
BAAGGGGG!!!
"AGGGHHH...!!!" Seru seorang pria berotot yang baru saja Shinobu banting di atas arena sampai tulangnya hancur remuk karena menerima kekuatan murninya yang besar.
Insiden pembunuhan yang terjadi secara misteri telah terjadi selama dua hari yang lalu, beberapa orang mencoba untuk mencari pelakunya demi mendapatkan pengangkatan jabatan.
Tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menyalahkan Shinobu karena tidak memiliki bukti yang pas, pada akhirnya kasus itu tidak dapat di pecahkan dalam waktu yang singkat.
Hari ini juga Shinobu terus menerima tantangan dari beberapa remaja yang jauh lebih besar dan tinggi darinya tetapi berakhir kalah serta pulang dengan luka yang mereka bawa yaitu tulang patah.
Shinobu ingin menyembuhkan mereka tetapi ia malah memperburuk rasa sakit mereka sehingga tantangan terakhirnya telah selesai, ia mulai menatap guru yang sedang menjadi wasit dari pertarungan itu.
"Sudah cukup... Shinobu Koneko telah menang."
Shinobu terkekeh, "Koneko melakukan yang terbaik."
"Ternyata potensinya tidak buruk juga sebagai petarung lembut..."
"Petarung lembut dari mananya? Pertarungan ini selalu saja berkaitan dengan patah tulang."
Koizumi hanya bisa tersenyum bangga ketika melihat Shinobu yang berkembang pesat, tantangan apapun itu ia dapat melakukannya tanpa menahan diri.
Bahkan dalam logikanya sendiri, tantangan pertarungan ini jika di akhiri dengan patah tulang atau luka yang dapat menghancurkan karier mereka maka ia bisa saja membantu.
Membantu dalam segi keselamatan mereka, itu artinya para pemberontak yang melawan Shinobu akan beristirahat dalam waktu yang lama di rumah tanpa membahayakan nyawa mereka, itu yang disebut kebaikan serta membantu.
Shinobu hanya bisa tersenyum polos sampai semua orang terus menyoraki dirinya dengan hal negatif tetapi ia terus memasang tatapan polos itu sampai ia berjalan pergi tetapi seorang pemberontak organisasi mendarat di hadapannya.
"Shinobu Koneko, jangan harap kau bisa bebas dari tantangan lainnya. Kemampuan yang kau tunjukkan sudah mampu membuat diriku puas."
"Koneko sudah menerima banyak tantangannya, bukannya pantas untuk di beri sesuatu yang baik seperti penaikan pangkat?" Tanya Shinobu.
"Ternyata gadis kecil seperti dirimu bisa menawarkan sesuatu ya... kalau begitu, beritahu aku, apa yang sebenarnya kau inginkan?" Tanya pemimpin dari organisasi itu.
"Tidak lama lagi, kita semua akan pergi menghadapi misi yang berbeda... mengunjungi berbagai macam semesta untuk menghentikan perintah dari pemerintah dan kerajaan."
"Setiap tim di susun berdasarkan kelas... jika aku menang lagi maka... anu... maka aku ingin... kedua sepupu dan temanku berada di tim yang sama." Kata Shinobu selagi menyentuh kedua jarinya.
"Kalau begitu aku menerima, tetapi... dengan syarat kau perlu bertarung melawan salah satu pemberontak dari organisasi, seorang manusia yang mahir dalam pertarungan fisik."
Seorang manusia mendarat di belakang Shinobu, ia segera menoleh ke belakang lalu terkejut ketika melihat ukurannya yang pas-pasan tetapi kepalan tinjunya menonjolkan berbagai macam urat.
"Jika kau menang maka tawaran tadi dapat terlaksanakan, intinya pertarungan ini sama seperti tadi. Yang kalah keluar dengan luka yang mereka terima..."
Pemimpin itu muncul kembali di hadapan Koizumi yang terlihat biasa saja, soal pertarungan fisik dapat Shinobu atasi karena tubuh buatannya itu.
"Alisia, apakah kau yakin dengan ini? Percuma saja kekuatan murni atau otot jauh lebih besar dari otak, tiada satu pun orang yang dapat melampaui pemikirannya." Kata Koizumi.
"Aku hanya penasaran... seberapa jauh ia bisa menginjak kekejaman dari segala hal yang akan memperlakukan dirinya." Pemimpin pemberontak organisasi itu bernama Alisia.
__ADS_1
"Kalau begitu mari kita mulai, Shinobu Koneko."
"Ya, ayo, Ace." Shinobu mengetahui namanya dengan membaca pikirannya sampai ia mulai memejamkan kedua matanya sebentar lalu membukanya kembali.
"Tidak ada yang namanya menahan diri, bertarunglah sepuas mungkin sampai salah satu dari kalian tidak dapat melanjutkan pertarungan ini...!" Seru Alisia.
Ace melancarkan satu pukulan yang mengarah kepada wajah Shinobu tetapi ia langsung menangkis pukulan itu lalu menyerang balik lebih cepat dengan menghantam pipi kirinya itu cukup keras.
Shinobu langsung menyerang secara agresif dengan menghantam kedua telinganya sampai pendengaran Ace terganggu seketika, serangan yang di lakukan Ace mengandung emosi sekarang.
Serangan seperti itu dapat Shinobu tahan dengan mudah sampai ia kembali menyerang perutnya yang lengah itu dengan satu pukulan keras sampai ia terdorong ke belakang.
Shinobu melihat Ace melancarkan serangan lainnya menggunakan lengan kiri tetapi ia berhasil menangkis serangan tersebut menggunakan pergelangan tangannya sampai ia mendapatkan serangan cocok.
Pipi kanan Ace menerima hantaman dari sikut Shinobu yang menerima banyak tenaga besar sampai gigi di dalam Ace retak seketika, kesempatan emas terlihat dengan jelas sampai ia melancarkan satu pukulan yang mengenai wajahnya.
BAAGGGG!!!
Shinobu merosot ke bawah lalu menghantam perutnya cukup dalam sampai meretakkan beberapa tulangnya, setelah itu ia memukul dadanya yang dilanjutkan dengan pukulan penghancur rahangnya.
BAAGGGG!!!
Shinobu melompat lalu melancarkan dua tendangan yang mengenai dada Ace sampai ia terdorong ke belakang dan menghancurkan tembok pembatas arena yang mampu mengejutkan semua orang.
BAAMMMM!!
Semua orang yang menonton pertarungan itu hanya bisa memasang tatapan yang terlihat tercengang ketika melihat gaya bertarung Shinobu yang jauh lebih hebat dan mahir.
Seperti seorang profesional tetapi ia sendiri mempelajarinya melalui buku dan latihan, pertarungan ini dimenangkan oleh Shinobu yang mengartikan Ace terpaksa harus keluar dan istirahat agar bisa memulihkan semua luka itu.
Semua orang hanya bisa diam, tidak mengeluarkan sedikit suara sampai beberapa guru terkejut melihatnya dan mengakui bahwa Shinobu adalah campuran Shiratori dan Comi yang mengerikan.
"Gaya bertarung dengan tradisi Shiratori... serta kecerdasan dan strategi tradisi Comi... ternyata dia tidak buruk..." Ucap salah satu guru.
Shinobu pergi menghampiri Alisia lalu mengeluarkan sesuatu dari saku celananya yaitu dokumen tentang Koizumi dan Hinoka, ia merampasnya untuk menjadikan sebuah bukti bahwa mereka akan berada di tim yang sama dengannya.
Setelah itu Shinobu sempat memeluk Koizumi erat lalu pergi meninggalkan arena itu untuk menikmati waktu istirahatnya sendirian di rumah karena waktu sudah hampir menjelang malam.
"K-Kenapa bisa seperti itu...?"
***
"Fufufu... ternyata eksperimen ini tidak akan menghabiskan waktu yang cukup lama ya, hanya membutuhkan taburan kekacauan maka sudah cukup..."
Penyihir itu mulai mengaduk ramuan yang ia campur dengan berbagai macam bahan mistis sampai debu ungu kehitaman terus terlepas dari dalam kawah tersebut.
"Aroma kekacauan... hmm... ya..."
"Jika saja aku bisa melakukannya dengan cepat maka... sesuatu yang menarik akan terjadi, melihat kekacauan di depan mata itu memberikan rasa terangsang yang begitu nikmat."
__ADS_1
Penyihir itu mengatakannya selagi menggigit bibirnya sampai darahnya menetes ke dalam kawah itu lalu menciptakan debu yang membentuk sebuah pandangan masa depan.
"Shinobu Koneko... imut sekali... dia akan menjadi koleksi terbatas yang baik... fufufu, jangan sampai mereka melukai dirimu lebih lanjut lagi ya..."
Penyihir itu mengambil jurnal asli yang diberikan adiknya itu, berkat bantuan adiknya, semua eksperimen akan terasa cepat karena informasi yang Shinobu ringkas serta tulis sampai semua orang akan mengerti langsung ketika membacanya.
"Ini bisa aku jadikan... untungnya aku memiliki semua itu, hanya saja aku menyimpan banyak sekali hal besar untuk mengadu domba..."
"...melihat kekacauan yang disebabkan sendiri... rasanya aku ingin muncrat saja." Penyihir itu menjilat bibirnya sendiri sampai ia mulai mencicipi cairan di dalam kawah itu.
"Sudah saatnya aku memulai eksperimen yang di tunda itu dengan tambahan dari jurnal ini, pasti akan seru dan nikmat di seluruh jagad raya!"
Penyihir itu duduk di atas kursinya lalu menempati kaki kanannya di atas paha itu sampai kawah tersebut mengeluarkan asap yang menunjukkan gambaran dari Hinoka Comi.
"Waktu masih berjalan cukup lama ya... Mungkin akan seru jika bermain dengannya, sungguh gadis kecil malang yang menerima trauma di umur kecil..."
"...wah, wah, malang sekali, malang sekali, akan aku jadi koleksi jika sudah dijadikan sebagai kelinci percobaan untuk mereka."
"Yuutouri... berbagai macam manusia tinggal di sana, sebagiannya bumi serta pesawat luar angkasa yang memiliki fasilitasnya sendiri..."
"...kalau tidak salah Koneko kecil akan memberontak ke sana untuk menghentikan pesawat luar angkasa yang memiliki senjata untuk menghancurkan berbagai macam planet di Yuutouri."
"Kalau begitu... menciptakan tambahan kekacauan di sana akan terasa menyenangkan, sudah lama sekali sejarah peperangan manusia antar Legenda tidak pernah terjadi sebelumnya."
"Hanya saja... Indonesia memiliki kemampuan Mana mistis, mungkin saja dapat aku adukan... fufufu... apalagi dengan negara Rusia, aku yakin berbagai macam rudal akan menyebabkan kehancuran di Yuusuatouri."
"Semakin banyak kekacauan maka kawah ini akan menyerap... menjadi eksperimen paling nikmat muncul, aku tidak sabar..." Penyihir itu mulai menunjuk kawah tersebut sampai ia melepaskan aura berwarna ungu.
Penyihir itu merasakan sumber Lenergy yang sangat besar di dalamnya, ia menoleh ke belakang, "Sabarlah dulu... kau masih membutuhkan kekacauan lainnya."
"Mungkin memperhatikan sedikit hiburan akan terasa menyenangkan... bukannya begitu...? Hinoka Comi...?" Penyihir itu menatap Hinoka yang saat ini sedang mengobrol dengan seluruh temannya.
Kawah itu mengeluarkan kristal ungu di dalamnya, penyihir tersebut bangkit lalu memegangnya menggunakan tangannya sendiri sampai tubuhnya langsung dipenuhi dengan garis ungu yang melukai tubuhnya.
"Untung saja... aku mendapatkan berkah dari Holy Corpse... sayang sekali, Zenzaku, aku akan mengumpulkan lebih banyak Holy Corpse di bandingkan dirimu."
"Tulang rusuk Zangges ternyata memiliki kenikmatan itu sendiri... aku bertambah semakin terangsang sampai tidak sabar untuk menggunakannya dalam berbagai macam eksperimen."
Penyihir itu melepaskan kristal yang melayang ke belakangnya sampai masuk ke dalam kening seorang Legenda yang saat ini sedang tertidur.
Kristal itu menyentuh keningnya sampai Legenda tersebut membuka kedua matanya lebar tanpa memperlihatkan pupil apapun, auranya yang berwarna biru tua muncul seketika sampai membesar.
"Fufufu... hentikan...! Jangan terus melepaskan kekuatan sebanyak itu, hyann... aku tidak tahan...!"
"Legenda pertama memang hebat! Untungnya rusuk Zangges dapat menciptakan rusuk apapun yang aku inginkan...!" Penyihir itu terus menyentuh dirinya sendiri selagi mengatakan hal itu.
"Baiklah..."
"...mari kita mengacaukan sesuatu, fufufu."
__ADS_1