
"Kau...!" Korrina langsung sadar dengan penampilan Mortem, ia mengenal jelas dirinya karena ia pernah bertemu dengan-nya pada saat Rina mencoba untuk pergi dan menyelamatkan Alvin. Tidak salah lagi bahwa Mortem adalah ras Eternal dari Rina, Korrina sudah mengenal jelas Mortem bahwa dia ini ras Eternal yang sangat jahat dan berkebalikan dengan Rina.
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di tempat yang asing ini, Mortem..." Raut wajah Korrina mulai terlihat mematikan bahwa sampai membuat mereka semua mulai berkeringat dingin dan membuat Rxeonal berhenti melakukan meditasi.
"Aku ingin kau mencoba untuk membunuh Haruka... Agfi... Rexa... Yuuki... Bahkan Rina sendiri... Sepertinya kau mengetahui dimana Rina sekarang...!" Air mata mengalir keluar dari kedua matanya, sepertinya ia sudah mengerti kenapa Rina pergi... Mortem telah memprovokasi diri-nya.
"Hehh... Hahaha, senang bertemu dengan-mu lagi, Korrina Comi atau bisa ku sebut dengan sebutan... Mama-ku tercinta~" Mortem mulai menunjukkan ekspresi yang sadis, Selvia dan Rexa tercengang ketika melihat Mortem.
Selvia mengingat dirinya dan dialah penyebab Selvia bisa terjebak di dalam wilayah Crimson itu, Selvia mulai terlihat kesal dan tidak akan pernah melupakan wajah dari seorang Legenda yang juga memprovokasi ayah-nya sendiri untuk membunuh ibu-nya dan melaksanakan sesuatu yang hanya orang jahat dan licik lakukan. Dia juga tidak menyangka bahwa Mortem adalah putri Korrina.
Rexa mulai mengingat masa-masa ketika ia sedang sendiri dan ditemani oleh Mortem, pada akhirnya dirinya mencoba untuk membunuhnya tetapi Rexa masih bisa selamat karena Korrina sempat untuk menyelamatkan dirinya.
"Wajah-wajah yang tidak asing... Ahahaha, sepertinya kita bertemu tanpa sebuah tanda ya." Mortem tersenyum sinis, ia sudah jelas mengingat Selvia, Rexa, dan juga Korrina.
Korrina menahan rasa amarah-nya, ia mencoba sekuat mungkin untuk tidak menyerang Mortem karena dia ini masih bisa disebut sebagai anak-nya sendiri. Korrina sudah mencoba beberapa kali untuk menenangkan-nya dan membuat-nya sadar, tetapi selalu saja gagal sampai Mortem pergi meninggalkan Korrina dan tidak pernah lagi bertemu dengan-nya sampai sekarang.
"Mortem... Kenapa melakukan tindakan tidak berguna ini...?" Tanya Korrina dengan ekspresi yang terlihat serius, Rxeonal mulai mengintip dan ia langsung tercengang melihat seorang Legenda legendaris bisa berada di tempat tersembunyi seperti ini.
"Apakah aku harus menyerang...? Sepertinya aku harus menunggu sampai mereka benar-benar lengah..." Ungkap Rxeonal, ini adalah kesempatan yang pas untuk bertarung dan mengalahkan Korrina agar ia tidak bisa membuat rencana atau mengikuti perang antar semesta.
Tetapi Rxeonal juga bisa merasakan keberadaan Selvia dan ia melihat dirinya, hal itu membuat Rxeonal langsung merasa kesal karena anak-nya berhasil kabur dari wilayah Crimson itu. Korrina dan Mortem hanya bisa menatap satu sama lain, hanya mulut mereka saja yang bergerak.
__ADS_1
"Jelaskan kepada-ku, Mortem. Apa semua ini disebabkan oleh dirimu!? Di mulai dari raja iblis itu sampai mencoba untuk menciptakan sejarah baru tentang perang antar semesta...!" Seru Korrina.
"Ya, terus kenapa...? Apakah kau terganggu dengan itu...? Kewajiban apa yang kau miliki untuk menghentikan rencana sempurna-ku...? Kau pernah bilang kepada Rina bahwa semua makhluk hidup memiliki tujuan mereka tersendiri dan tujuan-ku adalah membasmi seluruh makhluk hidup yang ada di Touri dan menciptakan sesuatu yang baru..." Jawab Mortem dengan ekspresi kesal-nya.
"Aku juga ingin memulai perang antar semesta dimana seluruh ras bertarung sampai mati dan tidak menyisakan satupun makhluk yang hidup... Hanyalah penyesalan dan kerugian lah yang muncul, sepertinya raja iblis yang bernama Rxeonal itu mengerti dengan tujuan-ku, ia juga berencana untuk meraih kedamaian hanya untuk bangsa-nya sendiri."
"Itu pembodohan...! Tidak semua makhluk hidup memiliki tujuan yang bodoh dan tidak masuk akal!" Suara Korrina mulai terdengar keras sampai sumber darah Mimemis mulai berubah menjadi air suci biasa yang jernih. Tubuh Rxeonal juga terasa terbakar karena Korrina melepaskan banyak sekali aura suci di sekitar hutan itu.
Haruka sebenarnya sudah bangun, tetapi ia saat ini sedang berpura-pura tidur sambil mendengarkan percakapan mereka berdua. Korrina mulai menangis tersedu-sedu karena ia tidak mau kehilangan anggota keluarga-nya lagi.
"Aku mohon, Mortem... Ini bukan dirimu, kau seharusnya sama seperti Rina...! Tinggalkan-lah tujuanmu yang tidak masuk akan itu, kembalilah kepada diriku!"
"Aku bukan dia, aku bukan lagi anggota dari keluarga-mu. Jika kau menanyakan tentang Rina maka kau sudah tidak boleh lagi menganggap dirinya sebagai anak-mu lagi karena otak-nya sudah dicuci oleh raja agung Crimson yang bernama Shinku!" Mortem tersenyum lebar.
"Rina sudah menjadi sesosok Legenda yang tidak mengenal keluarga-nya sendiri termasuk dirimu... Dia hanya mengenal diriku, intinya dia memiliki sikap yang sama dengan-ku!" Mortem melebarkan kedua lengan-nya.
"Kejam... Kau memang kejam, Mortem... Aku merawat dan mengasuh kalian selama bertahun-tahun lamanya... Melahirkan seorang Legenda dengan setengah darah dari dewa... Itu sangat menyakitkan, kau tau... Kau dan Rina membayar diriku dengan cara seperti ini...?" Tanya Korrina.
"Kau menunjukkan rasa sedih dan kasihan itu kepada-ku sekarang..."
"Mortem... Aku memberimu kesempatan terakhir, kembalilah kepada kami...! Mari kita mulai lagi dari awal bersama dan memperbaiki semua ini...!" Korrina mengulurkan lengan kanan-nya, mencoba untuk mengajak Mortem menuju jalan yang benar.
__ADS_1
"Kau baru mengatakan itu sekarang, sudah terlambat untuk melakukan itu... Rencana-ku sudah berjalan. Aku tidak bisa kembali lagi, kenapa kau ingin membuatku kembali jika kematian dari Papa disebabkan oleh diriku, Rina, dan Shinku..."
"Kau salah...! Semuanya bisa diperbaiki dengan permintaan maaf, siapapun bisa membuat jalan baru untuk mereka sendiri, Mortem. Ayo! Akui kesalahanmu dan mari kita pergi meminta maaf kepada semua-nya lalu kita berdua kembali dan melaksanakan tujuan yang benar." Korrina mencoba untuk mengajak-nya.
Mortem menghela nafas-nya, ia mencoba untuk menjabat tangan Korrina tetapi telapak tangan-nya mulai diselimuti dengan aura yang membantu pedang panjang. Mortem mencoba untuk memenggal kepala Korrina tetapi ia segera memegang erat lengan-nya dengan sangat erat.
"Apa...!?" Mortem sontak kaget melihat Korrina yang dengan mudah menahan serangan tiba-tiba itu, ia segera menatap wajah Korrina dimana raut wajah-nya berubah menjadi kesal.
"Kau memilih mati sepertinya... Hati-mu tidak lagi murni, Mortem." Ucap Korrina pelan, ia melempar dirinya ke depan dan melepaskan dorongan besar melalui tinju kanan-nya sampai Mortem terpental beberapa kilometer ke belakang.
Korrina mencoba untuk terbang menuju arahnya tetapi Rxeonal muncul di depan-nya untuk menghalang jalan Korrina, "Jangan menghalangi-ku!" Korrina melancarkan beberapa serangan tetapi Rxeonal berhasil menahan-nya menggunakan pedang kehancuran-nya.
Korrina tiba-tiba merasakan keberadaan Haruka yang berpindah dan mendekati keberadaan Mortem, ia segera melirik ke dada-nya dan Haruka sudah tidak ada disana. Sepertinya Haruka memang sudah bangun dari awal dan ia mendengar seluruh percakapan mereka berdua, kali ini Korrina membiarkan dirinya untuk berurusan dengan Mortem.
"Maafkan aku, Haruka..." Ungkap Korrina merasa bersalah karena tidak memberitahu Haruka tentang Alvin yang sudah mati.
Mortem memutarkan tubuh-nya agar ia bisa kembali melayang di atas langit dengan seimbang, ketika Moertem mencoba untuk terbang menuju arah Korrina ia berhenti seketika melihat seorang gadis dewasa yang berada di hadapan-nya.
"Kau...? Ternyata kau sama sepertiku ya, Haruka... Tubuh-mu itu bisa dilihat berdasarkan kekuatan-mu, dengan dirimu yang menjadi dewasa seperti ini... Aku pasti akan kesusahan untuk melawan sihir waktu-mu." Mortem menatap kedua pupil Haruka yang menggambar sebuah jam hijau.
"Aku kira aku akan mendapatkan kakak tertua yang hebat dan pengertian, tetapi aku salah... Kau sudah mengecewakan Mama dan bahkan Papa terbunuh karena dirimu..."
__ADS_1
"...Kau akan membayarnya, Mortem!" Haruka melebarkan mata-nya sampai jarum jam-nya mulai berputar dengan cepat.