
[Sebelum membaca Chapter satu ini atau keseluruhan dari Special Chapter, saya sebagai author merekomendasikan kalian semua untuk membaca novel Touriverse yang bernama 'Luz Demonio', jika ada bagian yang tidak di mengerti atau kalian mencoba untuk membaca chapter ini terlebih dahulu maka tanggung resiko-nya sendiri. Terima kasih]
ZBAASSSHHHH!!!
Sebuah portal merah muncul di luar angkasa dimana Selvia bersama Alvin terpental dari dalam portal itu, portal itu kembali tertutup dan Selvia tidak bisa melakukan apapun kecuali melayang di atas langit sambil melihat bintang-bintang. Seluruh tubuhnya masih merasakan sakit dari Grimoire yang dimiliki oleh Shinku.
Selvia melirik ke sebelah kiri dan ia melihat Alvin yang berada di kondisi pingsan, ia mencoba untuk memulihkan dirinya sendiri tetapi tidak bisa. Selvia menggerakkan kedua telapak tangan-nya lalu ia menatap ke depan dan mencoba untuk membangkitkan tubuhnya dengan pelan-pelan, setelah menghabiskan beberapa detik ia berhasil berdiri di luar angkasa tersebut dan mencoba untuk membantu Alvin.
"Sihir Crimson milik Dewa tadi... Jauh berbeda sekali dengan Master..." Selvia mengusap darah yang mengalir di pipi-nya.
Seluruh tubuh Selvia tiba-tiba diselimuti dengan aura Crimson yang berbeda, aura itu berbentuk seperti api yang baru saja disiram dengan bensin. Selvia bisa merasakan kesakitan dimana-mana karena sirkuit sihirnya terasa seperti hancur bersama kekuatan-nya yang menyebar di seluruh tubuhnya tanpa bisa di kontrol dengan mudah.
"Padahal aku baru saja berhasil kabur dari wilayah tersebut... Tetapi kenapa tubuhku... Seperti ingin meleleh..." Selvia terus menahan rasa sakit-nya sampai perutnya mulai berlubang dan lubang tersebut dihalangi dengan aura Crimson tersebut.
Tubuh Alvin perlahan-lahan terjatuh menuju semesta tengah yaitu Yuusuatouri sedangkan Selvia mencoba sekuat mungkin untuk menjaga keseimbangan-nya agar tidak terjatuh ke semesta apapun. Dia harus bisa pulang dengan selamat bersama Alvin tanpa harus terjatuh seperti meteor, rasa sakit yang Selvia rasakan semakin parah sampai darah-darah hitam mengalir keluar dari mulutnya.
Selvia sudah tidak bisa lagi menjaga keseimbangan-nya, ia perlahan-lahan terjatuh menuju semesta Yuusuatouri bersama dengan Alvin. Kedua penglihatan Selvia hanya melihat warna merah serta kedua telinga-nya tidak bisa mendengarkan apapun, tadinya dia mendengar suara aura Crimson itu tetapi sekarang tidak.
Selvia memejamkan kedua matanya karena tidak ada cara lain lagi selain terjatuh seperti meteor menuju semesta Yuusuatouri, "Dewa tadi... kuat sekali..."
"Apa-apaan ini... Aku tidak tahu kenapa kekuatan-ku seperti berkurang... Apakah aku tidak terbiasa hidup seperti ras lain selain iblis...?"
"Bagaimana bisa... sihir itu... bagaimana bisa buku biasa memiliki sihir yang jauh lebih kuat..."
Seluruh tubuh Selvia terbakar dengan api merah, semua api merah itu segera menyembuhkan seluruh luka-nya termasuk memperbaiki sirkuit sihirnya dan kekuatan-nya. Hal itu membuat Selvia melotot sampai ia menatap dirinya sendiri yang dipenuhi dengan api merah, api-api itu berasal dari depan karena seluruh tubuh Selvia terasa seperti diselimuti dengan kehangatan.
Selvia menatap ke depan dan ia melihat api-api biru muda yang memancarkan cahaya lebih terang dari matahari, ketika Selvia mencoba untuk berbicara api-api biru itu segera menipis dan menunjukkan seorang gadis yang memiliki rambut pirang. Selvia merasa bersyukur bahwa dia bisa mendapatkan bantuan dari seseorang yang dapat dia percayai karena insting Selvia merasakan hati murni di dalam gadis tersebut.
"Terima... kasih..." Selvia tersenyum dan merasa bersyukur.
__ADS_1
"Seharusnya aku yang mengatakan terima kasih kepada dirimu, iblis takdir. Kau sudah menyelamatkan suami-ku, Alvin Ghifari." Gadis yang baru saja menyelamatkan Selvia adalah Korrina Comi, ia bisa merasakan jelas keberadaan Alvin jadi dia segera datang.
***
Selvia bersama Alvin beristirahat di rumah Korrina, Alvin saat ini sedang berada di ruangan penyembuhan dimana di dalamnya terdapat banyak sekali teknologi yang dipenuhi dengan sihir penyembuh. Korrina hanya bisa menyandarkan punggung di pintu ruangan penyembuhan dan berhasap bahwa Alvin baik-baik saja.
Selvia duduk di atas sofa sambil memegang secangkir teh yang disediakan oleh Korrina, gadis pirang itu tidak lupa menanyakan beberapa informasi penting tentang Selvia sendiri sampai ia sekarang mengerti tentang dirinya. Dengan hanya menghabiskan satu jam saja mereka sudah saling mengenal, Korrina mengetahui iblis takdir karena dia sudah membaca banyak buku sejarah dari berbagai semesta.
"Aku tidak bisa menghentikannya..."
"Siapa...?"
"Dewa yang memegang buku sihir tentang Crimson itu. Dia terlalu kuat, pasukan-nya juga tidak bisa disebut lemah karena setiap luka yang mereka terima maka semakin kuat mereka bertarung, itu mengerikan... Bahkan lebih mengerikan dari bangsa yang ada di semesta Zuusuatouri yaitu Giblis." Selvia mulai merinding.
"Sebenarnya apa yang telah kau lakukan sampai dirimu bisa terjebak di wilayah berbahaya yang bernama [Realm of Crimson] itu...?" Tanya Korrina.
"Sejak dulu sekali... Zuusuatouri dulu-nya mengalami perang yang cukup panjang, sesama bangsa mencoba untuk membunuh satu sama lain karena. Walaupun kita bangsa yang sama tetapi karakteristik kita sangatlah berbeda apalagi Giblis... Iblis yang sudah kehilangan akal sehat serta pikiran, hal yang mereka hanya pedulikan hanyalah bertarung dan membunuh apapun yang mereka lihat." Selvia meminum teh-nya.
"Giblis... Apakah itu semacam tipe atau spesies baru untuk Iblis?"
"Tidak... Giblis masih bisa disebut Iblis, biasanya manusia memberi namanya sebagai [Class] mungkin...?"
"Apakah sama halnya seperti Saint Legend...?"
"Saint Legend...? Apa itu...?"
"Ahaha... Kau tidak mengerti karena kau ini iblis, Selvia. Apa yang terjadi selanjutnya...?"
"Sejak itu terdapat sebuah aliansi yang bernama [Truce Order], aliansi tersebut dibuat hanya untuk membuat bangsa Giblis punah agar mereka bisa berhenti mengurangi populasi yang ada di Zuusuatouri. Aku berada di aliansi [Truce Order] itu tentunya dan kita semua melawan aliansi musuh yang bisa disebut sebagai aliansi [Destruction Order]." Selvia menghabiskan teh-nya tanpa menikmatinya.
__ADS_1
Korrina mengambil cangkir itu dan mengisinya kembali dengan teh, "Sepertinya semua semesta sama saja ya, Touri memang tidak jauh lagi dari nama masalah dan konflik yang terus bermunculan."
Selvia mengambilnya secangkir teh itu, "Benar sekali... Pasukan Giblis itu sangatlah kuat, mereka tidak akan kalah dengan mudah karena mereka dapat beradaptasi dan kebal terhadap sihir yang pernah dikeluarkan sebelumnya, bukan hanya kebal tetapi mereka bisa saja menirunya. Semua pasukan Giblis itu bertarung melawan pasukan aliansi sedangkan diriku bertarung melawan seorang Legenda dan juga Ayah-ku... Dia raja iblis."
"Kau melawan seorang Legenda...!? Ternyata Ayah-mu seorang raja iblis ya..."
"Dulu Ayah-ku baik, dia berubah sejak mengetahui kekuatan dan jalan pintas agar bisa meraih kedamaian. Seluruh tujuan pasukan aliansi adalah meraih kedamaian untuk Zuusuatouri, aku juga ikut bersama Ayah-ku tetapi Ayah melakukannya dengan cara yang salah dimana ia menggunakan kekuatan musuh untuk menaklukkan sesuatu dan meraih kedamaian tersebut secara bersamaan." Selvia mulai terlihat kesal, perasaan mulai bercampur ketika membicarakan Rxeonal kembali.
"Maaf... Karena sudah menanyakan sesuatu yang seharusnya kau katakan..." Korrina mulai merasa bersalah.
"Tidak apa-apa... Intinya Ayah dan Legenda yang aku lawan itu mudah aku kalahkan, tetapi Legenda itu selalu saja bangkit dan tidak pernah menyerah sedikitpun. Dia memiliki sihir kuno [Crimson] dan [Sacred]."
Korrina membulatkan kedua matanya ketika mendengar seorang Legenda yang memiliki sihir kuno yang sama dengan dirinya dan Alvin, tidak jauh lagi bahwa Legenda ini bisa saja memiliki sebuah kaitan bagi dirinya. Korrina menghampiri Selvia dengan wajah yang tegas, ia menggenggam kedua bahu Selvia cukup kasar sampai ia meringis sakit.
"Aww... K-Kenapa...?"
"Legenda itu... Apakah kau memiliki informasi lain tentang dirinya...?"
"Legenda itu yang membawa-ku ke wilayah Crimson, entah berapa tahun aku tinggal di wilayah yang menyengat itu. Untungnya aku bisa mendengar suara suami-mu yang teriak sekeras mungkin karena sedang tersiksa---"
"Intinyaaaa...!!!" Teriak Korrina.
"Baik-baik... Tunggu dulu..." Selvia mulai takut karena Korrina baru saja teriak di depan wajahnya.
"Legenda itu seorang gadis dewasa dengan rambut hitam yang sangat panjang, dia memakai baju yang terlihat seperti seorang dewi, yahhhh... dia memanggil dirinya sendiri sebagai seorang dewi sih. Gadis itu menggunakan topeng serta jubah yang menghalang wajahnya karena dia mencoba untuk menyembunyikan identitas-nya sendiri. Gadis itulah penyebab Ayah-ku menjadi jahat." Selvia mengepalkan kedua tinju-nya.
"Apakah kau mengetahui dirinya siapa...?"
"Dia memanggil dirinya [Master]."
__ADS_1
"Master...?" Korrina melebarkan kedua matanya.