Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 523 - Time Vs Reality


__ADS_3

Shou dan Shuan baru saja kembali menuju ruangan peserta, mereka semua langsung di sambut dengan tepukan tangan yang begitu meriah karena mereka bertarung cukup baik.


"Kerja yang bagus, sepertinya para penonton tidak akan pernah bosan melihat pertarungan kalian." Methode tersenyum dan mengacungkan jempolnya kepada Shou.


"Awalnya aku sudah berpikir bahwa kedua Shiratori jika bertarung hasilnya akan memakan waktu yang cukup panjang karena kalian berdua sangat keras kepala soal menyerah." Kata Asriel.


Shou menghela nafasnya panjang, "Aku sudah kalah, sepertinya yang asli tidak akan pernah bisa di gantikan... Intinya pertarungan tadi cukup menyenangkan."


Shou memukul pelan bahu Shuan, "Selanjutnya kau harus bisa menang melawan sainganmu itu, Rokuro, kan?"


"Ya... Tentunya aku sangat menunggu pertandingan final melawan Shiratori Shuan." Rokuro tersenyum serius, Shuan hanya bisa menatapnya lalu ia menunjukkan tinjunya.


"Kali ini hasilnya tidak akan sama lagi, tentu saja... Sudah waktunya untuk diriku mengalahkan kemenangan berturut-turut yang kau dapatkan ketika melawan diriku, Rokuro!" Seru Shuan keras.


Mereka semua mulai tertawa bahagia karena menantikan pertarungan Final mereka, selanjutnya Morgan mulai mengumumkan pertandingan semi final selanjutnya.


"Saya ingin mengganti peraturannya sebentar... Kali ini pemilih pertandingan semi final akan di acak jadi bersiap lah seluruh peserta untuk masuk lapangan jika nama kalian tertera di layar." Kata Morgan selagi menekan tombol merah.


Layar yang bisa di liat oleh semua orang mulai menunjukkan seluruh kartu dan semua kartu itu berputar, setelah itu berhenti dan terbuka sehingga menunjukkan kedua peserta yang akan bertarung di semi final kedua ini.


"Haruka melawan Honoka di pertandingan semi final kedua ini...!?" Hana tercengang ketika melihatnya dan seluruh penonton langsung bersorak keras karena tidak sabar.


Kedua keturunan Comi yang sangat kuat, kemampuan berdasarkan waktu dan realitas akan bertarung lebih awal sepertinya. Honoka mengepalkan kedua tinjunya lalu ia tersenyum serius.


"Akhirnya... Bukannya ini adalah pertarungan yang paling di tunggu-tunggu, Kakak!?" Tanya Honoka kepada Haruka selagi membenarkan poninya.


"Kedua Kakak yang begitu cantik dan kuat akan bertanding, hanya untuk memperlihatkan siapa yang kuat dan layak! Dan sudah pasti..."


"...siapa di antara kita yang terbaik!" Kata Honoka selagi memegang dagu Haruka, Haruka hanya bisa terkekeh pelan karena sihir waktunya sudah pasti kalah kelak dengan realitas yang dapat Honoka kontrol.


"Oi, kalian! Menurutmu kalian... menurut opini kalian, siapa yang terbaik!? Aku atau Haruka?!" Tanya Honoka dengan tatapan serius, mereka semua mulai panik dan bingung untuk memilih siapa.


"Uhhhh... Jawabannya mungkin akan aku sebutkan setelah pertandingan selesai?" Tanya Minami, semua orang otomatis setuju dan Honoka mengangguk lalu memeluk Haruka erat.


"Kakak... semoga Legenda yang terhebat bisa menang, mari kita bertarung dengan penuh kepuasan tanpa menahan diri." Honoka mencium pipi Haruka lalu menghisapnya.


"Ahh...! Honoka, geli!"


"Hahaha... Aku hanya merasa tidak sabar untuk bertarung denganmu, sudah lama sekali atau tidak pernah ya?" Honoka mulai menatap semua teman-temannya.


"Kenapa kalian masih di sini? Pertandingan kalian baru saja di mulai, cepat masuk lapangan!" Seru Mitsuki.


""Siap!"" Haruka dan Honoka mengangguk, mereka mencoba untuk berjalan keluar dari ruangan peserta tetapi Rokuro menarik lengan Haruka lalu memberi dirinya sebuah ciuman di bibir.


"Oi, Rokuro, itu curang...! Jangan diam-diam memberikan Kakak kekuatan!" Kata Honoka.


"Tidak, gadis seperti Haruka tidak perlu membutuhkan bantuan apapun dariku, aku hanya memberi dirinya semangat agar bisa lebih bersemangat dalam menghadapimu." Rokuro melepas Haruka yang masih terkejut.


Wajah Haruka merah, "B-Bodoh...! Jangan seenaknya menciumku seperti itu!"


"Bukannya itu yang selalu kau inginkan sebelum turnamen di mulai?"

__ADS_1


"Uhhh..." Haruka menggembungkan pipinya, ia mengalihkan pandangannya ke arah lain dan melihat Kou menghampiri kedua kakaknya selagi memegang dua bunga Crimson.


"Kak Haruka... Kak Honoka... ini, semangat...!"  Kou memberikan kedua bunga itu selagi menunjukkan senyuman lembut dengan kedua mata yang ia pejamkan.


""Ahhh~ Kou~"" Secara refleks Haruka dan Honoka mulai memberi Kou sebuah pelukan hangat selagi mengusap dan mencolek pipinya beberapa kali lalu menerima bunga itu dengan menggigitnya.


"Kou pasti mendukung Kakak ya?" Kata Haruka.


"Tidak... Kou tentunya memilih Kakak..." Kata Honoka.


"Tidak... aku mendukung kedua kakakku yang sangat baik dan penyayang." Kou memberi Haruka sebuah kecupan di pipi dan ia mencoba untuk mencium pipi Honoka tetapi Honoka malah mencium bibirnya.


"Honoka! Berhenti mencium Kou di bibir...! Kou sudah besar!" Seru Haruka.


"Tidak apa-apa kan? Kou ku itu adikku yang sangat imut jadi tidak mungkin aku berhenti mencium bibirnya." Honoka memeluk Kou erat, Kou hanya terkekeh pelan.


"Kalian menghabiskan banyak waktu!  Pak Morgan bahkan sampai meminta kalian berdua untuk secepatnya datang ke arena...!" Kata Hana.


Haruka dan Honoka memberi Kou sebuah usapan di kepalanya lalu memberi bangkit, mencoba untuk menghampiri arena tetapi Honoka melupakan sesuatu yang selalu ia lakukan.


Honoka mengubah bunga Crimson yang ia pegang menjadi tiga, "Hana... Minami... Kalian pasti mendukung diriku bukan?"


Honoka mendekati mereka lalu ia memegang kedua dagu Minami dan Hana dengan kedua bunga yang ia gigit, "Terimalah bunga ini..."


Hana dan Minami langsung tersipu ketika melihat tatapan Honoka yang begitu menggoda, bukan hanya mereka saja tetapi Mitsuki dan Bakuzen ikut terkena hipnotis tatapan itu.


Haruka menepuk kepala Honoka, "Cepatlah, kamu terlalu banyak menghabiskan waktu!"


""Kalian berdua, semangat ya!!!""


"Honoka..." Panggil Korrina.


"Ugh!" Honoka melebarkan kedua matanya, kedua irisnya yang berwarna biru berubah kembali menjadi merah seketika.


Kedua pandangannya mulai melihat Korrina berada di hadapannya selagi menunjukkan senyumannya, hanya dalam sekejap dan ia sudah menghilang begitu saja, membuat Honoka terjatuh di atas lantai.


"Loh, Honoka?" Haruka melihat Honoka tiba-tiba jatuh, semua teman-temannya melihat Honoka jatuh seperti tidak sengaja tergelincir lantai yang begitu licin.


"Ehh...? Kakak...?" Honoka melihat Haruka yang mencoba untuk membantu dirinya.


"Bisa pelan-pelan tidak sih...? Kamu malah tergelincir jadinya..." Ucap Honoka yang mulai menepuk pakaian Honoka beberapa kali.


Honoka terdiam seketika karena kedua pandangannya tadi sempat melihat Korrina berdiri di hadapannya, ia ingin membahasnya dengan Haruka tetapi ia sudah di tarik oleh Haruka untuk segera masuk arena.


Dengan menggunakan lompatan waktu, mereka langsung berada di arena sampai mengejutkan semua penonton karena tidak melihat kedatangan kedua gadis itu dari arah timur dan barat.


"Ahh!!! Itu mereka!!! Kedua penerus dari seorang ratu Touriverse...!!! Haruka Comi dan Honoka Comi...!!!" Seru Jorgez keras sehingga para penonton langsung bersorak keras dan bertepuk tangan.


"Pertarungan ini pasti akan berakhir cukup menarik... Aku selama ini merasa penasaran dengan kedua anak Korrina yang bertarung." Kata Haruki.


"Kau benar... Aku juga sejak awal ingin melihat pertarungan antara realitas dan waktu." Arata menyilangkan kedua lengannya.

__ADS_1


"Intinya pertarungan ini bisa saja membingungkan beberapa orang tetapi... melihatnya saja membuat diriku bersemangat." Shira tersenyum serius.


Haruka menatap Honoka yang tadinya terlihat murung sekarang kembali tersenyum, fokusnya kembali terkumpul dan itu adalah pertanda yang baik, mungkin Honoka sempat terluka tadi jadi ia terlihat sedikit murung.


"Apakah kau sudah merasa baik, Honoka?" Haruka menunjukkan kuda-kuda bertarungnya.


"Ya...! Tidak ada waktu untuk di habiskan lagi...!" Honoka menunjukkan kuda-kuda bertarungnya yang sama dengan Haruka.


"Itu dia, bung...!!! ITU DIA!!! Kuda-kuda bertarung yang selalu di gunakan oleh sang ratu Touriverse!!!" Seru Jorgez sehingga wasit mulai memasuki lapangan lalu mengangkat kedua lengannya.


"Persiapkan diri kalian...!"


Haruka tersenyum serius, kedua jarum jam di matanya mulai berputar maju untuk melihat masa depan agar Haruka bisa menyerang tanpa di tahan atau di gagalkan oleh Honoka.


Honoka menunjukkan senyuman yang sama, kedua lengannya memancarkan aura merah Crimson yang dapat mengubah realitas atau apapun yang ia inginkan.


"...pertarungan semi final kedua! Di mulai!!!"


Honoka memuntahkan darah yang sangat banyak ketika ia menerima satu pukulan penuh tenaga dari Haruka, Honoka tidak menyangka Haruka akan langsung menggunakan lompatan waktu begitu cepat.


"Hurgghhh...!!!"


"Itu dia!!! HARUKA TELAH MENGHENTIKAN WAKTU DAN BERHASIL MELUKAI HONOKA!" Jorgez berteriak keras karena ia sangat bersemangat melihat pertarungan ini.


"Aku kira kau akan menghentikan waktu... sepertinya kedua matamu itu yang dapat membaca masa depan dan semua prediksi serta kemungkinan sangat membantumu ya..." Honoka menghapus darah di mulutnya.


Honoka maju ke arah Haruka lalu ia melancarkan beberapa pukulan yang melepaskan gelombang Crimson ke depan, Haruka bisa melihat pergerakan Honoka yang sangat lambat berkat bantuan kedua matanya juga.


Kedua jarum jam di matanya bergerak begitu lambat sampai ia bisa melihat pergerakan Honoka yang sangat lambat, Haruka menghentikan waktu untuk mengecoh Honoka lalu ia melompati waktu.


Berhasil menghantam wajah Honoka sampai ia terhempas ke belakang, "Kakak... sepertinya kau sudah meningkat ya, jika terus seperti ini maka aku akan kalah."


Honoka menoleh ke belakang lalu menendang perut Haruka yang baru saja selesai melompati waktu, Honoka menggunakan sihir realitas untuk menghentikan lompatan waktu Haruka di tengah jalan.


"Sial... ketika aku melompati waktu, sihir itu mendadak gagal oleh sihir realitas Honoka, aku harus berhati-hati sekarang." Haruka mengepalkan kedua tinjunya dan melihat Honoka maju ke arahnya dengan kecepatan penuh.


Haruka mencoba untuk membaca masa depan tetapi jarum jamnya malah mundur ke belakang, menunjukkannya masa lalu sehingga ia lengah dan menerima beberapa pukulan dari Honoka.


"Bagaimana jika aku membalikkan kemampuan itu dengan Counter-Reality, Kakak!?" Honoka mengakhiri serangannya dengan menendang perut Haruka menggunakan kedua lengannya.


Haruka hampir saja terjatuh tetapi ia menghentikan waktu lalu melompati waktu untuk menjaga posisinya berada di tengah arena.


"Ini yang aku maksud... sihir Realita yang kau miliki itu mengalahkan sihir waktuku..." Haruka tersenyum serius.


"Kalau begitu... Kakak pasti memiliki rencana lain bukan?" Honoka memukul ke belakang dan mengenai wajah Haruka sampai ia terhempas ke belakang.


"Ternyata aku tadi sedang berbicara dengan Time-Replay ya... Untungnya aku merasakan Time-Skip itu..." Honoka menoleh ke belakang.


"Tidak buruk, Honoka..."


"Kau juga, Kakak...!"

__ADS_1


__ADS_2