
"Sebelum itu..." Haruka tersenyum serius kepada Shou.
"Hm...?"
"Aku tidak menyangka kau akan mengatakan sesuatu yang sama persisnya dengan orang yang kau lawan dulu..." Haruka mencoba untuk menahan tawanya karena Shou benar-benar belajar dari kesalahannya sejak itu.
"Ahh... Dia adalah Legenda yang cukup menginspirasi, jika masih ada waktu dan kesempatan kenapa tidak di coba. Pertarungan ku melawan Arata adalah pertarungan yang akan aku terus kenang karena ia mengubahku..."
Rokuro sontak ketika mendengar nama ayahnya sendiri, ia mulai berpikir bahwa Shou memiliki kaitan dengan Ayahnya.
"Kau mengenal Arata...?"
"Iya, kenapa?"
"Kau pernah bertarung---"
"Yang dia lawan itu bukan ayahmu, Rokuro. Hanya Arata dari dimensi palsu yang bernama Kurota..." Haruka mulai menjelaskan, Rokuro sekarang merasa tertarik untuk melawan beberapa pertarungan dengan Shou sekarang.
"Terdengar menarik, kalau begitu, Shiratori Shou 'kah namamu itu...? Bagaimana jika kita melakukan latih tanding sebentar?" Tanya Rokuro.
"Heh? Boleh saja."
"Dan Shou, dia adalah Shimatsu Rokuro, putra Arata." Kata Haruka sehingga Shou tersenyum serius karena ia ingin melihat kekuatan yang dimiliki oleh putra Arata di dimensi asli ini.
"Kalau begitu, aku menerimanya kapan saja...!" Shou melakukan kuda-kuda bertarungnya, pertemuan Legenda yang sangat klasik bagi Haruka.
"Semoga kalian bersenang-senang ya." Haruka tersenyum kecil lalu mengusap kepala Kou.
"Kou, bisakah kamu ke Honoka dulu...? Untuk sekarang kamu tidak perlu mengurus Shuan, bisa kami urus soal dirinya." Kata Haruka, Kou terlihat khawatir dan kecewa tetapi ia tidak bisa menolak permintaan kakaknya.
"Oke..." Kou berjalan pergi meninggalkan Haruka sendirian.
"Asriel, bisakah kau temani?" Tanya Haruka.
"Baiklah, aku juga ingin bertemu dengan Mitsuki yang saat ini sedang bersama Honoka juga." Asriel mulai mengikuti Kou dari belakang.
Sekarang sudah waktunya Haruka yang turun tangan, ia ingin menyadari Shuan lebih lanjut lagi dengan perkataan dan buktinya bahwa ia sendiri tidak pernah mengetahui perjuangan Minami sejak kecil.
"Kalau begitu, kalian bisa bersenang-senang sedangkan aku akan menemui Shuan." Haruka berjalan pergi sehingga Rokuro secara refleks mengikuti dirinya.
"Biarkan aku ikut, Haruka. Kau pergi sendirian bertemu dengan seseorang yang sedang depresi karena kekalahan bisa saja membahayakan..." Rokuro yang memiliki sifat perlindungan besar kepada Haruka muncul seketika.
"Ehh...? Ba-Baiklah." Haruka tersipu lalu tersenyum selagi menyenderkan kepalanya di atas bahu Rokuro.
Shou memasang wajah yang datar karena ia dari tadi sudah siap menerima latih tandingannya, pada akhirnya ia sendirian di lapangan dengan suara gagak yang muncul tiba-tiba.
"Aku malah sendirian di sini... Hahhhh..." Shou menghela nafasnya lalu berjalan pergi mengikuti Asriel yang masih terlihat dari jarak yang jauh.
__ADS_1
Rokuro dan Haruka saat ini sedang bermesraan selagi bergerak menghampiri hotel untuk mengunjungi kamar Shuan, kali ini Haruka menginginkan dirinya bangkit dari lubang mudah menyerah dan putus asa itu.
"Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Haruka?"
"Dengan kubus waktuku ini, aku dapat menunjukkan bukti bahwa Minami telah menghadapi banyak beban dan masalah sejak kecil..." Haruka memunculkan kubus waktu.
"Aku tidak menyangka Adiknya akan bersikap dingin dan tidak sopan kepada kakaknya sendiri, astaga memiliki seorang putra memang susah ya..."
"Aku mengerti apa yang kau coba katakan Haruka, kedua orang tuaku juga sulit untuk mengasuh diriku." Jawab Rokuro.
"Semoga aku tidak melahirkan putra untukmu ya." Haruka mengedipkan matanya, membuat Rokuro tersipu seketika.
"Sebentar lagi, kita akan sampai. Lebih baik menyusup masuk menggunakan sihir waktu karena ia pasti akan bersikap keras kepala lagi." Haruka meraih tangan Rokuro lalu melompati waktu dan menghentikannya agar bisa masuk ke dalam kamar Shuan.
Shuan yang berada di dalam kamarnya saat ini merasa frustrasi dan kesal terhadap dirinya sendiri, Shou hanya menambahkan beban dan rasa kegagalan itu lebih besar lagi.
"Shuan..." Haruka dan Rokuro baru saja tiba di dalam kamarnya, dengan cepat Shuan mencoba untuk menyerang tetapi Haruka menghindarinya dengan menghentikan waktu.
"Apa yang kau lakukan... Jangan seenaknya menyerang orang lain seperti itu, kita sudah seperti keluarga kau tahu..." Haruka menyilangkan kedua lengannya.
Shuan mencoba untuk melarikan diri tetapi terlambat karena Haruka menghentikan waktu lagi, hanya untuk membawa dirinya kembali, kali ini menciptakan pelindung yang begitu kuat di sekitarnya.
"Shuan... Kau harus mau mendengar apa yang kami katakan, jangan bertingkah keras kepala seperti itu, bodoh!" Seru Haruka, Rokuro hanya bisa diam di belakangnya karena ia yakin Haruka dapat mengatasinya dengan baik.
"Kedua adikku sendiri, Kou dan Honoka tidak memiliki pola pikiran yang berbeda soal kekalahan atau siapa yang terbaik sedangkan dirimu yang berada di bawah Minami sampai menyerah seperti ini."
"Aku sendiri sebagai seorang Kakak memiliki keyakinan bahwa Honoka berada di tingkat lebih atas di bandingkan diriku...!"
"Tidak perlu merasa putus asa jika merasakan kesakitan atau kekalahan, kau hanya perlu bangkit dan memberi mereka rasa malu yang lebih memalukan."
"Kau pasti akan merasakan perasaan yang begitu berbeda jika berhasil mengalahkan seseorang yang pernah mempermalukan dirimu, rasa balas dendam seperti itu sangat memuaskan!"
Shuan hanya bisa diam, mencoba untuk tidak mendengar perkataan sampah bagi dirinya. Haruka merasa seperti orang bodoh yang berbicara dengan dirinya sendiri.
"Shuan, jika kau terus berperilaku tidak sopan dan keras kepala seperti itu maka aku tidak segan akan berkuasa bagi keluargaku sendiri..."
"Karena Ibuku sedang pergi... Itu artinya aku sebagai Kakak tertua tidak akan merestui dirimu untuk menikah dengan Kou bahkan lebih parah lagi jangan pernah mendekatinya lagi!" Seru Haruka dengan tatapan yang terlihat kesal.
Haruka meraih tangan Rokuro lalu berjalan pergi karena ia sendiri sudah muak mengurusi Shuan yang tidak mau mendengar dirinya lagi.
Shuan sontak kaget ketika mendengar perkataan tajam itu, dengan cepat ia bergerak ke depan dan berhadapan secara langsung dengan Haruka selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat muda.
"Tolong... Jangan pisahkan diriku dengannya..."
"Kau sendiri yang keras kepala dan tidak mau mendengar diriku, Shuan. Aku mencoba untuk membantu dirimu dan menyadarkan dirimu agar kau bisa berhenti menjadi budak dari amarah itu sendiri!" Haruka sekarang terlihat marah dan kesal kepada Shuan.
"Ma-Maafkan aku... Biarkan aku mendengarnya..." Shuan berlutut kepada Haruka, ia tidak ingin kehilangan sesuatu yang sangat penting baginya yaitu Kou.
__ADS_1
Haruka memberi dirinya kesempatan terakhir, "Shuan... Lepaskan semuanya..."
"Itu bukanlah hal yang memalukan jika kau merasakan kekalahan, bukan juga dosa untuk bertarung demi sesuatu yang benar."
"Masih ada beberapa kata yang tidak akan sampai kepada tujuan itu tersendiri, banyak musuh di luar sana yang memiliki kekuatan dan pengalaman jauh lebih atas di bandingkan kita."
"Aku mengerti apa yang kau rasakan, Shuan. Kau selama ini adalah putra Shira yang memiliki sikap lembut dari Megumi itu sendiri, kamu tidak ingin menyakiti seseorang..."
"Aku mengetahuinya karena aku juga mengerti tentang perasaan yang kau rasakan saat ini, alasannya adalah kau sangat ingin melindungi kehidupan yang kau suka yaitu kedamaian."
"Pikirkan lebih jauh lagi, jatuhkan semua rasa malu itu... Bukan kau saja yang merasakan hal yang begitu menyakitkan, kau sendiri tidak pernah mengetahui riwayat hidup kakakmu sendiri..."
"Dia lahir pada masa-masa Yuusuatouri sedang mengalami kesusahan yang begitu besar, bangsa iblis menyerang dan peperangan besar sedang terjadi!"
Haruka menunjukkan sebuah kubus waktu yang menunjukkan kehidupan Minami sejak bayi sampa sekarang.
"Ibumu melahirkan Kakakmu di dalam gua yang di lindungi oleh bangsa Elf karena banyak sekali iblis yang mengepung tempat itu."
"Ketika ia menginjak umur anak kecil seperti 6 tahun... Tidak ada satu pun teman yang ia berteman dengan dirinya karena Neko Legenda adalah kegagalan bagi Legenda, seperti produk gagal!"
"Beberapa orang juga pernah memburu dirinya karena tidak tahan melihat Neko Legenda yang sangat merugikan ketika mengamuk, Minami menahan semua kesakitan itu sendirian."
"Tanpa sebuah teman, ia juga merahasiakan semua kesakitan nya kepada kedua orang tuamu! Dulu itu sangat susah, Shuan. Sekarang kau harus bersyukur karena sudah diberi kemudahan!"
"Shira tidak memiliki waktu untukmu karena harus mengurusi konflik selanjutnya, aku juga sama dan aku pertama kali berteman dengan Minami ketika akademi Yuzu kembali bangkit!"
"Sejak kecil sampai umur remajanya Minami menahan semua rasa sakit itu dengan menutup menggunakan rasa bahagia dan ceria yang selalu ia tunjukkan kepada kami semua...!"
"Harga diri Minami sudah hancur beberapa kali bahkan ia terus di sakiti dan direndahkan tetapi ia masih tetap bangkit dan maju, jati dirinya sebagai seorang Legenda hancur ketika memarahi Kou karena amarah yang menjadikan dirinya sebagai budak!"
"Selanjutnya adalah hal yang lebih buruk, Minami kehilangan temannya dan ia menyangkanya sebagai kesalahannya sendiri! Kemudian, dia sudah memiliki pengalaman yang berjuta-juta tentang kematian dirinya!!!"
Shuan tercengang ketika mendengarnya, ternyata selama ini Minami yang pernah merasakan kematian dengan cara yang berbeda-beda itu benar, sekarang Shuan hanya bisa diam dan merasa begitu bersalah.
"Sadarlah! Kau seharusnya tidak pernah memperlakukan kakakmu dengan cara yang dingin! Dia sangat menyayangi dirimu dan ingin kau tidak merasakan hal yang sama dengannya!"
"Sejak bayi, kau hanya tidak menyadari kebaikan yang Minami berikan karena kedua orang tuamu kerja, hanya Minami yang mengasuh dirimu dan melatih dirimu sampai titik ini...!"
Nasihat Haruka sudah cukup kuat untuk membangkitkan Shuan yang merasa putus asa, awalnya ia merasakan rasa kesal dan kegagalan yang begitu besar sekarang penyesalan.
Air mata mengalir keluar melalui kedua mata Shuan sehingga ia mulai melarikan diri lalu melompat keluar dari dalam hotel itu dan berlari cepat untuk menemui Minami secepat mungkin.
"Dia melarikan diri..." Kata Rokuro.
"Mungkin dia sudah sadar, aku juga tidak ingin Shuan merasakan hal yang Minami rasakan sejak kecil sampai sekarang."
"Menceritakan tadi sepertinya sudah cukup di mengerti untuk Shuan karena dia mudah di ancam soal Kou, sekarang kita hanya perlu menyerahkan sisanya kepada Minami."
__ADS_1
"Ya... Kau benar..."