai memejamkan kedua matanya, melepaskan sumber cahaya besar kepada penglihatannya.
"Ce-Cerah sekali...!" Ungkap Koizumi yang awalnya mengiri halusinasi tetapi sebenarnya bukan.
"Hweeeeehhhhh... Aku di ejek bodoh oleh Koizumi!" Hinoka mulai berpura-pura untuk menangis.
"Sadar umur, sapi!" Seru Koizumi kepada Hinoka.
"Apa kau bilang, sapizumi!? Kamu kejam sekali kepadaku, buuuuu...!"
"Berisik, Hinosapi!"
Ako dan Konomi memasang tatapan datar melihat Koizumi dan Hinoka mulai ribut lagi, "Mulai..."
__ADS_1
"...acara kecil ketiga sepupu mulai lagi."