
Adit duduk sendirian di markasnya, kali ini tidak ada bawahannya karena ia baru saja mendengar bahwa serangan yang berasal dari atas langit telah membunuh mereka sekaligus sampai ia tidak tahu harus apa dimulai dari sekarang.
"Manusia brengsek... kenapa semua ini harus terjadi...? Awalnya aku mengharapkan kehidupan biasa dimana diriku dapat menaklukkan seluruh sekolah..."
"...tetapi kenapa konflik harus muncul seperti ini sampai menggugurkan banyak nyawa yang bisa aku anggap penting bagiku, mereka adalah keluarga..."
"...jasa pahlawan kalian tetap tidak akan bisa dikenang karena Manusia sudah terbelah menjadi sisi yang berbeda, sialan!" Adit menghantam daratan dengan matanya yang sudah mengalir deras.
"Adit." Panggil Shinobu yang menembus tembok di hadapannya dengan wujud ruh sampai ia langsung duduk di sebelahnya dengan tatapan yang terlihat bersalah.
Adit langsung menghapus air matanya lalu ia menatap arah lain karena tidak ingin dilihat lemah dan cengeng di hadapan seorang gadis, "Kenapa...? Apa yang kamu inginkan dariku, Shino?"
"Aku ingin menemani dirimu di tengah malam ini... rasanya cukup kesepian bagimu jika ingin menangis sendirian seperti itu." Shinobu duduk sila lalu ia tersenyum karena berniat untuk menenangkan dirinya.
"Hei... kamu tahu...? Semua kehidupan belum menginjak dunia... sudah disediakan dengan takdir kematian yang tidak akan bisa mereka tebak kapan itu akan terjadi."
"Hal tersebut bukanlah hal yang buruk karena kematian adalah tempat istirahat terakhir yang dapat menyebabkan ketenangan untuk selamanya..."
"...yang harus kita khawatirkan bukanlah kematian itu sendiri, tetapi... sesuatu yang harus kita khawatirkan adalah seperti apa kematian kita nanti?" Tanya Shinobu yang mulai menatap Adit.
"Benarkan...? Kita tidak ingin mati dengan cara yang memalukan dan hina... hanya saja... kematian kadang tidak begitu buruk jika sudah melakukan pilihan yang benar."
"Salah satunya adalah Kakekmu, dia adalah seorang pejuang... seorang tentara yang memperjuangkan negara Indonesia dan umat Manusia untuk meraih kembali kesadaran."
Adit terus mendengar perkataan Shinobu yang terus membuat dirinya bertambah semakin bersedih sampai ia mengingat kematian Ibunya yang melindungi dirinya dari tembakan pasukan aliansi.
Shinobu mulai mendekati Adit lalu ia mengusap rambutnya pelan-pelan, "Menangis bukan berarti kamu lemah... menangis dapat melepaskan semua perasaan yang selalu kau tahan selama ini, Adit."
"Setidaknya... lepaskan semua itu agar Kakek dan Ibumu tahu bahwa kamu sudah melepaskan semua beban yang selalu dipendam pada tubuhmu itu..." Shinobu menyentuh kedua pipi Adit lalu ia menggerakkan kepalanya sampai ia berbaring di atas pangkuannya.
"Shino..."
"Kamu bisa meneruskan kehebatan Kakek dan Ibumu bukan...? Dengan membalas dendam... dengan memperjuangkan umat Manusia agar bisa meraih kejayaan yang begitu besar." Kata Shinobu sambil mengelus kepalanya pelan-pelan.
Adit hanya bisa diam lalu menangis selagi menutup kedua matanya menggunakan tapak tangannya karena ia sudah lama sekali tidak melampiaskan semua yang ia pendam dalam perasaannya sendiri.
Shinobu hanya bisa berbicara pelan-pelan selagi mengelus kepala Adit agar ia mau menangis demi bisa membuka semua hal yang ia simpan pada perasaannya.
"Meskipun mengingkari takdir Dewa... tetaplah kibarkan bendera pembalasan untuk pihak aliansi." Kata Shinobu.
"Rasa takut pun tertelan pada kemarahan, kau harus bisa berjanji berbalik menghadap kebiadaban..."
"...Adit, apakah pembalasan merupakan jalan terakhir?" Shinobu mengacak-acak rambut Adit agar ia bisa kembali bangkit untuk memperjuangkan umat Manusia dari pihak aliansi itu.
"Aku hanya ingin bisa mencapai sesuatu yang hebat... seumur hidupku, aku tidak pernah mencapai sesuatu yang dibanggakan bagi pandangan Ibu dan Kakekku sendiri." Adit berbicara dengan suara pelan.
"Aku ingin Kakek tetap menjaga diriku... tapi aku hanya bisa menunjukkan sesuatu yang buruk dan tidak bisa dibanggakan kepada dirinya, dan sesuatu yang tidak baik dari diriku."
"Mereka yang sudah gugur... tetap akan melihat mereka yang melanjutkan perjuangan sebelumnya, untuk membawa tekad yang sudah diserahkan dalam masa terakhir mereka." Jawab Shinobu.
"Aditya memiliki keyakinan bahwa kamu adalah orang yang akan memenuhi perjuangan terakhirnya..."
"...dia benar-benar percaya bahwa kamu bisa memperjuangkan negara Indonesia sampai bisa menginjak kembali kemerdekaan, bukan hanya Indonesia, tetapi seluruh umat Manusia."
__ADS_1
"Kamu harus tetap menjadi dirimu, Adit... seorang Manusia yang ingin memperjuangkan negara dan umatnya sendiri agar bisa kembali sadar dari kegilaan derajat ini."
Adit tersenyum lalu ia bangkit dari pangkuan Shinobu hanya untuk memeluk wajahnya beberapa kali, semua perasaan yang ia pendam telah lepas sampai ia ingin menerima tekad terakhir Aditya untuk memperjuangkan Indonesia.
"Terima kasih, Shino..." Adit menghapus air matanya lalu ia melihat Shinobu berdiri di belakangnya selagi menunjukkan senyuman polos.
"Sudah kembali...? Sebelum kita beristirahat, bagaimana jika memeriksa kuburan itu sekarang juga untuk mengheningkan cipta?" Tanya Shinobu.
"Ya... ayo..." Adit mengangguk lalu melihat Shinobu yang melangkah melewati dirinya sampai ia perlu mengatakan sesuatu sesuai dengan perasaan yang dirinya rasakan saat ini.
"Shino!"
"Mm?" Shinobu melirik ke belakang dengan tatapan bingung.
"Shino, maukah kamu..."
"Kenapa?" Shinobu tersenyum polos sampai menyebabkan ekspresinya berubah menjadi malu lalu pipinya langsung memerah.
"...lupakan soal itu!"
"Shino, aku ingin meni---"
Koizumi mendarat tepat di sebelah Shinobu dengan Mitler yang ia gendong menggunakan bahunya, "Shinobu, aku mendapatkan Jenderal yang berada di markas itu...!"
Koizumi datang di waktu yang kuras pas sampai menyebabkan Adit menghentikan perkataannya lalu melihat mereka berdua yang langsung membanting tubuh Mitler di atas tanah.
"Kalau begitu, kita hanya perlu memeriksanya dengan cepat..." Shinobu menyentuh kepala Mitler sampai isi pikirannya langsung menambah kepada otaknya sendiri.
"Sudah cukup." Shinobu melepas Mitler yang masih pingsan.
"Fuhhh... perjalanan yang lumayan menyebalkan." Koizumi menghapus keringat yang mengalir deras pada tubuhnya, ia melihat Adit yang kebetulan berada di sebelahnya.
"Kau di sini juga ternyata..." Koizumi mulai menatap Shinobu hanya untuk memberitahu dirinya soal pesawat markas aliansi yang sudah hancur.
Shinobu menggelengkan kepalanya karena ia sudah tahu kondisi markas dan juga tiga pejuang yang gugur, "Kalau begitu... mari kita memberikan rasa hormat terakhir kepada mereka para pejuang yang sudah gugur."
"Ya, ayo." Adit menghela nafasnya karena sebelumnya adalah waktu yang pas untuk melamar dirinya tetapi Koizumi datang dalam waktu yang kurang tetapi sehingga menyebabkan kecanggungan untuk dirinya sendiri.
"Tunggu... mereka tidak selamat...?!" Tanya Koizumi dengan tatapan kaget sehingga Shinobu mulai menjelaskan tentang mereka semua sampai ia hanya bisa diam dan mengingat ketiga Manusia itu sebagai pahlawan yang hebat.
"Anu... tadi kamu mau mengatakan apa, Adit?" Tanya Shinobu yang mulai memiringkan kepalanya karena merasa penasaran.
"Tidak apa-apa... aku hanya ingin mengheningkan cipta untuk Kakekku yang sudah memperjuangkan negara Indonesia sejauh ini---" Tangan Adit langsung dipegang oleh Shinobu.
"Kamu pasti masih panik soal keguguran Kakekmu ya... tenang saja, Koneko akan menggenggam tanganmu." Shinobu menggenggam tangannya cukup erat lalu menariknya menuju Keraton Yogyakarta yang sudah hancur.
***
"Mereka sudah kembali--- hohhh~" Hinoka memegang dagunya ketika melihat Shinobu bergandengan tangan dengan Adit sampai ia bisa melihat Koizumi yang memasang tatapan canggung karena terlihat seperti orang ketiga.
"Kamu sudah kembali ya... syukurlah." Konomi melihat Koizumi baik-baik saja, ia sudah menyelesaikan tugas terakhirnya yaitu menyingkir Mitler.
Sisanya hanya perlu melapor tentang apa yang ia dapatkan di dalam markas itu, tetapi informasi yang ia dapatkan itu akan diberikan kepada Shinobu ketika dirinya selesai mengheningkan cipta di hadapan kuburan ketiga pahlawan.
__ADS_1
Adit berdiri di sebelah Indera, "Bukannya memberikan hormat terakhir kepada Kakekmu, kau malah bermesraan dengan gadis itu..."
"Bacot..." Adit menundukkan kepalanya di depan kuburan Aditya lalu mereka melakukan hal yang sama yaitu memberikan kehormatan terakhir lalu mengheningkan cipta.
Beberapa menit kemudian, mereka semua pergi meninggalkan kuburan tersebut sampai Koizumi langsung mendekati sepupu kecilnya hanya untuk melapor tentang sesuatu yang penting, tetapi...
Shinobu melihat sebuah mobil yang begitu panjang berwarna hitam berhenti tepat di hadapan mereka semua, "Apalagi sekarang...?"
Pintu mobil itu terbuka sampai menunjukkan dua penjaga mulai membuka pintu bagian belakang agar mereka semua bisa masuk, "Tuan presiden Indonesia ingin berteman dengan kalian..."
"Fueh!?" Shinobu dan semua temannya memasang tatapan kaget ketika mengetahui presiden Indonesia akan datang untuk menemui mereka semua.
Tidak lama kemudian, mereka semua sudah berada di dalam mobil berjenis Limo itu sampai Shinobu sudah berpapasan dengan presiden Indonesia yang mengetahui dirinya sudah mengendalikan medan perang dengan baik.
"Sayang sekali... awalnya aku mengharapkan ketiga pejuang itu bisa bertahan sampai titik dimana para presiden mengadakan kedamaian untuk seluruh umat Manusia."
"Tu-Tunggu... jangan-jangan kita semua akan pergi langsung menuju pertemuan seluruh umat Manusia dalam satu tempat selagi mendengar pidato para presiden?" Tanya Shinobu.
"Itu benar... kita tidak membutuhkan lagi yang namanya keguguran, yang paling penting adalah kami umat Manusia membutuhkan yang namanya kedamaian abadi untuk menghentikan perang."
"Pihak aliansi sudah pasti akan melihat pertemuan itu secara langsung, mereka tidak akan bisa menyerang karena lokasi pertemuan itu ketat dengan keamanan berteknologi tinggi."
"Pertemuan di undur sekarang, mengetahui seluruh pihak aliansi menyerang pada malam hari adalah sesuatu yang baru dan langka..."
"...kita semua akan pergi, seluruh presiden mengirim kurir siang ini untuk memastikannya. Kita semua tidak menginginkan siapa pun bersenjata, dan bentrok satu sama lain."
"Aku sebagai presiden Indonesia sudah berjanji tidak akan melakukan semua itu, kalian terpaksa harus menyimpan senjata itu masing-masing..."
"...simpan saja sebagian keadaan darurat." Kata presiden itu sehingga mereka menyimpan semua senapan itu dengan aman agar bisa digunakan kembali ketika keadaan berubah menjadi sesuatu yang tak terduga.
"Semua orang bilang bahwa kami para presiden ketika bersama bisa menghentikan konflik dengan pihak aliansi."
"Kurasa kita sebaiknya pergi dan melihatnya sendiri." Presiden itu meminta pengemudi untuk mempercepatnya dengan menekan tombol biru sampai mobil itu berubah menjadi pesawat.
"Waahhh...! Canggih sekali!" Shinobu terlihat kagum dengan satu sentuhan tombol yang dapat mengubah mobil Limo itu menjadi pesawat mewah yang khusus dimiliki oleh para presiden.
Setengah jam kemudian, mereka semua dari atas langit bisa melihat banyak sekali umat Manusia berkumpul dalam satu lapangan luas dengan panggung besar khusus untuk para presiden yang memberikan pidato kedamaian.
Setiap pesawat langsung mendarat di tempat yang sudah disediakan sampai presiden Indonesia itu menyarankan mereka semua untuk tetap terjaga agar tidak ada serangan mendadak terjadi.
Mereka langsung berpisah, Shinobu memimpin dari depan hanya untuk mencari posisi yang cocok agar bisa menonton dan mendengar pidato para presiden dari dekat, "Banyak sekali Manusia ya..."
"...benar, walaupun banyak yang gugur tetapi jumlahnya sebesar ini sampai bisa aku tebak satu negara saja belum cukup untuk menampung semua ini."
"Tetapi kita berada di sebuah pulau terpencil yang lumayan besar untuk menampung beberapa manusia." Kata Shinobu sambil menunjukkan sebuah hologram kecil yang memperlihatkan pulau besar.
"Mungkin tidak semuanya ikut..." Adit menunjuk kamera besar yang kemungkinan digunakan untuk menyiarkan siaran langsung.
"Ahh benar juga... Manusia yang berkumpul di pulau ini hanya ingin menjaga keamanan dari serangan pihak aliansi." Jawab Koizumi.
"Lama sekali ya... kapan pertemuannya akan dimulai?" Tanya Hinoka yang mulai menguap karena sekarang sudah pukul hampir dua pagi.
""Bisakah kalian bertahan...!?"" Para presiden sudah berada di panggung lalu berbicara satu per satu dengan bahaya yang berbeda agar bisa dimengerti oleh seluruh umat Manusia dari negara berbeda.
__ADS_1
""Kukatakan masa depan adalah milik kita umat Manusia yang masih waras...!""