Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 456 - Skak


__ADS_3

"Iya, Zero... apakah masalah jika aku mengatakan sesuatu yang berkaitan dengan Zero?" Honoka tersenyum polos.


""Jangan berikan senyuman itu, tidak pantas untuk dirimu."


"Aku ingin menjadi lebih feminin, tehe~" Honoka mengeluarkan lidahnya sambil menepuk kepalanya sendiri, melihat tingkah lakunya seperti itu membuat Minami dan Hana yakin bahwa ia tidak pernah serius dalam berbagai macam hal ketika mereka sedang bersama, mungkin Zero yang Honoka maksud memiliki arti penting di dalamnya.


"Tenang saja, kucing-kucing kecilku. Rencana Honoka Comi tidak akan pernah mengecewakan siapapun, rencana sudah termasuk keturunan Comi." Kata Honoka sambil menyentuh bibir mereka, sikapnya kembali seperti semula sampai membuat Hana tersipu karena ia berharap bahwa Honoka adalah seorang pria mungkin ia akan jatuh cinta kepada dirinya.


"Dengar, Honoka."


"... ..!"


"Hm? Ada apa, Minami? Kau membutuhkan waktu dengan diriku yang begitu anggun 'kah?" Honoka membenarkan poni rambutnya yang menghalangi mata kanannya itu sampai Minami bisa melihat kedua matanya yang mempesona tetapi ia tidak begitu tertarik karena ia memiliki topik yang harus di bahas dengan dirinya.


"Honoka, aku ingin membahas tentang sesuatu---" Perkataan Minami terpotong dengan suara alarm yang begitu keras, waktu untuk membersihkan dan memperbaiki wilayah telah selesai.


Waktu yang mereka miliki sangat singkat bahkan Honoka sampai menutup kedua matanya lalu membukanya dengan tatapan tajam untuk menggunakan Heaven's Reality agar ia bisa memperbaiki seluruh wilayah yang rusak, satu kemampuan sudah cukup untuk memberi dirinya poin tambahan yang begitu besar sampai ia mengacungkan jempol kepada teman-temannya.


"Kerja yang bagus seperti biasanya, Nona Realita. Sangat klasik." Minami tersenyum.


"Ahh, aku baru saja ingat... dimana Marie dan Lyazen? M-Mereka tidak selamat?"


"Sayang sekali, dua hari yang lalu kami berpapasan dengan seseorang yang dapat mengontrol ruangan dengan membuka celah, hampir sama seperti kemampuan yang dapat membuka dimensi tetapi celah itu menghilangkan sesuatu dan mengeluarkan sesuatu yang sudah di sedot." Hana mulai berbicara.


Kemampuan itu terdengar cukup menarik bahkan Honoka mulai memegang dagunya sendiri dan mengangguk beberapa kali, mengingatkan dirinya bersama kedua saudaranya memiliki kemampuan yang sama uniknya. Hampir sama dengan istilah sihir yang sangat kuno atau dibilang satu-satunya orang yang memiliki kekuatan tersebut.


"Aku harus mengucapkan salamku kepada mereka berdua... aku mengharapkan Lyazen dan Marie bisa membawa nama mereka di pendaftaran itu. Comi's Corporation solusinya...!" Honoka mulai memikirkan tentang kemampuan yang baru saja Hana bicarakan.


"Hampir sama seperti [The Space]."


"The Space?" Hana memiringkan kepalanya.

__ADS_1


"Hampir sama seperti kekuatanku bersama kedua saudaraku. The Time, The Mind, dan The Reality! Tidak mungkin tidak ada The Space tetapi mustahil untuk generasi sekarang memiliki kekuatan seperti itu sih tetapi kalau soal keturunan bisa dibilang tidak mustahil." Honoka mulai mengacak-acak rambutnya karena ia menginginkan saudara lainnya agar bisa memiliki adik yang menggunakan kemampuan The Space.


"Semoga saja Mama nanti mau membuat saudara lainnya untukku."


"Yang benar saja, Honoka, Korrina Comi sudah pasti tidak memiliki waktu untuk membuat keturunan lagi. Bukannya sudah terbatas? Bisa dilihat dari Kou yang terlihat jelas seperti dirinya..."


"Iya juga sih... kalau begitu aku serahkan kepada anak Haruka dan Kou! Semoga salah satunya memiliki kemampuan The Space!" 


Honoka mengacungkan jempolnya sambil mengedipkan mata kanannya beberapa kali, Minami dan Hana tersenyum ketika melihatnya karena persatuan ini cukup memiliki arti kuat karena ujian ini cukup menyenangkan bagi mereka walaupun dipenuhi dengan tekanan.


Semua murid yang masih bertahan mulai berkumpul di tengah lapangan yang begitu luas, mereka bisa melihat bendera berlambang kubus emas mulai berkibar. Bendera yang melambangkan kubus pengabul segala permintaan, Honoka dikejutkan dengan beberapa angkatan dua yang memiliki banyak murid.


"Selama ini mereka masih bertahan... aku kira angkatan yang berada di atas satu akan melakukan pergerakan agresif..." Ungkap Honoka, ia mengalihkan pandangan menuju wilayah 3C dan ia tidak bisa melihat siapapun kecuali satu murid tersisa yang sangat kotor, penuh dengan luka.


"Takatora... kemana dia...?"


Minami masih mengkhawatirkan tentang poin yang diperoleh oleh kelasnya tidak mampu memenuhi syarat, kesempatan kalah mereka bertambah besar  tetapi ia masih memiliki rasa percaya diri untuk tetap bertahan karena keturunan Shiratori tidak pernah memilih pilihan mutlak yaitu menyerah dan pasrah.


Satu minggu ini ia tidak memiliki waktu untuk beristirahat dan seluruh tubuhnya mengalami tekanan besar ketika menggunakan kemampuan surganya, terpaksa ia harus menyimpan beberapa tenaga di dalam dirinya.


"Selamat atas pencapaian kalian yang sudah menginjak titik penentuan ini, bapak menganggap kalian layak sampai hari penentuan ini tetapi hanya terdapat satu kelas yang pantas untuk menerima pendaftaran turnamen ini..." Morgan memulai pengumuman dengan melayang di atas langit, ia melihat seluruh murid itu satu-satu.


Minami melebarkan matanya ketika melihat Takatora datang dengan lima bendera yang ia kibarkan menggunakan keempat lengan yang ia munculkan itu, melihatnya saja membuat rasa percayanya menghilang karena seseorang yang sudah mengumpulkan empat bendera otomatis akan meraih kemenangan.


Semua murid bahkan sampai tercengang dan tidak bias mengatakan apapun terutama mereka yang menguasai Shelter tidak cukup kuat untuk mengalahkan Takatora yang memperoleh banyak poin karena mendapatkan empat bendera sekaligus sedangkan Minami hanya memiliki satu.


Takatora terus menyombongkan hasil kerja kerasnya dengan mengibarkan keempat bendera itu beberapa kali, membuat sebagian murid pasrah dan kesal melihat sikapnya yang songong itu. Hana kembali menatap Honoka yang sedang memejamkan kedua matanya, ia tidak begitu peduli dengan situasinya saat ini.


Takatora mulai menatap Minami dengan tatapan serius sedangkan Minami membalasnya dengan tatapan tajam seperti melihat mangsa yang harus ia kalahkan nanti, ia masih merasa yakin dengan dirinya dan teman-temannya bahwa hari penentuan ini bukanlah hari pengunduran diri bagi mereka semua.


"Apakah kau melihat itu, Shiratori Minami...? Aku mengalahkan dirimu soal kecerdasan, hewan liar seperti dirimu tidak akan bisa mengalahkan kemampuan, rencana, kecerdasan, dan strategi yang aku rancang sejak awal." Takatora tersenyum jahat selagi menahan rasa tawa kemenangan.

__ADS_1


"Semua hasil telah dikumpulkan ke dalam kartu identitas Bapak, sepertinya hasilnya cukup mengejutkan dan memuaskan karena Bapak harus melakukan beberapa pemeriksaan, ini adalah ketentuan... seseorang yang akan terdaftar seharusnya merasa puas dengan diri mereka masing-masing..." Morgan tersenyum serius ketika melihat hasilnya yang mengalami hal tidak terduga.


"Selamat untuk murid-murid yang berpartisipasi dan mau menunjukkan potensi penuh terhadap kemampuan yang ia miliki... dengan pengumuman ini, kalian resmi akan langsung terdaftar ke dalam turnamen." Morgan memasukkan kembali kartu itu ke dalam saku celana lalu mengangkat lengan kanannya untuk meminta beberapa guru menyalakan kembang api.


"Tersisa hanya tiga murid...! Kelas 1-C telah resmi lulus di ujian Rush-Point ini...!" Seru Morgan keras, mengejutkan seluruh angkatan terutama Hana dan Minami karena sudah jelas nama kelas mereka tidak tertera sedikitpun di Leaderboard.


"A-Apa?!" Takatora mendadak merinding ketika mendengarnya, semua murid bahkan tidak bisa berkata-kata lagi ketika mereka semua kalah oleh angkatan satu tetapi kekalahan itu tidak terasa begitu memalukan, hanya Takatora saja yang merasakan sesuatu lebih menyakitkan dari kesakitan yaitu rasa malu.


Sebagian murid mulai menertawakan dirinya secara diam-diam, sikap songongnya dalam mengibarkan empat bendera yang ia kumpulkan selama ini sia-sia, Takatora ingin menolak hasil itu karena tidak ada bukti yang kuat tetapi Morgan masih belum selesai.


"Kemenangan 1C bisa terlihat jelas oleh seorang murid yang memiliki bakat dan kemampuan kuat..." Ucap Morgan, Honoka maju ke depan lalu mengeluarkan lima batu biasa, ia memperlihatkan kelima batu itu kepada mereka lalu melemparnya ke atas sehingga seluruh batu itu berubah menjadi sebuah bendera yang dapat memberikan dirinya jumlah poin besar.


Semua orang tercengang ketika melihatnya, Morgan mulai menjelaskan kepada mereka semua bahwa Honoka adalah keturunan sesosok murid legendaris yang memenangi turnamen selama tiga kali, kemampuan yang dapat mengubah apapun menjadi realita membantu dirinya untuk menyembunyikan semua bendera itu menjadi batu sebagai penyamaran.


"Aku mengumpulkan seluruh bendera itu... Morgan awalnya memberitahu kita untuk menunjukkan semua potensi dan kemampuan yang kita miliki di dalam tubuh ini, bukti ini sudah cukup kuat bahwa potensi yang aku miliki mampu membuat Morgan terkecoh." Honoka mulai berbicara dengan tatapan serius.


Morgan mengangguk pelan, terkejut ketika melihat tatapannya mengingatkan dirinya kepada seseorang. Sungguh mengerikan, ia bahkan sampai merasa menyesal untuk mengundang keturunan Korrina yang memiliki kemampuan dan kekuatan tidak terbayangkan.


Tubuh Takatora basah dipenuhi dengan keringat tetapi ia masih memiliki bukti yaitu keempat bendera yang ia dapatkan, ia mulai mengibarkannya di hadapan Morgan bahwa ia duluan yang mendapatkan bendera itu sebelum Honoka mengubah batu-batu itu menjadi bendera.


"Seharusnya semua tindakan yang dilakukan Honoka itu curang, mengubah realita itu sungguh gila. Bisa saja batu yang berubah menjadi bendera itu adalah bendera yang palsu." Kata Takatora.


"Tidak juga... justru bendera yang kau pegang adalah palsu, aku menggunakan kartu identitas ini untuk memeriksa seluruh wilayah dan aku dikejutkan dengan lima batu yang Honoka simpan di dalam sakunya selama ini bendera yang ia ubah menjadi batu untuk beberapa hari." Jawaban Morgan membuat Takatora kesal dan terkejut sehingga ia menatap keempat bendera itu.


"Kau terlalu fokus dengan tujuan itu, Takatora. Seharusnya kau tidak pernah sekalipun meremehkan rencana yang sudah di rancang oleh garis keturunan Comi." Honoka menatap Takatora yang terlihat kesal, ia menunjuk dirinya dengan tapak tangannya.


"Bendera yang kau pegang itu adalah..."


"...kotoran yang aku ubah menjadi bendera, selama ini aku selalu berada dekat dengan dirimu." Honoka menjentikkan jarinya, mengubah keempat bendera yang dipegang oleh Takatora menjadi kotoran yang memiliki aroma kuat sampai membuat dirinya tersiksa dan membuat murid lainnya menjauhi dirinya.


Takatora merasa dipermalukan secara berlebihan oleh Honoka sampai ia tidak bisa melakukan apapun, menyerang dan merasa marah bukan pilihan baik karena ia akan langsung ditindak oleh Morgan. Seharusnya ia dari awal fokus tentang Honoka dibandingkan Minami dan Hana.

__ADS_1


"Skak..." Honoka tersenyum.


__ADS_2