
Pada malam hari, semuanya terjaga dengan aman karena pihak pemerintah saat ini sibuk mengurusi semua sumber daya alam yang mereka dapatkan untuk menciptakan sesuatu dan tentunya memperkuat persenjataan mereka.
"Kakak Koizumi." Panggil Shinobu.
Koizumi yang awalnya ingin menutup kamarnya mendengar suara Shinobu di sebelahnya, ia melihat sepupu kecilnya mendekati dirinya selagi memegang sebuah kunci pesawat luar angkasa yang langsung ia berikan kepadanya.
"Kak Aditya dan Kak Andrian memberitahuku bahwa Tante Haruka pernah memegang pasukan negara Rusia sejak itu, dengan bantuan pasukan negara Rusia kesulitan mereka melawan iblis bisa dibilang tidak begitu sulit."
Koizumi mengingatnya, jika Haruka kecanduan dengan minuman Vodka berarti dia memang memiliki ikatan yang kuat dengan pasukan Rusia, tetapi ia tidak begitu yakin tentang mereka yang kemungkinan melupakan dirinya.
"Kak Aditya menghubungi orang Rusia di sana... mereka masih mengingat jasa Tante yang sudah mau membantu mereka dalam peperangan melawan bangsa Iblis."
"Mungkin besok Kakak bersama yang lainnya bisa pergi menuju negara Rusia untuk meminta bantuan mereka semua termasuk dengan Jenderal pasukan Rusia yang sudah percaya padaku."
"Kenapa kamu bisa tahu...?"
"Koneko membaca pikiran mereka semua, yang hanya menerima diriku untuk memegang pihak mereka adalah Jenderal Rusia." Shinobu mengeluarkan sebuah kacamata yang ia berikan padanya.
"Gunakan itu agar Cyber bisa mengendarai kalian semua menuju Rusia, kalau begitu besok pagi jangan terlambat ya."
"Kamu tidak akan ikut dengan kami?" Tanya Koizumi.
"Tidak, aku akan di Indonesia sebentar untuk membantu para tentara militer bersama Yuffie, apa yang mereka butuhkan adalah kesatuan...!" Shinobu memasang tatapan penuh tekad.
Koizumi tersenyum, merasa bangga melihat sepupu bagaikan adiknya berkembang cukup jauh dimana ia suatu saat nanti akan memimpin segalanya, ia juga tidak kenal dengan yang namanya belas kasihan seperti dulu.
"Kalau begitu aku akan tidur duluan ya..." Koizumi mulai jongkok tepat di hadapan Shinobu untuk memberinya sebuah kecupan di kening lalu ia mengelus kepalanya dan mengucapkan selamat malam untuk dirinya.
Shinobu berjalan pergi meninggalkan kamar Koizumi, membiarkan dirinya tidur tetapi setelah ia bertemu Shinobu tadi, dirinya lebih memilih untuk berlatih di dalam kamarnya itu dengan melakukan push-up dan sit-up.
"Ahh, Nobu."
Shinobu melihat Ako yang sedang menunggu di pintu kamarnya, selama ini ia memperhatikan Koizumi dan Shinobu yang sedang membahas kepergian menuju Rusia.
"Kalau boleh, aku juga ingin ikut denganmu membantu tentara militer Indonesia." Ucap Ako yang lebih memilih untuk ikut dengannya, Shinobu menjawabnya dengan anggukan.
"Mm~ tentu, kita bagi menjadi tiga kelompok saja... Kak Koizumi akan pergi bersama Konomi dan Hinoka sedangkan kamu bersama Kakak Yuffie akan ikut denganku menuju militer Indonesia."
"Sudah ditentukan ya... semoga besok kamu bisa mengurusi hal pertemuan dengan para Jenderal itu, mereka harus tahu bahwa penampilanmu dari luar memiliki perbedaan yang besar dari dalam."
"Koneko akan berjuang...!" Jawab Shinobu dengan senyuman yang ia tunjukkan sampai membuat Ako tersipu seketika, ia mulai menatap ke sebelah kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang lewat.
Ako langsung memeluk Shinobu erat sampai ia membalas pelukan tersebut dengan kepolosan anak kecil, "Pelukanmu hangat sekali, Ako... mungkin karena insiden di gunung itu, kamu sulit tidur ya?"
"Ti-Tidak kok... aku hanya ingin memberikan sahabat baikku sebuah pelukan." Ako melepas pelukan itu lalu ia melambangkan tangannya kepada Shinobu untuk pamit.
Shinobu berjalan pergi meninggalkan lorong itu, awalnya berniat untuk pergi menuju kamarnya tetapi pendengarannya yang begitu menangkap suara banyak sekali orang remaja di bagian barat.
"Malam-malam begini ramai juga ya..." Shinobu mengintip dari jendela, melihat Adit dan Indera yang pergi keluar melewati gerbang, saking penasarannya Shinobu langsung mengikuti mereka semua.
"Dit, jangan bilang lu malah bawa seluruh anak STM ke sini...?"
__ADS_1
"Jelas lah, jika kekuatan tentara militer masih belum kuat maka di situlah anak STM akan maju paling depan untuk menghentikan pihak pemerintah." Jawab Adit selagi menghisap rokoknya.
"Anak STM intinya tidak akan pernah berubah dari ke bar-baran mereka... di saat Yogyakarta di serang terutama lagi keraton ini maka anak STM akan maju paling depan!!!" Seru Adit keras yang mulai mengeluarkan sebuah arit.
"Bukan anak STM kalau tidak bar-bar." Adit bisa melihat seluruh remaja yang mengenakan pakaian bebas dan robek sedang duduk di atas tanah selagi bersandar dengan perbatasan keraton itu.
Mereka semua terlihat seperti menikmati rokok dan minum keras, Shinobu kebetulan melihatnya bahkan penciuman langsung menetralkan bau yang begitu kuat dari mereka semua.
"Banyak sekali orang di sini... mereka semua memiliki senjatanya masing-masing, hebat..." Shinobu terlihat begitu kagum ketika melihat seluruh anak remaja terlihat seperti petarung.
"Oh itu dia, bos telah datang."
Semua remaja itu bangkit lalu hormat kepada kedatangan Adit yang sudah bisa dibilang pemimpin karena ia menantang semua anak petarung yang kuat tetapi akhirnya kalah sehingga ia sekarang yang memegang sekolah itu.
"Bos Adit, bagaimana soal penyerangan Riau? Apakah semuanya berjalan dengan baik...?"
"Tidak, kita telah gagal untuk melindungi semua sumber daya minyak itu, pihak pemerintah berhasil merebutnya."
"Sial... jika saja Riau tidak begitu jauh maka mereka semua tidak memiliki kesempatan untuk bisa menang." Kata remaja selagi memegang sebuah rantai yang begitu panjang.
"Waahhhhh~"
Pandangan para remaja itu teralihkan kepada Shinobu yang dengan polosnya menghampiri mereka semua karena terlihat begitu tertarik dengan model senjata yang mereka semua pegang.
Salah satunya adalah gergaji yang begitu besar, Shinobu mulai mendekati remaja di depan Adit untuk melihat rantai yang ia pegang sudah dilengkapi dengan logam panjang lainnya.
Indera dan Adit memasang tatapan kaget ketika menyadari Shinobu mengikuti mereka dari belakang, semua remaja STM itu terlihat begitu kaget dengan ekor dan telinga Shinobu yang terus bergerak.
"Shino, apa yang kau lakukan di sini!?" Tanya Adit yang mulai memegang erat tangan Shinobu sampai ia mulai terkekeh.
"Koneko memiliki panggilan baru ya... boleh kok, panggil aku sesukanya." Shinobu mengangguk lalu ia melihat semua senjata yang dipegang oleh remaja STM itu dengan tatapan tertarik.
"Gawat, Dit... salah satu dari mereka percaya bahwa siluman itu asli, kita harus mengamankan gadis itu atau dia bisa saja diserang oleh anak STM karena ke bar-barannya itu." Bisik Indera.
"Santai saja... lagi pula aku sudah mengamankan dirinya--- dia menghilang!?" Adit memasang tatapan kaget ketika melihat Shinobu mendekati gerombolan anak STM itu untuk melihat-lihat senjata yang mereka pegang.
"Ekor dan telinga asli...! Dia pasti siluman!" Seorang remaja yang memegang arit mulai melangkah maju menuju arah Shinobu yang sedang jongkok selagi melihat senjata.
"Oi! Hentikan!!!" Adit melihat salah satu bawahannya menyerang Shinobu, ia mencoba untuk menyelamatkan dirinya tetapi arit itu sudah di ayunkan sampai bilahnya menebas tengkuk Shinobu.
Hasilnya langsung mengejutkan mereka semua, arit itu langsung patah ketika menyentuh tengkuk Shinobu bahkan ia sendiri bisa merasakan lemparan kertas kecil yang menyentuh tengkuknya.
"Mm? Siapa yang melempar kertas?" Tanya Shinobu dengan tatapan polos, ia menoleh ke belakang lalu melihat seorang remaja yang memegang arit potong itu langsung menarik lengan Shinobu lalu berjabat tangan dengannya.
"Ternyata kau sudah berbuat janji dengan seorang dukun ya...!? Hebat sekali...!!! Aku tidak pernah melihat orang sakti sebelumnya, tetapi kau berhasil mematahkan arit yang aku pegang tanpa melakukan apapun."
"Fueh?" Shinobu memasang tatapan bingung sampai Adit mulai menarik lengan Shinobu untuk membawa dirinya pergi dari semua pasukannya.
"Bos! Jangan bawa dia sendirian lah, bagi dengan kami juga...! Gadis kecil itu imut sekali, kita membutuhkan refreshing setelah menaklukkan sekolah lain!"
"Woi! Si bos pedofil anjir!!!"
__ADS_1
"Waduh parah emang... anak kecil aja dia bawa sendirian."
"Tetapi aku tidak percaya gadis kecil sepertinya sudah melakukan ritual dengan seorang dukun sampai kebal oleh serangan arit tadi."
Semua remaja itu terus membicarakan Shinobu bahkan salah satunya bercanda tentang Adit yang kemungkinan berubah menjadi pedofil karena membawa Shinobu pergi.
***
"Apa yang kamu lakukan di sini...!? Kau ini gila atau semacamnya, anak STM itu tidak pernah mengetahui sejarah di luar alam semesta ini."
"Tetapi mereka terlihat kaget ketika seorang lelaki di belakangku berjabat tangan dengan diriku, aku tidak menyangka kamu juga memiliki pasukan remaja yang memegang senjata unik."
"Kami ini adalah petarung... tidak peduli yang namanya pelajaran atau apapun itu asalkan kami bisa sukses, sial... jika seperti ini mereka akan terus menanyakan sesuatu padamu."
"Bukannya bagus?! Mereka bisa kita ajak menuju Medan perang, kami bangsa Legenda juga bar-bar kok!" Shinobu memasang tatapan terbinar-binar sampai ekspresinya terlihat begitu polos.
"Tidak... aku tidak akan membiarkan kartu as di gunakan begitu cepat, sekarang kau pergi saja, Shino."
"Tidak mau!" Shinobu mengembungkan pipinya.
"Apa kau bilang!? Bagaimana caranya aku harus menyingkirkan dirimu...? Tidak, setidaknya berikan aku pertanyaan agar kau mau pergi karena sebentar lagi aku akan tawuran."
"Koneko ikut!" Shinobu menggerakkan ekornya sangat cepat sampai Adit langsung memegangnya erat tetapi ekor itu mendorong mundur lengannya sampai ia bisa merasakan tenaga besar di dalamnya.
"Bagaimana cara Koneko ikut dengan remaja petarung itu?" Tanya Shinobu dengan tatapan polos sampai Adit mulai memikirkan satu hal yaitu adu panco agar tidak ada yang harus dirugikan.
"Kamu tahu adu panco? Jika aku menang maka kau harus pergi, jika kalah maka kau ikut saja denganku tanpa melakukan---"
"Oi!!! Si bos akan menantang gadis sakti itu dalam pertandingan panco!" Seru salah satu remaja yang menarik perhatian semua remaja STM itu yang langsung pergi untuk mencari meja lalu menempatinya di depan mereka berdua.
"Yang menang akan memegang STM kita...!"
"Apa?!" Adit memasang tatapan kaget, tetapi ia berpikir tidak akan bisa kalah dari seorang gadis seperti Shinobu yang bahkan ukuran tubuhnya lebih kecil di bandingkan meja itu.
"Silakan, gadis sakti." Ucap salah satu remaja yang menyediakan dirinya sebuah kursi agar ia bisa melakukan panco dengan Adit.
"Karena Koneko adalah bangsa Legenda, manusia yang bar-bar terdengar sangat menarik... aku ingin mereka ikut memperjuangkan umat manusia." Shinobu memegang tangan Adit.
"Kalau begitu aku akan menerimanya..." Jawab Adit, ia melihat Indera memegang tangan Shinobu dan Adit untuk menjadi wasit.
"Bersiap..."
"...mulai!"
Shinobu menghantam tangan Adit ke atas meja sampai terbelah menjadi dua lalu mengejutkan mereka semua, setelah itu ia langsung mengangkat kedua lengannya karena memenangkan adu panco itu.
"DAN KITA...!!! TELAH MEMILIKI...!!! SEORANG GADIS PERTAMA...! YANG MEMEGANG....!!! ANAK STM...!!!" Seorang remaja mulai mengatakannya seperti memberikan pengumuman yang besar.
"...BERHASIL MENANG...! MELAWAN PEMIMPIN KITA SEBELUMNYA...!!!"
"...GADIS SAKTIIII!!!"
__ADS_1