
Regulus hanya bisa diam melihat Hana terus meningkatkan kekuatannya sampai hujan badai yang terjadi saat ini mulai bertambah parah, seluruh pasukan Legetsu terus berkurang.
Pasukan Ghisaru yang datang dengan 100 orang masih bisa bertahan karena strategi dan rencana Kou berjalan dengan baik untuk sekarang, semua pasukan dari kerajaan yang berbeda itu terus saling membunuh satu sama lain.
Tidak ada lagi yang namanya persatuan melainkan mereka hidup untuk meraih kekuatan serta kekuasaan yang lebih besar demi kerajaan mereka sendiri.
Diablo terus di siksa oleh Arata dan Haruki karena kekuatannya masih tertahan berbakat bantuan Kou, Satori masih belum melakukan sesuatu yang berguna untuk kerajaannya sendiri karena ia masih belum tertarik.
Sebagian pasukan seperti Yuuna dan Shizen yang terus menghalangi dirinya tidak dapat membuat Satori merasa tertarik sedikit pun, serangan yang mereka semua lakukan hanya akan mengenai diri mereka sendiri atau pasukan di sebelahnya.
Haruka menatap Hana dari jauh dengan tatapan yang terlihat kaget, "Sejak kapan Hana memiliki Lenergy yang terasa begitu liar... apakah pengaruh dari dosa amarah karena dirinya yang mewarisi Arata...?"
"Lenergy yang begitu liar... satu-satunya tipe Lenergy yang dapat melampaui apapun dalam sekejap bahkan God Lenergy sendiri bukan apa-apanya di bandingkan itu." Ungkap Haruka.
Hana mengangkat kedua lengannya ke atas lalu menurunkan hujan jernih yang mampu memulihkan seluruh rekannya sampai mereka semua mendapatkan Legend's Boost karena berhasil menangani sebuah luka yang besar ketika berperang.
"Ambil ini dan teruslah bertarung... jangan sampai membiarkan raja dongo ini kabur dan terlindungi." Perintah Hana, mereka semua dapat mendengarnya.
Suaranya yang terdengar begitu dalam dan mengerikan sampai mereka mulai berusaha keras untuk menahan semua pasukan Legetsu agar tidak melindungi raja mereka.
"Dasar tidak berguna... kalian semua adalah pasukan elite dari Regulus tetapi peperangan ini sudah berjalan cukup lama! Terpaksa aku harus---"
Regulus sontak kaget ketika melihat Hana berdiri tepat di sebelahnya, "Kau tidak memiliki kewajiban untuk mengalihkan pandanganmu ke arah lain kecuali diriku..."
Hana melancarkan satu pukulan ke atas sampai mengenai dagu Regulus lalu aura birunya menciptakan Leviathan yang menabrak tubuh Regulus sampai ia terhempas ke belakang, menerima luka yang sangat fatal di perut.
Regulus terus menerima siksaan tanpa habis oleh Hana sampai tubuhnya terus mendapatkan pemulihan besar dari Hana sendiri karena ia tidak menyelesaikan pertarungan lebih cepat.
Apa yang harus Regulus rasakan adalah penderitaan dan kesakitan yang berjalan selamanya sampai ia bisa merasa trauma di neraka nanti, kemungkinan besar Hana tidak akan menjatuhkannya ke dalam neraka melainkan lubang penderitaan yang ia buat.
"BLAAAARRGGGHHH!!!" Regulus memuntahkan banyak darah melalui mulutnya karena menerima satu tinju yang langsung menghancurkan jantungnya itu.
Kedua pupil Regulus menghilang, ia sebenarnya sudah mati tetapi Hana terus menyembuhkan dirinya tanpa memedulikan risiko terhadap Legend's Boost yang ia miliki karena dirinya berhasil menekannya tanpa henti.
Regulus terjatuh di atas tanah lalu ia bangkit dengan tatapan yang terlihat frustrasi, "Brengsek...!!! Legenda sialan...!!! Aku... Aku...!!! Kaisar sepertiku...!!! Kaisar sepertiku...!!!"
"Tidak memiliki... sedikit kekuatan yang tersisa di dalam...!!! Apa yang terjadi...!? Apa yang terjadi!? Kenapa aku merasakan sakit dan kematian seperti ini...!?!?"
"Kau masih hidup ya, bagus sekali... akan sangat mengecewakan jika dirimu mati semudah itu." Kata Hana yang sudah berada di sebelah Regulus dengan tatapan datar.
Tidak ada sedikit perasaan atau jelas kasihan tersisa di dalamnya, pikirannya hanya dipenuhi dengan pembantaian dan penyiksaan untuk mereka yang pantas menerimanya.
"Mari kita lanjutkan..." Hana mengangkat tinju kanannya ke atas yang sudah siap untuk mengeluarkan naga Leviathan lainnya.
Seseorang tiba-tiba memegang erat lengannya untuk menahannya terlebih dahulu sebelum melanjutkan pertarungan, "Jika kau bertarung layaknya seperti hewan mengamuk maka kau tidak akan bisa menyelesaikannya dengan benar."
Hana terkejut ketika melihat Megumi menghentikannya, "Aku tidak menyangka kau akan menunjukkan sisi yang sangat sadis sampai menyiksa dirinya tanpa ampun walaupun ia sudah mati beberapa kali."
"Kau telah membiarkan amarah Legenda dan dosa yang kau wariskan itu untuk mengendalikan seluruh tubuhnya termasuk jiwamu sampai kau bergerak layaknya seperti hewan mengamuk tanpa akal."
"Legenda seharusnya tidak menunjukkan hal seperti itu, jika kau ingin menyiksanya dengan sangat puas maka kendalikan amarah dan pengendalian dosa itu atau kau akan kalah ketika memulihkan dirinya beberapa kali."
"Apa yang akan Minami katakan jika dia melihatmu seperti seorang Neko Legenda yang mengamuk sampai menganggap semua orang sebagai ancaman bagi dirinya..."
Hana melebarkan kedua matanya sampai ia menunjukkan ekspresi yang terlihat semakin menderita, "Minami..."
"Setelah kau selesai menyiksa Regulus maka terjadi kesempatan besar kau akan menyerang secara membabi-buta, memikirkan semua kesalahan itu sendiri..."
"...kontrol lah... lepaskan dengan baik dan benar agar kau dapat merasakan kepuasan yang kau inginkan untuk menyiksa dirinya." Megumi melepas tangan Hana lalu ia mundur beberapa langkah.
__ADS_1
Hana memejamkan kedua matanya lalu ia menatap Regulus dengan tatapan yang mengancam, sedikit demi sedikit ia dapat mengendalikan amarah itu untuk menyiksa Regulus.
"... ...!!!" Hana melebarkan matanya ketika Regulus memegang erat lengannya tetapi ia berhasil mendorongnya mundur menggunakan Leviathan yang keluar melalui perutnya.
"Mizuhana... dengan ini... tidak ada lagi yang namanya menahan diri... sungguh... sungguh terasa cukup menyebalkan untuk di permalukan oleh dirimu!!!" Regulus meningkatkan seluruh kekuatannya sampai tingkatan paling atas.
Awan-awan yang hitam melepaskan petir suci ke arah Regulus sampai menyambar tubuhnya, ia mulai bertambah lebih kuat lagi sampai ukurannya bertambah besar.
Sudah waktunya untuk turun tangan sebagai seorang Kaisar, Regulus tidak akan pernah mengampuni siapa pun yang mencoba untuk menghalang dirinya lagi sampai ia memperbanyak tubuhnya lalu mengubahnya menjadi gumpalan listrik hitam yang mengelilingi tubuhnya.
Hana hanya bisa diam selagi memperhatikan Regulus yang bertambah kuat tetapi ia sendiri tidak merasa ketakutan melainkan rasa ingin menyiksa Regulus bertambah semakin besar melihat dirinya masih menyimpan semua kekuatan itu.
Hana menunjuk Regulus lalu memunculkan sirkuit sihir besar yang dapat menabrak tubuhnya sampai memar, sebagian dari kulitnya juga mulai terkupas sampai ia sadar bahwa aliran listriknya tidak memiliki kegunaan apapun sekarang.
Hana muncul tepat di hadapan Regulus lalu ia menendang punggungnya sampai naga Leviathan mulai menabraknya menuju daratan lalu melepaskan ombak yang begitu besar.
"Dasar kau...!!! CACING TIDAK BERGUNA!!!" Regulus berubah menjadi petir lalu ia menabrak tubuhnya sampai Hana terhempas ke belakang.
"Ketahui lah tempatmu...!!! Kaisar sepertiku tidak pantas kau sentuh dan lukai...!!!" Regulus menendang perut Hana cukup dalam sampai ia memuntahkan banyak darah.
"Urk..."
"Hmph, sekarang aku dapat menandingi dirimu lagi berkat Legend's Boost... jangan mengira bahwa keberuntungan kecil dapat menyelamatkan dirimu lagi." Regulus tersenyum jahat.
Regulus melakukan satu putaran lalu menghantam tubuh Hana menggunakan palu listrik yang ia ciptakan sampai diri terpental ke belakang lalu mengenai beberapa gunung.
Hana menyeimbangkan tubuhnya lalu ia memuntahkan lebih banyak darah lagi, semua tetesan hujan yang mengenai tubuhnya dapat memulihkan tubuhnya sedikit demi sedikit sampai ia masih bertahan sekarang.
"Mungkin aku tidak akan pernah bisa menghadapi dirimu lagi secara langsung, Mizuhana... untuk itu, kau mendapatkan rasa hormat dari seorang kaisar." Regulus memperbesar ukuran palunya sampai melebihi satu gunung.
Semua aliran listrik dan sihirnya ia masukkan ke dalam palu itu sampai menginjak kekuatan penuh karena ia sekarang tidak lagi tertarik bertarung melawan Hana yang bukan tantangan asli bagi dirinya.
"Semua hal yang baik perlu berakhir dalam waktu yang tertentu... Aku berhak memberikan dirimu hadiah yang pantas untuk kematian seorang petarung!!!"
"Aku akan mati jika aku membiarkan dirimu melakukan tindakan yang seenaknya! Kau sudah ketinggalan zaman dengan era ini, Regulus...!!! Kau tidak akan membunuh siapa pun, aku akan mengakhiri dirimu sekarang juga...!!!"
Regulus menatap Diablo yang masih menerima beberapa serangan dari Arata dan Haruki, ia tidak dapat membantu dirinya bahkan Satori sendiri terlihat sangat tidak peduli dengan nyawa Regulus.
"Dasar tidak berguna... kalian memang akan bersikap egois seperti biasanya...!" Ungkap Regulus dengan urat-urat yang menonjol di wajahnya.
"Bersiaplah untuk musnah bersama seluruh keluargamu, Mizuhana...!!! Kau pantas menjadi debu yang TIDAK TERSISA!!!" Regulus melempar palu besar itu ke arah Hana.
Hana melesat maju ke depan dengan tubuhnya yang mendapatkan lindungan dari zirah Leviathan, ia juga menumbuhkan sayap sangat besar.
Setelah itu, ia melancarkan satu pukulan ke depan sampai memunculkan Leviathan besar untuk menabrak palu tersebut lalu mendorongnya ke belakang.
"Nrrgghhh...!" Hana bisa merasakan tekanan besar di hadapannya yang mencoba untuk mendorongnya ke belakang.
"Ada apa, Mizuhana!? Aku kira kau memiliki kekuatan yang lebih besar dari ini, HAHAHAHAHA!!!" Regulus terus melempar beberapa palu kecil ke depan agar bisa menambahkan tekanan dan beban untuk palu besarnya.
"Dia... Dia memang menahan diri... sial... jika saja Megumi memperingati diriku sejak awal maka aku... aku akan membunuhnya dengan cepat." Ungkap Hana dengan tatapan yang terlihat kesulitan.
"Aku tidak tahu sampai kapan tubuhku ini akan bertahan... tapi ini hanya satu-satunya pilihan tersisa yang harus aku gunakan." Hana memejamkan kedua matanya.
"Aku tidak peduli risikonya... aku akan menghancurkannya agar bisa mengakhiri era kerajaan untuk kerajaan Legetsu!!!" Hana merapatkan giginya sampai tubuhnya melepaskan sedikit cahaya.
"LIGHT OF HOPE!!!" Teriak Hana keras sampai ia menggunakan kemampuan peningkatan yang berhasil mendorong mundur palu itu cukup jauh sampai Regulus tercengang ketika melihatnya.
"Brengsek...!!! Bagaimana bisa...!? Bagaimana bisa kau memiliki kekuatan sebesar ini dalam waktu yang singkat!?!?" Seru Regulus.
__ADS_1
Hana terus mendorong ke depan sampai ia berhasil menghancurkan palu itu, "TINGKATKAN SERIBU...!!!"
Hana menghantam perut Regulus cukup dalam sampai ia terbang melewati dirinya bersama dengan Leviathan yang menggigit tubuhnya sampai melesat ke atas langit lalu berputar.
"AAHHHH!? UAAAAAGGGGHHH!!!" Regulus menjerit keras karena pukulan tadi benar-benar terasa sangat menyakitkan sampai ia tidak dapat bertahan cukup lama lagi.
Berbeda dengan sebelumnya ketika akar kehidupannya masih tersimpan di dalam listrik, sekarang ia dapat merasakan penuh kesakitan sampai pembuluh darah dan jantungnya hancur sampai mengeluarkan banyak darah.
Semua darah itu keluar melalui lubang hidung, mulut, telinga termasuk pori-porinya sampai kedua matanya meledak karena Leviathan itu terus memasukkan banyak air ke dalam tubuhnya.
Leviathan yang berada di atas langit itu sampai meledakkan, melepaskan banyak ombak yang mengenai daratan beberapa kali sampai mendorong mereka semua ke belakang.
Hana berputar lalu ia terjatuh di atas tanah dengan kondisi yang terasa kelelahan, "Hah... Hah... Hah..."
Hana berbaring di atas tanah lalu ia menatap ke atas langit, "Aku berhasil... Minami... Honoka... Rokuro..."
Regulus telah hancur sampai tidak menyisakan apapun, ombak itu dipenuhi dengan darah sampai medan perang saat ini dipenuhi dengan mayat Legenda yang gugur ketika berperang.
Satori bisa merasakan dengan jelas bahwa Regulus telah mati, ia sadar akar kehidupannya telah kembali karena kemampuan Golden Spirit Megumi yang mengenainya.
"Tidak berguna, semua kekuatan Saint melalui ritual itu, kau tetap kalah... pihak kemenangan apanya?" Satori mulai merentangkan kedua lengannya sampai mendorong semua orang yang melawan dirinya.
Satori muncul tepat di hadapan Arata lalu ia menghantam wajahnya cukup keras sampai mendorongnya ke belakang, Satori mengangkat lengan kanannya ke atas sampai memindahkan Haruki ke arah Kou sehingga mereka saling bertabrakan.
"Diablo, jika seperti ini aku akan mengkhianati dirimu... apakah kau masih mengingat kemampuan itu?" Tanya Satori yang mulai membantu Diablo untuk bangun.
Diablo memulihkan kembali tubuhnya lalu ia melihat sekeliling wilayah dipenuhi dengan mayat sampai peperangan bisa saja di menangkan oleh pasukan Ghisaru karena jumlah mereka yang kecil tetapi isinya dipenuhi dengan petarung berpengalaman.
"Aku sudah menduganya sejak awal bahwa situasi akan memburuk seperti ini... Si badut itu tidak mau mendengarkan apa yang aku katakan." Diablo mulai menusuk perutnya cukup dalam.
Ia mengeluarkan satu gumpalan darah hitam, Satori mulai memperhatikan Kou lalu mendorongnya beberapa kali dan memindahkannya ke arah yang berbeda agar ia tidak menggunakan The Mind untuk mengganggu Diablo.
Semua pasukan Ghisaru secara bersamaan maju ke arah Satori lalu melancarkan serangan yang sama tetapi semua serangan itu menghilang seketika sampai mengenai diri mereka sendiri.
""HWAAAAGGGHHH!!!"" Mereka terpental ke belakang sampai Satori mulai menyapu pasukan dari kerajaan lagi dengan menghilangkan sebagian dari tubuh mereka menggunakan kemampuannya.
"Mungkin aku harus berterima kasih kepada kalian yang sudah memberikanku semua luka ini..." Diablo tersenyum lalu ia mendapatkan beberapa Legend's Boost.
"Sebagai hadiah, aku perlu memulai puncak perang yang sebenarnya... bukannya begitu?" Tanya Diablo yang mulai memecahkan gumpalan darah itu sampai memunculkan sirkuit sihir merah di atas daratan.
"Apa ini...!?" Megumi terkejut ketika melihat semua mayat itu mulai berubah menjadi debu sampai sirkuit sihir merah yang mereka injak mulai memancarkan cahaya merah darah.
"Kesempatan... aku berikan kalian kesempatan untuk memenangkan puncak peperangan ini sebelum kami menunjukkan kekuatan asli itu." Diablo menyilangkan kedua lengannya.
"Tanpa bantuan dari Kou Comi, kalian sudah pasti akan mati oleh Diablo sendiri dengan kekuatannya yang masih lemah itu." Peringat Satori selagi memindahkan tubuh Kou beberapa kali sampai memusingkan dirinya.
"Satori, apakah aku... sebagai seorang Legenda baru saja mencatat sejarah baru dengan menggunakan kemampuan ini?" Tanya Diablo.
"Sepertinya begitu... terakhir kali aku lihat adalah Zombie tetapi kau menciptakan sesuatu yang berbeda." Jawab Satori.
Mereka semua tercengang ketika pandangan di hadapan mereka memperlihatkan beberapa lengan yang dipenuhi kerangka bahkan daging yang sudah busuk mulai keluar dari dalam sirkuit sihir itu.
"Rise of The Undead... aku membangkitkan mereka yang sudah mati menjadi seorang Undead agar peperangan ini bisa berlanjut." Diablo tersenyum serius.
Mereka semua tidak bisa berkata-kata lagi ketika melihat pasukan Undead Legenda mulai bangkit dengan kedua matanya yang memerah bahkan keberadaan yang di rasakan terasa begitu menyengat sampai pikiran mereka dipenuhi dengan penyiksaan dan pembunuhan.
"A-Apa...!?" Tubuh Hana merinding seketika melihat Regulus bangkit menjadi seorang Undead yang mulai mengamuk.
"HANAAAA!!! HANAAAA!!! HANAAAAGGGHHH!!!" Jerit Regulus yang dipenuhi rasa benci kepada Hana karena sudah membunuh dirinya sendiri.
__ADS_1
"Dengan ini aku sudah mencatat sejarah baru untuk tipe Legenda." Diablo maju ke depan lalu berdiri tepat di sebelahnya.
"...kebangkitan baru dari Undead Legend!"