Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 29 - Mengenal sesuatu yang baru


__ADS_3

Sepertinya semua peserta dari setiap kelas masing-masing sudah saling mengenal, Shira bersama Megumi pergi untuk melihat-lihat tempat yang di sediakan oleh akademi tersebut. Ternyata akademi itu benar-benar menyediakan semuanya mulai dari kebutuhan primer, tersier, dan sekunder. Shira juga bahkan bisa melihat tempat latihan yang bagus dan ia juga bisa melihat ruang latihan Transcended Training of Time and Space.


Shira sudah tidak bisa memikirkan apapun lagi yang ada di kepalanya, bahkan semua kemauan yang ia inginkan telah di sediakan oleh akademi tersebut. Ketika ia mengunjungi kantin, Shira bisa melihat Naoki yang sedang berjualan ramen seperti biasanya, "Dimanapun berada... Naoki selalu saja berdagang ya." Ucap Shira dengan rasa hormat, sepertinya ia merasa terinspirasi dari Naoki seorang petarung yang hebat masih sempat untuk berjualan ramen.


Shira juga bahkan melihat beberapa peserta yang memakai baju yang sama, baju itu terlihat seperti baju untuk akademi tersebut. Warna merah dengan garis hitam di sekitarnya dan sepertinya Shira melihat lambang garis putih di punggung peserta-peserta itu dan ia melihat peserta itu memiliki dua garis putih, "Jadi ada kakak kelas atau peserta yang duduk di kelas lebih atas...?" Shira mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat kebingungan.


Beberapa menit kemudian, semua peserta telah berkumpul di kelas mereka masing-masing karena waktu untuk melihat-lihat akademi telah selesai, "Kalian bisa melihat bahwa terdapat peserta lain-nya yang sudah menggunakan pakaian khusus untuk akademi ini. Mereka semua adalah murid yang mengikuti akademi ini karena akademi ini bukan sekedar akademi yang hanya untuk mengikuti turnamen itu. Mereka semua ingin belajar di akademi yang besar ini." Ucap Zuke, Shira mulai mengerti apa yang Zuke maksud dan ia akan berpikir-pikir tentang akademi ini. Jika dia selesai dalam bertarung di turnamen maka dia bisa saja kembali ke akademi ini untuk belajar sesuatu yang belum ia ketahui.


"Mari mulai. Di sekolah ini tidak ada perubahan sama sekali, kalian akan terus sekelas dan waktu kalian belajar hanya 5 atau 6 bulan... Kalian kami sambut jika mendaftarkan sebagai murid dari akademi ini. Nama asli dari akademi ini adalah Academy of Advanced Potential. Jadi seluruh murid yang sanggup dan layak hanya akan di terima di akademi ini." Ucap Zuke.


"Enam bulan itu cukup lama dan lumayan sulit bagi kalian. Tuan Morgan mengatakan sesuatu hal kepadaku bahwa kalian para peserta mungkin akan berakhir satu tahun dan setelah itu kalian akan didaftarkan di Tournament of Solicitation, "Kalian akan tinggal di ruangan dimana kalian bisa tidur dengan nyenyak. Asrama singkatnya." Ucap Zuke yang terus mengatakan sesuatu yang panjang, hal itu membuat beberapa peserta jatuh tertidur, "Ingat, kalian tidak bisa meninggalkan area akademi ini, jika kalian keluar maka kalian akan bisa melihat batasan barrier, melewati barrier itu sedikit maka kalian akan langsung dikeluarkan."


Zuke mulai mengambil bukunya lalu ia membukanya, ia menyentuh buku tersebut lalu ia menggeser jarinya ke atas hingga beberapa hologram yang mulai membentuk sebuah kartu muncul di atas meja peserta, Shira menatap hologram itu lalu ia mengambilnya hingga hologram tersebut berubah menjadi kartu yang memiliki tulisan Solicitation's Gadget. Kartu itu bisa melakukan apapun termasuk dengan membeli sesuatu, uang kalian tidak ada batasnya di dalam kartu tersebut jadi kalian bebas untuk membeli apapun yang kalian mau."


Hal itu membuat semua orang terkejut, beberapa dari peserta mulai merasa sangat senang, Korrina hanya bisa diam dan berpikir kenapa uang-nya harus terbatas, "Gunakan-lah Solicitation Gadget dengan hati-hati atau kalian bisa saja jatuh ke jurang yang sesat." Ucap Zuke. Korrina mulai menyentuh kartu tersebut hingga kartu itu mulai menunjukkan seluruh data-nya termasuk dengan status menikah, "... ..." Korrina melihat semuanya mulai dari nama, umur, dan lain-lain.


"Tidak terbatas..." Korrina mulai memejamkan kedua matanya, Shira menatap uang-nya dan itu mengatakan tidak terbatas, "Aneh... Apakah manusia di semesta Touri sama saja dengan di dunia asli yang aku tinggali...?"


"Akademi ini menilai semua perbuatan kalian karena ruangan ini dipenuhi dengan energi pelacak dan kamera hologram yang disembunyikan secara rahasia, bahkan banyak sekali pemandu yang mengawasi kalian. Jika kalian ketahuan melanggar maka persiapkanlah mental kalian." Zuke tersenyum sinis, "Ingatlah, kalian semua itu berharga dan layak karena sudah terdaftar oleh Tuan Morgan, masih banyak petarung lain yang ingin mengikuti Tournament of Solicitation tapi Morgan menganggap mereka rendah dan tidak siap untuk mengikuti turnamen itu."


"Oh iya... Setiap tantangan akan selalu ada setiap hari dan kartu itu akan memperingatimu bahwa nanti kalian akan menerima sebuah tantangan dan misi." Ucap Zuke, Shira mulai menyentuh pilihan tantangan dan ia melihat lima pilihan yang masih kosong, "Permisi..." Shira mengacungkan tangan kanannya.


"Ada apa, Shira?" Tanya Zuke.


"Apakah kita bisa menerima lima tantangan sekaligus?" Tanya Shira.


"Tentu saja dan setiap tantangan ada batasnya, jangan coba-coba untuk gagal atau terlambat jika ya maka kalian akan mendapatkan hasil dan nilai yang buruk. Hasil dan nilai yang buruk tidak akan membawa kalian ke Tournament of Solicitation." Jawab Zuke hingga membuat semua peserta itu waspada terhadap tantangan yang akan diberikan kepada mereka masing-masing, "Tantangan yang akan datang ke dalam kartu itu hanyalah tantangan sampingan, kami sebagai pemandu juga akan memberikan tantangan untuk kalian semua dan tantangan itu khusus untuk kerja sama."


Mereka semua mengangguk, "Jadi begitu ya... Maka kelas ini harus secepatnya beradapatasi dan bisa saling diandalkan dalam bekerja sama."



Korrina berdiri di atap sekolah selagi melihat pemandangan, pemandangan-nya itu luar angkasa dan ia bisa melihat banyak sekali planet-planet dan bintang-bintang yang indah, "Enam bulan ya...? Berpotensi satu tahun juga." Korrina menghela nafasnya selagi memegang sebuah kaleng yang terisi susu, ia melirik ke arah kanan dimana ia melihat Arata, Ophilia, dan Akina sedang bersama seperti merundingkan sesuatu. Arata menyadari keberadaan Korrina serta pandangannya yang teralihkan ke arah dirinya dan kedua gadis yang sedang ia ajak berbicara, "... ..."

__ADS_1


Korrina mulai menatap arah lain karena ia tidak mau dicurigai, ia melirik ke kiri dimana ia melihat Shira menghampiri Arata dengan yang lainnya sendirian, "Apa yang akan dia lakukan...?" Korrina melihat Shira tiba-tiba menghadapi Arata, Arata mulai menatap Shira dengan ekspresi yang terlihat mematikan, "Kenapa kau datang menghampiriku, hah?! Apa yang mau kau liat?" Tanya Arata selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat serius.


Cara berbicara Arata membuat Shira sedikit bergetar karena ia bisa merasa aura pembunuh milik Arata, "Tenangkan dirimu, Arata... Aku datang hanya untuk berkenalan kok. Aku hanya ingin kita semakin akrab agar kita bisa bertarung." Ucap Shira yang menjelaskan-nya secara pelan karena ia takut bahwa Arata bisa saja menyerangnya.


"Bagaimana aku bisa tenang bila di tatap oleh kau?! Apa mau-mu menghampiri kita bertiga, hah?!" Tanya Arata.


"Karena punya mata...?" Shira menjawab pertanyaan Arata dengan sedikit candaan selagi menggaruk-garuk rambutnya, "Sepertinya kau itu bodoh ya, sudah lah, lain kali jangan menatap orang yang tidak kau kenal lama-lama, jadi apa mau-mu datang ke tempat seperti ini?" Tanya Arata, ia mulai memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya.


Shira mulai berkeringat lalu ia berbalik arah dan lari meninggalkan Arata dengan ekspresi yang terlihat bingung, "Galak bener...!!! Entah kenapa masih ada peserta yang bersikap dingin seperti itu walaupun kita sekelas." Sindir Shira, "Dasar Legenda aneh." Arata berjalan pergi menghampiri Ophilia, Akina menatap Arata lalu ia menghilang karena ia tahu bahwa Akina pasti akan menghampiri Shira.


"Apa kakak-ku terlalu dingin dan galak? Shiratori Shira?" Tiba-tiba Akina muncul di depan Shira dan itu membuat Shira terkejut sehingga ia secara refleks mundur beberapa langkah jika tadi Shira terus berlari maka dia akan menabrak Akina hingga membuatnya  terjatuh, "Refleks yang bagus..." Ucap Akina dan Korrina secara bersamaan di dalam hati mereka, "B-Begitulah, tadi sebenarnya aku penasaran... Aku hanya ingin mendeteksi Lenergy milik peserta yang bernama Shimatsu Arata itu." Jawab Shira.


"Jika kau mau mendeteksi Lenergy milik Kakak-ku maka itu akan memakan waktu yang agak lama, karena kak Arata selalu waspada jadi dia selalu menggunakan sihir Sloth of Detection Lenergy, sihir yang bisa memperlambat seseorang untuk mengukur Lenergy-nya." Akina mulai menjelaskan kenapa Lenergy Arata tidak bisa di deteksi dan dirasakan dengan mudah. Korrina dari jauh bisa mendengarnya karena ia menggunakan sihir Sacred, ia bersama Shira merasa cukup terkejut karena Arata sepertinya petarung yang benar-benar waspada dan layak, "Saingan yang benar-benar tangguh..." Ungkap Korrina.


"Heh...?" Shira mulai menunjuk Korrina yang sedang berdiri selagi menatap mereka berdua, ia menyadari Shira menunjuknya dan itu membuat Korrina langsung mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, "Kalau begitu aku menyuruh dia saja?" Tanya Shira.


Akina menatap jari telunjuk Shira yang menunjuk Korrina, Akina membulatkan kedua matanya ketika ia melihat Korrina sedang berdiri di sebelah pagar besi selagi menatap peserta-peserta lainnya yang sedang makan siang, "Ya, mungkin saja bisa--- Tunggu, sejak kapan Korrina ada disini?! Jangan-jangan dia bisa saja mendengarkan percakapan kita." Tanya Akina selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat terkejut.


"Dia memang gadis yang aneh sih, masa janda ikut belajar lagi di akademi..." Canda Shira hingga Korrina bisa mendengar perkataan Shira, Korrina mulai menggerakkan alis kanannya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat kesal, "Kurang ajar." Ungkap Korrina.


"Tenang saja, yahhh... Setidaknya... Kakakmu itu, buatlah dia bersikap baik kepada orang yang belum ia kenal." Shira menghela nafasnya karena ia masih belum terbiasa untuk menghadapi sikap Arata yang dingin sekali, bahkan ia tidak tahan melihat Arata yang tiba-tiba marah tanpa suatu alasan, "Sebenarnya dia itu baik kok, hanya saja sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu, seperti cara cepat mengumpulkan ketujuh pedang dosa besar."


"Apakah itu kata lain dari permintaannya...? Tujuh pedang dosa besar...?" Tanya Shira karena sepertinya ia baru saja mendapatkan jawaban yang tepat, permintaan Arata adalah untuk mendapatkan tujuh pedang dosa besar itu, Korrina bisa mendengarnya lalu ia mengeluarkan kartu-nya dan mulai mencatat sesuatu di kartu itu, "Begitu ya... Saingan dengan permintaan yang cukup berat dan besar. Sepertinya saingan yang aku lawan saat ini terdengar menarik."


"Tidak, permintaan kak Arata hanya memusnahkan semua ras yang berbuat kejahatan besar dan mengumpulkan ketujuh pedang dosa besar itu hanya misinya sebagai seorang pengguna Seven Deadly Sins, jadi dia tidak akan melakukan permintaan seperti mendapatkan pedang-pedang itu dengan cara yang mudah, ia benci jalan pintas." Penjelasan Akina membuat Shira terkejut karena seperti Arata adalah seorang Legenda yang berusaha keras dan itu membuat Shira merasa lega juga senang.


"T-Ternyata masih banyak kekuatan atau sihir yang tidak aku ketahui..." Shira terkekeh pelan, "Ya begitulah, lagi pula semesta Touri ini sangat luas jadi kemungkinan ada kekuatan yang lebih mengerikan dari pada kekuatan Seven Deadly Sins dan Seven Heavenly Virtues.


"MUngkin saja itu aku, hahaha!" Shira tertawa selagi mengatakan yang tidak-tidak karena ia berharap bahwa suatu hari ini menemukan kekuatan atau sihir yang baru sehingga semua orang bisa menjuluki-nya sebagai seorang Legenda terkuat di seluruh semesta Touri, "Ya, mungkin itu bisa saja terjadi jika kau terus berusaha untuk menjadi yang terkuat, lagi pula potensi ras Legenda tidak akan bisa diprediksi jadi kau bisa saja menjadi seorang Mortal yang bisa melampaui para Dewa dan Dewi!" Ucap Akina yang mencoba untuk memberi Shira semangat yang besar.


"Ahhh...!!!" Mata kanan Shira mulai berbinar-binar ketika mendengar semangat dari Akina." Korrina berhenti mendengarkan mereka lalu ia berjalan pergi dan tiba-tiba ia melihat Arata sedang berdiri di depannya selagi menunjukkan ekspresi yang terlihat mematikan, "Whoa...! Aku tidak bisa merasakan keberadaannya." Ungkap Korrina, ia merasa terkejut bahwa Arata tiba-tiba berdiri tepat di depannya, "Kau terlihat mencurigakan."


"Aku hanya ingin tahu kemampuan dari kekuatan Seven Deadly Sins dan Seven Heavenly Virtues, sepertinya kalian berdua memanglah saingan yang tangguh bagiku untuk mendapatkan Solicitation's Order itu." Ucap Korrina selagi menunjukkan rautan wajah yang terlihat serius, "Ya, semua peserta pasti akan memiliki permintaan mereka masing-masing, jadi jangan terlalu berharap bahwa kita semua adalah peserta yang mudah untuk dikalahkan, nona pemenang turnamen sebanyak dua kali." Ucap Arata.

__ADS_1


"Aku menghormati-mu, nona Korrina. Kau adalah peserta yang telah memenangkan Solicitation Order sebanyak dua kali dan kali ini... Aku tidak akan membiarkanmu menang lagi, kemenangan-mu akan aku akhiri di turnamen nanti." Ucap Arata, Korrina tersenyum karena ia mulai tertarik dengan sikap dan kata-kata yang Arata ucapkan kepadanya, "Aku tidak tertarik terhadap akademi atau apalah ini, aku hanya tertarik untuk menang dan meakhiri pertarungan dengan cara yang cepat. Lebih tertarik lagi jika kau memiliki pedang yang mampu memotong dimensi, sepertinya Seven Deadly Sins tidak bisa melakukan hal itu ya?" Tanya Korrina.


"Salah satu pedang yang tidak bisa aku tiru dan kemampuan yang tidak dimiliki Seven Deadly Sins..." Ucap Arata dengan nada yang pelan, "Kalau begitu aku tidak membutuhkan informasi-mu lagi." Korrina berjalan pergi meninggalkan Arata, Arata muncul di depannya dan itu membuat Korrina muncul di belakangnya, "Apa...?"


"Aku punya beberapa pertanyaan untukmu, kenapa kau begitu tertarik dengan pedang pembelah dimensi? Apakah dimensi yang kau maksud itu seperti dimensi sihir...? Misalnya Fire Realm...?" Tanya Arata.


"Menyelamatkan dia adalah tujuan utamaku."


"Dia...?" Arata mulai menaikkan alis kanannya.


"Dewa Crimson itu."


"Dewa...!?" Kedua mata Arata bersinar merah hingga Korrina bisa merasakan kekuatan Arata yang meningkat secara tidak sengaja, "Apakah dia sama denganku...? Membenci seorang dewa...?" Korrina mulai tersenyum kecil dan itu membuatnya lebih menarik lagi bagi Korrina sendiri.


"Kenapa?"


"Tidak, aku hanya tidak terlalu menyukai para Dewa dan Dewi."


"Hoooo... Aku bukanlah seorang dewi dan aku juga sama membenci para dewa, walaupun aku memiliki suami yang berjulukan sebagai Crimson God." Korrina mengatakan sesuatu yang membuat Arata kebingungan, "Kenapa kau menikahi seorang dewa...? Bukannya kau membenci seorang dewa?" Tanya Arata.


"Jelas bukan...? Aku mencintainya karena aku ingin mengubahnya menjadi dewa yang tidak egois, salah satunya dewa yang memiliki pikiran dan tujuan yang sama dengan dewa. Sepertinya dia sudah melakukan pelanggaran, banyak sekali. Dia melanggar semua peraturan yang dimiliki dewa." Korrina tersenyum sinis, senyuman itu tidak menunjukkan sikap Korrina yang sebenarnya melainkan ia tidak mau seseorang yang ia sangat cintai memiliki kaitan dengan para dewa dan dewi, jadi ia memutuskan untuk mengubah Alvin menjadi seorang dewa yang memiliki pikiran seperti Mortal.


""Heh... Bukan dewi dan tujuan itu memanglah terdengar cukup menarik, kenapa naluriku mengatakan kalau kau menyimpan kekuatan yang sangat berbahaya?" Tanya Arata yang mulai berkeringat, Korrina melirik ke belakang lalu ia melihat keringat Arata, "Apakah mortal tidak diperbolehkan untuk memiliki kekuatan yang dapat melampaui para dewa dan dewi, Arata...?" Tanya Korrina.


"Ya... Tidak ada salahnya, tapi... Lupakan saja." Arata tidak mau percakapan di antara mereka berdua berjalan panjang karena ia merasakan firasat yang lumayan mencurigakan ketika ia terus berbicara dengan Korrina, "Kau terlihat takut." Korrina mulai menunjukkan ekspresi yang terlihat serius, "Seorang Legenda yang kuat dan layak tidak harus menunjukkan ketakutannya kepada seseorang yang bisa saja menjadi musuh..." 


"Apa yang harus aku takuti darimu?" Tanya Arata.


"Terlihat jelas."


"Memangnya aku terlihat ketakutan?" 


"Naluri kau mengatakan bahwa kau menyimpan kekuatan yang sangat berbahaya. Hahaha... Itu artinya kau takut dan waspada terhadap diriku, Arata."

__ADS_1


"Tenang, aku tidak tertarik dengan apapun kecuali Dewa Crimson itu." Ucap Korrina yang mulai berjalan pergi meninggalkan Arata, ia sepertinya mendapatkan informasi yang cukup tentang Arata, tetapi ia masih ingin mencari informasi lebih tentang Akina, "Semoga saja begitu..." Jawab Arata yang mulai berjalan pergi dan menghampiri Akina.


"Hahhhh... Menjadi yang terbaik itu sulit." Shira menghela nafasnya karena ia melihat percakapan antara mereka berdua yang mampu membuat jantung-nya berdetak dengan sangat cepat, "Ahaha... Begitulah."


__ADS_2