Yuusuatouri: A New Life Being A Legend

Yuusuatouri: A New Life Being A Legend
Chapter 756 - Cahaya Kepintaran


__ADS_3

Kuda yang Shinobu tunggangi telah tergelincir, ia melihat dirinya berada di situasi yang buruk ketika melihat jejak kaki banteng di sekelilingnya, setiap banteng itu sudah pasti akan menabrak dirinya.


Shinobu tidak bisa terbang menggunakan kedua tapak tangan dan kakinya karena cuaca yang membeku pembakaran tersebut sampai ia memerlukan cara lain.


Jika tidak maka tubuhnya sudah pasti akan hancur tertabrak oleh semua tanduk banteng yang mampu membelah gunung menjadi dua itu, Shinobu memasang tatapan serius sampai ia melepas kacamatanya.


"Golden Leaf...!" Seru Shinobu sampai memisahkan semua dedaunan dari kuda itu lalu daun itu langsung melayang ke atas, membantu Shinobu menghindarinya.


"Golden Leaf...!!!" Shinobu mengatakan kemampuan dedaunan emas lagi sampai semua daun emas itu membentuk seekor kuda yang bergerak cepat ke depan.


Shinobu menghela nafas lega karena ia berhasil menyelamatkan dirinya berkat bantuan dari sihir alam dan cahaya yang di satukan menghasilkan dedaunan emas, jika saja ia tidak berlatih sihir itu dengan Megumi maka dirinya bisa saja gugur tadi.


Walaupun ia memiliki banyak nyawa, satu nyawa itu sangat berharga sampai ia tidak ingin menyiakannya begitu saja, Megumi dan Kou sempat melarangnya karena nyawa yang ia miliki perlu di rawat terus.


Shinobu melirik ke belakang, melihat semua pasukan banteng itu masih mengejar dirinya, "Jika seperti ini... pengerjaan banteng ini tidak akan pernah selesai!"


Shinobu memasukkan kacamatanya ke dalam Kisetsu itu lalu ia menoleh ke atas langit dengan kedua mata yang memancarkan sinar matahari, Tauros secara refleks bersembunyi sebelum tertangkap basah.


"Dimana... Kesatria itu... aku tidak bisa membaca pikiran dan informasi dalam jarak yang jauh..." Ungkap Shinobu.


Ia terkejut ketika melihat di hadapannya adalah jurang yang begitu dalam dengan air terjun, Shinobu bisa melihat asap terlepas keluar dari dalam lubang itu.


"Air panas... pengendalian cuaca sepertinya... dia mencoba untuk menjebak dirimu juga..." Shinobu memegang erat kudanya.


"Baiklah... Koneko..."


"...akan berjuang!" Shinobu memasang tatapan serius, mencoba untuk bersikap panik dan ketakutan karena semua itu hanya akan menghambat dirinya saja.


Sebenarnya ia merasa ketakutan karena di kejar oleh jumlah banteng yang entah itu berapa, cuacanya juga sangat tidak mendukung karena sebagian dari Kisetsu nya terus membeku.


Sihir cahayanya tidak dapat membantu dirinya untuk menghangatkan tubuhnya lebih cepat, berbeda dengan kedua teman dan sepupunya itu.


"Jika aku lurus terus... b-bisa gawat!"


"Kalau aku tidak berbelok... aku akan masuk ke dalam jurang... dengan air terjun panas." Mata kiri Shinobu mendeteksi air terjun itu yang memiliki suhu jauh lebih panas di bandingkan lahar.


"...sudah aku duga." Shinobu memegang erat syal Crimson di lehernya, kalau tidak salah ia pernah mendengar bahwa syal tersebut mengandung sihir Crimson yang besar di dalamnya.


"Walaupun aku... tidak begitu mahir dalam menggunakan sihir Crimson... setidaknya... biarkan aku... menerima kehangatan dari sihirnya." Ungkap Shinobu.


Mata kiri Shinobu menunjukkan beberapa arah yang dapat ia tempuh dengan persentase keberhasilan di atasnya, jika ia melompat maka persentase yang ia dapatkan adalah dua puluh persen.


Namun, ketika ia mencoba untuk belok ke kanan di atas tanah yang begitu licin maka persentase keberhasilan yang ia dapatkan adalah empat puluh persen.


"Berbeda setengah... aku tidak begitu percaya dengan persentase kecil dapat berhasil... tapi... ini berkaitan dengan keberuntungan!"


Shinobu mengalirkan Lenergynya ke dalam syal tersebut sehingga memancarkan cahaya Crimson yang mampu menghangatkan tubuhnya, ia mulai meminta kuda itu untuk belok ke kanan agar menghindari lubang tersebut.

__ADS_1


Kuda itu mencoba untuk belok sehingga Shinobu terkejut ketika melihat keempat kaki kuda itu seperti mengalami kesulitan untuk belok dengan benar karena terlalu licin.


"Gawat...!" Shinobu melihat bongkahan es besar di hadapannya, ia awalnya mengira akan menabrak.


Namun, sikap keras kepala Shiratori telah bangkit yaitu pantang menyerah, "Tidak... Aku, Koneko... pasti bisa...!!!"


Shinobu menurunkan kaki kirinya lalu mengeluarkan sebuah pembakaran besar yang menghasilkan dorongan stabil untuk membantu kuda itu berbelok sampai sedikit merasa tidak yakin di dalam hatinya.


"Pasti bisa...! Jangan menyerah...!!!"


Kuda itu berhasil berbelok ke kanan dengan stabil sampai ia kembali melangkah dengan cepat ke depan, Shinobu yang sedang menggigit bibirnya karena ketakutan mulai menghela nafas dengan lega.


"Y-Yey...! Koneko berhasil~" Shinobu menggerakkan ekornya cepat karena merasa bahagia dengan keberuntungan itu.


Mata kanan Shinobu yang memberikan pencerahan seperti sinar matahari sempat melihat daratan es yang retak di hadapannya sampai menyebabkan lubang yang besar.


"A... Apa...?"


"Eeeepppp...! Di sini juga... ada jurang...!" Shinobu memegang erat kuda itu, kembali merasa takut tetapi ketakutannya tidak pernah menghentikan dirinya untuk berjuang dan menyerah.


"Golden...!" Shinobu menepuk kuda itu.


"...Leaf!" Kuda tersebut langsung meledak menjadi dedaunan emas yang terembus oleh badai yang menghempas dirinya ke sebelah kiri.


Shinobu berpikir cepat dengan menggunakan syal itu sebagai sayap kecil atau parasut yang membantunya untuk turun ke dalam jurang itu pelan-pelan.


Shinobu bisa merasakan asap dari suhu air terjun itu sangat panas bahkan tubuhnya sampai berkeringat, yang tadinya merasa sangat kedinginan sekarang mulai terasa sangat memanaskan.


"Syukur... jika kehangatan itu sudah cukup untuk melelehkan semua es yang menghalang diriku untuk terbang menggunakan pembakaran..."


"...maka semuanya akan berjalan lancar... hanya saja aku masih menemukan teori atau fakta yang pas dimana keberadaan Kesatria itu..."


"Cuaca ekstrem itu terus mengganggu dirimu untuk berpikir dan merasakan keberadaannya..." Shinobu melepaskan pembakaran yang mengeluarkan dorongan melalui kedua kakinya.


Ia mulai mengeluarkan cakar kucing melalui jari-jarinya lalu ia menusuk baru di hadapannya agar bisa melihat tembok emas yang diciptakannya itu untuk menahan semua banteng yang ada.


Cakar kucing itu membantu Shinobu untuk memanjat gunung tersebut, ia tidak berniat untuk langsung naik ke atas permukaan karena dirinya memiliki firasat bahwa banteng lain akan menyerang.


"Aku harus bisa menyingkirkan... awan palsu itu... tetapi membutuhkan posisi yang pas untuk melakukannya..."


"...aku mengalami kesulitan untuk konsentrasi di dalam jurang ini juga... tapi aku masih bisa terbang dan itu tanda yang baik..."


"B-Bagaimana caranya... untuk lolos di sini?" Shinobu seperti biasanya berpikir dan merancang sebuah strategi untuk menyingkirkan semua awan palsu dan kabut itu.


"Ck... ternyata Shinobu benar-benar pemberontak yang jauh lebih jenius di bandingkan mereka semua..."


"...perjuangan yang ia lakukan, semuanya berkaitan dengan kecerdasan yang ia miliki. Aku harus bisa menghentikan dirinya." Tauros menggigit kukunya dengan panik.

__ADS_1


"Jika aku membiarkan dia hidup... maka... maka... dia bisa saja mengetahui... informasi apapun... pandangannya dapat melihat..."


"...semua kebenaran seperti buku... mungkin jika ia berpapasan denganku maka pandangan yang ia lihat kepada itu seperti..."


"...seperti aku menjadi buku yang terbuka lebar sampai Shinobu... membaca semuanya tanpa masalah, ia juga tidak membutuhkan waktu lama..."


"...sial... sial... sial...!" Tauros terus menggigit kukunya sampai berdarah karena panik dan tidak tahu harus apa untuk menghentikan kepintaran Shinobu.


Tauros melepaskan lebih banyak banteng itu, kali semua hewan itu berada di sisi yang berbeda, mereka semua mulai mendekati lubang itu dan mencoba untuk menginjak daratan cukup keras.


Injakan itu mampu menggetarkan daratan sampai menciptakan retakan besar, Tauros ingin Shinobu terjatuh ke dalam lubang itu tetapi kukunya masih tertusuk di atas daratan itu.


"... ..." Tauros menggerakkan jarinya lalu menciptakan simbol Taurus berwarna abu-abu, semua kabut yang berada di sekeliling banteng itu menciptakan sayap yang menempel di tubuh mereka.


Semua banteng itu langsung terbang dan masuk ke dalam lubang itu untuk menabrak Shinobu tetapi mereka semua tercengang ketika melihat dirinya yang melarikan diri ke dalam lubang.


"Lubang...!? Brengsek...!!! Dia ternyata memiliki jalan sendiri untuk melarikan diri..." Tauros mulai menggigit ibu jarinya sampai berdarah karena bertambah semakin panik.


Semua banteng itu masuk ke dalam lubang yang memberikan jalan lurus menuju Shinobu, di sisi lainnya terdapat Shinobu yang menunggangi kuda yang terbentuk melalui daun.


"Aku beruntung bisa... menggunakan tembakan cahaya melalui Golden Repulsor... untuk menciptakan lubang sepanjang dan sebesar ini..." Ungkap Shinobu yang melirik ke belakang.


Ia melihat belakang mengalami guncangan besar karena semua banteng masuk secara bersamaan sampai melebarkan lubang itu untuk menciptakan ruangan lebih luas agar mereka bisa mengejarnya bersama.


"Percuma saja... mereka terus mengejar.."


Shinobu terus memikirkan solusi agar bisa menghindari semua banteng itu, tadi ia sempat melihat jumlah mereka terus bertambah, itu artinya kesatria zodiak itu bisa menambahkan banteng sebanyak-banyaknya.


Hampir sama seperti kesatria Aquarius dan Cancer, mereka tidak dapat bertarung dalam jarak yang begitu dekat, itu artinya kesatria Taurus juga tidak begitu mahir dalam pertarungan jarak dekat.


Shinobu menoleh ke belakang, melihat semua banteng itu semakin mendekat sehingga ia mulai menembak mereka menggunakan Golden Repulsor tetapi serangan itu terpental kembali kepadanya.


Untungnya refleks Shinobu cukup cepat dan karena ukuran tubuhnya yang kecil, serangan itu melesat sampai mengenai tembok di hadapannya yang memberikan dirinya jalan lebih panjang untuk melarikan diri.


"Tanduk mereka... aku melihatnya... sihir apapun itu... mereka menahannya menggunakan tanduk..." Shinobu mengambil satu daun dari kuda itu lalu mengeraskannya menjadi bongkahan emas.


Shinobu melempar daun tajam itu ke depan sampai tanduk itu berhasil melakukan serangan balik dengan membalikkan daun itu ke arah Shinobu.


Namun, ukuran Shinobu yang kecil tidak perlu menghindari serangan itu yang melewati puncak kepalanya, "S-Sepertinya ada untungnya menjadi kecil ya..."


"Kalau begitu...!!!" Shinobu memasang tatapan serius sampai pupilnya menajam seperti kucing yang melihat mangsanya.


Shinobu mengulurkan kedua lengannya ke arah yang berbeda lalu ia melepaskannya sehingga kedua tangan buatan itu melesat maju lalu menciptakan jalan terowongan lainnya.


Namun, Shinobu memilih untuk menciptakan terowongan lainnya yaitu lurus, ia membiarkan terowongan bagian kanan dan kiri itu sebagai umpan dan serangan yang mungkin akan membuat Tauros panik.


"Apa yang di rencanakan sekarang...!?" Tauros sampai menghabiskan jari jempolnya dengan menggigitnya lalu ia menggigit jari lain selagi berpikir.

__ADS_1


"Apa yang kau coba rencanakan sekarang...?!"


"Shinobu Koneko...!"


__ADS_2