
"APAKAH KAU MASIH INGIN MENGATAKAN WARNA KUNING DAN EMAS MELAMBANGKAN KEBAHAGIAAN, SHINOBU!?" Teriak Shira keras sampai ia kembali menenangkan diri.
Shinobu tentunya akan terkejut sampai ia memasang tatapan yang terlihat ketakutan karena sudah melihat Shira mengamuk seperti itu, perasaan yang ia tahan mulai retak sedikit demi sedikit.
Kata demi kata yang terus Shira keluarkan perlahan-lahan mengubah Shinobu jauh lebih efektif karena pikirannya mulai merancang semua itu satu per satu agar bisa memusnahkan musuh di dalam dirinya.
"Aku rasa warna kuning sudah tidak bisa disebut kebahagiaan... melihat Minami dan Shuan gugur untuk menarik kedamaian dan ketenangan..."
"...melihat sepupu, kakak, dan bahkan orang tuaku gugur juga, semuanya bukan kebahagiaan melainkan kepahitan yang perlu di terima karena usaha mereka terlupakan begitu saja karena dunia ini."
"Kau sudah memiliki kekuatan itu... kekuatan yang dapat membuka mata banyak orang yang merendahkan dirimu, mereka semua pasti akan takut jika kau tidak menahan diri!"
"Hanya saja pembunuhan masal melalui buku itu belum cukup efektif karena mereka tidak tahu siapa penyebabnya! Dari situ saja kau mengerti bukan!? Kau masih menahan diri dalam hal membunuh...!"
Shinobu terus menatap wajah Shira yang terlihat menderita sekarang, dia juga menahan semua kesedihannya ketika mengingat kedua anak dan keluarganya yang sudah gugur.
Ternyata orang kuat juga bisa menangis, Shira untuk saat ini tidak ingin menangis melainkan memberi banyak pelajaran untuk Shinobu agar bisa membuka pikiran dan hatinya lebih jauh lagi.
Dengan tambahan bisa membuat dirinya menangis agar semua perasaan yang ia pendam terlepas, jika sudah berhasil maka dia dapat berkembang dan melanjutkan perjalanannya menuju pintu yang ia pilih.
"Sebenarnya apa yang kau lihat selama ini...? Menurutmu siapa musuh kita...?"
"Jika terdapat seseorang yang membawa perubahan, orang itu pasti sanggup mengorbankan apa yang dia cintai... seperti Minami."
"Jika kau sangat ingin memiliki kekuatan monster melalui perubah Beast itu maka kurangi sikap kebaikanmu yang berlebihan dan masukkan kegelapan di dalamnya!"
"Legenda yang tidak sanggup mengorbankan sesuatu, tidak akan bisa mengubah apapun!" Seru Shira dengan tatapan mengancam sampai membuat Shinobu merasa semakin bersalah.
"Koneko... Koneko tahu... aku masih belum berpengalaman..."
"Ya, itulah kenapa kau harus melangkah maju. Kali ini menjadi dirimu yang baru dengan menggapai keseimbangan, sesuatu yang berlebihan tidak akan membawa kebaikan."
"Kebaikanmu hanya akan dimanfaatkan oleh mereka semua, kau perlu memiliki keinginan untuk membunuh mereka yang mengganggu dan kau anggap salah..."
"...jika kau membunuh yang kau pikir salah tetapi semua orang menganggap bahwa dirinya paling benar, kau tidak perlu peduli dengan hal itu..."
"...kau hanya perlu memperlihatkan kepada mereka bahwa kejahatan dan keburukan itu dapat mengubah sesuatu menjadi hal positif untuk selamanya!"
"Shinobu, di dunia yang kejam ini, sikap baik hanya akan mendekatkan kita kepada kematian, kau bisa saja memperlihatkan sikap baikmu ke orang lain.
"Tetapi jika di hadapan musuh, sama saja dengan menghampiri kematian itu sendiri, kau juga bisa membebani teman-teman mu, jadi jika saat bertarung, bertarung lah dengan serius, tanpa memperlihatkan belas kasihan."
"Kenapa kau senekat itu untuk bertarung melawan musuh yang sudah menghabiskan nyawamu beberapa kali...? Kau tetap saja memperlihatkan belas kasihan...!"
"Kau tahu bahwa diriku selama ini selalu memperhatikan dirimu bukan!?" Tanya Shira yang mulai membentak dirinya lagi sampai Shinobu mengangguk pelan.
"Semua Legenda memiliki alasan mereka masing-masing, terkadang, kau harus menyelesaikannya tanpa bantuan orang lain..."
"...atau kau tidak akan bisa melangkah maju. Jika kau mau bersikap netral dan memasukkan kegelapan itu maka kau pasti bisa terus maju."
"Semua Legenda itu lemah... hanya saja kita bisa terus bertambah kuat berkat bantuan usaha, kerja keras, dan tentunya harga diri... satu-satunya hal yang dapat kita percayai sampai akhir!"
"Yang lemah tidak bisa melakukan apapun...!!! Kita tak bisa melakukan apapun kecuali menangis, Kakek...!" Jawab Shinobu dengan tatapan serius.
"Menangis tidak selalu menunjukkan dirimu lemah... menangis adalah sebuah pelampiasan, semua usaha yang kau rasakan termasuk dengan semua tantangan itu..."
"...kamu pasti akan merasa lelah sampai ia melepaskan semuanya, menangis adalah jalannya karena kelemahan tidak selalu berasal dari tangisan kita."
"Tangisan dapat memberi kita hal yang positif juga... semua yang kita pendam dalam hati kita akan terasa ringan jika kau mau menangis, itulah kenapa aku ingin kamu melepaskannya dan melampiaskan tangisan itu padaku."
"Aku ulangi, Shinobu... kenapa kau bersikap baik terlalu berlebihan kepada mereka semua...? Mereka yang aku maksud adalah seseorang yang sudah menindas dan menganggap dirimu sampah."
"Aku hanya ingin membantu... setidaknya mengubah pola pikiran mereka tentang diriku, mendapatkan kepercayaan mereka semua agar kehidupan yang berkelanjutan bisa dipenuhi dengan kepercayaan asli."
"Tidak ada yang berubah... kau hanya akan terus dimanfaatkan sampai ditindas tanpa batas, lebih baik kau membunuh mereka dan membantu dirimu sendiri..."
"...membunuh dalam pandangan Legenda terkadang baik dan buruk, sedangkan di ras lain... aku tidak tahu, hanya saja kau perlu sadar bahwa kita bangsa Legenda bertarung dan membunuh demi kebaikan yang akan datang!"
"Kenapa Kakek berjuang sejauh ini...? Mencoba untuk mengubah pola pikiran dan membuka gembok perasaan yang aku simpan...?" Tanya Shinobu.
__ADS_1
"Aku mohon... menyerah lah... aku sudah berjanji kepada Mama bahwa diriku tidak akan menangis... Koneko akan tetap bersikap kuat."
"Tentunya aku tidak akan bisa menyerah sampai hal yang aku mau sudah tercapai, kita adalah Shiratori..."
"...janji yang kau buat dengan Kou adalah kesalahan Ibumu yang sempat menyesal, dia mengasuh dirimu dalam keadaan dan kondisi yang salah di dunia busuk ini." Ketika Shira berbicara seperti itu, Shinobu langsung membaca pikirannya.
"Kakek sendiri sebenarnya menginginkan apa dariku!?" Tanya Shinobu yang mulai melawan sekarang.
"Sudah jelas bukan? Aku ingin dirimu berubah dan melepaskan semua perasaan yang kau simpan..."
"...jika kau membutuhkan alasan maka aku memiliki banyak sekali, salah satunya adalah aku hanyalah cahaya dan harapan sementara yang mungkin tidak bisa bertahan lama!"
"Shinobu, hampir setiap detiknya orang akan mati dan tertimpa masalah... bisa saja sebentar lagi aku akan mati, harapanku sendiri bahkan masih belum cukup untuk mengubah dunia ini!"
"Hanya sementara seperti menghentikan perlawanan Zangetsu, mungkin itu adalah harapan terakhir yang menyinari dunia ini...! Aku sudah tidak bisa memancarkan harapan itu ketika kalah melawan Zoiru..."
"...itu karena harapanku akan terus berlanjut menuju generasi selanjutnya yaitu Minami... dia gugur dengan kuburan besar yaitu pohon emas di luar angkasa, hal tersebut terus bersinar dengan cahaya biasa."
"Harapannya sudah pindah kepada dirimu secara permanen... semua harapan dari keturunan Shiratori dan Comi... Harapanku dan Korrina... semuanya terdapat di dalam dirimu, tidak akan hilang!"
"Apakah kau ingin melihatku mati...?"
"Kenapa Kakek berbicara seperti itu!?"
"Kamu ternyata memang menginginkan diriku untuk mati ya...?"
"Tidak---"
"APA INI YANG BENAR-BENAR KAU INGINKAN!?" Bentak Shira dengan tatapan kesal karena kesabarannya sudah habis, mengubah Shinobu ternyata membutuhkan dorongan amarah seperti menasihati seorang anak dengan cara memarahinya.
"Jika kamu tidak ingin berubah maka harapan itu hanya akan berpindah kepadaku...! Malah aku sendiri yang akan berjuang!!! Membiarkan dirimu yang naif dan masih berbelas kasihan mati...!!!"
"Penderitaan dan semua konflik yang terus bermunculan...!!! Kita harus mengakhirinya...!!! Kau harus mau berubah, sialan!!!" Shira berlutut lalu menghantam daratan dengan lembut karena ia tidak ingin menghancurkan Realm itu dengan sengaja.
Pukulan lembutnya sudah cukup untuk menghancurkan daratan sampai meluas ke belakang, Shira sudah kehabisan kata-kata tetapi Shinobu terlihat semakin sedih sampai ia ingin membatalkan janji itu.
Shira langsung menatap Shinobu yang berkaca-kaca, tubuhnya bergetar ketika menggunakan The Mind untuk membaca keseluruhan dari Shira yang berniat untuk membantu dan mengubah dirinya menjadi Legenda yang layak.
"Entah kenapa... Koneko sudah terbiasa menahan diri sampai sulit sekali untuk melepaskannya... membuka gembok yang menutup hatiku juga sulit..."
"...jika seseorang ingin mati, katakan biarkan mereka... aku tidak ingin Kakek mati... Koneko akan kesepian tanpa keluarga..."
"...Koneko tidak memiliki orang tua lagi." Shira mengangkat kedua alisnya ketika melihat ekspresi Shinobu terlihat begitu sedih karena ia mulai mengingat semua penderita dan kesedihan yang harus ia rasakan sendirian.
Dari umur empat tahun, menahan semuanya sendirian dengan bantuan sistem yang menemani dirinya. Mengingat dunia memperlakukan dirinya buruk juga sudah terasa sedih sampai air mata perlahan-lahan mulai keluar melalui matanya.
"Aku tahu itu... selama ini... Koneko memang tertahan dengan menunjukkan belas kasihan, memendam semua perasaan negatif, bahkan sampai menerima semua penderitaan itu tanpa bercerita."
"...semua itu salahkan, aku sudah membebankan banyak orang... termasuk Kakek sendiri..."
"...aku terendah dari yang rendah, aku benar-benar membenci diriku sendiri." Shinobu langsung memegang rambutnya cukup erat karena semua perasaan sedih dan lelah itu mulai muncul.
Perkataan dan perilaku yang Shira tunjukkan kepadanya memberikan efek sekarang. Shinobu sudah di tinggal oleh kedua orang tuanya termasuk sesosok anggota keluarga yang ia kenal dekat.
Jika Shira membawa kematian terhadap dirinya maka dia akan bertambah sedih bahkan sampai mengingat kembali semuanya, peristiwa kelahirannya sampai sekarang... The Mind terus mengingatkan dirinya.
"Apakah kau lelah...? Apakah kau bermasalah...?" Shira langsung sadar, dia bisa berubah jika mau melampiaskan semua perasaan sedih dan lelahnya kepada dirinya.
Dengan itu pola pikiran dan hatinya akan terbuka untuk selamanya, menerima bimbingan dan tentunya asuhan yang akan Shira berikan kepada dirinya sampai ia siap untuk hidup sendirian lagi tanpa mengandalkan Kakek dan Neneknya.
"Rasanya kasar bukan...? Kejam... menderita... dunia ini memperlakukan dirimu buruk sejak bayi..."
"...kau masih ingin memperbanyak kebaikan itu tanpa harus bersikap sedikit kejam...?" Tanya Shira.
"Kasar sekali... rasanya pasti membekas di dalam dirimu, kau memiliki mental yang kuat, nak..."
"Aku merasa kasihan melihat dirimu harus melangkah ke depan walaupun dunia dan semua orang memaksa dan menekan dirimu untuk berhenti..." Shira bisa melihat Shinobu terus memasang tatapan yang sedih.
"Aku sangat kesakitan..." Kata Shinobu.
__ADS_1
"Aku... sangat ketakutan..."
"Aku... sangat... sedih..."
"Aku berusaha... sangat keras..."
"Setidaknya... aku ingin mengikuti Mamaku... mengubah segalanya dengan benar... menggunakan langkah awal yaitu kebaikan..."
"Aku tidak... berusaha menjadi kuat..."
"...atau mencoba... membuat segalanya menjadi... baik..."
"...aku hanya terus berpikir dan pikir... untuk membenarkan diri sendiri..."
"...untuk mengatakan bahwa... aku sedang mencoba... bahwa aku... tidak seperti melakukan... apa-apa." Ekor dan kedua telinga Shinobu langsung turun, menunjukkan dirinya yang mulai bersedih.
"Aku ingin... mengatakan bahwa aku tidak bisa... menahannya lagi... aku ingin diberitahu... bahwa itu tidak dapat membantu..."
"...bahkan jika hidup itu menyakitkan dan sulit... orang-orang perlu... menghargai arti dalam kehidupannya masing-masing..."
"...aku sudah berpikir untuk menghilang dan melarikan diri... tetapi itu bukan cara Legenda yang layak, aku tidak bisa mengotori keturunanku juga..."
"...itulah yang terbaik, aku hanya takut... apapun yang aku lakukan hanya akan... membiarkan orang lain mati..."
"...atau mungkin lebih, tergantung pada apa yang akan... terjadi. Aku sudah cukup... aku terus menderita dan menahannya demi bisa membagikan kebaikan yang aku mau..."
Shira memasang tatapan kaget ketika Shinobu tidak mengeluarkan perkataan apapun setelah itu, awalnya ia mengira dia akan mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan menyerah sampai mengamuk dan terus mengatakan putus asa.
Ternyata, dia memilih untuk diam dengan tatapan menyesal seperti mengerti dengan apa yang Shira mau, itulah yang terbaik bagi dirinya sampai Shinobu masih menahan diri untuk melepaskan semua air mata itu.
"Memang benar, kamu mungkin dapat mencapai keinginanmu kepada orang lain. Tetapi, tidak ada harapan menyelamatkan dirimu dalam melakukannya..."
"Kau akan mengulangi siklus tersebut sampai kau mati... masih berpegang teguh pada cita-cita yang tidak bisa kau laksanakan dalam dunia ini lagi..."
"...tidak ada yang datang membantu orang lain, pada akhirnya, kamu tidak bisa menyelamatkan yang lain maupun dirimu sendiri."
"Dengan kecerdasan dan harapan terakhir yang kau terima... kau pasti akan memecahkan misteri dan membebaskan semua orang yang terjebak dalam labirin ini..."
"Shinobu Koneko..."
"Jika kamu melepaskan semua perasaan yang kau tahan dan melampiaskannya kepadaku maka akan aku terima kapan pun..."
"...karena masih ada waktu, apakah kamu tidak ingin menyesal lagi? Ayah dan Ibumu sudah tidak ada, termasuk dengan Tech yang selalu menemani dirimu."
"Kou terlambat memperingati sesuatu tentang kebaikan itu... dia ingin kau untuk kotor juga demi bisa mengubah dunia, memecahkan semua hal yang misterius termasuk menyelesaikan tantangannya."
"Dia tidak sanggup memberikan pesan itu... apa yang ia inginkan sebenarnya adalah dirimu untuk terus bersinar... sinar yang tidak akan pernah mati..."
"Sinar yang membutakan orang ketika melihatnya terlalu lama, itu adalah jenis orang yang mempercayai dirimu hanya untuk memanfaatkan, lagi pula cahaya memang tidak selalu baik."
"Hanya saja masih ada orang yang bertahan dengan cahaya... yaitu sebuah pelindung di mata mereka, mereka bisa melihat harapan dari sinar itu untuk selamanya tanpa menerima kebutaan atau kegelapan."
"Pelindung itu adalah rasa percaya mereka... mereka yang mempercayai dirimu dan mengerti dengan tujuan yang akan kau raih."
"Aku ingin menyampaikan perkataan ibumu... dia meminta maaf, karena dirinya sudah tidak ada untuk menerima lampiasan itu..."
"...maka aku selalu bersedia, Shinobu. Kamu tidak sendirian, masih ada nenekmu dan tentunya aku yang ingin mengasuh diri---" Shira melebarkan matanya.
...
...
Air mata mengalir keluar melalui mata kanannya, melihatnya saja membuat Shira merasa bersalah karena perkataan dan bentakannya mampu menghancurkan segel dan penahanannya itu.
Ini pertama kalinya Shinobu mampu mengeluarkan air mata yang mengalir sampai terjatuh melalui dagunya, "Aku di sini..."
Shinobu langsung melarikan diri dari tempat itu karena ia sadar bahwa dirinya sudah menangis, mengingkari janji Kou sampai ia tidak bisa memperlihatkan tangisan itu kepada Shira.
"Shinobu!!!"
__ADS_1