
"... ..." Shinobu mulai menatap dirinya di depan cermin lalu ia menarik nafasnya dalam-dalam untuk menenangkan pikiran dan hatinya karena ia berhak untuk berubah menjadi sesuatu yang lebih baik.
Rasanya cukup puas untuk bisa menangis dalam waktu yang lama sampai dipeluk erat oleh seseorang yang sangat dekat dan menyayangi dirinya, Shinobu mulai menepuk kedua pipinya beberapa kali.
Shira dari balik pintu ruangan eksperimen Shinobu sedang memperhatikan dirinya yang mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri, ia mulai mendekati Shinobu untuk membicarakan sesuatu.
"Shinobu, apakah kamu bingung mau memulai dari mana?" Tanya Shira.
"Begitulah... anu... intinya Koneko harus berjuang...!" Shinobu memasang tatapan penuh tekad yang memunculkan senyuman untuk Shira sendiri.
"Ini adalah tugas terakhir yang akan aku berikan kepadamu, Shinobu. Jika kamu berhasil memenuhinya maka kau memang sudah siap untuk menerima latihan paling sulit dariku..."
"...kesulitan itu tidak terbayangkan, dan aku harap kamu siap untuk melaksanakannya dengan perjuangan yang kau inginkan. Cahaya itu tak terbatas, termasuk dengan kecerdasan dalam otakmu sendiri."
"Ketika waktunya tiba maka kita akan berlatih di dalam Realm of Light... Temple of Light... semuanya, kita akan bertambah kuat bersama dan menguasai sesuatu yang belum pernah kita ketahui!"
"Shinobu!" Shira mengangkat jarinya selagi menyilangkan kedua lengannya, Shinobu langsung mengangkat lengan kanannya untuk menunjukkan rasa hormatnya kepada Kakeknya yang begitu menginspirasi.
"Ya, Kakek...!"
"Kekuatan datang sebagai tanggapan atas kebutuhan, bukan keinginan... kau harus menciptakan kebutuhan itu!" Shira mengeluarkan perkataan yang selalu ia berikan kepada kedua anaknya dan sekarang adalah cucunya agar ia mau berkembang.
"Koneko...!"
"...akan berjuang!!!" Seru Shinobu keras sampai ia mulai berlatih, belajar, dan mengerjakan sesuatu yang penting sendirian agar bisa menyelesaikan ujian terakhir dari Shira.
Shira hanya memperhatikan dan menjaga dirinya karena mulai dari sekarang sampai seterusnya, dirinya akan menjaga dan merawatnya sampai ia tumbuh menjadi gadis dewasa kuat serta sinar harapan yang terus memancarkan sinarnya.
Dengan ini, Shinobu sudah berjanji akan berubah menjadi sesosok Legenda yang baru. Tentunya ia melakukan semua itu demi Shira dan Kou yang tersenyum begitu lebar di atas surga ketika melihat anaknya ingin berubah.
Bukan hanya Shinobu saja yang mendapatkan bimbingan dan pelajaran dari Kakeknya melainkan kedua teman dan sepupunya juga sama.
Mereka semua akan menerima latihan yang begitu sulit dan panjang ketika berhasil menyelesaikan ujian terakhir, itu tidak jauh lagi dari memusnahkan para Legenda fanatik yang tergila-gila dengan kepercayaan mereka masing-masing.
Semua gadis kecil pemberontak itu mulai berusaha keras dan berlatih secara masing-masing, semuanya berlatih dengan sangat giat agar bisa menyelesaikan tantangan yang akan datang, terutama Legenda yang mempercayai Dewa Erion.
Mereka perlu dihentikan sebelum semuanya terlambat karena pengikutnya terus bertambah karena paksaan yang selalu memberikan berikan, jika tidak mau menyembah dan mempercayai Dewa Erion maka mereka berhak menerima nerakanya.
"... .." Shinobu mengeluarkan sebuah pisau lalu ia menyayat perutnya sendiri untuk mengambil sampel daging, setelah itu ia membalutnya dengan daun emas yang perlahan-lahan menyembuhkan luka itu.
Shinobu mengeluarkan layar virtual di hadapannya lalu ia menekan beberapa tombol untuk menyiapkan mesin di hadapannya, ia memasukkan sampel daging dan darah yang dirinya dapat lalu menyimpannya dalam sebuah tabung.
Setelah itu, Shinobu segera menekan tombol lainnya untuk menciptakan sesuatu, kali ini ia sudah memutuskan untuk menciptakan lengan dan kaki asli buatan agar bisa berkembang lebih lanjut lagi.
Semuanya sudah ia rencanakan, hanya perlu sentuhan terakhir yaitu memasukkan beberapa daun herbal emas yang mulai menyatu dengan sampel dagingnya.
Mesin itu mulai bekerja dan memancarkan cahaya yang begitu cerah lalu membutuhkan sumber cahaya dan Lenergy lainnya dari Shinobu, ia mundur beberapa langkah lalu menggunakan kekuatan Golden Sunshine.
__ADS_1
"Sunshine!!!" Shinobu melepaskan gelombang cahaya melalui kedua lengan dan mulutnya ke dalam mesin itu sehingga tercipta sinar yang begitu cerah.
Mata buatan Shinobu langsung menunjukkan proses dari buatannya itu, persentase yang awalnya berjalan lambat bergerak begitu cepat sehingga hasilnya cukup mengejutkan karena terjadi ledakan yang besar.
Shira mendengar ledakan itu di teras tetapi ia tidak memedulikannya sama sekali karena sedang menikmati secangkir kopi selagi melihat pemandangan yang begitu indah.
Dirinya yakin bahwa ledakan tadi hanyalah keberhasilan yang Shinobu capai, Shinobu yang berada di dalam ruangan eksperimen itu mulai batuk-batuk karena banyak sekali asap yang terlepas dari ledakan itu.
Shinobu menghapus semua asap itu menggunakan cahayanya lalu ia bisa melihat tabung di depannya masih terlihat utuh, pandangannya juga dikejutkan dengan kedua kaki dan lengan yang pas untuk dirinya.
"Berhasil...!" Shinobu langsung melompat-lompat, merasa begitu bahagia karena ia sekarang sudah tidak perlu menggunakan tangan dan kaki robot.
Kali ini ia sudah mengalahkan kutukannya dengan menciptakan anggota tubuh yang asli karena kecerdasan dalam pikirannya, ia membuka tabung tersebut lalu melepaskan kedua lengan robotnya itu.
Kedua lengan asli Shinobu langsung terbang ke arahnya sampai terpasang seketika, ia melebarkan kedua matanya karena merasakan sumber kekuatan dan Lenergy yang mulai menyebar untuk memenuhi ruangan kedua lengan aslinya.
Tulangnya juga mulai menerima sihir cahaya yang mampu menciptakan tulang untuk mengisi dalaman dari kedua lengannya, Shinobu memasang tatapan yang terlihat begitu puas selagi menatap kedua lengannya.
Kedua kakinya juga mengalami proses yang sama dengan lengan aslinya sampai hasilnya cukup memuaskan karena ia dapat menggerakkan kedua lengan dan kakinya layaknya seperti orang lain.
"Mama... aku berhasil... sekarang aku sudah bisa berjalan dan bergerak seperti orang biasa, aku sengaja tidak menciptakan mata baru karena yang buat sudah bisa di jadikan sebagai pendeteksi." Shinobu meneteskan air matanya karena merasa sangat bersyukur.
Usahanya berhasil, satu tahun dirinya menghabiskan waktu di dalam ruangan bahwa tanah untuk menyelesaikan eksperimen untuk menciptakan kedua lengan dan kaki baru.
Shinobu mengusap air matanya, ia bisa merasakan tekstur dari air matanya yang begitu basah, ia hanya bisa tersenyum lebar karena dapat meraba apapun seperti orang biasa.
Shinobu langsung menatap kedua lengan dan kaki buatannya, semua itu sudah diciptakan oleh Tech bersama asistennya yang tidak memiliki nyawa seperti dirinya, ia perlu menyimpannya sebagai barang berharga.
Hanya dengan kedua lengannya yang mulai memancarkan cahaya emas, ia menyentuhnya semua tangan dan kaki buatan itu, "Golden Alchemist!"
Golden Alchemist bekerja sesuai dengan apa yang Shinobu bayangkan dan imajinasikan, ia sudah menguasainya kemampuan itu dari kecil dan tentunya mengalami satu tahun untuk menyempurnakannya.
Hasil dari kemampuan yang ia keluarkan tadi menciptakan dua logam besi yang begitu tipis hampir seperti jarum, Shinobu langsung menusuk kedua bahunya menggunakan kedua logam kecil itu.
Logam kecil itu langsung masuk sampai Shinobu bisa melihat darah keluar dari tangan buatan, pencapaian yang cukup hebat karena benar-benar mirip dengan tangan aslinya.
"Baiklah... waktunya mengerjakan yang lain--- Ahh, aku harus memberitahu Kakek!" Shinobu pergi menghampiri Shira yang saat ini masih menikmati kopinya di hadapan sungai penuh dengan ikan.
"Kakek... anuu..." Shinobu memanggil Shira selagi menyentuh kedua jarinya, Shira mendengarnya lalu ia mengalihkan pandangannya kepada cucunya yang begitu kecil.
"Ada apa--- Bufffttt!!!" Shira menyemburkan kopi yang masih berada di dalam mulutnya sampai mengenai wajah Shinobu.
Melihat kedua lengan dan kaki Shinobu yang begitu bening dan sama dengan kulitnya mengejutkan dirinya, ia sepertinya berhasil menciptakan tangan dan kaki robot yang mirip dengan asli.
"Itu tangan dan kaki baru...?"
Shinobu mengusap wajahnya dengan sapu tangan yang ia selalu simpan dalam sakunya, "Tidak kok... ini lengan dan kaki asli, Koneko baru saja menciptakannya melalui sampul daging sendiri."
__ADS_1
Shira memasang tatapan kaget yang berubah begitu cepat menjadi kebanggaan karena kecerdasannya memang membantu dirinya untuk terus berkembang, ia sudah tidak tertahan oleh apapun.
Shira mulai menggenggam kedua tangannya, "Apakah kamu merasakan genggaman tangan Kakek?"
"Tentu... rasanya begitu hangat dan keras, tangan Kakek besar ya... sekarang Koneko dapat merasakannya..." Ucap Shinobu selagi mengelus lengan Shira.
"Lenganmu juga lembut sekali... termasuk dengan kedua pipimu." Shira mengelus kedua pipi Shinobu lalu mencubit dan menariknya.
"Aww... Kakek..." Shinobu mengembungkan kedua pipinya.
"Ahahaha, untuk sekarang... kerja yang bagus, Shinobu."
"Kamu sekarang tidak merasakan penahan terhadap kekuatan bukan...? Kedua lengan dan kakimu yang asli itu dapat membantu untuk memperkuat fisikmu dengan melakukan push-up, sit-up, dan hal lainnya."
"Mm! Koneko akan berjuang!"
Setelah itu, Shinobu sempat menunjukkan hasil kerja kerasnya kepada kedua teman dan sepupunya sampai menyebabkan reaksi mereka penuh dengan kejutan karena melihat lengan dan kaki barunya.
Mereka sekarang dapat menggenggam tangannya yang begitu lembut dan kecil, Shinobu juga sadar bahwa tinggi mereka mulai berkembang sedikit demi sedikit sampai ia sendiri tidak memiliki perubahan terhadap hal tersebut.
Pada akhirnya, mereka semua mulai menikmati waktu bersama dengan bermain sebentar lalu sesudahnya berlatih serta memperjuangkan sesuatu yang ingin dicapai.
Shinobu kembali bekerja, berlatih, dan belajar. Ketiga hal yang sudah bisa di bilang seperti kebiasaan dan kewajiban yang perlu dipenuhi sampai kehidupannya berakhir.
Intinya Shinobu sering mengeluarkan kata kebiasaannya yaitu "Koneko akan berjuang!" yang memiliki arti bahwa ia akan berkembang dan terus melangkah maju demi bisa memancarkan harapannya sendiri untuk di lihat oleh orang yang benar.
Para Kakek dan Nenek hanya bisa memperhatikan, menunggu sampai waktunya tiba karena mereka sejak kecil sudah diajarkan berbagai macam hal yang sulit dan penuh tekanan.
Sehingga... 5 tahun sudah berlalu, lima tahun yang berjalan begitu lancar tanpa konflik besar yang terjadi seperti kedatangan Komi dan Zoiru, prediksi yang Shira lihat menggunakan kemampuan cahayanya ternyata tepat sasaran.
Shinobu sekarang sudah berumur 12 tahun, awal remajanya akan di mulai sekarang sampai ia memasang tatapan sedih dan kecewa sampai sempat menangis kepada Shira karena tingginya tidak naik-naik.
"Kakek... kenapa tinggiku tidak pernah naik...?"
"Kak Koizumi bertambah begitu tinggi... Kak Hinoka juga... sampai kedua temanku termasuk Ako memiliki tinggi yang berbeda denganku." Kata Shinobu selagi duduk di pangkuan Shira.
"Ahh, kamu sudah berumur 12 tahun ya... otomatis penambahan tinggi badanmu berhenti ketika berumur 6 tahun, hampir sama seperti Nenek dan Ibumu."
"Bisa di bilang faktor dari keturunan dan darah daging kalian semua... Nenekmu berhenti bertambah tinggi ketika berumur enam tahun karena sebagai gadis di Neko Legenda akan berhenti tumbuh..."
"...fisik mereka jadinya akan tetap terlihat seperti anak kecil, untuk Kou mungkin karena dia setengah Astral... umurnya tidak bertambah bersamaan dengan ukuran tubuhnya."
"Dan sekarang, kau juga seperti itu. Pendek dan masih terlihat imut... wajahmu juga terlalu polos sampai semua orang akan terus menganggapmu sebagai anak kecil."
"Fueeehhhh!?"
"Tidak... Koneko tidak mau terlihat seperti anak kecil terus..."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, justru kau akan mencatat sejarah bahwa seorang anak kecil dapat mengalahkan siapa pun." Shira memberi dirinya semangat yang cukup efektif sampai ia kembali tersenyum.
"Mmm!"