
Mortem melayang di atas udara sambil menyilangkan kedua lengan-nya, ia sudah tidak bisa lagi merasakan kekuatan hebat yang terdapat di dalam tubuh Shiro. Tugas-nya sepertinya sudah selesai ketika berhasil mengalahkan Shiro, ia sudah tidak diberi kesempatan apapun lagi karena dia sekarang harus menuruti perintah Mortem.
Tiba-tiba beberapa api berwarna hitam melesat menuju arah Mortem, tetapi semua api itu tiba-tiba terserap dengan semua celah kenyataan yang melindungi dirinya. Mortem bisa merasakan keberadaan yang tidak asing, dia tidak mengenal keberadaan tersebut. Seseorang yang menyerang Mortem dengan api hitam itu mendarat di depan-nya.
"Gadis...?" Mortem melihat seorang gadis dewasa yang memiliki rambut panjang lutut dengan warna merah kehitaman, tubuh-nya diselimuti dengan api merah tua dan kehitaman dibagian luar. Terlihat sebuah cincin merah di jari manis-nya dan cincin itu terlihat sangat persis dengan cincin yang digunakan oleh Shiro.
"Hohhhh..." Mortem tersenyum lebar, "Sepertinya kau istri-nya Shiro, ya...? Tetapi Shira menikah dengan gadis yang salah di dunia ini. Tidak salah lagi bahwa kalian berdua adalah reinkarnasi dari dimensi palsu itu."
"Hebat sekali, Mortem... Kau bisa langsung mengetahui informasi langka itu." Gadis itu tersenyum tipis.
"Hmph, tentu saja, Homuze. Aku sudah diberitahu oleh dewa dimensi itu sendiri bahwa terdapat sebuah dimensi yang sama persis seperti dunia ini... [Touriverse], sepertinya kau bersama Shiro berasal dari dimensi palsu itu ya... Gejala tentang reinkarnasi dari dunia lain juga memungkinkan sih."
Sepertinya Mortem sudah mendapatkan informasi penting lainnya, beberapa mortal dan dewa yang tinggal di dimensi asli saat ini memiliki kemungkinan berasal dari dimensi palsu tetapi mereka sudah mati dan beruntung-nya mereka bisa tereinkarnasi ke dimensi yang asli, dimensi yang sebentar lagi akan hancur seperti dimensi palsu itu.
"Aku tidak percaya bahwa dimensi seperti ini benar-benar nyata, sebelum kita terlahir kembali... Seseorang yang memakai jubah hitam memberitahu kita bahwa diriku dan Shiro memiliki keberuntungan tinggi untuk bisa terlahir kembali menuju dimensi Touriverse yang asli, tetapi sayang sekali... Kami tidak bisa pergi dari dimensi Eternal ini." Kata Homuze.
"Intinya... Kau baru saja melukai Shiro...! Kau akan membayar-nya, Mortem...!!! Sepertinya dimensi Mortem satu ini benar-benar jahat, berbeda dari dimensi palsu itu." Homuze mulai membakar dirinya sendiri menggunakan api-api terpanas-nya, Mortem terlihat tertarik ketika ia mendapatkan informasi lainnya tentang dirinya yang ternyata ada di dimensi palsu.
"Hohhhh... Sepertinya Mortem dimensi palsu itu memiliki hati yang murni ya...? Dasar lemah, aku tidak menyukai diriku yang itu." Mortem bisa membaca pikiran Homuze dan dia berniat untuk melawan Mortem karena mereka berdua tidak ingin mengikuti perintah Mortem.
Mortem hanya perlu membelah beberapa celah kenyataan menggunakan sihir Crimson-nya sampai Homuze terkepung dengan semua celah-celah dimensi tersebut. Homuze menciptakan tembok dan juga perisai besar untuk melindungi dirinya sendiri bersama Shiro dari serangan Mortem yang mulai membombardir.
Mortem mengepalkan tangannya, memanggil empat pedang besar untuk menusuk sihir perlindungan Homuze sampai hancur. Geram Homuze kesal karena kekuatan Mortem ini jauh lebih berbeda dan kuat, mungkin karena hati-nya jahat jadi kekuatan-nya bertambah kuat dan cocok untuk seseorang yang memiliki hati jahat.
__ADS_1
Homuze melangkah maju menuju arah Mortem yang saat ini sedang melayang di udara, ia menatap Homuze yang melepaskan beberapa sihir api naga hitam ke arah-nya, tetapi Mortem membelah celah dimensi di depannya untuk melepaskan pedang Crimson besar yang menghancurkan naga itu dengan satu tusukan.
Mortem tersenyum jahat, dia tidak perlu bertarung dengan fisik karena sekarang dia sudah memiliki sihir yang jauh lebih kuat dan berbahaya. Mortem mengiris udara, membuka kekosongan sihir Crimson berbentuk pedang yang melepaskan sinar merah darah besar langsung menuju arah Homuze.
Homuze berhasil menciptakan dua perisai tebal melalui kedua lengan-nya yang mampu menahan pedang tersebut, tetapi kedua perisai itu hanya bertahan selama beberapa detik. Homuze mundur beberapa langkah ke belakang dan mulai melarikan diri. Mortem tertawa terbahak-bahak sehingga ia membuka kekosongan sihir Crimson berbentuk pedang di sekitar Homuze.
"Cih... Kekuatan Mortem satu ini jauh berbeda dari Mortem di dimensi palsu itu." Homuze berhenti melarikan diri, ia menghantam daratan dan mulai berputar, menciptakan angin tornado yang mampu menghancurkan seluruh pedang itu tetapi beberapa luka sayat muncul di sekitar tubuhnya.
"Dasar bodoh, kau memiliki keberanian yang tinggi untuk menahan serangan dimensi-ku." Mortem tersenyum tipis.
Homuze memanggil enam pedang yang ia pegang menggunakan jari-nya, ia melompat menuju arah Mortem lalu mengayunkan seluruh pedang-nya beberapa kali tetapi serangan itu segera disambut dengan celah-celah dimensi yang membentuk pedang. Dentuman bunyi keras menggema ke sekitar wilayah itu akibat serangan mereka berdua yang dikerahkan dengan seluruh kekuatan.
"Lebih baik kau memilih jalan yang benar yaitu menjalankan perintah-ku, Homuze. Kau bersama Shiro dapat mendapatkan apapun yang kalian mau dengan hanya bekerja sama bersama diriku ini...!" Mortem merasa lelah dan menghabiskan terlalu banyak waktu di wilayah itu sampai ia ingin secepatnya merekrut mereka berdua.
"Apapun yang kita mau...?"
Sebuah energi Crimson yang membentu tombak raksasa muncul di atas udara, dengan cepat Mortem menunjuk Homuze dan Shiro menggunakan kedua telapak tangan-nya sampai tomak itu melesat ke arah mereka berdua. Homuze melepaskan meteor besar ke arah tombak itu dan mencoba untuk menahan-nya karena pilihan satu-satunya adalah menerima tawaran Mortem.
"Homuze...! Hentikan...!" Teriak Shiro keras dimana ia kembali bangkit dari atas tanah sambil menutup seluruh luka-lukanya yang mengeluarkan banyak sekali darah segar.
"Shiro...?" Homuze tiba-tiba diam dan berhasil menghancurkan tombak Crimson itu menggunakan seluruh kekuatan terakhirnya sampai ia terjatuh di atas tanah.
"Akhirnya kalian mengerti dan menurut." Mortem muncul di hadapan mereka berdua, ia menggunakan celah dimensi untuk mendekatkan mereka berdua bersama karena ia perlu memulihkan kondisi mereka sepenuhnya sebelum mereka terbunuh.
__ADS_1
Shiro dan Homuze tiba-tiba berlutut kepada Mortem dengan sendirinya karena tekanan yang ia lepaskan mau membuat tubuh mereka menuruti Mortem sendiri, "Sekarang, kalian tidak perlu lagi melawan-ku... Melawan-ku itu sama saja dengan mencari cara lebih dekat agar bisa merasakan kematian."
"Perang antar semesta yang kau maksud ini, apakah aku dapat membunuh siapapun yang ada di semesta asli ini...?" Tanya Shiro.
"Tentu saja, tetapi kau harus bisa menahan hasrat membunuh dan kerakusan-mu untuk pihak yang salah. Kita semua akan bekerja sama dengan bangsa Iblis serta bangsa yang berada dari berbagai dimensi, dengan kita semua bekerja sama maka kita sudah pasti akan bisa memenangkan perang antar semesta itu." Mortem melayang ke atas udara sambil menatap langit-langit dengan ekspresi yang terlihat senang.
""Kami akan melaksanakan-nya..."" Ucap mereka bersama.
"Aku senang mendengar-nya."
***
Seluruh orang yang Korrina kumpulkan mulai berpencar demi menyelamatkan seseorang yang mereka kenal serta cintai, di rumah Korrina saat ini hanya terdapat beberapa orang dan sebagian dari mereka sudah pasti berlatih atau melakukan aktivitas yang dapat menenangkan pikiran mereka sendiri seperti Selvia yang saat ini sedang duduk karpet selagi membersihkan kedua katana-nya.
"... ..." Pikiran Selvia saat ini sedang memikirkan perkataan Alvenius, ia mengenal Ibu-nya sendiri yang bernama Aldine. Ternyata selama ini identitas asli-nya adalah seorang Dewi yang menciptakan sihir Void, itu artinya sihir-nya ia wariskan kepada anak-nya sendiri.
"Tidak diragukan lagi bahwa sihir Void-ku ini sudah langsung sempurna, Ibu mewariskan-nya dan aku tidak lahir dengan sihir Void ini... Itu artinya aku setengah dewi...? Alvenius pernah mengatakan bahwa jika seorang dewi mati maka anak-nya atau seseorang yang dekat dengannya akan menggantikan dirinya." Selvia menatap kedua telapak tangan-nya.
"Aku berharap untuk bisa berbicara dengan ibu lagi... Sayang sekali, dia pergi tanpa sebuah alasan---"
"Wahhhhhh!!! Cyka blyatttt...!!!" Teriak Haruka keras, tepat di lubang telinga Selvia.
"Kyaaaaaa!!!" Selvia langsung terkejut serta tubuh-nya mulai menegang sampai membuat dirinya melompat ke depan dan menabrak sebuah tembok yang ada di depan-nya.
__ADS_1
"Ugggghhhh..."
"Heh...?" Haruka terlihat terkejut karena ia tidak mengharapkan reaksi berlebihan yang akan dikeluarkan oleh Selvia.