Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 713 - Kau telah Menjadi Legenda yang Tak Terkendali


__ADS_3

"Uggghhh..." Regulus kembali bangkit selagi memegang dadanya yang terasa cukup menyakitkan.


Pekerjaan Megumi berhasil ia laksanakan dengan sempurna sampai akar kehidupan Regulus telah kembali ke dalam tubuh normalnya seperti makhluk hidup yang normal dimana mereka akan mati ketika menerima luka fatal.


Bukan itu saja, jantungnya hancur maka kehidupannya sudah berakhir karena Megumi telah memisahkan akar kehidupan itu menggunakan Golden Spirit yang berhasil ia lakukan sekali.


"Akar kehidupannya itu ternyata ia simpan di dalam petir... sesuai logika yang ada, petir atau listrik tidak dapat di hilangkan atau hancurkan..."


"...untungnya aku berhasil memisahkan akar kehidupannya kembali ke dalam tubuh aslinya itu, jika saja Roots yang ia miliki berada di dalam kehampaan seperti [Nothingness] maka mungkin satu pukulan Golden Spirit tadi belum cukup."


"Pekerjaanku telah selesai... Minami... Shuan... Mamamu sudah melakukan yang terbaik untuk kalian berdua, aku harapan kalian merasa puas di atas sana."


Megumi tersenyum lembut lalu ia menatap ke atas sehingga ia dikejutkan dengan cahaya yang sempat membentuk penampilan Shuan dan Minami sampai ia merindukan mereka berdua.


"Anak-anak..." Megumi tersenyum sampai meneteskan air mata yang berubah menjadi partikel emas.


"KEMANA KAU MELIHAT, HAH!? SHIRATORI MEGUMI!!!" Regulus melompat ke arah Megumi, mencoba untuk menangkap tubuhnya itu.


Megumi mengalihkan pandangannya kepada Regulus lalu ia mengangkat tubuhnya yang besar dengan jutaan beban di dalamnya lalu membantingnya tepat di atas tanah.


BAAAGGGG!!!


"Aku sudah tidak perlu bertarung denganmu lagi... pekerjaanku untuk menahan dirimu dan memisahkan akar kehidupanmu telah selesai."


Megumi masih terlihat baik-baik saja, sudah waktunya untuk bertukar posisi dengan Hana yang saat ini masih di tekan oleh ribuan pasukan Legenda yang sangat kuat sampai Hana sendiri mengalami beberapa kesulitan.


Megumi mencekik leher Regulus lalu ia terbang keluar dari lubang tersebut untuk melemparnya ke arah pasukan di hadapannya sampai Hana bisa melihat tanda bahwa dirinya dapat menyiksa Regulus sepuas mungkin.


"Hana, aku sudah tidak memiliki urusan apapun lagi dengan Regulus... Minami dan Shuan sudah merasa puas di atas sana melihat diriku yang dulunya lemah berhasil mempermalukannya."


Megumi menghantam daratan sampai menciptakan tumbuhan emas besar yang mendorong mundur semua pasukan itu agar ia dapat mengurusi semuanya sendiri.


Ia maju ke depan, membiarkan Hana menghabiskan Regulus agar ia dapat kembali seperti semula, semua perasaan dan akal sehatnya sudah pasti hancur karena amarah serta penderitaan yang ia rasakan saat ini.


Satori di sisi lainnya masih sibuk mengurusi Shizen dan Yuuna yang terus mengulur waktu agar ia tidak turun tangan untuk mengurus hal lain seperti Arata dan Haruki yang saat ini masih bertarung dengan Diablo.


Shizen terus melepaskan ledakan yang dapat membuat Satori merasa bingung sampai ia terkecoh beberapa kali dengan esensi dan keberadaan dari arwah yang Yuuna lepaskan.


Semua pasukan Legenda juga sebagian fokus kepada Satori sampai ia saat ini terlihat frustrasi karena tidak mendapatkan kesempatan untuk menyerang melainkan bertahan.


Di sisi lainnya, Diablo bangkit dari atas tanah dengan tubuh yang mendapatkan lindungi dari sihir Barrier kegelapannya itu yang hitam dengan sedikit kemerahan dari darah.


Haruki berada di atas daratan sedangkan Arata berada di atas udara untuk melakukan serangan koordinasi lainnya agar Diablo bisa terus tertekan sampai ia tidak memiliki kesempatan menyerang seperti tadi.


Kou dari jauh masih mengawasi, mengendalikan situasi yang Diablo hadapi agar ia tidak lepas kendali seperti menggunakan kekuatan penuhnya secara langsung, semua pikiran dan niatnya itu Kou hapus sampai digantikan dengan yang lain.


Pertarungan adil terus Kou masukan ke dalam pikirannya sampai ia memaksa tubuhnya yang mulai merasa sedikit kesakitan tetapi ia tidak begitu peduli, semua pengorbanan dapat menyelamatkan masa depan untuk Yuusuatouri.


Founder's Origin milik Diablo bahkan masih belum di gunakan karena Kou juga yang memasukkan larangan untuk menggunakannya di dalam pikirannya sampai ia harus terus fokus dengan larangan itu agar tidak hilang seketika.

__ADS_1


Dengan cepat Arata dan Haruki langsung meningkatkan kekuatan mereka menginjak tingkatan paling atas untuk menahan lebih lama lagi karena Megumi saat ini masih mengurusi pasukan Legetsu yang lainnya.


Diablo memasang tatapan kesal, entah kenapa ia merasa sedikit aneh dengan tubuh dan pikirannya yang terus berubah tanpa perintahnya sampai ia sendiri tidak bisa melakukan apapun soal tubuh dan pikiran itu.


Diablo mencoba untuk bergerak tetapi Haruki sudah berada tepat di hadapannya dengan pedang kirinya yang menembus perutnya cukup dalam sampai menembus punggungnya.


"Jika kau tidak menggunakan kekuatan asli dari Iblis dan Founder's Origin... setidaknya aku dapat menandingimu bahkan melampaui dirimu dalam sekejap." Peringat Haruki.


"Aku tidak menyukai mereka yang selalu mengandalkan julukan dan kekuatan pemberian melalui warisan yang tidak pernah di latih lebih lanjut lagi..."


"... termasuk Founder's Origin yang kau pegang, tanpa senjata itu... apa yang dapat kau lakukan?!" Haruki menaikkan suaranya sehingga ia menarik pedang tersebut keluar lalu menendangnya sampai ke belakang.


Haruki muncul tepat di hadapan Diablo lalu ia menebas wajahnya menggunakan kedua pedangnya itu sampai ia terlempar ke atas langit lalu mendapatkan sambutan dari Arata.


Arata menggerakkan ketujuh pedang itu lalu melepaskan serangan kombinasi yang mampu melukai seluruh tubuh Diablo sampai mengeluarkan banyak darah.


Kou dapat merasakan pikiran dan perasaan negatif Diablo sampai ia terus menghapus niatnya untuk mengakhiri mereka dalam sekejap sampai mulut Kou mulai mengeluarkan darah sedikit demi sedikit.


Haruki menebas perut Diablo sampai terdorong ke atas lalu Arata muncul tepat di belakangnya selagi mengayunkan kedua pedang Pride dan Greednya secara bersamaan sampai meninggalkan luka X besar di punggungnya itu.


Diablo terhempas menuju daratan sampai ia menerima gelombang tebasan yang dilepaskan oleh kedua Legenda itu secara bersamaan sampai menyebabkan daratan terbelah menjadi dua.


***


Hana melihat Regulus mencoba untuk bangun, wajahnya itu sudah menarik amarah Hana sampai tingkatan maksimal karena semua hal terakhir yang ia miliki dihancurkan oleh Regulus.


"Kau mengambil semua yang ku miliki sampai habis... tidak ada maaf untukmu... Kaisar seperti dirimu berhak mengetahui perasaan yang di rasakan oleh mereka yang kau tindas...!" Hana mengepalkan kedua tinjunya.


Pikirannya dipenuhi dengan ingatan baik bersama Honoka, Minami, dan Rokuro sampai semua ia terasa menghilang seketika Regulus datang untuk menghancurkan semua kenangan yang indah baginya.


Pulau Neko Island itu salah satunya, terdapat banyak kemenangan yang begitu indah di dalam sampai air mata mengalir deras melalui matanya, ia merapatkan giginya cukup keras sampai memunculkan gelembung besar di sekeliling tubuhnya.


"Menghancurkan Neko Island... memusnahkan setengah populasi dari bangsa Neko Legenda... membunuh adikku... melihat kematian Honoka..."


"...kau memang sudah membusuk sampai tidak ke tolong lagi... berani-beraninya kau, Regulus!!!" Kedua mata Hana memancarkan cahaya merah dari lambang Envy.


Iri hati, Hana merasa di tinggalkan oleh semua orang yang sangat ia sayangi termasuk semua kenangannya sendiri sampai ia juga tidak di bawa ikut mereka semua, dosa Envy itu terus meningkat drastis.


Semua Legenda yang berada di medan perang terkejut ketika merasakan kekuatan besar yang terlepas melalui tetesan hujan sampai tubuh mereka terasa tertekan oleh Hana yang sudah tidak bisa lagi mengontrol dirinya sendiri.


Pikiran dan akalnya dipenuhi dengan siksaan serta kematian pantas untuk Regulus, semua perbuatannya tidak dapat diperbaiki lagi dengan siksaan neraka, ia perlu mengetahui arti dari penderitaan itu sendiri.


Hana mengacungkan jarinya sampai semua tetesan hujan itu memunculkan ombak yang menabrak punggung Regulus sampai ia terpental ke depan dengan tatapan kesal.


"Brengsek...!!! Tadinya Megumi sudah membuatku sekesal ini tetapi kau... kau memang tidak tahu kapan harus menyerah dan bersujud di hadapan---"


"BRENGSEK!!!" Pukulan Hana menembus perutnya cukup dalam sampai ia memuntahkan banyak darah karena tidak bisa melihat serangan tadi.


Alam sadarnya mulai membawa dirimu ke suatu tempat yang begitu gelap sampai ia bisa mendengar suara seseorang yang terdengar tidak asing, punggungnya terasa di sentuh juga dengan tapak yang begitu lembut.

__ADS_1


"Kakak... kenapa kamu melarikan diri...? Kenapa kamu tidak membantu kami menahan semua pasukan Regulus?" (Rokuro).


"Aku sudah mempercayai dirimu dengan Neko Island bersama dengan semua bangsa yang tinggal di dalamnya tetapi mau membiarkan mereka terbunuh..." (Minami).


"Kupikir kau akan datang untuk menyelamatkan diriku yang sudah menerima beberapa siksaan... kamu memang kejam ya, Hana." (Honoka).


Semua suara yang ia dengar hanya pikiran negatif serta halusinasi yang muncul karena rasa amarah yang sudah tidak bisa dikendalikan lagi oleh dirinya sendiri.


Semua rasa negatif terus muncul sampai mempengaruhi dirinya secara keseluruhan sampai ia melepaskan lebih banyak ombak yang mulai menabrak pasukan kerajaan lain sampai mereka terbawa arus.


Megumi yang sedang sibuk bertarung bahkan sampai ia terbawa arus, medan perang itu mulai banjir karena Hana yang melepaskan ratusan ombak, kerajaan Legetsu juga bahkan sampai tenggelam karena air-air itu.


"Tidak buruk, Hana, kau perlu--- Urk!!!"


Regulus melebarkan kedua matanya sampai memerah ketika perutnya menerima satu pukulan yang cukup menyakitkan, punggung Regulus sampai meledak karena mengeluarkan naga Leviathan.


Hana melompat lalu ia menghantam tengkuk Regulus menggunakan lututnya sampai ia memuntahkan banyak darah melalui mulut itu, kali ini Regulus dapat merasakan kesakitan yang berbeda sebelum menerima kemampuan Golden Spirit.


"D-Dia hanya... mengenaiku dengan dua serangan... tapi kenapa... kenapa rasa sakit ini terasa seperti... menghilangkan nyawaku perlahan-lahan." Ungkap Regulus.


"Sangat bagus, Hana... tetapi kau membutuhkan lebih banyak kekuatan untuk melampaui Kaisar suci sepertiku!" Regulus tersenyum jahat karena aliran listriknya berhasil menyembuhkan tubuhnya itu.


"Rasanya cukup egois untuk membiarkan adikmu itu mati bersama seluruh Neko Legenda lainnya sebelum menunjukkan semua kekuatan aslimu ini..."


Hana terbawa emosi sampai aura birunya bertambah besar, "DASAR BRENGSEK!!!"


Satu pukulan berhasil ia lepaskan tetapi Regulus dengan cepat menghindari serangan itu dengan tatapan serius karena ia dapat menggunakan amarah Hana sebagai keuntungannya sendiri.


Hana mencoba untuk menendang wajah Regulus tetapi ia berhasil menunduk dengan keberuntungan yang tersisa di dalam dirinya.


"Sudah kuduga... walaupun kekuatan, kemampuan, dan kecepatan itu meningkat tetapi kau melupakan gaya bertarungmu sebagai Legenda sampai kau sekarang bertarung seperti hewan yang mengamuk..." Ungkap Regulus.


"Aku menangkapmu sekarang!!!" Regulus menjebak tubuh Hana di dalam gumpalan petir suci yang ia kumpulkan.


Setelah itu, ia mengangkat lengan kanannya untuk menciptakan dua petir yang membentuk palu dengan ukuran besar sampai bisa menghancurkan tubuh Hana dalam sekejap.


Ia menggerakkan kedua palu itu secara bersamaan sehingga saling mengenai satu sama lain sampai menyebabkan aliran listrik terlepas ke dalam sungai yang Hana ciptakan itu.


Megumi mengubah semua air itu menjadi semut emas sampai mereka dapat berperang dengan baik sekarang, untungnya ia berhasil mencegah sebelum semua pasukan itu menerima serangan sihir Regulus.


"Semua kekuatan yang kau miliki digunakan tanpa sedikit akal atau pengetahuan terasa cukup sia-sia...! Sekarang kau akan mati!!!" Regulus menciptakan pukulan besar yang terbuat dari petir.


Ia melepaskannya ke depan sehingga terjadi ledakan petir yang besar di hadapannya, Ophilia bisa melihat situasi Hana yang memburuk sampai ia mencoba untuk berharap bahwa Hana dapat mengatasi serangan tadi dengan cepat.


"Aku berhasil--- Hah...!?"


Regulus tercengang ketika melihat Hana masih berada di posisi itu dengan tatapan yang mengancam, setengah dari tubuhnya sempat menghilang tetapi ia dapat mengembalikannya dengan tetesan hujan itu.


"Jika semua yang kau kerahkan tadi adalah kekuatan aslimu maka kau sudah seperti orang yang akan mati dan menderita sebentar lagi..."

__ADS_1


__ADS_2