
Shira berjalan di atas alam semesta kecil yang ia lihat, semuanya terlihat begitu kecil bahkan ia sampai bisa menggapai salah satunya lalu mengubahnya menjadi partikel cahaya.
Ia tidak mengingat apa yang terjadi sebelumnya, mungkin pikiran dan perasaannya sudah mempengaruhi dirinya sampai kedua teman dekatnya menghentikan dirinya dengan cara yang kasar sebelum ia menghancurkan segalanya.
"... ..." Shira menatap kedua tapaknya lalu ia menyentuh kepalanya sendiri, setelah itu ia menarik nafas dalam-dalam dan menghembusnya pelan untuk menenangkan pikiran.
"Sudah lama sekali aku tidak bersikap seperti itu... seharusnya masih bisa dikendalikan sebelum cahayaku lepas dan mengabulkan semua perkataan yang aku ucapkan melalui mulut busuk ini."
"Tunggu dulu... aku... berada dimana...?" Shira memasang tatapan bingung sampai semua alam semesta kecil yang ia lihat menghilang entah kemana, dirinya hanya bisa melihat luar angkasa yang tidak memiliki apapun.
Tidak ada bintang, planet, dan alam semesta yang tadinya ia lihat sampai bisa digapai, Shira menoleh ke belakang lalu seseorang menyambutnya dengan sebuah pukulan yang menembus dadanya cukup dalam.
"... ...!!!" Shira melebarkan matanya ketika melihat seseorang yang memukul dirinya adalah seorang pria berambut putih yang sedang tersenyum.
"Bagaimana, Shiratori Shira...? Apakah kau menikmatinya...? Bukan hanya Touriverse tetapi seluruh alam semesta termasuk dengan dimensi dan masa waktunya akan terjebak dalam labirin yang memberikan tantangan berbeda."
"A-Agh..." Shira mengeluarkan banyak darah melalui mulut dan bekas lubang di dadanya sampai ia tidak menggunakan sihirnya atau mengubah tubuhnya menjadi cahaya.
Shira memasang tatapan kaget ketika melihat banyak sekali mayat mengapung di belakang pria tersebut, salah satunya adalah keluarga, anaknya, termasuk seluruh temannya melayang tanpa nyawa karena perbuatan pria di hadapannya.
Pria itu langsung mendorongnya ke belakang sehingga ia terpental masuk ke dalam dunia kehampaan sampai dirinya terjebak di sana dengan beberapa pendukung yang langsung menyerang dirinya secara beregu.
Salah satunya Megumi memegang erat tangan Shira dengan tatapan yang terlihat kesakitan, "Kenapa... kau... tidak bertindak...?"
"...dia bisa... menyelamatkan kita semua... dengan bimbingan dirimu..." Semuanya menghilang begitu saja sampai Shira menatap ke depan, melihat sebuah portal yang terbuka lebar.
Menunjukkan kembali pria berambut putih itu, tetapi kali ini ia membawa banyak sekali rekan sampai sebagian dari orang itu dapat ia kenal, seperti Rxeonal, Komi, Zoiru, Zangetsu, dan yang lainnya datang lalu menyerang dirinya secara bersamaan.
...
...
"Hah...!!! Hah... Hah... Hah..." Shira langsung bangkit dari atas kasur dengan tatapan kaget, tubuhnya dipenuhi keringat karena mimpi tadi cukup mengerikan bagi dirinya.
Sudah lama sekali ia tidak merasakan mimpi mengerikan seperti itu, seseorang yang duduk di sebelahnya langsung menyentuh Shira dengan tatapan khawatir sehingga ia memeluk dirinya.
"Kamu pasti lelah ya, Shira."
"Megumi... kenapa kau datang...? Ada apa dengan Realm of Light itu...?" Tanya Shira dengan tatapan yang masih terlihat ketakutan.
"Semuanya terjaga dengan aman kok, lagi pula aku menggunakan Golden Life untuk menciptakan beberapa kehidupan di sana agar bisa menjaganya."
"Ketika kamu mengamuk dan hilang kendali terhadap ras stresmu, aku segera datang untuk menemui dirimu... ternyata kamu diam-diam meminum kopi terlalu berlebihan ya." Megumi menghapus semua keringat Shira.
Shira menggenggam erat tangan Megumi sampai ia merasa sakit karena genggaman itu terasa begitu kuat, Megumi dapat melihat dengan jelas bahwa Shira memang ketakutan dan kemungkinan besar membutuhkan istirahat panjang.
"Kamu baik-baik saja...?" Megumi menyentuh kening Shira, suhunya masih terasa biasa saja tetapi ekspresinya terlihat sangat lelah.
"Aku tahu kita semua mengalami hal yang menyedihkan hampir setiap hari... apakah kamu masih belum bisa merelakan Minami, Shuan, dan keluargamu?" Tanya Megumi yang mulai menyentuh kedua pipi Shira.
"Jadi siapa... yang menentukan mana itu benar dan salah?" Tanya Shira yang mulai berpikir bahwa tiada siapa pun yang menentukan kedua hal tersebut, dirinya tidak memiliki kepercayaan terhadap Dewa.
__ADS_1
Entah kenapa ia melakukan kebenaran hanya untuk ketenangan dirinya, selama ini Shira hanya ingin menikmati kehidupan yang tenang dan damai, dengan mencapainya ia harus bertambah kuat.
Pada akhirnya, ketenangan itu tidak pernah ia capai karena dirinya terus melangkah menuju ruangan labirin yang baru sampai kehilangan banyak hal yang sangat ia sayangi dan cintai sampai dirinya sendiri yang malah terjatuh ke dalam lubang putus asa.
"Dunia yang tak terbatas ini... terus maju dan berevolusi menjadi sesuatu yang kadang baik dan buruk, aku sendiri tidak mengerti..."
"...sebenarnya dunia tak terbatas ini memiliki tujuan seperti apa? Semua realita ini... penuh dengan kebutaan." Shira menarik Megumi lalu memeluknya erat untuk menenangkan pikirannya.
"Shira..." Megumi mengeratkan pelukannya lalu ia menepuk punggungnya beberapa kali.
"Menatap kembali sejarah... seberapa banyak prajurit dan Legenda yang layak gugur demi bisa menggapai masa depan yang cerah... semua masa depan itu terus bertambah gelap dan buruk masa ke masa..."
"...rasanya perjuangan mereka menjadi tidak berguna seperti itu, entah kenapa kebutaan mudah untuk dicapai bagi mereka yang menerima kedamaian tanpa merasa terinspirasi untuk menjadi Legenda yang sudah gugur itu."
"Entah itu perjuangan atau apa... rasanya pola pikiran mereka berubah begitu cepat, kemungkaran besar Legenda yang gugur memang tidak berguna bagi mereka karena sudah mati sampai usaha mereka dilupakan begitu saja."
"Pada akhirnya... mereka yang gugur, mencoba untuk menyelamatkan yang lemah dari kejahatan mulai terbalik... terasa ironis karena seseorang yang lemah itu akan menjadi kejahatan baru dan membuka kemungkinan baru."
"Aku mengerti sekarang... kebenaran... misteri... pertarungan..." Shira langsung mengingat Shinobu, hanya dirinya yang dapat memecahkan semua itu karena kecerdasannya yang melahirkan The Mind.
Kou tidak bisa melakukannya karena kekurangan terhadap tubuh dan penyakitnya, tetapi untuk Shinobu masih memiliki banyak kesempatan dan waktu bahwa dirinya masih bisa mengembangkan pikiran dan kecerdasan itu.
Gadis sekecil dirinya yang sudah memiliki kecerdasan melalui beberapa dewa, Shira memiliki keterbatasan terhadap ilmu pengetahuannya, walaupun sudah berjuang masih terdapat banyak jawaban yang belum ia ketahui.
"Apa yang terjadi jika Shinobu menggunakan 100% dari otaknya...? Selama ini dia menggunakan beberapa persentase terhadap otaknya sendiri..." Ungkap Shira.
Shira menghembus nafasnya lagi lalu ia memasang tatapan serius sekarang, semuanya sudah terasa lebih ringan sampai ia dapat melanjutkannya lagi demi bisa melangkah maju menuju jalan lainnya, lebih dekat ke masa depan dan ketenangan itu.
"...kamu harus ingat, Shira. Mereka yang gugur akan selalu bersama kita, mereka tidak sepenuhnya mati karena masih banyak yang mengingat dirinya."
"Semua Legenda yang gugur akan hidup ke dalam Legenda lainnya, untuk melanjutkan perjuangan itu... itulah kenapa kita sebagai bangsa Legenda melepaskan perkataan Legends Never Dies..."
"...semua Legenda yang gugur akan hidup di dalam Legenda yang mau melanjutkannya. Aku yakin Ayah dan Ibumu hidup dalam dirimu... termasuk dengan anak kita juga... semua Shiratori yang berjuang dan gugur juga."
"Semuanya ada di sini... mereka semua..." Megumi menyentuh dada Shira.
"Apa yang kamu masih percaya... saat aku melihatnya, rasanya hanya seperti mimpi yang berisi kebohongan. Harapanku palsu... kita juga..."
".. semuanya terasa seperti kebohongan dan kepalsuan, tapi aku merasakan keindahan di dalamnya. Aku mengerti jika mementingkan orang lain dibanding diri sendiri itu merupakan kemunafikan."
"Meski begitu... meski begitu, aku mengaguminya dan berpikir 'jika aku hidup seperti itu, pasti akan luar biasa' meski hidupku menyedihkan, keinginanku untuk membahagiakan orang lain pasti akan terasa lebih hebat."
"Aku rasa kamu adalah orang yang merasa paling benar... yang mengatakan kebenaran, aku sudah sering bertemu dengan orang seperti itu."
"Melakukan sesuatu yang melawan kewajaran... membutuhkan keberanian yang luar biasa. Aku menghormati orang seperti mereka..." Megumi menempati kepalanya di dada Shira untuk berbicara berduaan dengannya tanpa gangguan apapun.
"Itu bukanlah kebaikan... tapi itu hanyalah kelemahan..." Megumi menatap wajah Shira yang terlihat tenang dan serius, ia mengangguk lalu mengerti apa yang ia coba katakan.
"Menyampaikan semuanya kepada Shinobu agar dia mau berubah...?"
"Mmm... kamu sendiri sudah merasa lebih tenang kan?" Tanya Megumi.
__ADS_1
"Ya... terima kasih... aku kembali terbakar penuh dengan semangat untuk melatih Shinobu menjadi Legenda yang layak."
"Syukurlah..." Megumi tersenyum lebar lalu meneteskan air matanya karena ia sempat takut bahwa Shira akan memilih jalan lebih cepat yaitu menghancurkan semuanya.
Megumi mendekati wajahnya dengan Shira, ia langsung menyatukan bibirnya dengan bibir Shira untuk membagi rasa cintanya yang tidak terbatas.
"Shira, apakah kau sudah merasa baikkan---" Arata dan Haruki masuk ke dalam kamar tamu itu lalu melihat Megumi yang sedang duduk di hadapan Shira.
"Ahh, baik... waktu privasi..."
"Selalu saja datang dalam waktu yang kurang tepat ya." Kata Shira yang baru saja selesai menikmati bibir Megumi, seketika Megumi mendengar suara Arata dan Haruki di belakangnya.
"Nyahhh!?" Megumi langsung melompat ke sebelah kanan dengan wajah yang memerah sampai dirinya langsung mencoba sebisa mungkin untuk bersikap biasa saja, semoga mereka tidak melihat dirinya berciuman dengan Shira.
"Kenapa harus malu seperti itu, Megumi? Kalian sudah menikah... tidak ada masalahnya." Kata Arata.
"Organisasi keamanan anak juga tidak melihat."
"Aku bukan anak kecil...! Berisik! Berisik! Berisik!" Seru Megumi selagi menggerakkan kedua lengannya, di lihat dari perilakunya saja sudah seperti anak kecil.
Shira bangkit dari atas kasurnya lalu ia menepuk punggung mereka, "Terima kasih karena sudah menghentikan diriku... langsung saja ke intinya, apakah kalian setuju dengan pembicaraan yang kita adakan sebelum itu?"
"Menyerahkan Legenda fanatik dan Dewa elemen kepada anak-anak? Aku setuju saja... lagi pula aku sudah membiarkan mereka berjuang ketika melawan penyihir tinta itu." Ucap Haruki.
"Aku juga setuju saja, Koizumi adalah kebanggaan baru bagi Shimatsu. Jarang sekali seorang gadis meneruskannya... aku akan memberikan dirinya kesempatan untuk menanganinya." Kata Arata.
"Kau mengatakan sesuatu tentang persiapan bukan? Jika kau pikirkan kembali, masalah Komi dan Zoiru adalah hal yang sangat besar... kita harus mempersiapkan diri untuk masalah yang sama dengan kedua hal itu."
"Itu dia... aku senang kalian mengerti, apakah Shizen masih belum datang?"
"Kau tidak perlu meminta izin kepadanya... Hinoka sendiri pasti akan dibiarkan begitu saja oleh ayahnya, bisa di bilang Koizumi yang menjadi pengasuh bagi dirinya." Jawab Arata.
"Begitu ya..." Shira mengangguk lalu ia menepuk bahu mereka lalu tersenyum penuh semangat sampai mengejutkan Arata dan Haruki seketika karena senyuman itu terlihat sama persis seperti dulu, sudah lama sekali mereka tidak melihatnya.
"Baiklah, aku serahkan sisanya kepada kalian. Latihan dan berusaha, teruslah melakukan itu agar hasilnya selalu bagus. Proses itu ada bahkan untuk cucu kita semua..."
Mereka semua langsung mengangguk lalu melanjutkan perbincangan biasanya, Megumi menghela nafas lega bahwa Shira sudah bersikap biasa lagi, walaupun dia terasa lebih dingin sekarang setidaknya ia masih bisa mengendalikan emosinya.
***
"Kamu ingin pergi sekarang?" Tanya Megumi kepada Shira yang sedang mengenakan pakaian berwarna emas.
"Ya... sudah waktunya aku mengajak dirinya, setidaknya memberikan sesuatu yang jernih untuk pikirannya adalah tahapan yang pertama, Realm of Light sangat cocok sekali."
"Baiklah... kalau begitu aku akan menunggu kalian di sana." Megumi mengangguk lalu ia melayang untuk mendekati wajahnya dan memberinya sebuah kecupan di pipi serta bibir.
"Hati-hati ya..."
"Ya..."
"...tunggu aku ya." Shira mengelus kepala Megumi.
__ADS_1
"Aku akan melatih keturunan terakhir dari Shiratori!"