Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 86 - Tanda-Tanda Perang


__ADS_3

~Xuutouri~


Tempat dimana bangsa Elf tinggal dengan damai, tetapi semua kedamaian itu berubah ketika bangsa Iblis menyerang dan mencoba untuk menaklukkan apapun yang mereka mau berdasarkan perintah yang Rxeonal berikan. Semesta Elf itu biasanya dikenal sebagai semesta yang sangat kaya terhadap senjata karena terdapat banyak sekali senjata kuat di dalam semesta tersebut salah satu-nya semua senjata yang dipegang oleh dewa atau dewi itu tercipta di [Xuutouri].


Rxeonal memberi perintah kepada pasukan iblis lainnya untuk mengumpulkan senjata berbahaya dan kuat sebanyak-banyaknya agar mereka semua siap berperang melawan siapapun. Sepertinya tujuan Rxeonal bertahap agar ketika perang nanti ia bisa menang terus, awal dari perang antar semesta akan dimulai sebentar lagi.


Megumi saat ini sedang melarikan diri seperti kucing, hutan-hutan yang berada di tempat itu terbakar habis karena bangsa Iblis yang terbang sambil menyemburkan api panas melalui mulut mereka masing-masing. Penyergapan iblis yang terjadi pada saat turnamen membuat Megumi terpental menuju semesta dimana bangsa Elf tinggal.


Dia bangun di tengah-tengah desa dimana bangsa Elf sedang menciptakan senjata setiap hari-nya, semua senjata itu mereka jual dan mengimpor-nya kepada semesta yang berbeda. Rata-rata semesta Elf itu semesta yang sangat berkualitas untuk ditaklukkan tetapi tidak ada yang pernah berhasil karena pertahanan dan penyerangan mereka sama kuatnya berkat ciptaan mereka sendiri.


Saat ini Megumi terus melarikan diri sampai tubuhnya dipenuhi dengan keringat, desa yang tadinya tempat tinggalnya telah terbakar habis karena bangsa Iblis itu. Semua iblis itu tidak akan melanjutkan tujuan mereka sebelum membunuh seseorang yang masih hidup yaitu Megumi sendiri.


Walaupun Megumi sudah melarikan diri selama berjam-jam, bangsa Iblis itu masih terus mengejarnya tanpa memberi dirinya kesempatan untuk melarikan diri. Kecepatan Megumi semakin menurut karena terdapat sesuatu yang berat di dalam tubuhnya terutama perutnya yang tiba-tiba membesar.


"Hah... hah... hah..." Megumi berguling ke sebelah kanan dan bersembunyi di balik pohon yang besar.


Nafas Megumi terasa berat, ia meluangkan beberapa detik ini untuk beristirahat agar nafas-nya kembali normal. Keringat-nya terus mengalir sampai ia bisa mendengar banyak sekali ledakan disekitar-nya karena bangsa Iblis itu menyerang hutan itu dengan membabi buta.


"Sepertinya aku tertinggal dengan Mirai... Kecepatan-nya itu jauh lebih cepat dibandingkan diriku ini, entah apa yang membuatku seperti ini sampai aku tidak bisa melarikan diri cukup cepat dari biasanya."


Megumi meraba perutnya, ia bisa merasakan bahwa terdapat sesuatu yang keras di dalam perutnya yang membuat dirinya menjadi lambat. Akhir-akhir ini selera makan Megumi selalu hilang dan perutnya bisa membesar tanpa suatu alasan.


"Oi... Akhir-akhir ini aku tidak menyantap makanan apapun di desa itu, kenapa bisa aku menjadi gendut begini...? Apakah aku benar-benar gendut---"


Insting Megumi merasakan sebuah serangan yang dapat melukai kepalanya, secara refleks ia melompat ke atas dan mendarat di ranting pohon sambil melompat-lompat beberapa pohon yang berada di hadapannya. Semua iblis itu bisa melihat Megumi yang sekarang mencoba untuk melarikan diri dengan melompati pohon-pohon di hutan tersebut.


Megumi terus melompati semua pohon itu sampai ia berakhir tergelincir dan jatuh di atas tanah karena seluruh tubuhnya terasa keram serta perutnya terus berdenyut seperti terdapat sesuatu di dalam perutnya yang mendorong dan menendang.


"Sakit... Ugghhhh... Sakit sekali..." Megumi sudah tidak bisa menggerakkan kedua kaki-nya kembali karena rasa nyeri yang ia rasakan di dalam perutnya.

__ADS_1


Semua iblis itu mendarat dan mengepung Megumi, mereka tidak memberi celah apapun agar Megumi tidak mencoba untuk melarikan diri lagi. Tanpa memberi belas kasihan seorang Iblis di depannya mengarahkan pedang tajam-nya kepada Megumi.


Iblis yang mencoba untuk membunuh Megumi telah kehilangan kepala-nya sebelum ia berhasil melukai Megumi, beberapa detik kemudian rekan-nya sadar bahwa iblis yang mencoba untuk menyerang-nya telah kehilangan kepalanya sampai ia terjatuh di atas tanah. 


"Oi...! Apa itu tadi...!?" Tanya salah satu iblis itu yang mulai berkeringat.


"Insting-ku merasakan hawa membunuh yang---"


Sebuah tombak tajam kelak mengenai kepala mereka satu-satu sampai memenggalnya, membiarkan mereka terbunuh tanpa kepala. Megumi tidak melihat kejadian itu karena saat ini dia sedang memejamkan kedua matanya sambil menahan rasa sakit yang terdapat di dalam perutnya.


Masih terdapat beberapa iblis yang bertahan dan mereka datang terlambat, mereka langsung tercengang melihat rekan-rekannya yang terbunuh tanpa kepala. 


"I-Ini tidak mungkin---"


Sebuah tombak tertusuk di atas tanah, tongkat itu bersinar dan muncullah seorang gadis yang mengangkat tombak itu lalu melancarkan tombak itu dengan bertubi-tubi menyebabkan mereka semua terbunuh dengan lubang-lubang disekitar tubuh mereka. Megumi membuka sedikit matanya dan melihat sesosok gadis yang memiliki sayap putih.


"A... Akina... Tolong..."


"Tahanlah rasa sakit itu dulu, Megumi... Bantuan akan segera datang sebentar lagi." Kata Akina, ia melihat beberapa iblis yang datang dengan senjata yang mereka curi dari bangsa Elf.


Akina memutar tombak-nya dua kali dan memancarkan serangan yang bertubi-tubi sampai semua iblis itu tidak sempat untuk menahan dan menghindar, semua iblis itu langsung kehilangan banyak darah karena tombak yang Akina gunakan adalah [Chastity] dimana tombak ini dapat menyerap darah dan menyucikannya di setiap serangan yang terkena.


Semua iblis yang berdatangan itu tidak diberi kesempatan apapun untuk menyerang atau bertahan, bahkan sebagian dari mereka menyerah sampai meminta belas kasihan. Akina merasa tidak peduli dan ia segera membuat mereka menderita dengan hanya beberapa serangan.


Akina segera menggendong Megumi dan mencoba untuk mencari tempat yang lebih aman untuk Megumi berlindung karena iblis itu terus datang dan mencoba untuk membunuh Megumi, mereka berdua berlindung di sebuah gua kecil dimana Akina menciptakan sebuah aura suci di sekitarnya untuk membakar Iblis yang mencoba untuk menyerang Megumi secara diam-diam.


Akina melirik ke belakang dan segera melancarkan tombak itu ke arah kepala mereka yang menyebabkan kepala iblis itu meledak. Semua iblis itu terus dibantai oleh Akina sendiri, ekspresi-nya terlihat kesal mungkin karena dia menyimpan rasa dendam tentang penyergapan itu.


"Ck... Mereka terus berdatangan entah darimana, sepertinya sejarah memang benar... Perang semesta muncul karena penyebab dari iblis. Yang mereka pedulikan hanyalah menaklukkan apapun yang mereka pikir itu baik."

__ADS_1


Pasukan iblis lainnya muncul dan mulai mengepung Akina, ia mulai berkeringat karena seluruh iblis itu memiliki hawa membunuh yang cukup besar. Sepertinya iblis yang datang itu jauh lebih kuat dari iblis yang sebelumnya, bisa-bisa kekuatan dirinya tidak cukup untuk menghabiskan semua iblis yang terus berdatangan itu.


"Ugghhh... Sakit... Tubuhku terasa seperti ingin meledak..." Megumi sudah tidak bisa menahan rasa sakit lagi di dalam perutnya.


"Tahan dulu, Megumi... Sebentar lagi, aku bisa merasakan keberadaan mereka yang mulai mendekat...!" Akina terus memancarkan beberapa serangan yang membuat beberapa iblis di depannya terluka, sekarang semua iblis itu membutuhkan beberapa serangan agar bisa terbunuh.


Rasa sakit yang dirasakan Megumi semakin parah, ia langsung pingsan karena tubuh kecilnya yang sudah tidak bisa menahan rasa sakit lagi. Akina sempat melirik ke belakang dimana ia melihat beberapa darah yang dikeluarkan oleh Megumi.


"M-Megumi...! Oi..!!! Megumi...! Bangun...!" Akina melakukan kesalahan yang cukup fatal dimana ia lengah karena fokus-nya terbelah kepada Megumi, lengan kiri-nya mengalami luka yang cukup dalam karena digigit oleh seorang Iblis.


"Sial...! Dasar makhluk sialan...!" Akina menghantam kepala iblis yang menggigit-nya sampai hancur.


Akina melempar tombak-nya sekuat tenaga ke depan untuk memberikan jalan agar mereka bisa melarikan diri dari pasukan iblis itu, terlihat dua akar yang bergerak menuju arah mereka berdua. Akina meraih tangan Megumi dan ia segara menarik akar itu dengan sekuat tenaga.


"Sekarang...!!! Mirai...!!! Teriak Akina keras.


Akar itu segera menarik mereka berdua keluar dari dalam gua, tetapi Akina melihat dua Iblis yang sedang menggenggam erat kedua kaki Megumi. Akina melebarkan sayap-nya dan memancarkan cahaya yang cukup silau ke arah kedua iblis itu, menyebabkan mereka berdua langsung melepas kaki Megumi.


"Sepertinya berhasil..." Akina menghela nafas dengan lega.


Akar yang menyelamatkan Akina bersama Megumi membawa mereka menuju sebuah tempat persembunyian dimana Mirai berada, beberapa menit kemudian Akina bisa melihat sebuah desa kecil yang dilindungi dengan pelindung yang dapat membuat iblis terbakar ketika mereka mencoba untuk masuk.


Akina mengangkat tubuh Megumi dan segera mendarat di depan Mirai. Mira menghela nafas-nya lega karena kedua akar yang ia ciptakan berhasil menyelamatkan Akina dan Megumi dalam waktu yang tepat.


"Oi...! Kita tidak boleh menghabiskan waktu lagi...!" Ucap Akina yang terlihat khawatir.


"Ada apa...!?"


"Megumi terluka parah...!"

__ADS_1


"Ahh...!?"


__ADS_2