
"Ehh...? Kau benar juga, aku tidak pernah melihat-nya lagi..." Haruka memegang dagu-nya sendiri, "Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa dia itu mencurigakan?" Ketika Okaho berbicara seperti, Haruka terdiam sebentar... tetapi ia baru saja ingat bahwa masa depan yang lihat, Konari tidak bisa terlihat... ia pergi entah kemana.
"Aku tidak bisa bilang dia itu mencurigakan atau apa... apakah kau tidak ingat? Mama Konari tidak ada di masa depan yang kita lihat." Haruka menatap tajam ke depan karena ia merasakan dua Legenda yang sedang bertarung dengan sangat sengit, "Tapi kakak... mustahil jika masa depan tidak diubah, Mama Konari itu setengah dari Mama dan Komi bukan? Jika dia setengah-nya maka Komi memiliki kesempatan besar untuk mengendalikan diri-nya."
"Shh...!" Haruka berhenti terbang dan Okaho ikut berhenti, Haruka menunjuk ke depan sehingga ia melihat seekor kucing buas yang sedang mengamuk... kucing itu menghancurkan wilayah di sekitar-nya dan meluncurkan banyak sekali gelombang cahaya melalui mulut-nya, Okaho menatap tajam ke depan dan melihat seorang Legenda yang sedang menahan semua serangan dari kucing buas itu.
"Sama seperti Shinra dan Shira ya... astaga..." Okaho menggelengkan kepala-nya, "Itu Megumi dan Homura... semua kehancuran yang kita lihat itu berasal dari pertarungan mereka, yang memulai-nya sudah jelas Homura karena dia dapat dengan mudah dikendalikan oleh Komi."
"Homura...? Ahh, ternyata dua Shira yang berasal dari dimensi berbeda memiliki istri yang berbeda ya... menarik sekali, apakah aku harus menghentikan mereka?" Tanya Okaho yang terlihat bersemangat untuk menghentikan mereka semua dengan satu jari, Haruka mengangguk dan membiarkan Okaho mengurus mereka berdua.
"Serahkan mereka kepada-ku, kakak!" Okaho melesat ke depan lalu menghentikan pertarungan mereka dengan mengayunkan satu jari-nya, mereka berdua terlempar ke belakang. Okaho lebih mengutamakan Megumi karena dia harus secepat-nya dihentikan dalam wujud itu, wujud yang dapat membawa kehancuran dahsyat untuk Legenia.
Okaho mengubah Megumi kembali ke wujud asal-nya dengan menunjuk diri-nya menggunakan jari telunjuk-nya lalu ia muncul di hadapan Homura untuk menyentuh kepala-nya sehingga ia bebas dari ilusi yang mengendalikan pikiran-nya, pertarungan mereka berakhir karena kedatangan Okaho dan ia terkejut bahwa pertarungan mereka masih terus berlanjut.
Haruka mendarat di sebelah Megumi lalu ia menatap diri-nya, "Megumi... apakah kau baik-baik saja?" Tanya Haruka, Megumi membuka kedua mata-nya lalu ia terkejut ketika melihat Haruka, ia hampir saja mencakar wajah-nya, untungnya Haruka memegang erat kedua tangan-nya, "Hei... sisi yang sama!"
"A-Ahh... Haruka... haaaahhhh..." Megumi memejamkan kedua mata-nya, merasa lelah karena bertarung berjam-jam di wujud amarah-nya itu. Haruka langsung memulihkan kondisi-nya dan Okaho kembali bersama Homura yang terlihat terkejut ketika melihat Haruka yang kembali begitu saja.
__ADS_1
"H-Haruka...? T-Ternyata selama ini benar..." Homura menutup mulut-nya dan Haruka menatap diri-nya dengan ekspresi yang terlihat serius, ia mengangguk pelan dan segera menyuruh mereka berdua untuk mengikuti jalur yang dibuat oleh Okaho. Penjelasan tidak diperlukan karena Okaho hanya perlu menyentuh kepala mereka berdua agar bisa mengerti dengan situasi yang sedang dihadapi saat ini.
"Mereka semua yang berasal dari dimensi palsu mengenal-mu ya... pastinya kau adalah pahlawan yang hebat di dimensi itu, aku ingin kakak menceritakan-nya padaku nanti." Okaho menatap Haruka, Haruka hanya diam lalu ia terbang ke atas dan pergi meninggalkan Okaho. Sepertinya menanyakan hal itu sekarang percuma karena ia sedang bersikap sangat tegas dalam apapun.
Ketika Okaho mengikuti Haruka, ia melihat sebuah kubus waktu yang dilepas oleh Haruka, Okaho segera mengambil kubusu itu dan berpikir bahwa isi dari kubus waktu ini adalah semasa kehidupan Haruka di dimensi palsu, "Terima kasih, kakak... aku akan melihat-nya setelah semua kegilaan ini selesai." Okaho mengangguk lalu tersenyum kecil hingga Haruka membalas senyuman itu dengan senyuman lagi.
Mereka bergegas dengan cepat untuk mengumpulkan seluruh populasi palsu yang dapat dipercayai, lebih tepat-nya mereka mengumpulkan yang mau diajak untuk bekerja sama... yang diajak kerja sama sudah pasti akan kuat dan hebat lebih dari apapun, mereka berhasil tiba di wilayah yang cukup tidak asing bagi Haruka karena ia tinggal di wilayah itu sebelum-nya.
"Jadi inikah...? Rumah-mu sebelumnya...?" Tanya Okaho hingga ia melihat seorang Legenda yang memiliki penampilan seperti Arata, "Jangan-jangan dia itu...?"
"Arata... Kekuatan-nya sama dengan Arata yang asli, dia juga bisa dijadikan sebagai kunci kemenangan dan rencana untuk bisa mengalahkan Komi... Aku yakin Kuro berada di dalam-nya dan mau membantu kita semua dalam situasi darurat seperti ini."
"Ternyata Haruka dan adik barunya ya... kedatangan kalian seperti-nya tidak perlu karena kami semua sudah bersiap untuk pergi menuju laboratorium milik Korrina, Methode mengetahui semua-nya dan ia sekarang sudah mengumpulkan saudara-nya sendiri..." Mendengar itu langsung membuat Haruka terkejut karena Mortem seperti-nya sudah memberitahu seluruh anak dan cucu-nya tentang Komi yang telah berubah.
Dengan ini Haruka memiliki harapan penuh dari mereka semua dan rencana yang sudah dirancang oleh Korrina harus bisa menghentikan kegilaan yang disebabkan oleh Komi, Haruka mencoba untuk menahan air mata-nya, "M-Mau tidak mau... kau harus kita panggil Kurota." Kata Haruka.
Kurota mengangguk, "Baiklah... kita tidak memiliki banyak waktu, Haruka. Mari kita bergegas!" Haruka membiarkan mereka pergi duluan karena ia masih memiliki urusan penting di wilayah tersebut, tugas mereka baru saja selesai dan Kuro bersama yang lain-nya telah pergi meninggalkan wilayah itu.
__ADS_1
"Apakah masih ada orang lain yang harus kita ajak?" Tanya Okaho, Haruka menggelengkan kepala-nya lalu ia pergi menghampiri rumah lama-nya... rumah yang pernah ia tinggali ketika berada di dimensi palsu, Okaho meraih lengan kanan Haruka karena ia menghabiskan banyak waktu jika mencoba untuk masuk ke dalam sana.
"Yang lalu biarkanlah berlalu... jika kau ingin bernostalgia maka lupakan itu...! Kita harus bergegas dengan cepat, Mama sudah pasti menunggu kita... bukan hanya Mama tetapi mereka semua!" Okaho tiba-tiba sadar bahwa Haruka menggunakan sihir waktu-nya tetapi dengan mudah Okaho berhasil menghancurkan-nya dengan sihir realita lalu ia menarik kerah baju Haruka.
"Apa yang kau pikirkan!? Dasar bodoh---" Okaho melebarkan kedua mata-nya karena ia melihat air mata mengalir deras melalui kedua mata-nya, "Okaho... aku tidak ingin... tidak ingin masa depan yang kita lihat itu terjadi... aku tidak ingin kehilangan seseorang yang sangat penting di dalam kehidupan-ku..."
Okaho melihat Haruka menangis, sepertinya melihat rumah itu membuat diri-nya merasa sangat sedih. Kematian dari beberapa saudara-nya dan juga mantan ayah-nya sendiri membuat Haruka tidak bisa menahan rasa kesedihan yang akan melanda-nya lagi... tidak lama lagi masa depan itu akan terjadi dan Haruka sudah memastikan-nya beberapa kali bahwa masa depan yang ia lihat itu akan terus terjadi.
"Kematian dari Papa Alvin dan Kak Rina 'kah...? Beritahu aku, Haruka... Jika kau terus merasa sedih dan terpuruk seperti ini, apakah kau mampu mengubah masa depan dengan hanya tangisan lemah-mu itu yang mengalir deras!?" Tanya Okaho dengan ekspresi yang terlihat serius, ia harus bisa mengembalikan semangat Haruka kembali.
"Apakah kau tidak mau menunjukkan diri-mu yang sebenarnya kepada mereka semua!? Bahwa mereka telah salah untuk menilai-mu terlebih dahulu...!!! Kau tidak bersalah, yang salah itu sudah pasti dewa sialan itu yang bernama Zangetsu...!!! Kehidupan kita terancam oleh diri-nya karena kita adalah gadis... tidak... Legenda yang berasal dari masa kuno...! Kita tidak pantas hidup di era seperti ini!" Perkataan Okaho mulai terdengar jelas oleh Haruka.
"Aku mohon, Kakak... Mari kita berjuang, bukan-nya sangat menyakitkan dan menyebalkan ketika hidup di masa kuno?! Aku mencintai tempat ini sama hal-nya kau mencintai tempat ini juga...!!! Aku mohon... bantu aku, kakak... bantu mereka semua yang sudah menjadi keluarga kita!"
Haruka menepis tangan Okaho dan Okaho melebarkan mata-nya lalu menatap Haruka, "Okaho..."
"Apa...?"
__ADS_1
"...mari kita lindungi tempat yang sangat kita cintai!" Haruka tersenyum lebar lalu ia menghapus air mata-nya.
"Itu semangat yang aku tunggu-tunggu...!"