
Teriakan Hinoka berjalan selama satu menit, kemudian menghilang begitu saja karena teriakan tadi sempat membangunkan Konomi sampai kedua telinganya mendengar langkahan yang banyak sekali di sebelah timur.
Langkahan yang dibuat hampir seperti pasukan bahkan sebagiannya juga besar sekali sampai mampu menggetarkan tendanya itu, "Apa ya g terjadi di sana...?"
Konomi mengusap-usap kedua matanya lalu ia membuka resleting tenda itu untuk melihat keluar, pandangannya langsung tertuju kepada kacamata yang Hinoka gunakan sebagai senter.
Konomi melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul 12 malam dimana kabut mulai bermunculan sampai ia kesulitan melihat kegelapan dari jauh, ia mencoba untuk keluar dari dalam tenda tersebut.
Namun, perasaannya langsung tidak enak ketika tubuhnya merinding seketika sampai kedinginan, tetapi ia sebelumnya mendengar jelas sebuah teriakan yang perlu ia periksa terutama lagi kacamata Shinobu yang berada di depannya.
Konomi melangkah pelan ke depan, tatapannya terus fokus kepada kacamata itu tanpa melihat ke belakang atau arah lainnya karena ia sendiri sudah merasa seperti diawasi oleh seseorang.
"Kabutnya tebal sekali..." Konomi mengambil kacamata itu yang langsung menyala ketika ia menyentuhnya, ia menoleh ke sebelah kiri lalu melihat tenda Hinoka yang terbuka begitu lebar.
Di dalamnya tidak ada siapa pun kecuali ransel yang ia bawa, "Hinoka...?! Dia kemana...!?"
Konomi bergegas mendekati tenda tersebut lalu ia dikejutkan dengan keberadaannya yang menghilang begitu saja, tengah malam seperti ini ia sudah menghilang entah kemana sampai firasatnya mulai tidak enak.
Lensa dari kacamata itu mulai menyinari banyak sekali jejak tepat di dekat Hinoka yang membuat dirinya langsung menutup mulutnya karena tidak mau mengeluarkan suara apapun yang dapat menarik perhatian mereka.
"Gawat... apa mereka berhasil menangkap dirinya...?! Kalau tidak salah Hinoka sudah menyebabkan banyak masalah di sini bahkan kesopanannya juga tidak begitu bagus."
Terdengar suara ranting tepat di belakangnya, Konomi memberanikan diri dengan menoleh ke belakang sehingga dikejutkan dengan Shinobu yang tertidur di atas rumput lalu bangun ketika cahaya dari lensa itu menyinari wajahnya.
"Mmm...? Sudah pagi...?" Tanya Shinobu yang mulai bangun dengan kedua kaki dan tangannya, ia meregangkan tubuhnya seperti kucing lalu duduk di atas rumput itu selagi mengusap kedua pipinya.
"Kacamata ini... Shinobu, apakah kamu mengingat apa yang terjadi sebelumnya?" Tanya Konomi yang langsung mendekati dirinya dengan tatapan khawatir.
"Koneko tidur duluan karena mengantuk... mimpi juga indah sekali karena aku bertemu dengan banyak sekali anak kecil yang mau menerimaku sebagai teman." Shinobu langsung menatap Konomi yang terlihat ketakutan.
"Masih malam ya..." Shinobu bangkit dari atas tanah selagi menggerakkan ekornya sampai ia bisa melihat Konomi menggunakan kacamatanya untuk dijadikan sebagai senter.
"Apa yang terjadi...? Kenapa kamu terlihat ketakutan?" Shinobu langsung mengetahui isi pikiran Konomi bahwa Hinoka menghilang dari dalam tendanya.
"Fuehhh!? Kok bisa menghilang...!? Dimana Kakak...?" Shinobu bergegas masuk ke dalam tenda Hinoka lalu ia bisa mencium baunya menghilang begitu saja, penciuman Shinobu terus menangkap banyak sekali bau wangi dan busuk.
"Gawat... Gawat! Gawat...! Kak Hinoka... apa yang Kakak lakukan?!" Tanya Shinobu dengan tatapan panik bahwa ia telah diculik oleh makhluk Astral karena sudah melakukan tindakan yang sangat mengganggu.
"Peringatan dia ternyata benar... Kakak akan diculik... selanjutnya adalah kalian." Kata Shinobu dengan tatapan serius sampai membuat Konomi merinding sampai kedua bahunya terangkat seketika.
"Bangunkan Ako...! Kita harus mencari Hinoka sebelum semuanya terlambat!" Peringat Shinobu yang mulai mendekati tendanya untuk membangunkan Koizumi yang masih tertidur.
"Ba-Baik...!"
***
"Jika saja aku tidak tertidur... si bodoh itu pasti tidak akan macam-macam, suara gemuruh angin terdengar begitu menenangkan sampai kedua mataku terasa begitu berat sehingga aku jatuh tertidur." Kata Koizumi.
__ADS_1
"Ini bukan salah siapa pun... ide Kak Hinoka memang tidak baik, dia sendiri yang memberikan ide tetapi dia melanggar semuanya." Ucap Shinobu yang sedang menyinari tanah untuk mencari jejak.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang...? Tengah malam... kabut begitu tebal sampai tubuhku terasa seperti ditempel oleh banyak sekali es batu." Kata Ako selagi memeluk tubuhnya sendiri.
"Kita harus tetap bersama... jangan sampai melihat atau mengganggu mereka, jika Hinoka sudah tertangkap seperti itu maka kita semua juga bisa dibilang jatuh ke dalam hal yang sama."
"Nobu, apakah kamu juga akan mendapatkan teror atau gangguan dari mereka...?" Tanya Ako.
"Aku adalah setengah dari mereka juga, dan anak-anak itu... sempat memperingati diriku banyak hal sampai menggunakan tubuhku untuk memperingati Kak Koizumi dan mungkin Kak Hinoka."
"Hanya aku yang bisa membantu dan melindungi kalian... semoga saja, setidaknya jangan mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh Kak Hinoka."
"Ahh... soal sore itu ya... kamu ternyata kerasukan oleh anak kecil itu ya, sejujurnya itu sungguh mengerikan sampai aku sempat memimpikan sesuatu yang mengerikan." Kata Koizumi.
"Itu artinya mereka dekat... dan terus memperhatikan Kakak, ayo... Koneko menemukan bau Kak Hinoka." Ucap Shinobu yang mulai mengikuti jejak dengan aroma busuk itu.
Shinobu memimpin dari depan, mencoba untuk mencari Hinoka yang sudah diculik, ketiga gadis yang berada di belakang Shinobu merasakan perasaan yang sangat khawatir dan ketakutan.
Shinobu melihat banyak sekali makhluk halus di sekitarnya, terus memperhatikan mereka semua sampai ia memperingati kedua teman dan sepupunya untuk tetap tenang.
"Anak itu... aku harus berbicara dengannya." Batin Shinobu, selama ini ia mencoba untuk mencari bau wangi yang berasal dari anak kecil.
Anak kecil yang merasuki dirinya dua kali untuk membantu Shinobu, tetapi semuanya sudah terlambat karena teriakan Hinoka menyebabkan banyak makhluk halus bertambah semakin agresif sampai ia menghilang begitu saja.
"Shinobu, kita... kita mau kemana? Apa kita akan melewati pasar itu lagi...? Aku selalu saja mendengar keramaian di sana." Kata Koizumi.
"Hati-hati ya... di jalan..."
"...jangan melihat ke belakang..."
"....berhati-hati lah..."
Mereka bisa mendengar suara halus dari seorang wanita yang menjaminkan keselamatan untuk mereka dalam perjalanan yang begitu gelap, banyak sekali jurang dan pohon di sisi mereka yang memperlihatkan makhluk halus.
Semuanya memperhatikan mereka sampai sadar bahwa ketiga gadis itu selama ini sedang dituntun oleh seorang Astral yang sedang menyinari cahaya di hadapannya untuk pergi menuju lokasi yang ia butuhkan.
"Perkataan dia itu..." Batin Shinobu, ia mengingat perkataan dua anak kecil yang meminta bantuan kepada dirinya untuk pergi ke sebuah tempat yang tidak jauh dari lokasinya.
Tujuan aslinya adalah membantu Ibu mereka yang juga makhluk halus maka kebaikannya itu mungkin akan membantu Shinobu bersama yang lainnya menemukan Hinoka, semoga saja mereka tidak terlambat untuk menyelamatkan dirinya.
Shinobu langsung berhenti bergerak ketika ia mendengar suara gamelan di hadapan mereka, "Tunggu sampai suaranya selesai ya, tidak boleh diganggu ketika sedang mengikuti adat."
"M-Maksudmu---" Kedua bahu Konomi terangkat ketika mendengar suara gamelan yang begitu keras dan merdu sampai mereka juga mencoba untuk tidak bergerak sama sekali.
"Dalam mimpiku... aku sering mendengar seperti ini." Kata Koizumi yang mulai menoleh ke sebelah kanan sampai ia tidak melihat apapun di sana.
Shinobu menoleh ke sebelah kiri, melihat banyak sekali makhluk halus pergi mengunjungi suara gamelan itu sampai ia mencoba untuk membiarkan mereka pergi duluan sebelum ia melanjutkan perjalanan.
__ADS_1
Semakin mereka menunggu lama, terdengar suara yang begitu ramai hampir mirip sekali dengan pasar sampai mengejutkan mereka semua, Shinobu bisa merasakan tahapan pertama sudah hampir selesai.
Pandangan Shinobu dapat melihat dari jauh, banyak sekali orang di sana dengan pakaian adat Jawa serta tatapan kosong mulai melakukan sesuatu, kabut tebal itu menghalangi penglihatannya untuk melihat apa yang mereka sedang lakukan.
Sebelumnya ia sempat melihat satu orang dengan wajah pucat melangkah ke depan, kemungkinan besar mereka memang bukan manusia atau makhluk kehidupan melainkan makhluk halus yang sudah membuka pasar malam atau semacamnya.
"Anu... apakah kalian mau menunggu di sini? Jangan melakukan apapun yang mencoba untuk mengganggu mereka, tetaplah tenang." Kata Shinobu sambil memperhatikan mereka.
"Kau ingin mendekati suara keramaian itu?" Tanya Koizumi, Shinobu menjawabnya dengan anggukan sampai ia mulai melambaikan tangannya lalu berjalan mendekati suara keramaian itu.
Langkahnya terdengar biasa saja, kabut di hadapannya mulai menipis sampai menunjukkan beberapa orang yang saling menatap satu sama lain, tidak menggerakkan mulut mereka sama sekali.
"... ..." Shinobu mencoba untuk tetap tenang dan tidak panik karena ia sendiri tidak memiliki kewajiban untuk ribut karena dirinya bukan sepenuhnya makhluk Astral juga.
Suaranya begitu ramai tetapi tidak ada satu pun orang yang berbicara, "Anak itu sempat memberitahu Koneko... jangan melihat ke belakang, jika mendengar suara keramaian pasar maka harus membeli sesuatu."
Tanpa disadari, Shinobu sudah tiba di pasar itu yang menunjukkan banyak sekali kios sehingga tubuhnya sempat merinding karena ia mendengar suara langkahan yang mendekati dirinya.
Tangan kirinya langsung ditarik begitu halus sampai ia mulai melirik ke sebelah kiri dan ternyata itu adalah seorang anak yang merasuki tubuhnya hanya untuk memperingati mereka semua untuk tidak macam-macam.
"Kakak... datang ya... selamat datang..."
"Ini pasar... sungguh ramai... 'Kan...?"
"Mm, ramai sekali. Pasar malam ya..."
"Tidak kok... ini yang dinamakan pasar setan." Anak itu tersenyum lalu mengajak Shinobu mendekati kios dimana ia bisa melihat wanita di hadapannya langsung menatap dirinya.
Shinobu bisa melihat jualannya itu, aneh-aneh... penuh dengan daging yang sangat merah sampai aroma darah juga masih bisa ia hirup sampai dibedakan dengan ras yang ia ketahui.
"Daging Manusia ya..." Batin Shinobu.
"...ini juga bukan makanan manusia." Shinobu merasa bingung harus membeli apa karena ia sudah berjanji kepada anak itu untuk membeli sesuatu di kios ibunya.
"Kakak... harus coba daging... kami menjual banyak daging..."
"...kenapa Kakak... tidak membawa mereka?" Tanya anak itu yang mulai menatap ketiga gadis yang sedang duduk di atas rumput selagi memperhatikan sekitarnya.
"Katanya mereka kelelahan..."
"Kalau begitu... Kakak juga harus... membeli mereka sesuatu..."
"Hanya menjual daging ya...?" Tanya Shinobu yang mulai merasa tidak nyaman.
"Hm... pilih saja dulu..."
"Baiklah... Koneko pilih."
__ADS_1